Oct 022016
 

Tanggal 27 Agustus 1964, di sekitar Samudera Indonesia melintas kapal induk Inggris HMS Victorious dengan puluhan pesawat tempur jenis Buccaneer di atas dek kapal. Kapal induk HMS Victorious ini dikawal dua kapal perusak (destroyer) yang kemudian mereka bergerak melintasi Selat Sunda.

Masa itu memang sedang terjadi konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia. Penerjunan-penerjunan pasukan dilakukan di beberapa tempat di daratan Malaysia serta kawasan Kalimantan Barat dan Timur. Intensitas penerbangan pun meningkat antara pihak Inggris dan sekutunya dengan Indonesia. AURI mengerahkan pesawat-pesawat pengebom Tupolev Tu-16 dan Tupolev Tu-16KS, juga penempur MiG-21 dan MiG-17, serta pesawat C-130B sebagai pendukung mereka.

“Segera pencarkan pesawat-pesawat Hercules keluar dari Pangkalan Udara Utama Halim Perdanakusuma Jakarta!” Demikian kira-kira isi perintah dari Panglima Komando Operasi kepada Marsekal TNI (Purn) Sukardi yang waktu itu masih aktif menjadi penerbang pesawat Hercules berpangkat perwira menengah. Di saat perintah itu turun, sukardi sedang mengikuti pendidikan Seskau di Jakarta.

Waktu itu AURI memiliki 10 pesawat Hercules sebagai pesawat angkut berat yang tergabung dalam Skadron 31 dengan home base di Halim Perdanakusuma. Empat pesawat harus secepatnya diungsikan ke pangkalan-pangkalan udara sekitar hanya dalam satu hari. Keempat pangkalan udara itu adalah Gorda di Serang, Semplak –sekarang Atang Senjaya— di Bogor, Kalijati –sekarang Suryadarma— di Subang, dan Tasikmalaya –kini Wiriadinata.

Masalahnya setahu Sukardi, kecuali Lanud Tasikmalaya yang memliki landasan sepanjang 1.100 meter, belum pernah ada Hercules yang mendarat atau lepas landas dari Semplak, Gorda, dan Kalijati. Di ketiga pangkalan udara itu, landas pacunya kurang dari 1.000 meter, lembek, dan bergelombang.

Marsekal TNI (Purn) Sukardi (berdiri kedua dari kanan) bersama para kru udara pesawat Hercules. Sumber foto :Marsekal TNI (Purn) Sukardi

Marsekal TNI (Purn) Sukardi (berdiri kedua dari kanan) bersama para kru udara pesawat Hercules. Sumber foto :Marsekal TNI (Purn) Sukardi

Sukardi tidak punya waktu untuk mengecek kondisinya waktu itu. “Sekarang atau hancur semua!” Demikian bunyi terakhir dari perintah yang iaterima.

Persiapan-persiapan dilakukan di Skadron 31 Angkut Berat. Ban pada roda-roda utama tekanannya dikurangi dan sedikit dikempeskan. Bahan bakar dikurangi, hanya tinggal 7 ton. Hal ini dilakukan sesuai dengan prosedur darurat agar landasan pacu tidak rusak dan pendaratan aman.

Gorda yang pertama. Di sini tidak tersedia komunikasi radio antara pesawat udara dengan petugas lapangan di darat. Karena itulah, upaya pendaratan yang pertama gagal karena di landasan pacu ada banyak sapi dan kerbau yang sedang merumput.

Untuk mengusir binatang-binatang tersebut, pesawat bermesin empat ini harus terbang rendah di atas landasan pacu. Setelah itu, barulah pesawat dapat mendarat dengan selamat. Inilah kali pertama pesawat Hercules mendarat di Gorda.

Hercules kemudian diparkirkan di tempat yang aman. Bergegas bersama awak pesawat lainnya, ia kembali ke Lanuma Halim menggunakan helikopter yang sudah tersedia.

Pengungsian kedua di Semplak. Landasan pacu di sini panjangnya 800 meter berupa lapangan rumput yang kondisinya bergelombang dan lembek, juga becek setelah tersiram hujan. Pendaratan hanya bisa dilakukan dari arah utara karena di ujung selatan landasan terdapat pepohonan yang tinggi dan dapat menyulitkan proses pendaratan.

Setelah sekitar 10 menit terbang dari Halim, sampailah kami di atas lapangan terbang Semplak.

Sukardi tak segera melakukan pendaratan, tapi simulasi approach dan pendaratan dulu. Simulasi itu dilakukan dengan konsentrasi penuh sambil mengamati situasi dan kondisi landasan rumput, yang katanya semalam diguyur hujan lebat, dari jarak dekat. Setelah yakin kalau landasan rumput itu bersih dan bebas rintangan, Sukardi pun siap mendarat.

Ia berkonsentrasi penuh untuk melakukan proses pendaratan. Sukardi pun melakukan touch-down di bagian paling ujung landasan. Setelah itu, pesawat full reversed tanpa menggunakan rem layaknya prosedur pendaratan darurat. Proses itu dilakukan agar pesawat tidak tergelincir karena lapangan rumput licin dan becek.

Pendaratan berhasil! Setelah pesawat diparkirkan di tempat yang sudah disediakan, seluruh kru terbang kembali ke Halim dengan helikopter.

Kru Pesawat Hercules dalam sebuah briefing sebelum operasi. Sumber foto :Marsekal TNI (Purn) Sukardi

Kru Pesawat Hercules dalam sebuah briefing sebelum operasi. Sumber foto :Marsekal TNI (Purn) Sukardi

Giliran ke Kalijati. Sebelumnya, Sukardi memang pernah beberapa kali mendarat di sana, tapi dengan pesawat C-47 Dakota dan Avia-14 buatan Czechoslovakia. Landasan pacu Kalijati memang lebih panjang dari yang di Semplak. Namun kondisinya sama; beralas rumput, lembek, dan becek kalau diguyur hujan.

Penerbangan dari Halim ke Kalijati hanya 15 menit. Sebelum mendarat, ia terbang rendah dulu di atas landasan untuk mengetahui situasinya. Clear, proses pendaratan pun dilakukan dari arah barat. Seperti pendaratan di Gorda dan Semplak, ini juga rekor sebagai pendaratan pertama C-130B Hercules di Kalijati. Setelah memarkirkan pesawat, segera kami diterbangkan helikopter ke Halim.

Pengusian ke empat di Tasikmalaya. Sukardi memang sudah beberapa kali mendarat di sana, termasuk dengan pesawat Hercules. Maka ia pun merasa bahwa pendaratan di sana tak akan ada masalah karena landasan beraspal. Panjang landasan pun cukup, yakni 1.100 meter, walaupun tidak sempurna.

Memang proses pengungsian pesawat Hercules ke Tasikamalaya tidak ada masalah. Namun karena dalam satu hari melakukan ferry ke empat pangkalan, yang tiga di antaranya tidak normal sehingga memerlukan konsentrasi tenaga dan pikiran, Sukardi mengaku kelelahan. Ditambah lagi beban pikiran untuk mengembalikan lagi pesawat-pesawat itu dari Gorda, Semplak, Kalijati, dan Tasikmalaya ke Halim Jakarta, kalau situasi kembali aman.

Bersama kru lain, Sukardi tiba kembali di Halim sekitar pukul 17.00 petang. Beruntung, Inggris tidak melancarkan serangan udara ke pangkalan udara-pangkalan udara atau pesawat-pesawat AURI. Kapal induk milik Royal Navy berlalu begitu saja tanpa terjadi insiden.

**Dikisahkan dari buku Biografi Marsekal TNI (Purn) Sukardi yang berjudul “Saatnya Berbagi Pengalaman dan Rasa”

Author: Remigius Septian & Reni R.

Angkasa.co.id

Bagikan Artikel :

  32 Responses to “Ketika Kapal Induk Inggris dan 2 Destroyer Masuki Selat Sunda”

  1. jas merah

    • Dan sejak terjadiny peristiwa itu 27 Agustus 1964, sudah puluhan tahun sampai hari ini belum diketahui secara pasti… yang berkeliaran di landasan pacu itu kerbau dan sapi milik siapa?

    • Karena kalah persenjataan kita terusik di rumah sendiri maklum waktu itu keuanan negara kurang sehat wong baru merdeka dan blm ada rakyat indonesia yg menjadi milyarder untuk di minta nyumbang beda dgn sekarang ribuan milyarder RI tapi saya heran alutsista kok gk seperkasa tetangga singapura dan vietnam padalah kita teriak2 macan asean 😀 alutsista goib? wkk.wkk.wkk……

  2. alhamdulilah dapet pertamax turbo

  3. History

  4. Komandan memang hebat, berani mengambil resiko, berjiwa besar, bertanggung jawab, dan berani mati untuk negara, tentunya komandan sukses menyabet gelar the crazy pilot A.U.R.I,

  5. 4

  6. mantap

  7. Hehehehe… Inggris berfikir ulang untuk meluluhlantakkan pangkalan di Jawa,karena rombongan kapal Inggris yg minta ijin melintas selat Sunda terkejut di cilukba oleh kelas whiskey …
    sama sama keluar keringat dingin…
    Indonesia khawatir ada provokasi dr Inggris dan serangan ke Jakarta…
    sedangkan pihak Inggris,ketir2 lwt selat Sunda krn kasel dan tu 16 plus gannet mjd ancaman serius dan bs mjd konflik berkepanjangan….

  8. Dan pemenangnya adalah proxywarrrrRrrrr..

  9. Jos gandos,AURI ALRI saling bahu membahu sejak dulu sampai sekarang.mantappssss

  10. Dengan keterbatasan alutista dan infrastruktur, para prajurit kita siap menghadapi bahaya…
    Kejadian seperti ini juga pernah terjadi ketika Indonesia menditeksi kapal induk USA…
    Nice story…

  11. Hehehehe…

  12. Ambil sisi positifnya ny aja…kalau tidak ada mereka pasti Indonesia akan tetap terbuai dengan mimpi indah….karna ada Negar munyuk itu maka Indonesia selalu waspada akan ancaman dan terus berbenah….

  13. sayang tni sekarang belum segahar tni yg dulu

    • Sudah beda zaman bro…
      Dahulu ketika perang, dominannya head to head, sekarang hanya tinggal pencet tombol dan roket / rudal meluncur.
      Akan tetapi TNI kita masih T.O.P.B.G.T dengan membuktikan juara umum menembak militer dunia.
      Peperangan di masa yang akan datang lebih dititik beratkan ke teknologi.
      Oleh karena itu sekarang banyak negara berlomba untuk memiliki senjata canggih berdaya rusak / ledak besar untuk mengurangi alutista dan prajurit yang di anggap musuh.

  14. @Mr Garbis : Saya terlahir dari keluarga / keturunan pejuang.
    Para pendahulu saya adalah pejuang mempertahankan negara dari penjajah dan bahkan kakek saya ikut serta berperang Irian.
    Begitu pula dengan Orang tua dan adik bungsu saya mengabdi untuk negara.
    Singkat cerita, apapun perlakuan mereka kemarin ataupun dahulu, sebaiknya kita maafkan dengan bersikap tidak ingin masuk ke lobang yang sama.
    Saya tidak ingin membahas siapa pemimpinanya, apakah Sukarno, Suharto, ataupun yang lainnya.
    Yang saya kedepankan disini adalah bagaimana cara bangsa kita lewat militer dapat menjaga kedaulatan bangsa.
    Jadi maaf karena saya tidak ingin terpengaruh dengn kalimat jas merah, jas kuning, jas hujan ataupun lainnya.
    Saya akan lebih terpengaruh bagaimana caranya negara kita aman dan damai, meskipun saya paham bahwa, “jika kita menanam padi pastilah akan rumbuh rumput di sekelilingnya.”
    Semoga anda paham maksud dari kalimat tersebut.

  15. Maaf terpotong…
    Silahkan anda menafsirkan secara luas apa yang terkandung di dalam Al Quran.
    Maaf, bukan bermaksud membawa agama ataupun SARA, hanya saja karena anda bertanya darimana sumber referensi saya menuliskan hal tersebut.

  16. @Paidjo Van Koplak : Anda punya masalah dengan saya?

  17. Maaf yah mas, saya juga anak TNI, ayah saya ikut berperang waktu merebut Irian barat, dan timor leste… pastinya anda bisa menebak berapa umur nya sekarang, abang saya di Marinir dan Provost AD dan AL, ayah saya saksi hidup waktu rusia mengirim alat perang secara besar-besaran ketika indonesia membebaskan Irian barat dari belanda…asal anda tahu yah mas , kehidupan TNI waktu jaman orde baru begitu mengenaskan gaji kecil, dibandingkan jaman sekarang yang semuanya lebih diperhatikan pemerintah… tapi kok aneh ya… Korupsi nya nggak pernah berhenti…

    • Korupsi adalah musuh semua manusia.
      Saya paham pendapat anda, karena ada perbedaan kesejahteraan antara dahulu dengan sekarang.
      Semua itu menurut saya tergantung pola pikirnya masing-masing.
      Kita dapat melihat banyak kejadian para veteran perang dan purnawirawan yang tersisihkan tanpa ada kepastian solusi lebih baik dari pemerintah.

  18. Hadeuuhhh…

    Eta c akang adat-adatan d dieu…
    Eling kang…
    Belanda oge baheula mah rek nyerang urang di larang ku mamahrika…
    Da mamahrika ngalarang babaturan apetna ulah nugi ka cilaka sepertos nu baheula, komo deui Indonesia boga armada made in Uni Sovyet, bisa-bisa balik tinggal ngaran…

  19. Wa’alikum salam, amin dan trims…
    Semoga sehat dan sukses menyertai bung Colibri™ nu kiyut tea…

    hahahahahaha..ciimmm… 😀

  20. Kapan , dimana, dan kejuaraan dunia apa tni juara menembak?

  21. Itulah hebatnya nkri,punya wilayah yg luas dan pangkalan dimana mana. Geser sana geser sini gak usah bingung spt si ulil,mau gede kemana? Ke laut…???

  22. Itu namanya show of force bung…mungkin tujuan hanya nakut naktin ABRI dengan tujuan memecah konsentrasi alutsista dan strategi sehingga ABRI buru buru amankan itu herky berarti menunda penerjunan/bala bantuan.

  23. Om wangsa kencana biarin aja klo org tetep dengki, iri hati, gelap mata begitu. Mau dibilang apa pun tetap ga ngaruh kya ngomong ama tembok. Yakinlah hanya Tuhan yg bs ubah dia. Tp nanti ngomong agama, yg dibilangin biasanya lgs panas bela2 agamanya (yg sbnrnya ga perlu dibela oleh org yg akhlaknya malah ga bener. Emang dikiranya gampang main perang atau agresi suatu negara. Jerman pd WW2, Arab pd perang houthi, AS pd perang irak aja butuh sekutu. Dan yg terutama butuh ekonomi kuat yg awalnya utk kemajuan rakyat, bukan utk agresi (yg memang bbrp menyimpang).

  24. @ colibri, sy sangat setujuh dgn pandangan anda mas, sejarah kita memang bangsa agresor.

 Leave a Reply