Komisi I DPR Belum Setujui Pembelian Pesawat A400M

11

Airbus A400M Atlas di Pangkalan Udara Utama TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, (5/3/2017) (ANTARA News/Ade P Marboen)

Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) yang membidangi Pertahanan, Luar Negeri, Komunikasi dan Informatika, serta Intelijen, belum menyetujui pembelian 5 unit pesawat A400M dengan harga 2 miliar dolar AS.

“Bahwa tidak benar kalau DPR RI, dalam hal ini Komisi I pernah membahas apalagi menyetujui pembelian 5 unit pesawat A400M seharga US$ 2 miliar,” ujar Wakil Ketua Komisi I DPR, Tubagus Hasanuddin, seperti dikutip beritasatu.com pada Jumat (10/3).

Hasanuddin menjelaskan bahwa sesuai ketentuan yang berlaku, Komisi I tidak pernah membahas merk dan produk pesawat tertentu dalam pembahasan RAK/L Kemhan/TNI, apalagi memberi persetujuan soal besaran harganya. Menurutnya, merk, produk, dan harga pesawat ditentukan oleh tim pemerintah cq Kemhan/TNI setelah melalui tender.

Menurut politisi PDI Perjuangan tersebut, Komisi I DPR tetap berpegang teguh pada isi UU industri pertahanan, bahwa tidak dibenarkan membeli dari luar bila Alutsista sudah dapat diproduksi di dalam negeri. Seandainya harus diimpor, maka ada ketentuan yang harus diikuti, antara lain rekomendasi dari komite kebijakan industri pertahanan (KKIP) dan bekerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia (DI).

“Sampai saat ini saya sudah mengeceknya ke PT DI. Dari PT.DI tidak pernah membicarakan skema Transfer of Technolgy mengenai pengadaan pesawat A400M tersebut,” kata Hasanuddin.

Sebelumnya, kantor berita Jane’s melaporkan ?pernyataan sumber soal rencana pembelian pesawat A400M. Di situ disebutkan persetujuan Komisi I DPR dengan pembelian, dengan syarat pelibatan PT. DI dalam kerangka transfer teknologi. Laporan itu juga menyebutkan bahwa pesawat akan dibawa ke Indonesia untuk dites oleh pejabat TNI pada Maret ini.

Sumber: beritasatu.com

46 KOMENTAR

  1. PTDI mungkin sedang ngambek.

    Ya PTDI harusnya calling-calling lah ke Airbus.

    Mungkin nggak ada pulsa ya ?

    Lho prosedurnya AU kasih spek ke kemhan, trus kemhan koordinasi dengan inhan, trus kemhan nego ke dpr, trus sesudah itu kemhan nego sama produsen…

    Lha ini mereka khan baru sebatas menawarkan ke kemhan mana tahu melirik dsb.

    Atau jangan2 bilang gitu tuh karena nggak jadi dapat fee gara2 kemarin ada ribut2 tentang yg satu itu tuh yg dikasih pita panjang berwarna kuning

    Trus tuh produsen blackhawk, apache dan chinook adakah omong2an sama PTDI ?

  2. Sebenarnya kita harus mencermati statment wakil Komisi I DPR RI yang membidangi Pertahanan, Luar Negeri, Komunikasi dan Informatika, serta Intelijen, Tubagus Hasanuddin bahwa tidak benar Komisi I pernah membahas apalagi menyetujui pembelian 5 unit pesawat A400M seharga US$ 2 miliar. Itu memang benar adanya.
    Lalu dijelaskan lagi dibawahnya bahwa sesuai ketentuan yang berlaku, Komisi I tidak pernah membahas merk dan produk pesawat tertentu dalam pembahasan RAK/L Kemhan/TNI, apalagi memberi persetujuan soal besaran harganya.

    Artinya sesuai ketentuan memang tidak pernah membahas pembelian 5 Unit A400M, karena bukan domain mereka, itu menjadi domain Kemenhan dan user. Biasanya yg dibahas dng mereka adalah Rencana Anggaran pengadaan Pesawat angkut berat. Nah disitu disebutkan speknya, fungsinya bg user serta jenis2 pesawat yg ada dipasaran. Hanya itu kewenangan DPR. Kalau sampe terjadi DPR menyebut merk maka akan dikomplain KPPU nya International.

    DPR akan membahas merk apabila terjadi temuan/masalah, spt Heli AW, Sukhoi yg katanya harganya di mark up utk meminta penjelasan resmi pemerintah. Namun bukan dalam pembahasan anggaran.
    Jadi kita harus cermat membaca apa yg disajikan media spt yg pernah bung@Anu pernah sarankan.
    Selamat pagi Warjag, Salam libur 2 hari…hehehe

  3. Sudah benar para DPR, pembelian alusista jika kita memang tidak mampu membuatnya, disini kita punya PT DI. Dan jika setuju pembelian harus melibatkan PT. DI dalam trasfer tekologi kerangka pesawat dan sebagainya..!!!

    Masalahnya PT. DI sudah siapa apa belum…???

    Coba diangkat bung diego, masalahnya apa, dari dulu PT. DI gak bisa buat pesawat angkut berat…apalagi jet tempur.!!!