Kohanudnas TNI sangat perlukan pesawat buru sergap

41
121

Kohanudnas TNI sangat perlukan pesawat buru sergap

Satu dari dua Sukhoi Su-30MKI yang menyergap pesawat terbang nomor registrasi VH terbang di belakang obyek pelanggar wilayah udara nasional itu. Su-30MKI itu dari Skuadron Udara 11 TNI AU yang berpangkalan di Pangkalan Udara Utama TNI AU Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan. (Dinas Penerangan TNI AU)

 

… penanganan pelanggaran ruang udara nasional mengandalkan pesawat tempur Sukhoi… “

Biak, Papua (ANTARA News) – Markas Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) TNI sangat memerlukan penambahan pesawat buru sergap lengkap dengan sistem persenjataannya untuk memastikan kedaulatan ruang udara nasional.

“Pangkalan TNI AU di Medan, Jakarta, Surabaya, Pontianak, dan Makassar perlu dilengkapi tiga pesawat buru sergap sehingga dapat cepat menangkap pelaku pelanggaran wilayah udara nasional,” tegas Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional, Marsekal Muda TNI Hadiyan Sumintaatmadja, di Biak, Senin.

Dia ada di Biak untuk menyerahterimakan jabatan panglima Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional IV, dari Marsekal Pertama TNI Asnam Muhidir kepada Kolonel Penerbang Fachri Adamy.

Sebagai komando utama pertahanan udara nasional, Komando Pertahanan Udara Nasional TNI tidak memiliki armada pesawat tempur sendiri. Pada masa Orde Lama, komando ini memiliki “satuan udara pantjar gas” sendiri, yang bisa langsung dikomando panglimanya setelah mendapat perintah dari panglima tertinggi TNI.

Setelah Orde Baru berkuasa hingga kini, yang memiliki jajaran pesawat tempur itu adalah Markas Besar TNI AU, yang terbagi ke dalam dua komando operasi, yaitu Komando Operasi Udara I TNI AU (wilayah barat) dan Komando Operasi Udara II TNI AU (wilayah timur).

Yang dimiliki “secara pribadi” Komando Pertahanan Udara Nasional TNI  adalah satuan-satuan radar, yang hingga saat ini berjumlah 20 satuan radar. 12 satuan radar dioperasikan di wilayah barat Indonesia dan delapan di wilayah timur.

Pada sisi lain, dia mengakui bahwa pengadaan pesawat tempur dan sistem arsenal aktif dan pasifnya memerlukan biaya negara yang tidak sedikit dan waktu cukup panjang untuk memproses hingga hadir di Tanah Air.

“Saat ini penanganan pelanggaran ruang udara nasional mengandalkan pesawat tempur Sukhoi. Ya jika jenis pesawat buru sergap kita punya akan sangat membantu percepatan pengejaran pesawat asing melintas secara tidak berizin,” kata Sumintaatmadja.

Dari sisi biaya operasionalisasi, pengerahan Sukhoi Su-27/30MKI dari Skuadron Udara 11 yang berpangkalan di Pangkalan Udara Utama TNI AU Hasanuddin, Makassar, sangat tinggi.

Sekitar Rp400 juta diperlukan untuk menerbangkan satu unit Su-27/30MKI Flanker itu, sedangkan operasi pengejaran dan pemaksaan mendarat atau patroli udara selalu dilakukan dalam flight berkekuatan dua unit pesawat tempur. (www.antaranews.com)

41 KOMENTAR

      • hahaha..Gimana Pilot Gripen NgeBentak F18/F15/F16 suruh turun/Force down ya??? Pasti dia kagak PD bangetzz…

        Klo pakai Su/F15..kan dia Bisa Teriak..”Turun Lo, Gw Bakar Nih! ”
        Klo Pke Gripen :” Mass ,Tlg Turuuuun Duoonk, Pleaaseeee..!, mas cucok deyy”

        hahahahhaha !

        • Bandingin Spek mesin aza, gedean powernya F16 lah(2x), Buat Buser/Pengejaran, Acelerasi sangat penting, Krn jet itu Sangat lama kalau beracelerasi hingga 1 mach , apalagi kalau sudah tembus ke 1 mach lebih, naiknya lebih lama lagi… , jgn dilihat Top speednya walau rata2 max sama 2 mach, Kalau lelet Bisa gagal Mengejar Fighter kelas kakap.
          Air patrol itu nggak perlu ngebut, Anggap aza Radar yg jalan2 di angkasa, mungkin cocok buat kerjaan gripen, padahal fungsi itu bisa di Ganti sama Tucano sih 🙂

    • TNI-AU lebih ngerti kok, mereka nggak bingung, Makanya Mereka Menggunakan yg Saat ini di Tunjukkan ke kita.
      Masih Bingung? 😛

      Buser dan air patrol itu beda…
      Buser bisa diartikan Siap FIGHT kalau tiba2 Lawannya Fighter kelas Berat sekalipun.
      klo air patrol lihat2 dulu lawannya lewat radar, kalau bukan kelasnya, kabur trus Ngadu Ke tim Buser, Makanya Tiap2 pesawat yg kita pnya beda2 juga Fungsinya.
      Sama aza kan dg prajurit2 kita yg jaga Perbatasan

  1. F16 kita pada kemana ya dengan FA50 kita , kan bisa untuk sementara pake itu untuk buru sergap ?! Oh iya ngomong2 di List Mef II nya bung Nar ga’ di singgung PAK-FA dan tukang sapu hanya menjelaskan TOT FLanker family aja , hmmm apakah itu SU47 , Atau Mig39 jadi mari sambut SU47 dan MIG39 he he :mrgreen:

    • Di Renstra 2015-2019 Sebaiknya Gripen C/D disewa untuk KOHANUDNAS satu atau dua skadron sebagai perjanjian ToT kepada IFX.Sambil menunggu siapnya Gripen E/F untuk mengakuisis dua skadron penuh.
      Dan biarlah satu skadron SU35 tetap diakuisis oleh TNI AU.Gripen C/D disebar di pangkalan sebelah luar untuk intercept black flight dan SU35/SU30/SU27 tetap di pangkalan Makassar sbg pemotong Pesawat tempur musuh.
      F16/T50i/ bisa dipakai menutupi gap yang berlobang.
      Bila SU35 dan Gripen E/F diakusis maka akan menjadi gandingan mematikan di langit nusantara.
      No Hoax

    • dan yang paling masuk akal mengingat keterbatasan anggaran biaya operasional sprt BBM. gripen solusi tepat utk pesawat interceptor, tinggal buat landasan kecil di setiap pulau2 terluar berikut tangki timbun yg sekalian bisa di pasok/bawa oleh kapal laut kita yg jg melakukan patroli. utk pesawat intercep saya setuju dgn bung reaper hunter gripen adalah solusi pesawat patroli dan intercep yg paling tepat. 😉

  2. Ngga ngerti saya susahnya dimana, Sekarang kan zaman bbm whatsup, di PING aza pilot yg jaga piket meski beda tempat lagian kenapa ngga pesan pespur pemburu pas SBY jadi panglima tertinggi?! AD aja dikasih leo dan apache masa kohudnas request ngga dikasih..heron saya

  3. Perlu tiga buah atau tiga skadron nih?
    Baiklah, berapapun yg sebenarnya itu tdk perlu dipermasalahkan.
    Bagi sy yg terpenting pemerintah hrs sanggup memenuhinya. Berapapun harganya, sbb itu utk keamanan negara.
    Dan keamanan negara itu tdk ternilai harganya, karena berkaitan dgn ketenteraman. kenyamanan, dan harga diri bangsa.
    Oleh karenanya hrs dinomor satukan.
    Jayalah sll negeriku!
    Amin!