Nov 072018
 

Foto Ilustrasi.

Jayapura, Jakartagreater.com  –  Sekitar pukul 4 subuh, cuaca dingin di kampung Popome Distrik Makoni, Kabupaten Lanny Jaya, Papua, pagi itu terasa menusuk tulang. Biasanya saat itu masih waktu yang tepat bagi penduduk desa untuk terlelap dalam tidur dengan selimut hangat. Namun tidak demikian pada hari itu, hampir semua penduduk tidak bisa tidur dengan lelap di bangunan gereja yang dijadikan tempat bermalam mereka.

Rasa tegang penuh ketakutan meneror mereka. Petang sebelumnya, Yanmar seorang warga kampung yang sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek tewas ditembak dengan keji kelompok kriminal separatis yang dipimpin Purom Wenda.

Yanmar ditembak hanya karena ia ingin menanyakan tentang HP saudaranya yang dirampas salah satu anggota kelompok brutal tersebut beberapa waktu sebelumnya. Mayat Yanmar pun dibiarkan tergeletak di lokasi penembakan tanpa ada seorang warga pun yang berani mendekatinya.

Aksi teror terakhir inilah yang membuat warga desa terpaksa memilih mengamankan diri di dua gereja karena ketakutan yang dipimpin Pendeta Eli Murib. Selanjutnya pendeta dan tokoh masyarakat berusaha menenangkan warga dan bernegosiasi dengan Purom Wenda, untuk mengevakuasi jenazah korban.

Namun negosiasi berjalan buntu hingga malam itu, Purom Wenda melarang warga sipil mengevakuasi mayat korban, hanya pasukan TNI-Polri yang boleh mengambil. Terlihat jelas bahwa Purom Wenda ingin menjadikan jenazah Yanmar sebagai umpan untuk menjebak aparat keamanan.

Tidak jauh dari lokasi pengungsian, sejumlah personel yang tergabung dalam Tim Gabungan TNI – Polri, telah bersiap menyusun strategi. Tidak tampak ketegangan diwajah para prajurit TNI – Polri yang rata-rata berusia muda ini. Pandangan mata tajam dan dingin terpancar, menunjukkan mereka telah siap melaksanakan misi. Misi mereka adalah melakukan evakuasi terhadap jenazah Yanmar.

Mereka sadar, tugas tersebut sangat beresiko. Bahkan bukan tidak mungkin mereka harus meregang nyawa dan menjadi sasaran tembak kelompok Purom Wenda yang telah bersiap di atas bukit. Namun mereka yakin bahwa tugas tersebut adalah suatu kebanggaan bagi prajurit TNI – Polri.  Apapun resikonya, aparat negara harus hadir untuk melindungi warganya.

Kapolres Lanny Jaya, AKBP Tonny Ananda Jaya, langsung memimpin misi tersebut. Perlahan dengan penuh kehati-hatian, tim Polri bergerak mendekati lokasi jenazah dengan menggunakan 3 kendaraan taktis. Sementara, 1 unit tim yang beranggotakan prajurit TNI pimpinan Letnan Satu Zulmi bergerak mendaki punggung bukit dengan senyap dan rahasia.

Mengambil posisi di belakang kedudukan kelompok Purom Wenda. Sesaat ketika mulai mendekati jenazah, apa yang diperkirakan terjadi, kelompok Purom Wenda melancarkan tembakan sporadis ke arah tim evakuasi pimpinan Kapolres.  Tanpa menunggu aba-aba, tim evakuasi segera membalas tembakan dengan gencar ke arah bukit, dimana posisi tembakan kelompok Purom Wenda berasal.

Tembakan balasan tersebut berhasil memaksa Purom Wenda dkk bertahan di kedudukannya. Saat itu lah, tim pelambung TNI memastikan kedudukan lawan dan mulai bergerak mendekat ke sasaran dengan cepat dan membuka tembakan terarah pada kelompok separatis yang terkenal sadis tersebut.

Kontak tembak terjadi sekitar 30 menit sampai akhirnya, kelompok pimpinan Purom Wenda terdesak dan melarikan diri berpencar jauh ke dalam hutan. Sesaat kemudian tembakan kelompok Purom Wenda terhenti. Tim Gabungan TNI – Polri segera mendekat dan melakukan penyisiran di lokasi kontak senjata. Dua mayat anggota kelompok Purom Wenda ditemukan tergeletak di posisi yang relatif berjauhan.

Ratusan munisi kaliber campuran pun tercecer. Hal ini mengindikasikan kelompok Purom Wenda panik dan ketakutan sehingga melarikan diri tanpa sempat membawa munisi cadangan mereka. Misi evakuasi pun dinyatakan berhasil. Tidak ada perayaan atas keberhasilan itu.

Seluruh personel Tim Gabungan TNI – Polri hanya berdoa untuk mengucap syukur atas keselamatan yang diberikan Tuhan YME dan tidak lupa mengirim doa untuk kedua korban dari kelompok KKSB (kelompok kriminal separatisme bersenjata) Purom Wenda.

“Apa yang kami lakukan semata-mata untuk melindungi warga. Kalau boleh memilih, kami tentu lebih senang bila kami tidak perlu mengeluarkankan tembakan. Namun dalam situasi tempur, kami tidak punya pilihan,” ujar salah satu personel tim gabungan dengan raut wajah datar.

Saat membawa jenazah menuju RSUD Tiom, masih terdengar tembakan satu dua kali dari arah hutan, namun proses evakuasi dapat berjalan lancar. (Pendam XVII/Cenderawasih)

  3 Responses to “Kisah Evakuasi Jenazah Korban Penembakan KKSB”

  1.  

    Operasi sapu bersih secara senyap napa, agar tdk terulang kembali kejadian serupa di tanah Irian Jaya.

  2.  

    iya gak usah dipublikasi apapun kejadian di sana ..kalo ada publikasi keuntungan mereka . yang penting tahunyanya aman tenteram , biarlah yg tahu kalangan terbatas militer saja .

  3.  

    Ach ini dijadiin film kan keren dibumbui dengan sedikit drama ach udah keren banget

 Leave a Reply