Oct 232013
 
F-16 block 25 yang akan dihibahkan kepada Indonesia sebelum direfurbish (photo: F-16.net)

F-16 block 25 yang akan dihibahkan kepada Indonesia sebelum direfurbish (photo: F-16.net)

Pembahasan tentang hibah pesawat tempur F-16 dari USA seru dan menarik untuk dicermati. Ini informasi tambahan, tentang pro kontra hibah pesawat F16. Semoga bermamfaat:

Varian F-16

Seperti mesin perang lainnya, F-16 terdiri dari berbagai varian, dengan kemampuan dan konfigurasi mesin, avionik, hingga persenjataan yang berbeda, yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan penggunanya. Dimulai dari seri A/B dengan versi block 1/15/15OCU/MLU, kemudian seri C/D dengan versi Block 25/30/32/40/50/52/50D/52+, serta yang termutakhir F-16 E/F Block 60.

F-16 A/B Block 15 OCU milik TNI AU

Dari seluruh varian F-16, TNI AU kini memiliki sepuluh unit F-16 A/B Block 15 OCU. Pada saat awal kedatangannya tahun 1989 memang perangkat persenjataannya belum lengkap di datangkan, namun pada perkembangan selanjutnya, F-16 milik TNI AU turut dilengkapi dengan Misil Sidewinder P4 All aspect, dan juga AGM-64D Maverick. Selain itu verisi Block 15 OCU juga dilengkapi dengan HUD yang lebih besar, serta memiliki perangkat radar altimeter sebagai standar, yang memungkinkan F-16 ini dapat melakukan navigasi terbang rendah mengikuti kontur bumi. Dengan demikian F-16 yang TNI AU miliki memiliki kemampuan untuk bertempur dalam cuaca dan menyerang dengan presisi yang tinggi. Oleh karena itu dalam operasi latihan militer F-16 kerap dijadikan penyerang penutup untuk menghabisi sasaran yang tersisa. Selain handal dalam operasi latihan, dalam kondisi tempur F-16 tetap dapat menunjukan taringnya. Bahkan kini F-16 masih diadikan kuda beban untuk melaksanakan berbagai tugas guna mendukung penegakan kedaulatan NKRI, contohnya adalah operasi patroli di wilayah Ambalat, hingga berbagai patroli di atas pulau-pulau terluar. Kemampuan F-16 untuk melakukan tugas-tugasnya juga di dukung oleh kemampuannya untuk dapat terbang jarak jauh, bahkan apabila membawa beban persenjataan yang sangat berat.

Kesepahaman antara DPR dan pemerintah dalam pengadaan F-16 masih terus mencari titik temu dari segi teknologi dan pembiayaan. Komisi I DPR, sebagai mitra pemerintah dalam bidang pertahanan dan keamanan nasional, memberikan beberapa persyaratan dan skema pembiayaan. Seperti apa? Berikut polemik sekitar ini.

DPR dan pemerintah telah sepakat bahwa pengadaan F-16 penting bagi TNI untuk meningkatkan performa dan kewibawaan TNI di lingkungan regional. Tertuang dalam rencana pembelian di tahun 2011, telah disepakati alokasi dana untuk pembelian 6 unit F16 baru untuk block 52+, senilai lebih kurang us$ 430juta. Alokasi pembelian armament (senjata) dipersiapkan secara terpisah.

Dalam perkembangannya timbul opsi lain. Hasil komunikasi antara TNI AU dan pemerintah Amerika, secara Goverment to Goverment, pemerintah Amerika menawarkan program hibah F-16 kepada pihak Indonesia. Program hibah ini disampaikan juga oleh Presiden Barrack Obama dalam kunjungan singkatnya ke Indonesia pada 9 November 2010 yang lalu. Hibah F-16 ini telah mendapat persetujuan dari Kongres Amerika, dengan komposisi sbb : maksimal 28 unit F-16 block 25, 2 unit F-16 block 15, dan 28 engine utk F-16 block 25, dengan kondisi “as is where is” (seperti itu, di lokasi itu) alias apa adanya untuk pesawat F-16 yang diparkir di Arizona.(tempat penyimpanan) parkir

Di Arizona, terdapat sebuah padang luas, tempat dimana Amerika memarkir pesawat-pesawat tempur, baik yang masih digunakan maupun yang tidak digunakan lagi oleh militer Amerika. Padang Arizona memiliki kelembaban yang rendah, sehingga pesawat yang diparkir di sana tidak mengalami korosi/kerusakan akibat humiditas. Kongres Amerika telah memberikan izin 28 unit F-16 untuk Indonesia, sementara Indonesia hanya butuh 24, jadi sudah terdapat titik terang. F-16 yang dimaksud kondisi nya terpakai 4000jam sd 6000jam, sehingga harus dilakukan program Falcon Star agar dapat digunakan hingga 8000jam terbang. Menurut KSAU, rata-rata pesawat akan digunakan 10-20jam/bulan, sehingga pesawat bekas tersebut dapat digunakan selama 12 – 15 tahun.

Karena “as is where is”, berarti delegasi Indonesia harus berangkat ke Arizona akan memilih 24 unit pesawat yang terbaik dari ratusan F-16 blok 15,25 yang terdapat di sana.

Dalam penjelasan yang disampaikan menteri pertahanan kepada komisi 1, lebih lanjut ditengarai bahwa pemerintah Amerika ternyata tidak memberikan hibah “begitu saja”. There no ain’t such thing as a free lunch, tidak ada makan siang yang gratis. Mereka menawarkan konsep hibah plus upgrade.

Terjadi Dispute. Proposal yang disampaikan menteri pertahanan, diperlukan biaya sekitar us$ 450 juta – 600 juta untuk proses hibah (termasuk upgrade 24 pesawat) tersebut. Pada kesempatan yang berbeda, terjadi penjelasan Panglima TNI dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi I, ada dua catatan terhadap proses hibah dan upgrade ini. Pertama, pesawat setelah diambil dari Arizona, kemudian akan diupgrade ke block 32. Hasil upgrade bisa selesai dan dikirim ke Indonesia, paling cepat pada tahun 2014 sebanyak 4 (empat) unit, setelah itu disusul dengan pengiriman lainnya. Kedua, biaya hibah dan upgrade 450 juta US dollar harus dibayar pemerintah Indonesia di awal, TUNAI ( perlu diingat ya ..Tunai di muka) (berharap tidak diembargo, tahu tahu barang tidak dikirim) uang hangus

Atas persyaratan tersebut, maka terjadilah perdebatan panjang di ruang rapat Komisi I antara anggota Komisi I DPR RI dengan Pihak Kemenhan.

F-16 Block 25 yang akan dihibahkan ke Indonesia selagi bertugas di Air National Guard (photo; F-16.net)

F-16 Block 25 yang akan dihibahkan ke Indonesia selagi bertugas di Air National Guard (photo; F-16.net)

Beberapa pemikiran yang dimunculkan oleh anggota Komisi I antara lain:

Pertama; kalau waktu delivery nya lama, kenapa harus beli bekas. Kalau beli baru, kita butuh waktu sekitar 36 bulan (sekitar 3 tahun) untuk mendapatkan 6 unit saja dengan daya tahan atau pemakaian jauh lebih lama (up to 8000jam pemakaian). Resiko membeli bekas, dari segi teknologi sudah pasti ketinggalan, walau memang harus diakui dari segi jumlah pesawat lebih banyak dengan jumlah uang yang sama.

Kedua; bila membeli bekas dan kemudian akan melakukan upgrade, maka Komisi I secara bulat mempunyai pemikiran, “bagaimana jika 24 unit pesawat F-16 tersebut diupgrade ke teknologi terbaru saja?”. Berdasarkan penjelasan Kemhan dan TNI AU, block 25 dan bloc 52 memiliki 2 perbedaan mendasar yaitu Perbedaan Sistem Avionik (block 32 menggunakan teknologi Commercial Fire Control Computer – CFCC, block 52 menggunakan teknologi Modular Mission Computer – MMC), Perbedaan Engine (engine block 52 berukuran lebih besar), dan Perbedaan Airframe (mengakomodasi mesin block 52 yang lebih besar, dan penambahan ruang angkut bahan bakar). Pilihannya adalah 24 F-16 block 25 tersebut diganti sistem avionik nya (termasuk mengganti cockpit) menjadi sistem avionic block 52 (sistem persenjataan menyesuaikan), sementara airframe dan engine tetap.

Sisi Teknologi

Konsep Hybrid (perkawinan), yaitu F-16 block 25, dengan kekuatan mesin tetap block 25, tapi avionik serta senjatanya di upgrade ke block 52. Keunggulan terdapat di avionic block 52, yang lebih canggih dari avionic block 25 dan block 32. Catatan : Proposal Kemhan mengusulkan agar upgrade avionic dilakukan menjadi block 32.

Pertimbangan yang mengemuka : karena Indonesia negara kepulauan, maka tidak membutuhkan mesin dengan jangkauannya lebih jauh. Untuk menjangkau Malaysia, misalnya, bisa dari kepulauan Riau, atau Pontianak untuk menjangkau wilayah Malaysia yang dekat Kalimantan. Begitu juga, untuk menjangkau Timor Leste bisa dari Kupang.
Dasar pemikiran dari Komisi I dengan konsep Hybryd itu terkait dengan “efek getar” (deterrent effect) dan daya tangkal. Singapura memiliki F-16 block 52 sejak tahun 1998 yang lalu.. Jadi kalau Indonesia di tahun 2014 memiliki 24 unit F-16 yang diupgrade “hanya” menjadi block 32, maka dinilai tidak mempunyai efek getar di kawasan.

Komisi 1 mempersilahkan Kemhan untuk mempersiapkan beberapa opsi, dilengkapi perkiraan biaya dan waktu, untuk menjadi bahan pertimbangan yang diperlukan. Proposal Kemhan untuk meng upgrade menjadi block 32, dan butuh waktu 3 tahun, dengan ongkos us$450 juta, sementara dari segi efek getarnya juga tidak terasa, maka menurut Komisi I, adalah keputusan yang “nanggung”, perbuatan setengah-setengah. Adalah lebih baik sekalian saja beli pesawat tempur baru sebanyak 6 unit blok 52. Selain efek getarnya lebih terasa, umur pemakaian juga akan lebih lama, yaitu sekitar 30 tahun, dibanding pesawat bekas yang hanya berumur 12 tahun.

F-16 Block 25 yang akan dihibahkan ke Indonesia selagi bertugas di Air National Guard (photo; F-16.net)

F-16 Block 25 yang akan dihibahkan ke Indonesia selagi bertugas di Air National Guard (photo; F-16.net)

Sisi Pembiayaan

Polemik kedua berkaitan dengan sisi pembiayaan. Skema pembayaran FMS (Foreign Military Sale) yang ditawarkan oleh pemerintah, sangat menarik, yaitu G to G (negara dibayar oleh Negara). Namun muncul pemikiran : Hibah, kok Mbayar?

Muncul pemikiran : (mungkin) pesawat bekas nya hibah, tetapi di “bundled” dengan membayar utk pelaksanaan program Falcon Star dan Upgrade.

Skema pembayaran FMS, ada kelemahannya : Pemerintah Amerika minta dibayar tunai 70% dimuka. Artinya, pesawat dikirim 2014 tapi pemerintah harus bayar lebih dulu, sekarang juga. Uang sebesar itu (70% x us$450 juta) tertahan diam di kas pemerintah Amerika. Sungguh disayangkan, semestinya dana sebesar itu bisa kita manfaatkan untuk membeli keperluan TNI lainnya seperti pembangunan pesawat patroli, kapal patroli, tank tempur, dan lain-lain. Ada masukan agar melalui Pinjaman Dalam Negeri oleh Bank Pemerintah, sebagai contoh melalui Bank Mandiri cabang New York, Bank Mandiri atas nama Pemerintah membayar penuh ke pemerintah Amerika, sementara Kemhan membayar ke Bank Mandiri secara installment per tahun (dicicil).

Komisi I sekarang ingin berbuat lebih baik dalam masa pengabdiannya. Jangan sampai hanya menjadi “tukang stempel” pemerintah. Tapi harus benar-benar menjadi mitra pemerintah dalam menghasilkan sesuatu yang terbaik untuk bangsa dan negara. Karenanya Komisi I membahas setiap persoalan, secara detil, teliti, dan berorientasi pada kepentingan bangsa dan negara secara konsisten.

Sisi Pengerjaan Upgrade

Komisi 1 juga menyampaikan pemikiran : untuk memberdayakan kemampuan engineering Dalam Negeri, bagaimana bila proses Falcon Star dan Upgrade Block, dilakukan di wilayah Republik Indonesia? Sehingga terjadi proses pembelajaran dan transfer of technology yang bisa diserap oleh bangsa Indonesia. Kalau proses Falcon Star dan pelaksanaan Upgrade sepenuhnya dilakuka di Amerika, komisi 1 menganggap tidak ada nilai lebih yang signifikan buat industri pertahanan Dalam Negeri. Ini bagian dari komitmen Komisi 1 untuk mendukung pemberdayaan terhadap teknologi dan industri dalam negeri dalam menuju kemandirian alutsista. Pengerjaan upgrade-nya harus dilakukan di Indonesia dengan supervisi dari pihak produsen utama. Kami di Komisi I mengetahui bahwa anak-bangsa kita mempunyai potensi dan kemampuan untuk di bidang teknik perawatan dan upgrade alutsista.

Memahami pemikiran Komisi 1, anak bangsa Indonesia akan mempunyai kesempatan untuk melakukan bongkar-pasang pesawat-pesawat F-16 tersebut. Meskipun mengerjakan barang bekas, ilmu dan pengetahuan yang diperoleh anak bangsa tersebut merupakan aset yang sangat berharga dalam perjalanan bangsa ke depan. Jelas itu jauh lebih berguna bila dibandingkan : beli barang bekas, diupgrade oleh produsen langsung, duit terbang ke negara lain, sementara bangsa sendiri tidak pernah diberi kesempatan untuk pintar.

Jadi selain syarat teknologi dan pembiayaan, Komisi I juga memberikan penekanan pada aspek pengerjaan up-grade tersebut.

Dalam dua kali pertemuan, yaitu Senin (19/09) dan Rabu (21/9) antara pihak Pemerintah dan DPR, kesepakatan belum dicapai. Pihak pemerintah masih akan mengkaji keinginan Komisi I, dan Komisi I juga belum bisa menyetujui kemauan pemerintah. Pihak pemerintah yang hadir dalam pertemuan antara lain Menhan, Wamenhan, Sekjenhan, Panglima TNI, Asrenum (Asisten Perencanaan Umum) didamping oleh Kasau, Wakasau, dan jajaran Angkatan Udara. (by Cinta Tnah air).

  62 Responses to “Know How Hibah F-16 AS by Cinta Tnah air”

  1. semoga saja F-16 menjadi gap cadangan TNI-AU sebelum su-35 pesanan datang.siapa tau…

    • menurut gue apa yang di katakan komisi 1 DPRD sangat ada benarnya, memberdayakan kemampuan engineering Dalam Negeri, bagaimana bila proses Falcon Star dan Upgrade Block, dilakukan di wilayah Republik Indonesia? Sehingga terjadi proses pembelajaran dan transfer of technology yang bisa diserap oleh bangsa Indonesia. Kalau proses Falcon Star dan pelaksanaan Upgrade sepenuhnya dilakuka di Amerika, komisi 1 menganggap tidak ada nilai lebih yang signifikan buat industri pertahanan Dalam Negeri. Ini bagian dari komitmen Komisi 1 untuk mendukung pemberdayaan terhadap teknologi dan industri dalam negeri dalam menuju kemandirian alutsista. Pengerjaan upgrade-nya harus dilakukan di Indonesia dengan supervisi dari pihak produsen utama. Kami di Komisi I mengetahui bahwa anak-bangsa kita mempunyai potensi dan kemampuan untuk di bidang teknik perawatan dan upgrade alutsista. INTIERNYA SEGALA SESUATU JANGAN TERPEDAYA DENGAN IMING2 YANG LEBIH INGAT PESAN Ir.Suekarno Mempelajari sesuatu itu penting karena bisa membuat bangsa kita menjadi besar.

  2. Pendapat SAYA :

    Baru 6 biji Vs 24+6 Bekas plus Upgrade
    =============================
    Meskipun Sukhoi (baru) mempunyai 16 pesawat, pasti hanya 50% yang benar-benar siap tempur, yang lainnya menunggu Perbaikan/Perawatan, dan memperbaiki Pesawat Tempur berbeda dengan memperbaiki Sepeda Motor, butuh waktu panjang apalagi kalau ada Onderdel yang rusak, bisa 1 tahun lebih.

    Contohnya SUPER TUCANO kita yang baru 2 minggu udah 2 unit yang minta Service

    Kalau “HANYA” 6 unit meski baru, saya yakin hanya maksimal 3 unit yang READY to COMBAT, BUAT APA ???? sama dengan kasusnya Sukhoi tahun 2003 yang hanya 4 biji doang, Belum ada Efek Gentarnya sama sekali, Hanya dianggap “Pengenalan Teknologi Baru” bagi TNI-AU, baru setelah Komplit 16 unit baru mulai terasa EFEK GENTAR nya

    Beda kalau 30 unit, meskipun “hanya” Block-32, namun TNI masih bisa FIGHT 15 unit, saya jamin pengalaman tempur Pilot TNI-AU bisa mengimbangi semacam Super Hornatnya AUSIE

    Hal itu sudah terbukti Uji Coba F-5 Vs. F-18 Ausie pada tahun 2002-an, yang membuat Pesawat F-18 ngak berkutik, karena kepiawaian Pilot TNI-AU menyiasati Kelemahan Pesawatnya.

    Saya kira TNI-AU juga Cerdik memilih F-16 Block-25, karena pesawat ini paling Sempurna dari segi Aerodinamis, Sedang Block diatasnya cenderung dipaksakan, sama dengan kasusnya F-18 Super Hornet Australia yang “MENDEM” meski Canggih dan mendapat protes keras para Pilotnya.

    Upgrade Block-32, Karena Hampir sama dengan Block-15 OCU milik TNI, Maka TNI-AU ngak usah menambah biaya lagi buat beli “Maintenance Tools”, dan biaya Trainning para Kru.

    Sisi Pembiayaan
    ============
    Sejak dulu AS seperti itu, Kesempatan tidak terjadi 2 kali, Begitu ada peluang jangan tunggu lagi, Cocok, tangkap peluang itu mumpung Indonesia-AS masih mesrah, sama dengan Hibah 10 Kilo, Cocok, sikat habis, sebelum diambil orang lain (Malingsia misalnya).

    Sisi Pengerjaan Upgrade
    ==================
    “BUTUH BIAYA LAGI”, Block-32 termasuk baru di TNI-AU jadi ngak bisa kita rakit sendiri, butuh waktu panjang untuk “Learning”, padahal TNI-AU butuh “CEPAT” untuk memenuhi MEF-1
    juga mengundang Resiko, dan Jelas AS juga ngak mau Hi-Technya di pasang sembarangan (Garansi)

    ————————————————————————————————
    Kalau kita ngomongkan Anggota DPR, yang ada adalah “Segerombolan Anak Taman Kanak-Kanak”, Pada Waktu Pak Dahlan-Iskan ke DPR, dibenak beliau pasti sehebat Parlemen di Inggris atau di Amerika, karena beliau pernah ke sana, FOKUS, SINGKAT-PADAT-PERWIBAWA.
    Tapi yang terjadi malah : Cengengesan, Bicara Ngalor-Ngidul keluar jauh dari Pembahasan, Sombong tapi KOSONG,
    Demikian juga dengan Pembahasan Alutsista juga sangat Lucu, bener-bener NEWBIE namun SOK PRO, malah bikin kacau dan menghambat.

    Salam…..

    • Di lembaga manapun tak terkecuali Komisi I DPR, pasti ada orang2 kompeten, mempunyai visi/wawasan/konsep, komitmen, dan passion (minimal ketertarikan pada pekerjaannya) dan ada yang tergolong pelengkap penderita, asal ada. Di samping itu masih ada yang dari latar belakangnya harusnya kompeten tapi opininya lucu, bisa karena asal oposisi atau memang tidak menguasai bidang tertentu, seperti amirul jamaah al amblesiyah yang bintang 2…

      Dari uraiannya saya duga kuat bung Cinta Tanah air ini adalah anggota Komisi I dari golongan pertama, “memberdayakan kemampuan engineering dalam negeri” dalam bentuk melakukan pekerjaaan upgrade di sini adalah suatu nasionalisme teknologi yang patut diapresiasi dan tentunya berasal dari pemikiran sejumlah anggota, tidak hanya 1 orang. Dan masalah ini sepertinya terlewatkan/’overlooked’ oleh Kemhan saat melakukan deal dengan Amrik.
      Keinginan ini sangat masuk akal, karena offset dari pembelian F-16 di masa orba adalah pengerjaan material komposit yang persyaratan kualitasnya ketat di IPTN/PTDI.

    • Hal itu sudah terbukti Uji Coba
      F-5 Vs. F-18 Ausie pada tahun
      2002-an, yang membuat
      Pesawat F-18 ngak berkutik,
      karena kepiawaian Pilot TNI-AU
      menyiasati Kelemahan
      Pesawatnya.
      ——————
      konon F-5 sulit “dilihat” oleh pespur lawan, jika dapat terlihat mampu menghilang dgn cepat

      • boleh kasil linknya , soalnya saya penasaran gimana bagaimana bisa radar AN/APG-65 f 18 enggak bisa liat f 5 tni au

      • Ditahun segitu Link-nya udah wafat gan……..
        Mending tanya aja ke Pilotnya di Madiun,Jatim

        Analoginya begini :
        Radar tercanggih sekarang pun, hanya dapat melihat paling banter 180 derajat arah depan, bagaimana yang dibelakang, atas, bawah ? hanya dihandle oleh RWR (Radar Warning Receiver) yang hanya menerima emisi (pasif) saja.

        Yang saya dengar pilot F-5 berani melakukan gerakan menghindar secara EKSTRIM dengan melawan gaya G besar ketika merasa akan terkunci, hal ini dilakukan karena pilot TNI-AU telah MENGETAHUI betul kemampuan F-5 sampai batas ekstrem dan BERANI. Sedang pilot Aussie terlalu takut untuk melakukannya (takut mati ?). kemudian menghilang di balik awan dan berbalik mengunci F-18.

        Pilot Aussie juga kesulitan untuk mengoptimasikan RWR, karena pilot TNI hanya menghidupkan radar “kunonya” seperlunya saja sambil MENJEBAK, dan mengandalkan insting dan perhitungan yang tepat.
        kemungkinan pilot Aussie terlalu malas(mungkin juga bodoh) untuk itu dan hanya mengandalkan PERANGKAT CANGGIHNYA.

        “The Man Behind The Gun” itulah filosofi kuno yang akan dianut para ACE sampai kiamat

        Bukan tidak mungkin Super Tucano bisa merontokkan F-35, kalau berada di tangan pilot yang tepat.

    • Om melek tehno….setuju 1000000% klo urusan omongan ngaler ngidul wetan belor ‘bullshit’ dpr nih…laga tampang orang terrrrhormat…..ada seorang anggota dpr ngobrol ringan..ttg kinerja…bla..bla..bla…kok seolah2..dirinya pengambil keputusan…padahal beliau legislatif…sicko..pengalaman pribadi….apalagi rapat urusin alutsista…..haaaaaa banyangin saja bgm jalanya rapat ini….dagelan ..sotoy..seolah2 dia pernah menggunakan..etc..miris

    • Usulan Komisi I agar avionic ditingkatkan ke blok 52, sementara Kemhan hanya mengusulkan blok 32 adalah suatu kejelian tersendiri. Piranti elektronik mutakhir biasanya berukuran lebih kecil dari versi lama, sehingga upgrade ke blok 32 memang rada nanggung, karena penggantian piranti tidak termasuk major works yang mengubah airframe.

      Jika upgrade dilakukan di PTDI, tentunya supervisi dan pelatihan oleh teknisi USAF atau kontraktornya termasuk dalam paket, tidak diserahkan mentah2.
      Teknisi PTDI sudah terbiasa bekerja dengan pengawasan QA/QC sangat ketat, seperti dituntut dalam pengerjaan part Airbus A380.

      Seperti kata pak Habibie, kita harus merebut manhours, dan pekerjaan upgrade ini bukan sembarang manhours.

      • setuju banget mas yg upgrade PT DI under mentoring USAF , juga radar range perlu di tingkatkan klo bisa pake IRBIS E dan klo bisa yg bisa detect pesawat stealth skalipun ( bermimpi) senjata nya bisa nembak over horizon

        spt yg agan agan ajarkan dg pilosopi first-look first-shoot kira kira F16 ini gimana yach .. mungkin klo dog fight pilot kita Insya Allah bisa ngatasi

    • Kita semua pecinta tanah air, namun kita juga perlu realistis. Jangan sampai dikit-dikit mengatasnamakan peningkatan engineering dalam negeri, kemudian Komisi I merasa lebih nasionalis dibanding TNI AU.

      Memangnya kalau dapat pekerjaan membuat komponen atau merakit F-16 lantas engineering kita menjadi maju dan PT DI sehat? Dengan nilai upgrade 24 F-16 katakanlah cuman 500 juta US$, nggak ada yang bisa diharap untuk memberdayakan teknologi Aeronautika kita. Kita lihat PT DI sendiri sekarang sudah kewalahan menangani order dari mana-mana. Saya dulu di IPTN, dan dulu IPTN mencetak beberapa komponen F-16, tapi bukan komponen kritikal. Toh offset F-16 ini nggak bisa diharap untuk memajukan engiineering kita.

      Kalau untuk memajukan engineering dalam negeri, cobalah DPR top prioritas mendukung pengembangan dari A sampai Z seperti N-219, New N250, KFX/IFX, dll. Uang yang dikorup pejabat mendingan disisihkan untuk membiayai pengembangan pesawat ini. Karena sekalinya kita bisa membuat pesawat dan mendapat sertifikat kelaikan udara dari AS dan Eropa, maka yang akan menikmati berkah adalah sampai anak cucu. Kalau hanya sekedar karoseri, nggak ada yang bisa diharap banyak dari industri pesawat.

      Btw, itu Merpati kok sampai bisa beli MA-60? Pesawat yang hanya di sertifikasi oleh China. Merpati, BUMN yg selalu disetujui subsidinya oleh DPR, beli 15 MA-60 tapi sudah jatuh 2.

    • Sebenarnya klo urusan f-16 hibah sebenarnga udah clear dan diterima sepenuhnya oleh DPR. Itu pilihan TNI AU, untuk menyiasati anggaran, target MEF 1, kuantitas dibanding luasnya wilayah nkri.
      Pendapat mr melektech sy sgt setuju.
      Soal f16 hibah ini sudah dibahas rinci di media media, di majalah angkasa dst. Insyaallah ini salah satu keputusan terbaik bagi TNI dan klo sudah disetujui DPR RI maka menjadi keputusan bersama.

    • Artikel diatas pernah sy baca di linknya fayakhun andriadi anggota DPR dapil jakarta di link ini
      http://www.fayakhun.com/2011/09/polemik-hibah-f-16/

  3. Ngeri beneeer pencerahan bung Melektech… Kalo gitu skalian pencerahannya yg uda disebutin sedikit tadi di atas…..kilo…kiloo…

  4. bisa nggak
    ambil 28 blok 25+15 hibah tanpa uprgrade (gratis)
    trus bli 6 blok 52 (mbayar)

    kalau cuman airframe coba tanya PT-DI pasti sanggup tuh……
    cobalah tunjukin kalau f-16 bukanlah masalah n udah beneran siap untuk IFX

  5. F16 dipilih karena medium dari segi kemampuan dan perawatan, klo yg high level pasti dipegang sama yang buatnya. kalau dari dulu tdk memakai SU- 27 ( klo dulu dibolehkan US ) mungkin akan beda perlakuan negeri jiran selatan terhadap NKRI.

    klo soal embargo mau F 16,F18 bahkan hawk pun tetap akan diembargo lihat saja mesir sekarang, negara yg “di rayu” dengan bantuan militer supaya tidak menyerang israel pun mulai diputus bantuan militernya apalagi Indonesia yg bukan sekutu cuma sekedar rekan bisnis tambang Migas, lagi-lagi kita yang dicucuk idungnya supaya mau mengikuti atau minimal searah dengan yang produksi alutsista tsb

    Kalu jiran utara yg punya F18 gak kena emabargo padahal nyerang sipil juga tapi beda kasus mereka itu dikelonin inggris, jadi klo inggris kentut mereka harus nurut cium bau kentutnya.

  6. Pesawat tempur yang pas/ harus untuk tni au…?????? Mohon pencerahan..biar ane cerah biar jaya tni

  7. Kita jangan menyepelekan kemampuan diri kita sendiri.
    Lihat Iran, Bahkan RQ-Sentinel, sanggup mereka bajak, dan membuat yang mirip seperti itu dengan kemampuan yang sama menurut versi mereka.(hanya dalam waktu 6 bulan sudah mampu membikin yang seperti itu)

    Lebih baek dibentuk tim khusus untuk mempelajari F-16 ini, dari ujung depan kokpit hingga ujung cerobong jet nya, dari ban-pesawat hingga ke ekor belakang. pelajari senti demi senti tuh kapal. Yang penting adalah kemauan, kerja keras, dan dana yang mengucur deras dari pemerintah. Kita harus meniru semangat Iran:
    – Rudal S-300 Rusia, dibeli, dibedah, dimodifikasi yang bahkan membuat pabrikan asalnya sendiri takjub melihat kemampuan baru rudal modifikasi Iran tersebut.
    – Drone RQ-Sentinel, dibajak, dibikin yang baru dengan kemampuan yang sama, bahkan mereka mampu membaca log penerbangan, rekaman dari kotak hitam Sentinel itu.
    -KCR-KCR Iran memiliki kemampuan luar biasa, yaitu memodifikasi kapal2 jet air yang biasa digunakan untuk lomba di eropa-amrik. Tentu kecepatan sergap dan menghindarnya sangat luar biasa.

    Intinya apa: mereka memiliki semangat yang luar biasa untuk mengembangkan suatu produk, tidak merendahkan kemampuan diri sendiri, dana segar yang luar biasa mengucur deras untuk pengembangan produk tsbt.

    • Ane salut kok ama Iran, kreatip ditengah keterbatasan dan pemerintahnya peduli ama riset.. Cuman banyakan lebay.. Lha pespur siluman masih mock up udah gembar gembornya kayak udah selepel US aja.. Zulfikar tank terjaguh tapi buat parade masih naik tronton.. Katanya bikin Destroyer, tapi liat spek ukuran korvet.. Katanya udah bikin saingan S-300 tapi masih ngarep juga dikirimin paketan Ruskie.. Katanya punya Drone yg bisa bawa senjata, tapi liat potonya senjata pipa dicantolin seenaknya udah gitu rodanya pake roda troli supermarket..

      Punya iran yg ane percaya ya rudal jelajah sama lontong midget-nya, yang lain abu-abu. Selain belum betel propen juga beda gembar gembor sama kenyataan.

      Klo masalah disini lain, disamping dana seret, pemegang mandat masih pada suka obyekan. Disini juga belum ada semacam DARPA, lembaga riset pertahannya Ameriki. Di US dah fokus, pertahanan punya riset sendiri dengan hasil jelas “bikin kejutan buat US sendiri dan kejutan juga buat US enemy”. Disini masih pada sendiri2, palingan arahan dari Kemenhan, and still “mental pegawai” bukan mental periset sejati, yg punya mental periset pada kabur keluar negri (klo yg ini ente jangan percaya ama ane, anggap aja kabar burung).

      Bedah teknologi militer stategis nggak gampang bray, klo gampang China nggak bakal punya divisi hacker dan pencuri. Tinggal pe’ong beres. Nyatanya mereka disamping riset sendiri juga “berburu” teknologi dari US ama Ruskie. Berarti beli trus dicontek doang mereka gak bisa, harus beli maupun nyolong blueprint baru keluar KW-nya. Riset, nyolong apalagi beli butuh Yuan banyak men. Mereka jor-joran Yuan, dikita mah ngirit rupiah. Masih jauuuuh bray. Sabar aja bray, orang sabar pantatnya lebar..

      • Di masa depan sepertinya kita cukup beli satu Su-35, dipretelin seluruh parts-nya, dipilah (komposit, titanium dst) dan dianalisa komposisi material/metal tiap part lalu di’fotokopi’ dengan 3-D printer, terserah mau diperbanyak berapa kali…
        – – –
        The technology is also being used to make complex parts for the electronics, automotive and aerospace industries. Major car manufacturers, such as GM, Jaguar Land Rover and Audi, have been 3-D printing auto parts for a number of years. Leading aircraft manufacturers Airbus (part of the European aerospace and defense group, (EADS)) and Boeing are using it to improve the performance of their aircraft and reduce maintenance and fuel costs. Boeing uses 3-D printing to produce environmental control ducting (ECD) for its 787 aircraft. ECD traditionally requires the production and assembly of up to 20 different parts, but can be 3-D printed in one piece. “Additive Layer Manufacturing is truly game-changing technology that has the potential to revolutionize manufacturing for the 21st century. It can be used for a wide variety of materials from metals to plastics – including composites – and is faster and more efficient to produce. It uses less raw material and produces parts which are lighter, more complex and stronger: in short, this is a leaner and greener technology which can be used in many sectors from aviation through to consumer goods,” explains Dr. Jean J. Botti, Chief Technical Officer at EADS

  8. (Maaf tadi belum baca tentang “Eurocopter EC 725 Cougar TNI AU”, saya kutip dengan penambahan CAPS).

    Sejak tahun lalu kita jadi MITRA STRATEGIS Eurocopter Perancis. Disainnya dari mereka, gambarnya dari mereka. Itu NOL banget. Lalu kita kerjain komponen dari gambar itu. Kita BIKIN badan tengah dan
    buntutnya,

    Karena kan komponennya kita yang BUAT. Meski under license, untuk helikopter ini kita IKUT dari NOL. Kalau yang lain seperti Superpuma, itu komponen bukan kita yang bikin,

    Pekerjaan upgrade? Itu sih bongkar pasang, bukan MEMBUAT, bukan dari NOL.

    (Selamat buat PTDI dengan meraih status MITRA STRATEGIS perusahaan kelas dunia…)

  9. Wah2 kuat dugaan bung cinta tanah air org komisi 1 ? Bung Danu,sempat apa gtu anggota dewan sibuk memberikan pemaparan ke warung ngobrol kita ini ? Maklum dewan kan sprti yg dibilang presiden ke 4 ank TK.
    Kalau ank suka susu cap tiang trud diganti2 dgn rasa cap semut apa rasanya buat si anak ? Ngerti2 ya nak kita lagi terdesak.
    Saya rasa org tua gak tega buat anknya mnderita.
    Tapi liat hibah F16 ini seneng nya mnta ampun para pejabat di menhan.kalau tni sih pasti ingin nya pespur canggih yg siap ditugaskan dan efek detergen nya ok.
    Menggabung2kan barat dan timur,membuat pilot F16 jika berganti pespur sukhoi harus belajar kmbli atw melatih bawa burung besi timur.Dana kita itu ada seharusnya TNI itu naik jadi 100T gak usah naik2 lagi anggaran si Polri.
    Jangan krn mengisi kekosongan di langit biru kita hibah jadi alasan tepat untuk menghalalkan hal demikian.membiasakan yg salah jadi nya yg salah itu biasa. Cobalah kompromi lebih intens dgn rusia,ambil hati dgn mereka. Pasti mw dan mempercepat kemajuan militer kita.Polling SU27-30 itu setara F15SG RSAF.Mw jadi apa kita klo SU yg dibanggakan dgn F15 setara?
    Blm lagi RAAF RSAF bakal dgt F35 untuk melayani negaranya? Apa kita mw dogfight F16 vs F35. Bnyk pesawat tua hnya akan memboroskan,garis bawahin barang tua hnya memboroskan.pemaparan yg bilang untuk mempercepat mef1 mengisi kekosongan itu salah kaprah om agan2 suhu2.pikirkan dana perawatan ini pesawat tua,lebih baik bnyk pespur baru kompeten bersaing di udara.Sma halnya dgn pakaian,udh lusuh pgen nya baru.Upgrade aja bajunya dgn tempel2an biar keliatan baru. Membiasakan yg salah dan jadinya yg salah itu biasa.
    Terlepas dri pada itu ya kita sih cuman mengamati saja.mereka yg lebih tw dan mengerti.

  10. ahli2 Teknik Mesin mana nih??.. bisa buat mesin pesawat belum? kalo belum dananya buat sekolahin lulusan2 Teknik Mesin sampe bisa buat mesin pesawat sendiri.. lebih jelas nasib negeri kita. -Capek Deeeh..

  11. @Bung diego, mw tnya neh. Istilah mef ini lahir ide gagasan dari siapa ? Apakah pemerintah (sby menhan wamenhan) atw dari kalangan TNI ?
    Dulu bung karno ga ada istilah mef menjadikan indonesia sbg macan asia. Malah bung karno menyiasatin ketertinggalan alutsista kita dgn intens komunikasi ke uni soviet(Rusia) yg notabene menjadi pemasok tunggal kemajuan TNI termasuk ank emas nya AURI.
    Kenapa kita harus menginformasikan kpda blok barat soal keinginan kita memajukan TNI kita ? Atw istilah nya permisi,punten dgn Si As ? Bukankah kita memang GNB,politik kita bebas aktif. Apa yg salah ? Mohon pencerahan.bro melektech bisa juga neh atw agan2 yg lain ?

    • Juwono Sudarsono pencetus MEF

    • Setahu saya, istilah Minimum Essential Force (MEF) itu ada dalam program kerja Kementerian Pertahanan dalam melengkapi Alutsista ketiga Angkatan yang dibagi dalam Renstra I :2010-2014, Renstra II tahun 2015-2019 dan Renstra III 2020 – 2024.

      Selain menambah jumlah alutsista, renstra itu juga berbicara tentang peningkatan kemandirian teknologi militer, kualitas dan profesionalitas prajurit hingga sebaran kekuatan personel dan alutsista di tanah air.

      Sebuah negara yang hendak meningkatkan kemampuan militer tentu harus memiliki alasan agar bisa dipahami oleh negara sekitarnya. Alasan kita meningkatkan kemampuan militer adalah untuk mengejar Minimum Essential Force

  12.  menurut dsca : punya thailand dan indonesia

    Untuk thailand :

    4WASHINGTON, September 30, 2010 – The Defense Security Cooperation Agency notified Congress Sept. 29 of a possible Foreign Military Sale to Thailand of a three-phased program to upgrade 18 F-16A/B Block 15 aircraft with the Mid-Life Upgrade (MLU) and associated parts, equipment, and logistical support for a complete package worth approximately $700 million.The Government of Thailand has requested a possible sale of a three-phased program to upgrade 18 F-16A/B Block 15 aircraft with the Mid-Life Upgrade (MLU). Each phase will upgrade six aircraft over a three-year period, with each phase overlapping by one year. The MLU with Modular Mission Computer includes APG-68(V)9 Radar, APX-113 Combined Interrogator and Transponder, ALQ-213 Electronic Warfare Management System, ALE-47 Countermeasures Dispenser System, spare and repair parts, tools and support equipment, publications and technical data, personnel training and training equipment, U.S. Government and contractor engineering and technical support services, and other related elements of logistics support. The estimated cost is $700 million.This proposed sale will contribute to the foreign policy and national security of the United States by helping to improve the security of a major non-NATO ally.Thailand needs this MLU program in order to upgrade its aging F-16 fleet and to increase air sovereignty fighter aircraft effectiveness and interoperability with U.S. forces. The proposed sale will enhance the Royal Thailand Air Force’s capability to conduct day, night, and adverse weather air defense operations. Thailand, which already has F-16s in its inventory, will have no difficulty absorbing these upgrades into its armed forces.The proposed sale of this equipment and support will not alter the basic military balance in the region.The prime contractor will be Lockheed Martin Aeronautics Company in Fort Worth, Texas. There are no known offset agreements proposed in connection with this potential sale.Implementation of this proposed sale will not require the assignment of any additional U.S. Government or contractor representatives to Thailand.There will be no adverse impact on U.S. defense readiness as a result of this proposed sale.This notice of a potential sale is required by law and does not mean the sale has been concluded.

    Untuk indonesia :

    WASHINGTON, Nov. 17, 2011 – The Defense Security Cooperation Agency notified Congress Nov. 16 of a possible Foreign Military Sale to the Government of Indonesia for the regeneration and upgrade of 24 F-16C/D Block 25 aircraft and associated equipment, parts, training and logistical support for an estimated cost of $750 million.The Government of Indonesia has requested a sale for the regeneration and upgrade of 24 F-16C/D Block 25 aircraft and 28 F100-PW-200 or F100-PW-220E engines being granted as Excess Defense Articles. The upgrade includes the following major systems and components: LAU-129A/A Launchers, ALR-69 Radar Warning Receivers, ARC-164/186 Radios, Expanded Enhanced Fire Control (EEFC) or Commercial Fire Control, or Modular Mission Computers, ALQ-213 Electronic Warfare Management Systems, ALE-47 Countermeasures Dispenser Systems, Cartridge Actuated Devices/Propellant Actuated Devices (CAD/PAD), Situational Awareness Data Link, Enhance Position Location Reporting Systems (EPLRS), LN-260 (SPS version, non-PPS), and AN/AAQ-33 SNIPER or AN/AAQ-28 LITENING Targeting Systems. Also included are tools, support and test equipment, spare and repair parts, publications and technical documentation, personnel training and training equipment, U.S. Government and contractor engineering, technical and logistics support services, and other related elements of logistical and program support. The estimated cost is $750 million.The proposed sale will contribute to the foreign policy and national security of the United States by improving the security of a strategic partner that has been, and continues to be, an important force for economic progress in Southeast Asia.Indonesia desires the F-16 aircraft to modernize the Indonesian Air Force (IAF) fleet with aircraft more capable of conducting operations in the outermost border regions of Indonesia. The IAF’s current fleet of F-16 Block 15 aircraft is not capable of fulfilling that role, and the aging F-5 aircraft are expensive to maintain and operate due to diminishing resources existing to support the aircraft. The avionics upgrade will provide the IAF an additional capability benefitting security by modernizing the force structure, and enhancing interoperability by greater use of U.S.-produced equipment. Indonesia, which already has F-16 Block 15 and F-5 aircraft in its inventory, will have no difficulty absorbing these upgraded systems.The proposed sale of this equipment and support will not alter the basic military balance in the region.Indonesia requested the regeneration be sole sourced to the 309th Maintenance Wing, Hill Air Force Base, in Ogden, Utah, and Pratt Whitney, in East Hartford, Connecticut for the engine overhaul. There are no known offset agreements proposed in connection with this potential sale.Implementation of this proposed sale will not require the assignment of any additional U.S. Government or contractor representatives to Indonesia.There will be no adverse impact on U.S. defense readiness as a result of this proposed sale.This notice of a potential sale is required by law and does not mean the sale has been concluded.

    • Terus??

    • tranlate to indonesian,.. silahkan baca gan..

      Menurut Dsca : Punya thailand Dan Indonesia

      Untuk thailand :

      4WASHINGTON 30 September 2010 – Pertahanan Keamanan Kerjasama Badan diberitahu Kongres 29 September dari kemungkinan Penjualan Militer Asing ke Thailand dari program tiga tahap untuk meng-upgrade 18 F – 16A / B Block 15 pesawat dengan Upgrade Mid -Life ( MLU ) dan bagian terkait , peralatan, dan dukungan logistik untuk paket lengkap senilai sekitar $ 700 million.The Pemerintah Thailand telah meminta kemungkinan penjualan dari program tiga tahap untuk meng-upgrade 18 F – 16A / B Block 15 pesawat dengan Mid -Life Upgrade ( MLU ) . Setiap tahap akan meng-upgrade enam pesawat selama periode tiga tahun , dengan setiap fase tumpang tindih dengan satu tahun . The MLU dengan Modular Mission Computer termasuk APG – 68 ( V ) 9 Radar , APX – 113 Gabungan interogasi dan Transponder , ALQ – 213 Electronic Warfare Management System , ALE – 47 Penanggulangan Sistem Dispenser , suku cadang dan perbaikan , peralatan dan perlengkapan pendukung , publikasi dan data teknis , pelatihan personil dan peralatan pelatihan , Pemerintah AS dan layanan dukungan teknik dan teknis kontraktor , dan elemen terkait lainnya dukungan logistik . Perkiraan biaya $ 700 juta.Ini penjualan yang diusulkan akan memberikan kontribusi untuk kebijakan luar negeri dan keamanan nasional AS dengan membantu meningkatkan keamanan jurusan non – NATO ally.Thailand membutuhkan Program MLU ini untuk meng-upgrade -nya penuaan F – 16 armada dan meningkatkan efektivitas tempur udara kedaulatan pesawat dan interoperabilitas dengan pasukan AS . Penjualan yang diusulkan akan meningkatkan kemampuan Royal Thailand Air Force untuk melakukan hari, malam , dan operasi pertahanan udara cuaca buruk . Thailand , yang telah memiliki F-16 dalam persediaan , tidak akan mengalami kesulitan menyerap upgrade ini ke bersenjata rencana penjualan forces.The atas alat ini dan dukungan tidak akan mengubah keseimbangan militer dasar dalam region.The kontraktor utama akan Lockheed Martin Aeronautics Perusahaan di Fort Worth , Texas . Tidak ada dikenal perjanjian diimbangi diusulkan sehubungan dengan potensi ini sale.Implementation penjualan yang diusulkan tidak akan memerlukan tugas dari setiap Pemerintah AS tambahan atau perwakilan kontraktor untuk Thailand.There akan ada dampak negatif terhadap kesiapan pertahanan AS sebagai hasil dari diusulkan pemberitahuan sale.This dari potensi penjualan diperlukan oleh hukum dan tidak berarti penjualan telah menyimpulkan .

      Untuk Indonesia :

      WASHINGTON , 17 November 2011 – Pertahanan Keamanan Cooperation Agency diberitahu Kongres November 16 dari kemungkinan Penjualan Militer Luar Negeri kepada Pemerintah Indonesia untuk regenerasi dan upgrade 24 F – 16C / D Block 25 pesawat dan peralatan yang terkait , suku cadang, pelatihan dan dukungan logistik untuk perkiraan biaya sebesar $ 750 million.The Pemerintah Indonesia telah meminta penjualan untuk regenerasi dan upgrade 24 F – 16C / D Block 25 pesawat dan 28 F100 – PW – 200 atau mesin F100 – PW – 220E yang diberikan sebagai Kelebihan Pertahanan Artikel . Upgrade termasuk sistem berikut utama dan komponen : LAU – 129A / ??A Peluncur , ALR – 69 Radar Penerima Peringatan , ARC-164/186 Radio , Expanded Fire Control Ditingkatkan ( EEFC ) atau Fire Control Komersial , atau Modular Mission Komputer , ALQ – 213 Sistem Elektronik Warfare Manajemen , ALE – 47 Penanggulangan Sistem Dispenser , Cartridge ditekan Devices / propelan Devices ditekan ( CAD / PAD ) , Kesadaran Situasional data Link , Meningkatkan Posisi Lokasi Pelaporan Systems ( EPLRS ) , LN – 260 ( SPS versi , non – PPS ) , dan AN/AAQ-33 SNIPER atau AN/AAQ-28 LITENING Penargetan Sistem . Juga termasuk adalah alat , dukungan dan alat uji , cadang dan komponen perbaikan , publikasi dan dokumentasi teknis , pelatihan personil dan peralatan pelatihan , Pemerintah AS dan kontraktor rekayasa , teknis dan layanan dukungan logistik , dan elemen terkait lainnya dukungan logistik dan Program . Biaya yang diperkirakan adalah $ 750 penjualan yang diusulkan million.The akan memberikan kontribusi untuk kebijakan luar negeri dan keamanan nasional AS dengan meningkatkan keamanan mitra strategis yang telah , dan terus menjadi , sebuah kekuatan penting bagi kemajuan ekonomi di Asia Tenggara . Indonesia menginginkan pesawat F – 16 untuk memodernisasi Angkatan Udara Republik Indonesia ( IAF ) armada dengan pesawat lebih mampu melakukan operasi di daerah perbatasan terluar Indonesia . Armada saat IAF dari F – 16 Block 15 pesawat tidak mampu memenuhi peran itu , dan F – 5 pesawat penuaan mahal untuk memelihara dan mengoperasikan karena berkurangnya sumber daya yang ada untuk mendukung pesawat. Avionik upgrade akan memberikan IAF kemampuan keamanan tambahan diuntungkan dengan memodernisasi struktur kekuatan , dan meningkatkan interoperabilitas dengan menggunakan peralatan yang lebih besar AS diproduksi . Indonesia , yang telah memiliki F – 16 Block 15 dan pesawat F – 5 di persediaan , tidak akan mengalami kesulitan menyerap ini upgrade penjualan diusulkan systems.The peralatan ini dan dukungan tidak akan mengubah keseimbangan militer dasar dalam region.Indonesia yang meminta regenerasi akan satunya bersumber kepada 309 Pemeliharaan Wing , Hill Air Force Base , di Ogden , Utah , dan Pratt Whitney , di Hartford, Connecticut untuk perbaikan mesin . Tidak ada dikenal perjanjian diimbangi diusulkan sehubungan dengan potensi ini sale.Implementation penjualan yang diusulkan tidak akan memerlukan tugas dari setiap Pemerintah AS tambahan atau perwakilan kontraktor untuk Indonesia.There akan ada dampak negatif terhadap kesiapan pertahanan AS sebagai hasil dari diusulkan pemberitahuan sale.This dari potensi penjualan diperlukan oleh hukum dan tidak berarti penjualan telah menyimpulkan .

  13. Sebagai alternatif untuk pesawat tempur masa depan TNI AU pengganti F-5 Tiger, kreasi Taiwan berikut ini patut jadi pertimbangan:

    http://www.milavia.net/aircraft/ching-kuo/gallery/ching-kuo_07.jpg

  14. iya bagus tuh. single engine juga

  15. Cuma bisa geleng-geleng, masih butuh waktu berapa lama indonesia bisa maju, mandiri dan tidak ketergantungan?? Jujur saya orangnya anti orang pemerintahan USA sama sekutunya, kecewa banget masih mau beli dari sana bekas pula, embel-embelnya hibah padahal bayar juga, ga kapok habis di embargo sampai lumpuh beberapa tahun pertahanan indonesia, Sumber Daya Alam dari A-Z semua ada di indonesia, tinggal Sumber Daya Manusianya dibenahi dan dikembangkan, butuh pemimpin yg tegas soal hukum dan kemandirian bangsa, miris tiap lihat berita isinya kriminal sama korupsi terus ga kelar-kelar, ketahuan korupsi matiin aja, ketahuan berbuat salah disengaja hukum seberat-beratnya, kalau ga digituin ga kapok, butuh pemimpin berikir seperti itu, 2014 ditunggu, semoga tidak salah pilih.

    • emangnya beli pesawat baru cukup dananya ?

      • Mending dapet 4-6 baru dari pada 24 tapi bekas, dari 24 bekas itu aja bertahun tahun pengirimannya ga langsung tahun itu juga

        • agak rumit gan, akumulasi dari kondisi alutsista udara yang sudah lama terbengkalai, kebutuhan mendesak dari dinamika kawasan yang berubah cepat serta anggaran yang terbatas.
          saat ini dgn berbagai pertimbangan itu opsi hibah f16 tilas tapi raos ini mungkin yang terbaik.

          ke depan mudah2an faktor kualitas akan dapat perhatian lebih, rencananya pada tahun 2015 anggaran pertahanan diusahakan 1.5% dr GDP, kemungkinan tidak tercapai sih 😀 tapi walau di 1.2% sudah lumayan lah, di kisaran $12-15 bn per tahun cukup buat pengadaan alutsista2 terbaik walau kredit.

        • menurut saya tni au mengambil 24 f16 blok hibah untuk menambah kuantitas, bukan kualitas. Pesawat yg ready utk tempur mgkn hanya 50% jadi 12 hibah yg benar2 siap, dibanding cuma 3 yang baru. Yang baru, blok 52 pasti sudah menggunakan alat yg lebih canggih yg biasa nya lebih “mini” or nano sizenya drpd blok sebelumnya. Jadi bila kena embargo lagi, alat2 blok lama masih bisa di akali dibanding yang baru dan lebih susah…hanya pendapat pribadi

  16. Kepada Yth. Bapak Fayakhun Andriadi, Dari DPR RI.

    Kami sebagai mohon dengan hormat kepada komisi pertahanan DPR RI, apabila memang pertahanan Indonesia mempunyai efek deterent yg hebat , mohon cepat realisasikan alutsista yang hebat. Insyaallah anggaran pasti ada, anggaran MEF 2 & # masih banyak.
    Alutsista itu (yg sering ditulis di warjag) :
    1. Minimal 1 skuadron sukoi SU-35 lengkap persenjataan.
    2. Minimal 3 Kapal selam kelas improved kilo atau yg terbaru kelas Lada.
    3. Minimal 3 Baterei S-300 pmu-2
    4. Radar vostok e
    Minimal itu harus tercapai pada mef 2.
    Gmn pendabpat bpk

    • Jadi kami harap , bapak fayakhun jgn hanya melempar wacana polemik 24 F-16 upgrade block 32 plus hibah V 6 F-16 block 52 new (yg akhirnya muncul di media maya dimana2).. Dmn alutsista itu sudah jelas di ACC oleh DPR RI. Dan insyaallah pada th 2014 sdh mulai berdatangan.
      Terima kasih.

  17. Semua orang tahu bahwa DPR/Komisi I (sebagai mitra) dan Kemhan/Pemerintah telah sepakat terkait hibah F-16 ini. Bung Fayakhun hanya ingin share kronologi interaksi antara Komisi I dan Kemhan terkait hibah ini, bukan untuk membuka polemik (yang memang tak ada gunanya karena barangnya sedang dikerjakan) .
    Bung Fayakhun bukan kolumnis yang mengirimkan 1 artikel yang sama ke 3 koran berbeda, dan menerima honor berganda. Bahwa ulasan ini pernah dimuat blog/laman lain dan dikirim lagi ke JKGR hanyalah cara ybs. untuk membuka komunikasi dengan komunitas pelanggan Warjag, tindakan proaktif yang seyogyanya diapresiasi (bung Diego menangkap ini, dan menurunkan sebagai thread khusus).

    Di negara yang telah maju demokrasinya, wargalah yang dianjurkan berkomunikasi dengan wakilnya di kongres. Silakan google ‘write to your…’ otomatis keluar pilihan: congressman / senator / congress / legislator / house of representatives.
    Banyak situs yang membantu warga untuk berhubungan dengan wakilnya seperti; ;

    writerep.house.gov
    http://www.contactingthecongress.org -As of October 19, 2013 there are 537 electronic contact addresses. Select your state to list your state’s Congressional delegation.
    http://www.congressmerge.com -Use this free tool to find the email address, phone number and contact information for your Congressman, including Senators and Representatives.
    whoismyrepresentative.com -To get started, simply enter your zip code or select a state below. You will be presented with your representative’s contact information as well as links to various ..

    Lha ini ada yang proaktif membuka komunikasi malah diserang…

    Budget untuk MEF II / TNI dalam tradisi kita diusulkan / inisiatif Pemerintah dalam bentuk RAPBN yang diajukan ke DPR untuk dibahas tiap tahun.

    Masalah MA-60 masuk ranah Komisi V yang membidangi perhubungan (KNKT dsb) dan
    Komisi VI, yang membidangi badan usaha milik negara.

    Masalah pengembangan N-219 / N-250 ranah Komisi VI,(perindustrian / badan usaha milik negara).
    dan Komisi VII, riset dan teknologi.

    • betul bung danu, maka kami yang di warjag juga menyampaikan aspirasi kami lewat warjag, dgn bahasa yg santun,
      Klo lebih bagus lagi klo pihan kemhan dan TNI AU merilis juga kronologi versi mereka, jadi kami di warjag bisa menelaah dgn se obyektif mungkin.
      Terima kasih

    • betul, semoga para mitra kerja Komisi I inipun bersedia sharing…

  18. Kalau begini kualitas diskusi antara pemerintah dan komisi I DPR, maka ini adalah anggota DPR yang kita banggakan. Diskusinya berkualitas, membumi, dan mencari jalan keluar terbaik untuk negeri tercinta. Apapun hasilnya, saya percaya akan menghasilkan keputusan yang terbaik dari semua aspek. Baik militer, keuangan, alih teknologi dan lain sebagainya.

    Melihat ulasan diatas, rasanya seperti melihat gaya permainan Timnas sepak bola U-19 yang cantik, indah, menarik dan penuh energi. Good job.

  19. salam kenal,
    mengenai hercules eks Australia kelihatannya memang 1 warna tanpa corak kamuflase, dan terlihat bagus seperti itu. imo pesawat tempur terlihat sangar tanpa corak, misalnya F15SE Singapura atau Gripen Thailand.

    untuk pesawat2 tempur modern dgn kecepatan tinggi dan kemampuan tempur/lacak BVR sepertinya warna dan corak hanya masalah selera user, kamulfase pada pesawat tempur modern hanya berfungsi ketika parkir di tempat rahasia saja, karena jika di udara radar dan teknologi siluman yang lebih berperan.

    corak Sukhoi kita dan Vietnam mirip dengan punya Russia, mungkin dari sononya sdh begitu dan akan perlu biaya tambahan jika ingin corak lain. btw, itu pendapat pribadi saya yang awam

  20. kalo warna sukhoi sih buat supaya BM nya yg kita punya gak ketauan

  21. china membeli perangkat apapun selalu mareka kloning jika itu dirasa perlu,termasuk pesawat tempur,kapal selam,rudal yang mayoritas buatan rusia mereka kloning teknologinya utk mareka buat versi mereka,tdk perlu mereka mengemis minta transfer of technologi..mengapa kita tdk belajar dari china?

  22. tolong kunjungi web saya.
    areasepatufutsal

 Leave a Reply