Aug 012017
 

Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama-sama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) berkolaborasi untuk meningkatkan kerja sama pembangunan infrastruktur kelautan dan perikanan di sejumlah daerah.

“Saya sangat senang pihak JICA bergerak cepat merealisasikan rencana kerja sama Indonesia dan Jepang. Saya harap, kerja sama ini dapat menyokong perbaikan infrastruktur kelautan dan perikanan Indonesia, sehingga meningkatkan produktivitas nelayan,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dalam siaran pers, pada Selasa 1 Agustus 2017.

KKP bersama delegasi JICA juga sudah mengunjungi Pelabuhan Perikanan Indonesia (PPI) Amagarapati, pada Selasa 25 Juli 2017 di Larantuka, Flores Timur.

Dirjen Pengelolaan Ruang Laut KKP Brahmantya Satyamurti Poerwadi memaparkan, PPI Amagarapati adalah hibah dari pemerintah Jepang untuk Indonesia yang dibangun tahun 2010 lalu.

“Pada tahun 2010, pemerintah Jepang melalui JICA membangun fasilitas di PPI Amagarapati. Sampai sekarang ini PPI Amagarapati keadannya sangat terawat dan digunakan maksimal oleh masyarakat sekitar. Terlihat disana ada aktivitas nelayan seperti pendaratan ikan dan ini sangat baik. Kualitas bangunannya juga sangat baik,” jelas Brahmanty Satyamurti Poerwadia .

Beragam hal tersebut, ujar Dirjen Pengelolaan Ruang Laut KKP, yang menyokong KKP dan pemerintah Jepang melalui JICA untuk datang kembali guna melihat keadaan apakah bantuan pemerintah Jepang di PPI Amagarapati masih berfungsi dengan baik atau tidak.

PPI Amagarapati mempunyai sarana prasarana seperti Tempat Pelelangan Ikan (TPI), pabrik es, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN), bengkel, cold storage, pasar ikan, dermaga, dan fasilitas docking kapal. Akan tetapi, TPI dan lokasi pasar ikan belum dimanfaatkan secara maksimal.

Dirjen Pengelolaan Ruang Laut KKP menambahkan, rencananya PPI Amagarapati juga akan menjadi standar dalam pembangunan pelabuhan perikanan yang terintegrasi.

“Dari segi rancangan bangunan, kualitasnya, bagaimana pabrik es dikelola, desain dermaga, tempat pendaratan ikan yang bagus sehingga aktivitas jual beli hasil perikanan dapat dilakukan dengan baik. Inilah yang akan kita contoh untuk pembangunan SKPT (Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu),” ujar Brahmantya Satyamurti Poerwadi.

Sebagaimana diberitakan, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengingatkan pentingnya pembangunan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu di kawasan perairan Indonesia guna memangkas beban logistik sektor kelautan dan perikanan.

“Pembangunan SKPT untuk memangkas proses, jalur transportasi, dan logistik pengangkutan ikan tangkapan nelayan,” ujar Menteri Susi dalam acara penandatangan kesepahaman bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama-sama Pertamina yang diselenggarakan di Kantor KKP, Jakarta, pada Senin 31 Juli 2017.

Menurut Susi Pudjiastuti , pemangkasan jalur dan proses tersebut  akan membuat harga produk perikanan Indonesia menjadi normal atau tidak mahal di pasaran.

https://i1.wp.com/www.wakachiku.co.jp/en/img/construction/image006.jpg?resize=695%2C158

PPI Amagarapati di Larantuka Flores Timur

Hal tersebut, lanjut Susi Pudjiastuti, sebab berbagai pihak yang terkait dengan proses logistik itu tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi yang besar. Selain itu, kata Menteri Kelautan dan Perikanan, dengan adanya pemangkasan itu produk perikanan Indonesia diharapkan juga dapat langsung dikirim ke pasar internasional.

Tetapi, Menteri Susi Pudjiastuti  menyadari bahwa hambatan pembangunan SKPT adalah energi listrik dan BBM sehingga ia juga meminta bantuan dari pihak Pertamina guna memberikan dukungan.

Dukungan tersebut, lanjut Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, bukan dalam bentuk subsidi BBM, melainkan pengadaan  Solar di setiap daerah terutama di wilayah SKPT.  Dirilis Antara 1 Agustus 2017.

  26 Responses to “KKP-JICA Jepang Tingkatkan Infrastruktur Kelautan-Perikanan”

  1. Ini yg bener…biar harga ikan jd murah. Kuta makan ikan tiap hari biar sehat.
    Jng percaya org2 dulu yg mengatakan makan ikan bisa cacingan….xixixi

    • Ya Klau Ikannya Di Makan Mentah Atau Di Jadiin Masakan Seperti Sushi Sih Ya Memang Bisa Buat Cacingan… Soalnya Temen Saya Dah Pernah ngalami…

      • tergantung cara memasaknya bung jim..klo cara nya benar ga mungkin sushi bisa membuat org cacingan, krn itu makanan lezat yg disukai banyak org!!,

        • Hehehe… Emang Sushi Itu Di Masak Ya Bung?… 😛

          • klo daging ikannya sie nggak bung jim, bahan yg lainnya, tp kan ttp ikannya harus di hidangkan sebersih dan se aman mungkin utk dihidangkan, jika semua org yg mkn sushi dan makanan jepang sejenisnya cacingan, mana bisa dong sushi laku keras dipasar dunia…poin nya itu bung jim, jadi dari racikan awal hingga dihidangkannya emang harus higienis..jd dijamin sebanyak apapun makan sushi ga bakal cacingan macem kawan ente itu…

          • klo daging ikannya sie nggak bung, tp bahan lainnya, ikan nya jg emang harus bersih dan aman utk dihidangkan…buktinya smpe skr sushi msh laku keras dipasaran dunia…klo kasus kawan bung jim, itu kemungkinan krn ada alergi or something yg bikin kawan bung jim cacingan..

          • jika semua org yg mkn sushi dan makanan jepang sejenisnya cacingan, mana bisa dong sushi laku keras dipasar dunia

            Ya bisa Lah Bung… Lha Wong Ikan Fugu Yg Racunnya Lebih Berbahaya Dari sianida Aja Juga Bisa Laku Keras… Dan Cacing Memang Banyak Pada Ikan Seperti Ikan Salmon…

          • ya utk apa beli dan makan ikan yg beracun, ente kurang kerjaan bgt, msh banyak ikan yg aman dan lezat serta sehat utk disantap , ini malah cari ikan beracun…aneh2 aja ente, masalah ikan utk dibikin sushi kan ga harus ikan salmon, skr udah banyak beragam sushi dr berbagai macem ikan…ga hrs salmon tok…

          • lagian kawan ente yg cacingan knp jd makanan sushi dikambing hitamkan…klo cacingan dr kecil gmn! makan apapun klo kawan ente kurang bersih dan ga higienis ya ttp aja bisa cacingan…segala makanan pake disalahkan, jd org kok suka menyalahkan aja…kawan ente tu salahkan, knp bs cacingan…paham??.

          • Haaaa Jimmy makan cacing ?

          • iya suhu, si jimmy bahlul doyan makan cacing sm kawannya, jd nya mrk berdua cacingan….mrk berdua koplak!,,

          • maaf suhu..
            kyknya udah lama nie ga baca mari berhitung nya…
            sdh edisi brp ya skr…ke mari berhitung ke 33 klo ga salah ya?..??.

          • dasar si jimmy bahlul koplak PA kabur setelah suhu dtg..pengecut kau…pura2 tidur lg, blg aja takut dibully sm suhu…mental tempe ente jim…bahlul edan

  2. Semua kebijakan bu susi akan kami dukung selagi itu bisa menguntung kan kita..

  3. krn negara kita kaya akan biota laut, terutama ikan yg berlimpah..ane usul kpd pemerintah, hr ini 1 august 2017 dijadikan hari ikan nasional…

  4. Ibu Susi sibuk terus mikir negara & bangsa sampai lupa udah saatnya cari calon mantu

  5. nganmen dulu ya

  6. Ya betul banyaklah makan ikan, biar pinter.

    Berilah anak anda ikan untuk dimakan (namun bukan ikan asin) supaya anak anda menjadi pintar. Beri juga minum minyak ikan 1 sendok per hari supaya pintar.

    Waktu kecil, saya dan kakak-kakak saya makan ikan laut untuk lauk sehari-hari.
    3 kilo ikan laut sehari untuk 6 anak (5 anak dan satu keponakan) dan 4 orang dewasa (bapak, ibu, kakek dan bibi). Hasilnya semua anak orang tua saya jadi juara kelas.

    Waktu kecil saya juga kuat minum susu, satu kaleng susu bendera bubuk ataupun kental manis (bukan susu segar) habis dalam 2 hari.

    Jadi mau anak anda pintar ? Beri dia makan cukup banyak ikan dan minum susu.

  7. mantap suhu…akan sy lakukan pada anak sy jg…tp biasanya sy seimbang, mungkin tiap 2 hari skali ikan berganti dgn daging merah…itu terus berulang2 baik daging kaki 2 maupun 4, tp ikan lbh dominan utk anak sy…dia suka ikan cakalang sm ikan layur dan tuna…tp layur sy yg pisahkan daging sm durinya..tp sayang layur skr jarang diperkotaan…

  8. Idola saya nih

  9. Infrastruktur yang dimaksud tidak di danai dari dana haji kan, ………….. xi xi xi ???

  10. minat sih tapi harus bisa setir pesawat N-219 dulu buat curi hatinya, gak cukup cuma main DJ aja xixi…

 Leave a Reply