Jan 162019
 

Tanjung Karawang, Jakartagreater.com   –  Tim penyelam TNI AL sejak diterjunkan, pada Selasa, 8-1-2019 lalu, untuk membantu pencarian CVR Lion Air, pada Senin 14-1-2019 atau di hari keenam pelaksanaan kegiatan berhasil menemukan Cockpit Voice Recorder (CVR) Lion Air PK-LQP dengan posisi di bawah kedalaman 30 M ditambah 8 M di bawah laut yang tertutup lumpur , Jawa Barat.

Komando Pasukan Katak dan Dinas Penyelamatan Bawah Air Koarmada I dengan berbagai rintangan arus dan lumpur akhirnya berhasil mengangkat CVR yang merupakan salah satu bagian dari kotak hitam  yang diperlukan untuk menyelidiki percakapan antara pilot, kopilot, dan pihak pemandu lalu lintas udara. Serda TTG Satria Margono adalah salah satu anggota penyelam TNI AL yang pertama kali menemukan CVR tersebut.

Dalam misi pencarian itu, TNI AL mengerahkan KRI Spica-934 dengan Komandan Letkol Laut (P) Hengky Iriawan, S.T. dimana Kapal canggih dibawah pembinaan Pushidrosal ini juga membawa 55 orang ABK, 9 orang personel Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), 18 penyelam TNI AL, serta Scientist sebanyak 6 orang.

Selama pencarian di lokasi selebar 5 x 5 meter di titik diperkirakan keberadaan CVR, yang jaraknya 50 meter di lokasi diketemukannya Flight Data Recorder (FDR). Selanjutnya TNI AL yang diwakili oleh Kapushidrosal Laksda TNI Drs. Ir. Harjo Susmoro, S.H., M.H., menyerahkan secara simbolis CVR kepada Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono untuk dilakukan investigasi lebih lanjut.

Pesawat Lion Air JT 610 yang mengangkut 189 orang penumpang yang terbang dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta tujuan Pangkal Pinang, jatuh pada Senin, 29 Oktober 2018 di Tanjung Karawang.


Operasi Pencarian

Dalam rangka Operasi Pencarian lanjutan CVR Lion 610 di perairan Tanjung Karawang, TNI angkatan Laut terlibat secara langsung dalam Satgas yang dibentuk oleh Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dimana dalam pencarian tersebut, TNI Angkatan Laut mengerahkan 2 Unsur KRI yaitu KRI Spica-934 dari Pushidrosal dan KRI Leuser-924 dari Satban Koarmada I serta 25 personel Penyelam dari Dislambair Koarmada I.

Satgas yang dibentuk dan dikoordinir oleh KNKT ini akan melaksanakan pencarian selama 7 hari ditambah 3 bila CVR belum ditemukan. Tim Satgas mulai melaksanakan operasi pencarian pada tanggal 8 Januari 2019 yang dilepas oleh Menteri Kemaritiman.

Tim Penyelam dari Dislambair Koarmada I yang dipimpin oleh Kadislambair Koarmada I Kolonel Laut (E) Monang Sitompul membawa 25 Personil dengan didukung alat apung LCU 1 unit, Perahu Karet 1 unit, Alat Selam yang terdiri dari Crabe dan Scuba, ALB, Tali, Staldrat, dan peralatan pendukung lainnya.

Kegiatan yang telah dilaksanakan yakni pada tamggal 11 Januari 2019, tim telah melaksanakan penyelaman dengan Diving Station KRI Spica-934 pada kedalaman 28-42 meter dengan menggunakan alat selam Mixgas Crabe dan Scuba alat deteksi Ping Locater pinjaman dari Singapore dan KNKT oleh 21 orang penyelam TNI AL (Dislambair dan Kopaska) pada posisi 05? 48’ 46.503” S – 107? 07’ 36.728” E dengan didukung oleh KRI Spica-934 dan Alpung berupa 1 LCDS dan 2 Perahu Karet.

Mekanisme kerja dilaksanakan dengan cara Penyelam turun ke bawah laut dengan teknik 8 buddy (16 org) selama 20 menit sampai 1 jam secara bergantian mencari dan mendengar suara Ping CVR Lion 610, dan dibantu penyapuan dengan magnetometer oleh KRI Spica-934 mendetek posisi CVR.

Hasil yang diperoleh suara ping dan sinyal dari CVR Lion 610 hilang kemungkinan battrey CVR menjadi lemah sudah 73 hari tmt Crash 29 Oktober 2018, ditemukan accelemeter yang mana posisi semula berdekatan dengan CVR (10 cm) info KNKT, Human Remain (tulang belulang) dari korban 7 kg diamankan dalam freezer. Kegiatan selanjutnya, melaksanakan penyedotan pasir lumpur di area dugaan CVR terpendam dengan menggunakan Ejector Airman.

Permasalahan yang dihadapi, Satgas belum didukung Mobile Hyperbaric Chamber untuk stand by di lokasi salvage (Sudah diminta persurat ke Panglima Armada tembusan Dispotmar Mabesal).

Dihari ke-6 pencarian tepatnya Minggu 13 Januari 2019, melaksanakan penyelaman lanjutan dengan Diving Station KRI Spica-934 dan asistensi KRI Leuser-924 Hyperbaric Chamber di KRI Leuser-924, Alpung berupa 1 LCDS dan 2 Perahu Karet pada posisi 05? 48’ 46.503” S – 107? 07’ 36.728” E menggunakan alat selam Mixgas Crabe, KMB 37 dan Scuba dilengkapi Alkom BA oleh 25 orang penyelam TNI AL (Dislambair dan Kopaska).

Mekanisme kerja, Penyelam turun ke bawah laut 6 buddy (12 orang) selama 20 menit sampai 1 jam secara bergantian dengan meraba dan merogoh area yang diduga posisi CVR, namun CVR belum ditemukan. Kegiatan selanjutnya, menyapu area duga dengan menurunkan 4 penyelam sekaligus circle dengan tali jalan.(Dispenal & Koarmada I)