Jun 262014
 
Drone RQ-4 Global Hawk, AS

Drone RQ-4 Global Hawk, AS

Jakarta – Dukungan kuat untuk memajukan industri pertahanan dalam negeri telah diutarakan dengan tegas oleh calon presiden Prabowo Subianto dan Joko Widodo agar Indonesia tidak tergantung terus ke negara lain.

Dalam debat ketiga yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) itu, capres Joko Widodo berulang kali menyebukan rencananya mengembangkan pesawat “drone” atau tanpa awak, serta menggunakan teknologi hybrid dan cyber untuk menjaga kedaulatan Indonesia. Hal yang sama juga disampaikannya dalam debat sebelumnya.

Pesawat tanpa awak itu juga akan digunakan untuk pemantauan dan melindungi perairan Indonesia dari kasus pencurian ikan, meski rencana itu juga mendapatkan kritikan keras sehubungan pengoperasiannya butuh biaya dan satelit, sementara perusahaan telekomunikasi Indosat telah dijual ke Singapura.

Kubu Jokowi menyebutkan “drone” berbiaya murah, namun lebih efektif dalam melindungi maritim Indonesia. Kerugian yang diakibatkan pencurian ikan oleh nelayan asing setiap tahunnya diperkirakan sedikitnya Rp300 triliun. Sementara harga satu pesawat tanpa awak diperkirakan hanya Rp20 miliar.

Biaya pengoperasian diklaim murah, juga menggunakannya tak rumit. Pesawat drone itu, menurut Jokowi, akan dioperasikan di tiga kawasan, yaitu Timur, Barat, dan Tengah Indonesia.

Penggunaan drone itu selain berguna untuk pertahanan, juga disebutkan bermanfaat untuk melindungi kekayaan Indonesia.

Sementata itu, capres Prabowo Subianto juga tak kalah tegas untuk menyatakan dukungannya dalam memodernisasi industri pertahanan dalam negeri, serta mendukung pembelian tank tempur utama Leopard II dari Jerman. Meski pembeliannya ditentang Jokowi, namun Menhan Purnomo Yusgiantoro menyebutkan tank Leopard sesuai dengan kondisi dan kebutuhan Indonesia.

Meski demikian, dukungan kedua capres itu terhadap modernisasi industri pertahanan nasional merupakan tantangan keras bagi industri strategis dalam negeri untuk menjawabnya.

Drone / UCAV MQ - 9 Reaper Amerika Serikat, bawa rudal, termasuk hellfire, anti-tank

Drone / UCAV MQ – 9 Reaper Amerika Serikat, bawa rudal, termasuk hellfire, anti-tank

Banyak negara dalam sepuluh tahun terakhir berlomba-lomba mengembangkan pesawat tanpa awak, termasuk Indonesia. Ketika mantan Presiden AS George W Bush mengumumkan “Perang Atas Teror”, CNN menyebutkan Pentagon hanya memiliki kurang dari 50 pesawat tanpa awak. Kini, negara adi daya itu memiliki lebih dari 7.500 pesawat.

Sejauh ini, baru AS, Israel dan Inggris yang diketahui telah menggunakan pesawat tanpa awak atas musuh mereka. Belakangan ini banyak negara sudah menggunakan drone, seperti Korea Utara yang dilaporkan telah mengirimkannya ke wilayah Korsel.

Namun, pesawat tanpa awak juga digunakan Republik Rakyat Tiongkok untuk memantau suatu kepulauan tak berpenghuni di Laut Tiongkok Selatan yang disengketakan oleh Jepang, Tiongkok, dan Taiwan.

Karena biayanya cukup murah dan efektivitas yang lebih tinggi yang menyebabkan banyak negara mengembangkan pesawat tanpa awak. Misalnya harga pesawat militer berawak seperti F-35C mencapai 63 juta dolar AS. Pesawat supersonik itu memang memiliki multi fungsi, seperti pertempuran udara ke udara, dukungan udara jarak dekat dan pengeboman taktis. Harga drone jauh lebih murah, padahal sebagian peran pesawat berawak itu sudah diambil alih drone.

Pengoperasian “drone” tak menimbulkan risiko kehilangan awaknya meski dioperasikan di medan yang sangat berat, sementara risiko kehilangan pilot cukup besar di pesawat tempur berawak.

Di masa depan, penyerangan dan perang udara (dog fight) bukan tidak mungkin akan diperankan oleh pesawat-pesawat tempur tanpa awak ini (unmaned combat aerial vechile (UCAV), bukan lagi pesawat tempur konvensional. Pesawat tanpa awak bisa dikendalikan secara otomatis oleh komputer yang ditaruh dalam pesawat, atau dikendalikan menggunakan remote control, atau bisa juga dikendalikan pilot atau “combat system officer” yang berada di daratan atau dalam kendaraan lainnya.

Drone / UCAV Eitan Israel

Drone / UCAV Eitan Israel

Pesawat tanpa awak ini umumnya digunakan untuk keperluan militer, namun kini banyak negara mengembangkannya untuk keperluan sipil seperti pemantauan dan penelitian.

Sebagai mesin perang di udara, pesawat “drone” sudah terbukti keampuhannya. Pesawat “Predator” milik AS yang berpangkalan di Afghanistan menjadi mesin perang andalan negara itu di Afghanistan dan Yaman. Harga Predator jauh lebih murah dibandingkan dengan biaya pesawat pengebom B-2 Stealth yang harganya berkisar 737 juta hingga 2,2 miliar dolar AS per unit.

Konflik
Maraknya konflik bersenjata dan sengketa perbatasan antarnegara, terutama di perbatasan yang kaya akan sumber daya alam, akan mendorong banyak negara untuk mengembangkan pesawat tanpa awak untuk keperluan pengintaian maupun misi militer lainnya.

Indonesia sendiri memiliki masalah perbatasan dengan negara tetangganya, sementara kekayaan maritimnya banyak dicuri nelayan asing.

Sebelas tahun lalu, AS yang mendominasi penggunaan pesawat tanpa awak ini. Namun sekarang bukan lagi monopoli AS, karena makin banyak negara yang berminat mengembangkan atau membelinya, termasuk Indonesia. CNN menyebutkan lebih dari 70 negara kini memiliki pesawat tanpa awak, meski hanya sebagian kecil dari negara itu yang memiliki pesawat puna (tanpa awak) yang dipersenjatai.

Lonjakan kemajuan teknologi pesawat tanpa awak akan mengubah cara pandang suatu negara menghadapi perang dan ancaman, yang tentunya memacu perlombaan senjata. AS serta Israel sejauh ini merupakan eksportir utama teknologi dan pesawat drone ke banyak negara.

Melihat konflik perbatasan yang makin rawan di masa depan, terutama yang berkaitan dengan sumber daya alam yang semakin terbatas, merupakan langkah tepat yang diambil Indonesia untuk mengembangkan pesawat puna (tanpa awak) sendiri.

Komitmen capres Jokowi untuk membangun pesawat tanpa awak itu menjadi “amunisi” kuat untuk mengembangkannya, meski banyak pihak mengkritiknya karena dinilai belum tepat atau teknologinya terlalu canggih.

Indonesia jauh sebelum debat capres digelar, sudah melakukan kajian dan rekayasa teknologi untuk mengembangkan drone.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pernah menguji terbang prototipe pesawat tanpa awak terbaru di Halim Perdanakusuma Jakarta. Meski dinilai sukses, namun performa pesawat itu masih jauh dari memuaskan, seperti suara mesinnya yang masih terlalu bising. Dengan kata lain, pesawat nirwana semestinya tidak berisik atau tidak mengeluarkan suara besar.

Pesawat Tanpa Awak, UAV Wulung BPPT Indonesia

Pesawat Tanpa Awak, UAV Wulung BPPT Indonesia

Pesawat Luwung mempunyai bentang sayap 6,36 meter, dan terbuat dari bahan komposit. Pesawat ini mampu terbang empat jam pada ketinggian 8.000 kaki, dapat lepas landas pada jarak 300 meter, serta memiliki kecepatan operasional 52-69 knot. Pesawat ini juga dilengkapi dengan “target lock camera system” untuk misi pengintaian, serta mampu terbang hingga 73,4 km.

Penelitian dan pengembangan pesawat tanpa awak Indonesia memang masih harus terus ditingkatkan, seperti bagaimana mengembangkan jarak tempuh operasionalnya, menambah daya angkutnya serta bagaimana meminimalkan tingkat kebisingannya.

Indonesia baru memasuki fase pengembangan teknologi, setelah itu baru masuk ke tahapan “engineering manufacturing”, kemudian yang terakhir adalah tahap produksi.

Mulai tahun 2011, BPPT dan Kementerian Pertahanan (Kemenhan) sudah bekerja sama mengembangkan drone untuk misi pemantauan dari udara. BPPT telah mengembangkan pesawat udara nir awak sejak tahun 2004, dan telah menghasilkan berbagai prototipe puna, seperti Gagak, Pelatuk, Seriti, Alap-alap dan terakhir “Wulung” atau burung elang. Kesemuanya untuk mendukung patroli di perbatasan Indonesia.

pesawat nirawak Lapan Surveillance UAV (LSU) 02 (photo: Lapan.go.id)

pesawat nirawak Lapan Surveillance UAV (LSU) 02 (photo: Lapan.go.id)

Untuk mengembangkannya sesuai kebutuhan Indonesia, diperlukan penelitian dan pengembangan lebih lanjut dengan dukungan kebijakan politik dan keuangan yang lebih besar dari pemerintah hasil Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2014.

Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 9 Juli 2014 diikuti pasangan capres dan cawapres, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla. ( Hisar Sitanggang / Ruslan Burhani / Antara).

  91 Responses to “Komitmen Drone Indonesia”

  1. Pertamax

    • akhirnya keluar jg artikel membahas drone sebagai penyeimbang dr ide capres yg lagi dibully habis2an diwarjak, memurut ane sich apa yg diungkapkan oleh capres kita tdk semuanya salah terutama tentang MBT itu karena beliau mungkin berlatar belakang sipil d sbg kepala daerah yg mengurus administasi,pembangunan dll atau mungkin lebih fokus ke maritim yg kemarin mencolok ingin menjadikan indonesia sbg poros maritim dunia dan drone yg merujuk ke TNI AU atau jg bs digunakan TNI AD seperti waktu pembebasan sandra dipapua.
      hanya saja warjaker tdk memakluminya beliau hanya mendapatkan penjelasan dr timses beliau yg berlatar belakang
      militer dan sy yakin kedepan beliau akan memahami kebutuhan alussista TNI 3 matra plus cyber war serta perkembangan situasi kawasan dan didunia.

      saya bknnya mw kampanye hanya saja kaenya g’ ad yg menghargai pendpt dan ide beliau.
      ingat !!!!!!!!!!!!…. kedua capres adalah calon pemimpin bangsa tdk pantas di olok2 apalagi rakyat kita dikenal ramah santun.

      ane jg menyayangkan munculnya artikel yg bs berpotensi merugikan salah satu pihak atau bs ditunda samape pesta demokrasi selesai.
      apalagi artikel itu sering muncul dan sudah final g’perlu dibahas.jdi di forum ini g’ ad saling menjatuhkan mau kae timteng???…. sy jg bs melakukan ultimatum.

      hanya saran ane terimah kasih.salam NKRI !!!!!………..

      • Mau mengultimatum yang bagaimana ??
        kok ada kata timteng? itu maksutnya gimana
        Kan sudah dijelaskan jangan ngetroll memakai banyak nick
        Hal yang mudah saja kenapa tidak ditaati ?

      • Salam bhineka tunggal ika….. dah lah bung gak usah ngancem2 berbeda itu wajar menandakan demokrasi yg harus disikapi secara dewasa. Mari kita berforum dengan sehat gak enak nih dilihat banyak orang terutama sesepuh…. damai itu indah ok

      • seperti yang saya bilang diartikel terdahulu, situ sodaranya capres? galak amat sih belainnya. mohon maaf. dari coment coment anda kok terlihat sekali anda membela salah satu capres dengan membabibuta. bahkan dalam comment anda yang sempat dihapus oleh admin terlihat sekali coment tendensius anda yang cenderung berkampanye hitam. kalo ternyata anda salah satu timses beliau itu, mohon maaf. sptnya disini bukan tempat yang tepat bagi anda untuk curhat. enough said. thank you. over and out..

        • Gak usah arogan gitu bung. Sy rasa gk ada yg salah kog dr pendapatnya. Kita hidup di negara yg pnuh kebinekaan. Appapun itu slama tdk mmbawa bahasa prpecahan dn adu domba kita hrus mghargai pndptnya. Salam damai bwt utk anda db warga jkgr smua.

  2. One, Absen dulu, baca lagi

  3. 10 besar

  4. Slamt pg…
    Puput yakin Indonesia ke depan dpt membuat uav seprti Predator dan eitan yg di bekali dengn kemampuan serang,serta durasi terbang,jarak jangkau yg lbh jauh.

  5. Slamt pg…
    Puput yakin Indonesia ke depan dpt membuat uav seprti Predator dan eitan yg di bekali dengn kemampuan serang,serta durasi terbang,jarak jangkau yg lbh jauh.dan lebih senyap.

    • aamiin…..kira2 kedepanya kalau tehnologi satelit sudah bisa ngezoom semut di bumi apa masih efektif gak ya si sodron ini? apa nanti dirubah jadi sodron kamikaze?
      semoga sehat selalu mbk putput

      • Alhamdulilah sehat om..DD..!,Ilham habibie pernah berkata sebenarnya dalm pengembangan Pesawat Drone/UAV.kita bs buat sekelas seacher,heron atw eitan.asalkan ada dukungan Penuh dr Pemerintah,trutama anggaran untk R&D nya.tp Pupt yakin dan berharp Capres & Cawapres yg terpilih nanti.bs lebih Memajukan Industri strategis dlm Negeri demi Kedaulatan NKRI.

  6. Semoga tidak ada komen KAMPANYE lagi. !!!

  7. alhamdulillah, yang penting ada yang jaga nkri hehe

  8. yakin kita bisa pa lg papa beruang ksih peluang kerja sama bikin drone

  9. Bisa buat ngintip cewek mandi Di kali ngga ya?

  10. Kok, ga ada berita yang menggemparkan dari para sesepuh ya…kalo jokowi presiden, bisa terancam nih program MEF TNI.. TNI lagi agak cemas nih…termasuk harapan rakyat akan modernisasi TNI.

  11. Apa sie yg g bs bt indonesia perlahan nmun pasti Kita bs bralutsista sndiri..Hny prlu wkt serta dkungn dr Pemerintah & Rakyt Indonesia.. Mari Kita galangkn”ACI”…Aku Cinta Indonesia.. Merdeka..Jaya Indonesiaku..

    • setubuh, harus ada komitmen kuat dari pemerintah dan TNI sebagai user utama, untuk mengembangkan dan menggunakan produk INHAN lokal, hapuskan KKN dalam pengadaan barang dan proyek..kalau bukan kita siapa lagi,kalo bukan sekarang kapan lagi..

  12. Berbagi berita hangat nih…
    Semalam smpat ngobrol2 dgn kenalan. Kebetulan beliau termasuk petinggi TNI AU, dan pastinya selalu ada di rapat kemenhan, karena beliau sempat ngomong besok mau rapat di kemenhan. Kali aja beliau teman nya bung Nara atau mungkin aja beliau bung Nara sendiri? Hehehe
    Berikut pertanyaan ane :
    Me : Kata teman2, Flanker kita lebih dari 16 biji kan pak?
    Pak. X : Hehehe, kata teman siapa nih?
    Me : Yahh pokoknya teman2 lah pak.
    Pak. X : Untuk sementara 16 lengkap
    Me : 16 skuadron atau 16 unit pak? 😀
    Pak. X : Sssttt, sudah gk usah ribut…
    Me : (bingung, tapi curiga betul prkiraan ane)
    Me : Rafale atau Thypoon jadi di akuisisi pak?
    Pak. X : Belum ada keputusan untuk pilihan itu, masih dibahas.
    Me : (bengong dikit, khawatir banyak tanya beliau jadi bosan)
    Me : Ok pak, terimakasih atas info nya.

    Bung Nara, bagaimana pendapatnya dengan percakapan ini? Ada clue gk ya yg bisa ketangkep?

  13. Perkembangan militer dunia sdh terbukti mengarah ke Drone (sampi2 F16 juga dibikin tanpa awak), tidak ada salahnya Indonesia tancap gas utk riset Drone, sekali lagi dukungan politik Pimpinan tertinggi Indonesia yg nanti akan mewujudkannya (Era Habibie dng IPTN yang menghasilkan produk unggulan CN235, Era JK dng Pindad yg menghasilkan produk unggulan ANOA). Terserah siapa presidennya, yg penting mendukung kemandirian Indonesia dalam Industri militer. Pedagang ayam hanya bisa berharap dan berdoa, lumayan menjelang puasa pasar lagi ramai.

  14. nyimak, sambil jualan sayur bayam…:)

  15. Bung@brici kalau menurut ane sinyal yg dipancarkan dari percakapan tersebut: 1.skuadron sukhoi kita lebih dari 16 jmlnya. 2.untuk rafael dan typhoon kembali ke pakem tni jika msh dibahas berarti?apa yah….?

    • Sepertinya begitu bung. Kalau memang apa yg saya tanyakan gk betul, pasti beliau langsung bantah. Tapi ini malah jawabannya stengah2. hehe.
      Ohh ya, 1 lagi bung, saya sempat tanya, bagaimana pendapat nya dengan kabar SU-27 kita itu bukan SU-27 standar, bahkan mendekati ke SU-35. Beliau hanya diam, sambil ketawa kecil lagi…. 😀

      • @bung Brici, dijawab kaga dibantah jg kaga mlh dpt ketawa2 kecil…sumpah yg kayk gini nh yg mkn bikin penasaran…ibaratnya spt mengutarakan cinta ke gadis incaran tp blm dijawab…hehehehe…teruskan investigasinya bung tak tunggu disini sambil nyruput kopi…hehehe…

      • mungkin beliau takut kalau mengiyakan malah diminta bukti fotonya..

        • Bisa jadi bung, secara Bung Brici waktu nanyainkan pake kaos yang ada sablonnya “ORA ONO PUTUNE HURA PERCOYO” hehehe..
          Jadi Pak tentaranya pilih aman aja…

      • Masih banyak yg mau saya tanyakan bung. Hanya takutnya dikira saya mau bocorkan semua lagi, makanya jawaban beliau terbatas tapi mengandung makna… 😀
        Saya yakin bung, pertanyaan pertama saya itu benar jumlah flanker kita lebih 16 unit. Makanya dia ketawa2 dulu sambil tanya saya dapat info dari mana, pas saya blg dari teman2 dia lngsung ngelak bilang cuma 16 unit. Dan cuma mau penambahan 24 unit F-16.
        Berkali2 beliau ngomong F-16 tapi saya kurang hiraukan krna memang gk tertarik bung, makanya trakhir dia ngomong, jangan remehkan F-16 kita loh… 😀

        • maksudnya supaya tidak terkesan hoax bung ” jangan meremehkan tukang layangan kita ” 🙂
          saya percaya dengan ucapan diatas mengenai f16 TNI AU, tetapi untuk f16 yang 24 unit, sedangkan yang 10unit saat ini masih belum ada yang dibahas terutama mengenai bumbu hoax nya 🙂 salam

  16. Ijin nyimak…kok para sesepuh warjager sdh tidak pernah nongol lagi? Apa lagi mempersiapkan artikel yg lebih membahana ? Salam kenal, dari penyimak.j

  17. mana yg bagus tuk indonesia pasti rakyat dukung,
    oh ya mau nanya ni hampir tiap malam di wilayah ku kok sering dengar suara mesin jet seliweran ya,ada apa ya??m

  18. mana yg bagus tuk indonesia pasti rakyat dukung,
    oh ya mau nanya ni hampir tiap malam di wilayah ku kok sering dengar suara mesin jet seliweran ya,ada apa ya??

  19. Terima kasih pada semua capres dan cawapres yang mempunyai cita cita untuk memoderinsasi Alutsita RI.. siapapun yang menjadi presiden kedepan mohon cita cita ini jangan hanya sebagai cuap cuap politik aja.. melainkan harus dilaksanakan, tingkatkan biaya riset kita.. dorong Inhan dalam negeri untuk meningkatkan kualitas produksinya.. dan yang paling penting Program MEF dan kebijakan KKIP harus tetap berjalan kalau bisa semakin ditingkatkan…

  20. Drone AS keren tuh

  21. komitmen untuk mengembangkan Drone nasional itu yang harus lebih diperhatikan, tetapi tak lupa juga pembelian Drone dari luar negeri yang benar2 canggih untuk didapatkan manfaat TOT nya

  22. uhuuii ada yg kampanyee nih… di jaman SBY ini lah Alusista indonesia yg semakin canggih dan kuat jadi wacana dr capres dlm debat kmrin sebetulnya dah basi.. salam NKRI

  23. Dari kemenhan emang restra I masih hutang 1 ska pespur.. yg jelas masih rahasia.. kalo dengan pembelian 1 ska dari rusia gak dapat ToT.. kemungkinan Prancis menyalib demi kemandirian..

  24. Sebaiknya pemerintah yang akan datang fokus untuk pembangunan satelit militer, kalau punya drone tapi masih sewa satelit asing itu sama saja menyerahkan kedaulatan NKRI ke pihak luar. Sekarang biarkan BPPT dan instansi yang terkait melakukan pengembangan & penyempurnaan UAV kita saat ini. Pengalaman di sadap oleh negara tetangga sangat menyakitkan, kalau Indonesia mempunyai satelit militer sendiri akan mengurangi penyadapan yang dilakukan oleh pihak luar dan kendali UAV akan seutuhnya TNI yang pegang. Kalau indonesia punya satelit khusus untuk pertahanan dengan teknologi yang mutakhir maka pengawasan wilayah Indonesia tidak perlu dilakukan dengan drone dengan satelit sudah bisa. (pendapat seorang kuli)

    • menurut saya satelit pencitraannya masih belum jelas, harus ada yg nyamperiin untuk visual yg lebih jelas spt pesawat pengawas atau drone, ditambah unit2 berawak sebagai penindak, kalu diperlukan.

  25. IMHO, kalo USAF aja mengconvert F-16 untuk jadi drone, kenapa kita nggak coba mengconvert pespur-pespur lawas kita juga untuk jadi drone? langkah awal bisa dicobakan untuk pespur A-4 yang udh pensiun, dan nantinya bisa dieksekusi untuk F-5E Macan kita. serahkan bakalannya ke BPPT sama alokasi dana yang mencukupi. saya yakin. pasti bisa…!!!

    • Pertanyaaan bung vans sudah di jawab sama bung satrio di episode yg terdahulu.. Bisa dilihat diartikel terdahulu..

      ”a4skyhawk, f5,ataupun sejenisnya yg sudah tidak terpakai akan di kembalikan lagi ke negara asal pembuatnya. Dengan dalih tukar tambah spare parts. Atau kalao merek mengijinkan batu bisa kita ambil untuk di musiumkan. kalao A4 skyhawk dijadikan drone harus memiliki ijin terlebih dahulu dari negara asal.

    • Bung vans, setahu saya yg sudah menerapkan dan mengembangkan ke HALE itu baru Lapan. Saat ini tim Litbang Pustekbang lapan sedang di Jerman mempelajari sistem autonomous. Jika teknologi ini sudah bisa dipelajari Insyallah bisa dipasang di pesawat kita baik CN-235 atausekelasnya maupun untuk pesawat tempur. 2 tahun lagi diperkirakan mereka sudah balik ke Indonesia dan mengembangkan teknologi tersebut agar bisa dipasang di pesawat yg kita punya. Semoga mereka tetap sehat disana, amieen….

  26. Satelite sebagai mata dan telinga itu yang terpenting. Bukan sekedar dran dron saja. tapi dana riset sak uprit. gimana mau memiliki drone yg super wahhhh.
    nah terkecuali ada dana yg mumpuni. Atau setidaknya memiliki kerjasama dengan israel pada era / 80 an..
    Atau kerjasama dengan iran yg sudah mampu melumpuh drone usa yg kini ada di tgn pihak rusia.

    Saya setuju mereka ngetrol ingin memajukan bangsa ini dan diharapkan tidak sekedar janji…
    Dan bisa mrmberikan yg terbaik buat bangsa.

    • setuju bung, satelit.
      tapi ubo rampe utk drone itu bukan cuma satelit. banyak banget. radar juga.
      yg harus dikebut ya infrastruktur pertahanan, seperti komunikasi. ibarat kata, punya hp bagus kalo gak dapat sinyal ya cuma bisa jadi ganjel pintu

  27. Assalamualaikum, apa kabar semuanya semoga sehat2 ya. Apa kabar bung PATECH? sudah lama gak denger komen2nya lagi. 😀

    Wartawannya kurang korek2 informasi, selain BPPT sekarang Lapan sudah buat UAV bisa mencakup 250 km seperti LSU-03. Sekarng sedang pengembangan sampai 500 km (LSU-05), lalu ada juga buatan Perguruan tinggi, sedikit info kebetulan baru dapat info dari teman, UAV BPPT itu sarat onderdil asing seperti dari China. TKDN itu belum mencapai 20%, berbeda dengan Litbang Perguruan tinggi atau lainnya.

  28. Kalau mau beli Drone bagus mana dapet Rp20m.

    Nih daftar harga drones :

    Avenger UCAV System: ~$110-120 million for 4 aircraft & ground control
    MQ-9 Reaper UCAV: $110 million per 4-unit system
    MQ-5B Hunter UCAV: $100 million per 6-unit system
    MQ-1 Predator: $90 million per 4-unit system
    MQ-8B Fire Scout UCAV: ~$15 million for 3 aircraft & ground control
    RQ-4E Global Hawk UAV: $120+ million per aircraft
    RQ-4B Global Hawk UAV: $280 million per 2-unit system + $90 million per extra aircraft
    -$200-300 million additional for secure comm systems
    RQ-4A Global Hawk UAV: $220 million per 2-unit system + $60 million per extra aircraft
    RQ-7B Shadow 200 UAV: $16 million for 4 aircraft & 2 ground stations
    ScanEagle UAV System: $7 million
    RQ-16 T-Hawk UAV System: $450-700,000, depending on payload
    Maveric UAV System: $550,000 for 3 aircraft & ground control
    RQ-11B UAV System: $500,000 per 3-unit system
    Desert Hawk UAV System: $300,000 for 6 aircraft & ground control
    RQ-14 Dragon Eye UAV System: $150,000 for 3 aircraft & ground control

    kalau mau beli REAPER kalau gak Global Hawk !!

  29. justru aneh, kalau sistem pertahanan keamanan rakyat semesta kan menempatkat rakyat sebagai bagian pertahanan, lah rakyatnya aja nggak pernah latihan megang senjata, nggak maksimal dong, seharusnya undang2 tersebut harus mencakup wajib militer, masak tega menhadapkan rakyat yg awam senjata dan taktik militer dengan mesin perang modern.

  30. maka yang harus di antisipasi adalah bahaya perang asimetris…. upaya pelemahan terhadap ketahanan nasional..

    • Benar bung mbojo ini yg paling bahaya perang yg secara tdk terang2an (sosial, idiologi, seni dan budaya) namun bs menghancurkan sendi2 kehidupan bangsa dan negara kt, utk menangkalnya harus memperkuat ketahanan nasional…. ketahanan nasional bs di artikan kondisi dinamika suatu bangsa berisi keuletan dan ketangguhan sebuah bangsa yg mampu mengembangkan ketahanan/kekuatan dalam menghadapi hambatan dan ancaman dari luar atau dr dalam negri yg langsung dan tdk langsung membahayakan intergritas, identitas dan kelangsungan bangsa dan negara.

  31. tingkatkan UAV lokal lebih baik drpd beli..

    salam NKRI

  32. Sukses untuk lapan yg sudah ngembangin uav sampai 500 km….teruskan penelitian dan pengembangannya..salam nkri …n salam jg buat bang jalo..dri saya anak kampung di kalimantan selatan..

  33. saya jd bingung..menurut mantan kapuspen tni letjend (purn)sudrajat,drone itu fungsinya lbh kpd “air attack” yg saat ini br amerika yg mampu mengoperasikannya,digunakan utk misi mata2 dan menghancurkan/menyerang posisi musuh yg sulit dijangkau oleh pasukan.drone membutuhkan biaya yg sangat besar,mulai dr penelitian sampe operasionalnya dan butuh satelit yg canggih sbg pemandunya..negara2 seperti rusia,inggris,jerman,israel saja br dlm tahap penelitian dan pengembangan..dan indonesia dipastikan blm punya drone,br punya uav..dst..dst……
    (sebenarnya yg benar yg mana ya)

    • @frans : sepengetahuan saya pengertian dan penggunaan drone memang berbeda dengan uav bung..negara kita baru dalam tahap pengembangan UAV..kalau mau beli drone yang sesungguhnya tetapi tidak dilengkapi dengan kemampuan satellit militer yang mumpuni saya rasa masih jauh..peningkatan kemampuan dan pengembangan teknologi UAV yang harus didukung untuk saat ini..
      kalau sekelas Wulung sudah di sebut Drone ya mau gimana tuh 🙂 nangkap nelayan ilegal dengan drone??

      • Dewakembar@iya jg ya..tdk efektif klo utk pengawasan wilayah nkri,penggunaan drone oleh militer amerika mungkin bkn utk menjaga kedaulatan wilayahnya tp utk kepentingan operasi militer amerika seperti di afganistan,pakistan dll

      • yak..seperti itu bung..media sudah banyak memberitakan statement dari para petinggi TNI kita,bahwa untuk memonitor perbatasan RI yang begitu luas,peranan UAV dengan daya jelajah yang tinggi merupakan suatu kebutuhan utama…
        pembuatan UAV secara mandiri produk dalam negeri merupakan suatu batu lompatan untuk kemampuan memproduksi sendiri UAV yang lebih mumpuni kedepan..selama teknologi UAV tersebut ada yang belum dikuasai oleh industri dalam negeri, maka dibeli lah produk Israel..
        para politikus itu harus paham beda antara UAV dengan drone, beda juga kebutuhannya..saja sependapat dengan bung Frans bahwa drone memang digunakan untuk operasi militer…

  34. sy kira operate drone jg perlu biaya cukup besar, selain harga pesawat & control syst., jg perlu team personil darat utk operator : control pilot, komunikasi data/radio/radar, maintenance, genset, driver kendaraan, keamanan, komandan dll
    jadi kalo dihitung biaya operasional hariannya jg tetep mahal,
    ***emang awak daratnya gak digaji … hrs difahami mo punya alutsista kagak ada yg murah.
    (maaf komen anak awam, mhn koreksi bila salah)

    • mengendalikannya pakai satelite, diterbangkan dengan rudal!!..minimal harus mencapai 5000 km, klo cuma BTS paling maximal cuma sampai 200 km..klo pakai satelite bisa mencangkup jarak ribuan km..

  35. kembangkan UAV indonesia ke versi UCAV, jangan lupa teknologi UCAV HALE-MALE-nya dikuasainya dahulu…kuasai dahulu secara mandiri autopilot versi militer jangan beli di pasaran china itu autopilot versi sipil atau mainan…

    AWAS SATELITENYA JANGAN NUMPANG AMA TETANGGA SEBELAH!!….

  36. Selain satelit utk mengendalikan uav, drone,ucav,artileri,mlrs,rudal blablabla.. Semuanya itu tergantung dgn sytem GPS utk akurasi posisi. seharusnya system navigasi berbasis GPS khusus wilayah slrh RI mencakup darat dan laut perlu di rancang bangun sjk skrg, syukur2 bs menjangkau slrh bumi. Beidewei.. Sangat rentan mengandalkan system GPS prdk asing sprt skrg, jk trjd perselisihan negara antara si pemilik system GPS tsb, dan mrk dpt saja sengaja mendownkan atw memalsukan data akurasi, maka drone,rudal,mlrs,meriam howitzer kita semuanya akan kacau balau utk menentukan posisi yg akurat. sprt dngr2 isue uji coba yakhon pertama yg meleset akurasinya wkt uji penembakan krn isuenya tuh system GPS nya di sabotese. bnr tidaknya semua itu mmg dpt terjadi dan mnjd kenyataan suatu saat nanti. berharapnya sih, kalau bisa stp meter persegi wilayah kita sdh dpt dipetakan dgn terperinci oleh satelit2 kita kedepannya. Jk msh tergantung dgn GPS navigasi phk lain, mk kita sulit bhkn mustahil menang dlm perang yg menerapkan teknologi modern yg trendnya mengarah rudal dan umaned yg bhkn nanti dpt mengeksekusi perintah otonom sprt layaknya robot dan android, sprt ucav salah satunya yg mnrt saya teknologi dan derajatnya di atas drone. Satelit dan GPS menurut saya hrs sepaket dgn teknologi komunikasi mwpn pencitraan permukaan bumi. Salam..

 Leave a Reply