Aug 102017
 

Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti dialog dengan nelayan pada kunjungan kerjanya ke Kab. Natuna, Prov. Kepulauan Riau, 7/8/2017. (KKP RI)

Jakarta – Meningkatkan pasokan benih budi daya ikan Nila dengan mengembangkan teknologi sistem corong dengan resirkulasi air terus-menerus, dinilai dapat menggenjot produktivitas.

“Kita memiliki lahan tambak yang banyak yang dapat dimanfaatkan untuk budi daya ikan Nila salin. Teknologi pembenihan dengan sistem corong ini akan mampu menggenjot peningkatan produktivitas dan produksi benih Nila salin,” ujar Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto dalam keterangan tertulis pada Kamis 10 Agustus 2017 di Jakarta.

Slamet Soebjakto memaparkan, melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Ujung Batee Aceh, Kementerian Kelautan dan Perikanan sukses melaksanakan pengembangan teknologi di bidang perikanan budi daya khususnya pembenihan ikan Nila Salin.

UPT Perikanan Budidaya di ujung paling barat Indonesia tersebut berhasil mengembangkan teknologi pembenihan ikan Nila salin dengan sistem corong, yang membuat kebutuhan benih ikan menjadi semakin terjamin dan aman pasokan benihnya.

“Teknologi murni karya anak negeri ini merupakan teknik pembenihan ikan Nila Salin dengan menggunakan perangkat utama berupa tabung menyerupai sebuah corong dan resirkulasi air secara terus-menerus,” ujar Slamet Soebjakto  .

Dirjen Perikanan Budidaya KKP menambahkan, perlakuan ini memungkinkan telur ikan yang berada dalam tabung corong akan mengikuti pergerakan sirkulasi air sehingga dapat mencegah antar telur lengket atau menggumpal sehingga presentase tingkat penetasan telur atau hatching rate (HR) meningkat drastis.

Sebagai perbandingan, nilai HR untuk pembenihan dengan sistem konvensional hanya mencapai 20-40 persen. Sedangkan dengan menggunakan teknologi sistem corong, maka HR dapat disokong sampai mencapai 90 persen.

“Nilai  hatching ratese besar ini merupakan suatu pencapaian yang luar biasa dalam proses penetasan telur ikan nila payau,” ujar Slamet Soebjakto b.

Lebih lanjut Slamet Soebjakto  menerangkan bahwa teknik pembenihan dengan sistem corong bagi ikan Nila ini adalah pengembangan dari keberhasilan teknologi serupa yang terlebih dahulu diterapkan untuk komoditas lainnya.

Slamet Soebjakto  mencontohkan, Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Sungai Gelam Jambi sudah berhasil menerapkan teknologi ini untuk pembenihan ikan Patin.

“Inovasi teknologi pembenihan dengan sistem corong ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh para pembudidaya di berbagai wilayah di Indonesia serta prinsip-prinsipnya juga dapat diadopsi untuk pembenihan jenis ikan yang lain,” ungkap Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto. Dirilis Antara 10 Agustus 2017.

Bagikan :

  10 Responses to “KKP Kembangkan Teknologi Budidaya Benih Ikan”

  1.  

    Good job Bu Susi…yg penting yg dibudidaya bukan ikan piranha ya bu…xixi

  2.  

    yang menghambat,..tenggelamkan buk….xixixi
    malam warjag

  3.  

    Mantap! Lanjutkan buk, buang kelaut para pihak yg menggangu. Program kerja ibuk yg jempolan!

  4.  

    Selain memberantas ilegal fishing,, harusnya program2 yg meningkatkan produktifitas nelayan seperti ini udah dilakuin secara besar2an dari 2thn yg lalu.. Dengan Menjamin pemasaran hasil nelayan, membuat instansi khusus yg menampung hasil nelayan, memperbaiki manajemen usaha nelayan, melibatkan swasta yg bisa berkoordinasi dgn pemerintah, memudahkan kredit utk nelayan, Melibatkan akademis utk riset teknologi terbaru bibit ikan, penyuluhan sampai tingkat desa dan kelompok nelayan, operasi khusus trhadap mafia/tengkulak, dialog khusus menteri dan jajarannya utk mendengar lngsung aspirasi nelayan secara rutin.. Ane yakin kalo dijalanin secara konsisten 5thn kedepan bukan hal yg sulit program pemerintah sbg negara maritim bakal sukses dan penyumbang devisa terbesar di sektor non migas..

  5.  

    Bakar menyan…. Panggil mbah bowo ……

 Leave a Reply