Nov 132017
 

Yang Chil-seong alias Komarudin (kiri) saat ditangkap tentara Belanda (photo : Gahetna.nl)

Bandung, Jakartagreater.com – Berjuang merebut kemerdekaan maupun mempertahankannya tidak harus orang pribumi yang lahir dan tumbuh besar di Indonesia. Siapa pun dapat ikut berjuang melawan para penjajah yang melakukan tindakan tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Kisah kepahlawanan di Indonesia sewaktu melawan penjajah Belanda maupun Jepang dan sekutunya relatif banyak. Misalnya, Pangeran Diponegoro dari Yogyakarta, Cut Nyak Dien dari Aceh, Mohammad Toha dari Bandung, dan Bung Tomo dari Surabaya.

Selain itu, relatif banyak pahlawan lain yang rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk Indonesia, termasuk kisah kepahlawanan warga negara Korea bernama Yang Chil Seong. Pria kelahiran Korea pada tahun 1919 itu dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Tenjolaya, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat, sebagai penghormatan atas jasa-jasanya berjuang untuk Indonesia.

Kisah perjalanan hidupnya itu tentu menjadi sesuatu yang menarik, dan menjadi tambahan pengetahuan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, terutama bagi kaum muda Indonesia sekarang ini.

Perjalanan hidup Yang Chil Seong dari Korea hingga akhirnya tewas ditembak mati di Kabupaten Garut mendapat perhatian dari pemerintah Korea Selatan, bahkan kisahnya dituliskan menjadi bagian buku hasil penelusuran yang dilakukan oleh periset asal negaranya.

Kisahnya itu bermula ketika Jepang membawanya ke Indonesia. Pada saat itu, Jepang selain menjajah Indonesia, juga menjajah kawasan Korea. Tentara Jepang membawanya ke Indonesia pada tahun 1942. Dia ditugaskan menjaga tahanan di Bandung. Ketika Jepang menyerah, tidak semua tentaranya kembali ke negara tersebut.

Yang Chil Seong dan  2 orang tentara Jepang bernama Aoki dan Hasegawa memilih tetap bertahan di Indonesia, lalu mereka pergi ke Kabupaten Garut dan memutuskan diri bergabung berjuang bersama pejuang-pejuang pribumi yang menamakan diri pasukan Pangeran Papak.

Bergabungnya Yang Chil Seong dan 2 rekan asal Jepang dengan pejuang pribumi itu menjadikan mereka harus berganti nama dari Yang Chil Seong menjadi nama Indonesia, Komarudin. Begitu pula, Aoki menjadi Abubakar dan Hasegawa menjadi Usman.

Yang Chil Seong juga menikahi seorang perempuan Kabupaten Garut. Dia memutuskan memeluk agama Islam. Begitu juga dengan 2 tentara Jepang penganut agama Islam. Mereka bertiga memiliki kepiawaian. Misalnya, Yang Chil Seong  adalah ahli pembuat bom, sedangkan 2 tentara Jepang memiliki kemampuan dalam strategi perang sehingga kekuatan pejuang di Garut makin kuat.

Kisah heroik Yang Chil Seong dengan keahliannya membuat bom itu dibuktikan dengan peristiwa peledakan jembatan Sungai Cimanuk atau sering dikenal Jembatan PTG (Pabrik Tenun Garut) untuk menghalau tentara Belanda.

Aksinya itu membuat pasukan Belanda yang Chil Seong bermaksud menjajah kembali Indonesia memutuskan untuk mundur. Namun, akhirnya Belanda menyerang kembali pasukan Pangeran Papak dengan berbagai strategi, termasuk menyebarkan mata-mata untuk mencari pejuang kewarganegaraan asing itu.

Kisah hidup Yang Chil Seong dan pejuang asal Jepang berakhir tragis setelah pasukan Belanda mengetahui keberadaan mereka bertiga. Tentara Belanda itu lalu menangkapnya di Gunung Dora, daerah perbatasan Kabupaten Garut dengan Tasikmalaya.

Mereka bersama seorang pejuang pribumi dibawa oleh tentara Belanda, kemudian diadili hingga diputuskan Yang Chil Seong dan dua tentara Jepang dihukum mati, sedangkan pejuang pribumi mendapatkan hukuman penjara seumur hidup. Takdir hidup mereka bertiga berakhir dengan cara ditembak mati oleh tentara Belanda di Lapang Kerkof, Kabupaten Garut, di hadapan warga setempat pada tanggal 10 Agustus 1949.

Nisan Yang Chil-seong (world.kbs.co.kr)

Ketiga jasad pejuang itu dikuburkan secara Islam sesuai dengan permintaan terakhirnya di pemakaman umum Pasir Pogor, Kecamatan Tarogong Kidul. Akhirnya, Pemerintah memindahkan mereka ke Taman Makam Pahlawan Tenjolaya, Kabupaten Garut, Jawa Barat pada tahun 1982.

Petugas Taman Makam Pahlawan pada Dinas Sosial Garut Imam Sukiman membenarkan ada makam pahlawan asal Korea dan dua tentara Jepang. “Ya, betul ada orang Korea yang pro Indonesia dimakamkan di Makam Pahlawan Tenjolaya sini,” kata Imam Sukiman. Pahlawan asal Korea tersebut tertulis dalam batu nisannya bernama Komarudin.

Makam pahlawan dari Korea tersebut, kata Imam, selalu dikunjungi oleh keluarganya yang datang langsung dari Korea Selatan, bahkan batu nisannya itu diganti oleh pemerintah Korea Selatan yang diberikan dengan cara upacara militer.

Makam Yang Chil Sung dan Rekan Seperjuangan (world.kbs.co.kr)

Selain dikunjungi keluarganya, keberadaan makam pahlawan asing itu pernah didatangi oleh seorang profesor asal Korea Selatan untuk mengetahui kebenarannya bahwa yang dimakamkan di Garut adalah orang Korea. Komarudin asal Korea ini pernah ditelusuri benar tidaknya adalah orang Korea dan Jepang yang membelot melawan Jepang dan Belanda,ujar Imam Sukiman.

Kini, kisah perjuangan asal Korea untuk bangsa Indonesia itu tetap dikenang. Jasadnya tetap terkubur di tanah Garut berjejer dengan makam pahlawan lainnya. Hal ini sebagai bukti kecintaannya untuk Indonesia. (Antara).

  11 Responses to “Kisah Kepahlawanan Serdadu Korea Berjuang di Garut”

  1. Baru tw ada pahlawan dari korsel

    • Salam Hormat buat Komarudin bin Yang Chil Seong…..

      Saya juga baru tau, ternyata ada juga Pahlawan Indonesia asal tetangga sebelah………. jadi pengin malu….. xixi….

      IBRAHIM YACOOB, ORANG MALAYSIA YANG JADI PAHLAWAN INDONESIA

      Tidak salah kiranya beberapa waktu lalu tulisan saya tentang integrasi Malaysia ke Indonesia menjadi solusi terbaik bagi hubungan kedua negara.Integrasi Malaysia menjadi bagian dari Republik ini tentu menjadi penting, agar tak perlu lagi saling ngotot tentang batas-batas teritorial, klaim seni-budaya, klaim kuliner yang di lakukan Malaysia.Kejadian sepertiinisden petugas KKP yang baru lalu sangat memicu sensitifitas nasionalisme Indonesia.

      Tentu dengan bergabungnya Malaysia ke dalam naungan Republik Indonesia tidak akan ada lagi kemarahan dari masyarakat Indonesia jika mereka mengklaim semua seni-budaya kita.Bahkan mereka boleh sesuka hati memanen ikan di perairan Indonesia dengan syarat bergabung dengan Indonesia.Bukankah bangsa serumpun selalu menjadi jargon untuk menyatukan hubungan antara Malaysia dan indonesia.

      Ternyata ide penyatuan Semenanjung Malaya yang saya wacanakan beberapa waktu lalu ( Mari Pindahkan Ibukota RI ke Kuala Lumpur) telah lama digaungkan oleh seorang warga Malaysia jauh sebelum mereka memperoleh hadiah kemerdekaan dari Inggris itu.Nama orang itu adalah Ibrahim Yaacoob, di Indonesia beliau lebih dikenal dengan nama Iskandar Kamel.Gagasan tentang Indonesia Raya yang memasukan Semenanjung Malaya sebagai bagian dari Republik ini telah diusung oleh Ibrahim usai perang dunia kedua.

      Ibrahim si pengagum Bung Karno ini lahir dari suku Melayu keturunan Bugis pada 27 November 1911 di Kampung Tanjung Kertau, Temerloh, Pahang.Nasionalisme tentang Indonesia dipelajarinya saat bersekolah di Tanjong Malik, Perak.Disanalah ia mulai mebaca surat-surat kabar Indonesia seperti Persatuan Indonesia dan Fikiran Ra’jat pimpinan Soekarno itu.

      Pada usai 28 tahun Ibrahim bersama kawan-kawannya mendirikan sebuah organisasi yang diberi nama Kesatuan Melayu Muda yang kemudian membawanya menjadi seorang nasionalis radikal pengagum Soekarno.Ketika Jepang mendarat di negeri ini, kemudian membentuk PETA di Jawa dan Giyugun di Sumatera dan Malaya, Ibrahim turut serta dan kemudian tahun 1944 dilantik menjadi Komandan Giyugun dengan pangkat Letnat Kolonel.

      Ketika Soekarno, Hatta dan Rajiman berangkat ke Vietnam menemui Marsekal Terauchi 8 Agustus 1945 dalam perjalanan pulang mereka mampir ke Perak dan disana bertemu dengan Ibrahim Yacoob.Dalam pertemuan itu Ibrahim menyatakan kepada Soekarno-Hatta bahwa orang Melayu ingin mencapai kemerdekaan bagi Malaya dalam kesatuan Indonesia Raya.

      Soekarno sangat terharu dengan semangat yacoob ini dan berjanji untuk membangun satu tanah air bagi bangsa-bangsa keturunan Indonesia Raya.Deskripsi Indonesia Raya sendiri meliputi Semenanjung Malaya.Lalu dengan tegas Ibrahim menjawab, “Kami orang Melayu akan setia menciptakan ibu negeri dengan menyatukan Malaya dengan Indonesia yang merdeka.Kami bertekad untuk menjadi orang Indonesia.”

      Namun itu semua tak pernah menjadi kenyataan, ketika Jepang menyerah pada 15 Agustus 1945 PETA dan Giyugun di bubarkan dan cita-cita Indonesia Raya sirna.Soekarno kemudian mengajak Ibrahim bergabung dalam perjuangan di Jawa karena situasi di semenanjung Malaya tidak aman.

      Dua tahun sebelum Malaysia diberi kemerdekaan oleh Inggris, tepatnya November 1955, seorang tokoh Malaya Tunku Abdul Rahman mengunjungi Jakarta atas undangan Soekarno.Ketika itu Tunku Abdul Rachman dipertemukan dengan Ibrahim Yacoob.Ternyata pandangan kedua tokoh Malaya ini bertolak belakang, Tunku Abdul Rachman ingin Malaya merdeka di bawah naungan Commonwealth Inggris, sedangkan Ibrahim ingin Malaya bergabung dalam naungan Indonesia Raya.Namun pada akhirnya Inggrislah yang memenangkan pertarungan ini dengan menempatkan Malaya berada di bawah naungan Commonwealthnya.

      Ibrahim pernah menjadi anggota MPRS mewakili Riau pada masa demokrasi terpimpin.Ketika Soekarno jatuh pasca peristiwa G-30-S 1965, Ibrahim meninggalkan semua kegiatan politiknya dan kemudian berkiprah di bidang swasta.Ibrahim wafat di Jakarta pada 8 Maret 1979, dia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Dia mendapatkan pangkat Letnan Kolonel purnawirawan TNI-AD, NRP 26217.

      Ibrahim Yacoob telah pergi lebih dari 31 tahun lalu, namun ide dan gagasannya tentang Indonesia raya sungguh masih sangat mencerahkan.Dengan bergabungnya Malaysia di bawah naungan Indonesia Raya niscaya negeri ini akan menjadi bangsa yang besar dan diperhitungkan dalam pentas dunia.Tentu saja kemudian hari bisa menjadi penyeimbang si super power Paman Sam itu.

      Kompas.com

      • Bisa jadi Rakyat Malaysia masih dendam dengan Indonesia. Saat sumpah pemuda malaya mengirimkan utusannya. Tapi saat merdeka malaya tidak diajak merdeka, hanya cuma gara2 beda penjajah. Coba dulu ditetapkan negara Indonesia adalah daerah yang dijajah oleh Belanda dan bekas kekuasaan Kerajaan Majapahit dan Sriwijaya. Pasti akan luas banget wilayahnya Indonesia, karena Inggris harus keluar dari Malaysia dan Singapura

  2. K-POP ternyata udah masuk Indonesia sejak jaman old…

  3. kepahlawanan mereka didorong oleh adanya rasa simpati sesama bangsa Asia terhadap kolonialisme kepada negara lain.

  4. Warga negara lain banyak jg yg bergabung dgn TNI melawan Belanda, tetangga kami dikompleks lingkungan veteran TNI 45 Kodam 1BB jg ada warga negara Pakistan eks tentara Gurka Inggris, sementara orang pribumi malah banyak yg menjadi penghianat menjadi mata2 dan tentara Belanda.

    • Lihat foto diatas sungguh mengherankan. Apa pasal? Sebelah kanan itukan orang indonesia yang menjadi mata mata belanda… Hmmms.
      Sekarang masih ada? Ada bung. Tidak harus dalam kondisi perang, menjual informasi negara (informan) sama halnya menjual negara atau dikenal kerennya penghianat bangsa

      Hehehhee… Peace bung
      Edisi :setia pada NKRI

  5. kemajuan hubungan KORSEL dan NKRI sejalan dengan cita-cita negara besar takharus kita berkiblat dg china melulu jika KORSEL juga mampu menjadi teman yang baik bagi kemajuan disemua sektor usaha di NKRI.

    Lanjutkeun KFX/IFX untuk mengharumkan nama ASIA RAYA From INDONESIA

 Leave a Reply