Jul 102017
 

Chu Chi Tunnel (Jorge Lascar)

“Tak ada pemenang dalam perang, semuanya pecundang karena tidak ada satu orang pun yang ingin hidup pada zaman perang,” ujar Nguyen Hai Dang, pemandu wisata sejarah Terowongan Chu Chi atau Chu Chi Tunnel, Vietnam.

Sempit, sesak, dan gelap. Setidaknya tiga kata itu bisa menggambarkan terowongan yang menjadi saksi bisu perjuangan tentara Vietnam pada zaman perang dalam kurun waktu 1957 dan 1975.

Hai Dang bercerita saat itu penduduk di wilayah Cu Chi berinisiatif membuat terowongan sepanjang 200 kilometer untuk mempertahankan hidup demi melawan penjajah dan merdeka.

Terowongan bawah tanah ini memiliki pintu masuk dan keluar yang sangat sempit, hanya seukuran badan orang-orang Vietnam pada umumnya yang langsing, sebuah strategi agar tidak dapat dimasuki tentara Amerika Serikat dan sekutunya yang bertubuh besar.

Hai Dang juga meunjukkan salah satu gundukan batu tidak jauh dari pintu masuk terowongan.

“Ini ventilasi agar udara bisa masuk, dan dibuat seperti rumah semut untuk mengelabui musuh,” katanya.

Selain itu, terdapat jebakan. Apabila terinjak, musuh akan terjatuh ke dalam lubang dalam yang sudah ditanam puluhan bambu runcing.

Terowongan ini berliku dan terhubung satu sama lain. Di dalamnya terdapat ruang operasi, ruang makan, hingga mencapai sungai sebagai sumber air dan pintu keluar darurat.

Semakin jauh menyusuri terowongan, semakin sempit dan memaksa pengunjung untuk menunduk lebih rendah agar tidak terbentur. Artinya, pengunjung harus mengatur napas karena semakin berebut ruang untuk menghirup oksigen.

Hai Dang sejak awal memperingatkan bahwa pengunjung harus dalam kondisi sehat. Bagi yang memiliki riwayat penyakit jantung dan asma tidak disarankan untuk menikmati wisata susur terowongan ini, meskipun lorong tersebut kini sudah dimodifikasi dengan cara memugar salah satu pintu masuk menjadi lebih lebar dan mudah dimasuki pengunjung.

Sejak dibuka sebagai tempat wisata pada tahun 1990, tidak seluruhnya cabang terowongan dibuka, hanya sepanjang 120 kilometer yang bisa dibuka.

Hai Dang yang telah bekerja sebagai pemandu wisata Terowongan Chu Chi selama 15 tahun, mengaku bangga bisa memperkenalkan saksi sejarah kepada para pelancong dari mancanegara.

Wisata susur Terowongan Cu Chi setiap harinya dikunjungi sekitar 2.000 orang dan lebih banyak lagi ketika akhir pekan.

“Saya senang bisa bekerja di sini karena terowongan ini sebetulnya ide masyarakat setempat untuk melindungi para pejuang kami dalam meraih kemerdekaan,” katanya.

Wisata Wajib

Terowongan Chu Chi merupakan salah satu wisata wajib yang dikunjungi apabila berkesempatan mengunjungi Kota Ho Chi Minh, selain Ben Thanh Market, Saigon Opera House, dan City Hall.

Jaraknya memang jauh dari pusat kota Ho Chi Minh, 57 kilometer, namun, pengunjung tidak perlu khawatir, terutama pelancong “backpacker” karena dengan hanya menaiki bus sebanyak dua kali, akan diantarkan hingga pintu gerbang wisata Terowongan Chu Chi.

Titik keberangkatan bisa dimulai dari Pasar Benh Thanh dengan menaiki bus bernomor 13 menuju Terminal Chu Chi dengan tarif 7.000 dong Vietnam atau sekitar Rp 4.200.

Setelah sampai terminal, pelancong beralih ke bus nomor 79, menuju Terowongan Chu Chi dengan tarif 6.000 dong Vietnam atau Rp 3.500.

Namun, Bus 79 afgak jarang ditemui, jadi disarankan pelancong bepergian pada pagi atau sing hari dan hindari hingga malam hari.

Total waktu tempuh sekali jalan selama 3 jam atau pulang pergi sekitar 6 jam, karena bus melaju dengan kecepatan yang bisa dibilang sangat pelan.

Dari pintu gerbang wisata, pengunjung berjalan terlebih dahulu sekitar 500 meter untuk mencapai “check point” pertama, yaitu menonton film yang menayangkan sejarah singkat peran Terowongan Chu Chi pada masa perang pejuang Vietnam (Vietkong) melawan tentara Amerika Serikat.

Selanjutnya, pengunjung mulai diperlihatkan pintu masuk terowongan yang asli dan dipersilakan untuk mencoba menyusuri dengan jarak yang paling dekat dengan pintu keluar sekitar 5 meter.

Setelah itu, pemandu akan menggiring ke sejumlah lorong yang di dalamnya ada patung-patung Vietkong yang seolah melakukan kegiatan sesuai dengan fungsi ruangan tersebut. Misalnya, ruang makan dan ruang operasi.

Pengunjung juga dibawa ke terowongan yang lebih menantang, yaitu lebih panjang, sempit, dan rendah yang sangat menguras tenaga.

Setelah menyelesaikan tantangan terakhir, pengunjung diberi makanan singkong rebus dengan taburan kacang, gula, dan garam sebagai pengganti kalori yang terbakar setelah menyusuri lorong tadi.

Wisata Terowongan Chu Chi juga menjadi salah satu tujuan para pelancong asal Indonesia, yaitu Ahmad Irfan dan Rifqi Azmi.

Meskipun berkunjung ke Kota Ho Chi Minh lantaran sebagai delegasi Indonesia dalam ASEAN Youth Exchange on Education 2017, mereka menyempatkan mencoba sensasi wisata unik ini.

Ahmad Irfan yang masih berkeringat dan terengah-engah setelah menyusuri terowongan itu, mengaku puas bisa berkunjung ke Terowongan Chu Chi Tunnel di sela waktu yang sempit, karena harus menghadiri konferensi pemuda tingkat ASEAN.

“Kalau ke Ho Chi Minh, wajib ke sini,” ujar mahasiswa asal Papua itu.

Hal sama juga dirasakan Rifki Azmi yang tidak menyesal pergi jauh-jauh ke pinggiran Kota Ho Chi Minh untuk mengunjungi Terowongan Chu Chi.

“Saya mungkin akan memberikan pelajaran sejarah Vietnam kepada anak murid saya,” ujar Rifki, guru sekolah dasar di Jakarta.

Bagi para pelancong yang ingin membeli suvenir atau oleh-oleh juga tersedia toko di kawasan wisata, mulai dari atribut Vietkong, pajangan khas Vietnam, hingga camilan, dilansir ANTARA, 9/7/2017.

Selain itu, juga terdapat museum yang menampilkan foto-foto serta nama-nama pejuang Vietnam pada masa penjajahan melawan pasukan Amerika Serikat.

Bagikan:

  7 Responses to “Kisah Terowongan Pejuang Heroik Vietnam”

  1.  

    Lubang yang sempit tentunya susah masuknya.

  2.  

    semua itu berkat pelatihan yg diberikan kopassus thd tentara vietcong dlm taktik strategi perang

  3.  

    Tentara amerika kalah!!

 Leave a Reply