Jun 272013
 
Kapal Selam Changbogo Korea Selatan (Photo:  MC2 Benjamin Stevens/United States Navy

Kapal Selam Changbogo Korea Selatan (Photo: MC2 Benjamin Stevens/United States Navy)

Kementerian Pertahanan membantah jika pemerintah Korea Selatan setengah hati memberikan transfer teknologi pembuatan kapal selam kepada Indonesia. Korea Selatan punya alasan kuat menolak perwakilan dari PT PAL ikut mengerjakan kapal selam pesanan Indonesia.

“Menurut mereka pembangunan kapal selam punya resiko sangat tinggi,” kata Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan, Laksamana Muda Rachmad Lubis, saat ditemui di kantor Kementerian Riset dan Teknologi, Jakarta.

Korea Selatan menyebut kapal selam merupakan produk alat utama sistem persenjataan dengan standar kualitas tinggi. Berbeda dengan kapal perang biasa, kapal selam diwajibkan punya kemampuan menyelam hingga 350 meter dari permukaan laut sehingga tak boleh ada sedikit pun kesalahan. Jika tidak, nyawa dan reputasi produsen kapal selam jadi taruhan.

“Rusia yang ahli kapal selam saja pernah gagal, apa lagi orang yang belum punya keahlian, resikonya sangat tinggi, rawan kecelakaan,” terang Rachmad.

Selain itu, faktor keselamatan pekerja Indonesia juga menjadi alasan Korea Selatan. Sebab produksi kapal selam menggunakan peralatan yang beresiko keselamatan besar, terlebih untuk orang yang belum punya kemampuan. Alasan lain, Korea Selatan takut target produksi mereka molor karena harus memberi pelajaran kepada Indonesia. “Sementara kalau produksinya telat, kan mereka kena denda.”

Meski begitu, saat ini pemerintah sedang melobi Korea Selatan untuk memaksimalkan proses alih teknologi. Minimal, jika perwakilan PT PAL benar-benar cuma diberi kesempatan belajar dengan melihat (learning by seeing), Korea Selatan mau memperlihatkan secara detil. “Jadi diharapkan kapal selam ketiga kita bisa buat sendiri di Indonesia, tentu atas bimbingan langsung Korea Selatan,” kata Rachmad.

Indonesia memesan tiga unit Kapal selam kelas Changbogo dari Korea Selatan, dengan harga sekitar 350 juta Dollar Amerika Serikat per unit. Dalam perjanjian pembelian, Korea Selatan menawarkan alih teknologi kepada Indonesia. Sesuai rencana dua kapal selam akan diproduksi di galangan Daewoo Shipbuilding Marine Engineering co Ltd. Kapal selam ketiga akan dikerjakan oleh ahli Indonesia di galangan PT PAL.

Sebelumnya, Ketua Pusat Kerja Sama dan Promosi IPTEKS Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya, Raja Oloan Saut Gurning, mengingatkan Kementerian Pertahanan menekankan lebih serius mengenai kesepakatan transfer of teknologi dalam pengadaan kapal selam dari Korea Selatan. Indonesia sebagai pemilik uang berhak mendapatkan manfaat lebih dari kerja sama ini. “Pemerintah harus bernyali karena masih lebih besar uang kita dan kepentingan nasional harus dibela,” kata Saut saat dihubungi, Rabu 26 Juni 2013.

Saut menilai realisasi penguatan alat utama sistem pertahanan lebih menguntungkan kepentingan asing dan berpotensi menjadikan alutsista Indonesia dikendalikan para korporasi asing. Dalam jangka panjang dampaknya akan sangat berbahaya bila bergantung pada negara lain.

Menurut Saut, kerja sama pembelian kapal selam dengan Korea Selatan berpotensi sangat merugikan Indonesia. Itu, kata dia, tampak dari detail teknis yang tidak adanya komponen kapal selam yang dibuat di Indonesia dan minimnya keterlibatan tenaga ahli Indonesia dan hanya boleh melihat (learning by seeing). (tempo.co / INDRA WIJAYA)

  28 Responses to “Komitmen Korea Selatan untuk ToT Changbogo”

  1. ha.ha..ha..mau dikibulin lagi

  2. Saya tidak hendak membela Kemenhan. Tapi teriakan-teriakan PT PAL dari Dirut sampai bawahannya bagi saya terasa aneh. Ini proyek miliaran dolar yang diikat dengan perjanjian kontrak yang isinya detil dan clear yang suka atau tidak suka telah ditandatangani kedua belah pihak. Mengenai siapa saja pihak-pihak yang berunding, tentunya juga sudah melalui kesepakatan kedua negara. Beberapa hal “isi” ToT yang beredar di media massa sudah barang tentu tidak se detail dalam dokumen kontrak.

    Alasan Korea yang disampaikan Kemenhan menurut saya valid. Kalau kapal selam itu fail, yang akan bertanggung jawab adalah DSME, bukan PT PAL.Harusnya case ini disalurkan ke atas, untuk diselesaikan antara Kementerian BUMN dan Kemenhan dgn mengacu ke dokumen kontrak. Ini cara yang profesional bagi PT PAL, tidak perlu merasa paling capable di sekitar orang awam.

    • Lha parahnya pemerintah sekarang itu ya miskoordinasi je bang, satu pihak bilang gini satu pihak bilang gitu. Sebelum tandatangan kontrak harusnya semua pihak yg terlibat akur dulu dong, fatal banget pihak yg disuruh mengusai ilmu yg akan ditransfer (PAL dan ITS) malah nggak dilibatkan dari awal pas negosiasi poin2 yg berkaitan dengan TOT. Akibatnya sekarang mereka bersuara menentang kontrak yg sudah ditandatangani, karena ada indikasi merugikan pihak kita. Ane malah lebih percaya Dirut PT.PAL dan orang ITS-nya, secara teknikal-nya jelas lebih paham dibanding orang Kemenhan. Dan yg ane nggak habis pikir kok mau saja dibikinin barang baru yg belum jelas juntrungnya, U-209 bukan, CBG juga bukan. KS baru (DSME-209) dan sekarang masih design tapi kok rencana bikinnya cepet banget, lha negara lain yg sudah mature teknology KS-nya saja bikin prototype baru lama banget test-nya, bisa tahunan dan belum pasti berhasil juga. Ditambah orang yg dikirim kesono masih “hijau” semua, dan disuruh liat doang (ane berdoa moga2 mereka boleh bawa kamera, kertas ama pinsil), wajar banget klo 2 bapak ini kasih warning sama kemenhan. Klo menurut ane sih pemerintah harus berani request amandemen kontrak ini, sayang je uang USD 300juta cuman arahnya mo diajarin ngerakit doang, TOT komponen blas nggak ada, alias klo jadi 100% komponen luar dalam semua import. Lalu apa apa yg mo didapat industri dalam negeri kita, untuk Krakatau steel nggak ada, untuk LEN dsb dsb nggak ada. Just ngerakit tok ini bang WH, jauh dari deal-nya PT.DI sama Cassa spn dulu buat CN-235. Gimana analisa ane menurut bang WH..

      • ‘Lha parahnya pemerintah sekarang itu ya miskoordinasi je bang, satu pihak bilang gini satu pihak bilang gitu..’

        Lebih miris jika terjadi di level tertinggi dan ditonton orang luar. Menko bilang: jangan seperti anak kecil, bukan maunya RI kebakaran hutan, itu peristiwa alam. Menteri X bilang: perusahaan2 Malaysia yang bakar (nah lo, berarti bukan peristiwa alam). Terakhir paling ajaib: Kemen LH protes kepada Malaysia, akan mendatangi menteri LH Malaysia untuk melaporkan perusahaan yang terindikasi sengaja membakar hutan di Riau.

        Lho, apa Men LH RI mirip Gubernur Jenderal VOC dan Men LH Malaysia adalah Ratu di Nederland yang perlu dilapori?

        Gak perlu lapor2, tangkap dan proses aja sesuai hukum yang berlaku (itu juga kalau sudah ada hukum / UU-nya, miris, miris…)

    • betul sekali bung WH,..

      saya kira ndak ada kibul-mengkibuli, kontrak sudah ditandatangani, berarti semuanya sudah paham betul, apalagi DSME dan PT. PAL adalah perusahaan besar, mereka pasti punya tim khusus untuk memahami kausul demi kausul kontrak tersebut, karena kalau ada yang melanggar nama baik akan dipertaruhkan di mata dunia.

      kasus ini ada, karena “dicuat-kan” oleh orang-orang yang ngak ngerti permasalahanya, tapi dengan latahnya mengumbar opini secara ngawur.

      • Masalahnya bukan apakah PAL memiliki tim khusus / bagian hukum yang mereview kontrak sebelum diteken, tapi apakah mereka dilibatkan dari awal atau baru terakhir setelah kontrak disepakati, gitu lho mas…

        • Berarti kita jangan menyalahkan pihak Korea, karena yang “ruwet” adalah kita sendiri gitu llho dik…..,

          dan saya kira semua pihak pasti dilibatkan, lha wong ada tanda tangan para pemimpin PT.PAL sebagai SYARAT ADMINISTRASI.

          “Mendhol Mburi” (kecewa belakangan) adalah sifat pengecut, atau seperti yang saya bilang ngak ngerti opo-opo tapi bikin opini

          dan sejak dulu memang Indonesia sudah di cap sebagai negara yang paling Ruwet dalam berbisnis (hasil dari interview dan jajak pendapat dari para pe-bisnis terkemuka dunia)

  3. Baca keterangan terbaru Ka Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan malah jadi geli sendiri, karena beberapa hal yang disinggung telah lebih dahulu dijadikan bahan oborolan tingkat warkop di JKGR.

    [1] Sebab produksi kapal selam menggunakan peralatan yang beresiko keselamatan besar, terlebih untuk orang yang belum punya kemampuan.

    Pelanggan warkop aja tahu dibutuhkan tools khusus untuk membuat KS, Kemhan yang mewakili 240 juta rakyat RI tentunya harus jauh lebih tahu.
    Dan justru itu yang harus diakomodasi di kontrak ToT; RI (cq. crew PAL) ingin menguasai teknik/ teknologi membangun KS yang membutuhkan tools khusus, ya diatur caranya agar sejumlah crew diberi pelatihan penggunaan tools tersebut secara benar dan aman (material yang dijadikan bahan praktek tentunya dibayar oleh RI, walau tidak digunakan pada KS yang sedang dibangun). Bukannya malah dibalik: peralatan beresiko keselamatan besar, terlebih untuk orang yang belum punya kemampuan -jadi jangan disentuh. Wah, kapan bisanya kalo gitu?

    (ToT Changbogo dan Banjir di Arab Saudi -May 21, 2013 at 9:58 am)
    Apa yg mau di TOT? bobotnya lebih ke manufacturing technology, shipbulding/construction technology.
    Constructibility adalah faktor penting dalam dunia engineering, tidak semua yang tertera di gambar blueprint bisa diwujudkan dengan mudah oleh construction crew, masih banyak kendala, skill,
    equipment/tools, kendala ruang/confined spaces yang akan memaksa crew merayap / meringkuk ke dalam lekuk2 sempit suatu kapal salam bersama tools mereka, dst.

    • Ente malah lebih detail bang Danu.. Tengkyu jadi ane tambah ilmu..

    • Mr. Danu aku pesen satu “lontongnya”, ngak pakai kecambah ya ???

      saya heran, kenapa dephan beli kapal selam jauh jauh ke korea segala, la wong disini ada yang tahu khok……..

      • Anda gak bisa bedakan apel dan jeruk, orang cerita apel anda nanya jeruk.

        Yang saya ulas adalah komponen2 ToT yang perlu didetailkan di kontrak sehingga tidak ada misinterpretasi (skill apa saja yang perlu dilatihkan, berapa pesertanya dst, dst). Kata kuncinya SKILL, mungkin bahkan craftmanship, dan tidak ada skill yang didapat BY SEEING ONLY.

        Bukan ENGINEERING DESIGN KS-nya. Ini bedanya juauuh banget, malah gak ada hubungan samasekali, kok masih bisa salah tangkap ya…

        • namanya juga manusia mas danu pemahaman bisa berbeda beda mgkin lg kebanyakan mikir bbm naik jadi gak fokus ke topik yg dibahas di WARJAG ini

      • Ada sapi di balik udang, hahaha…

    • Kalo ToT-nya “L by D”, itu yg mmg cepat bs terserap ke enginer2 RI, kalo cm “L by S”, ini mmg ToT setengah hati, kalo Korea cm ngasih setengah, enginer2 RI harus bs dapatkan yg setengah dgn cara lain, mau gak mau hrs di maling ne teknologi.

  4. “Rusia yang ahli kapal selam saja pernah gagal, apa lagi orang yang belum punya keahlian, resikonya sangat tinggi, rawan kecelakaan,” terang Rachmad.

    Apalagi DSME yang cuma potocopy U-209.

    • Jadi inget kisah HERDER & KAMPUNG, ternyata terbukti sekarang.

    • apalagi PT. PAL, ya ndak…..

      kalau begitu mending beli aja teruuuuuus, buat apa buat Rudal sendiri, UAV sendiri, Tank sendiri, Kapal sendiri, buang buang uang aja.

      apa enak gitu mas ???

      • tanya ama AL vietnam om melektek, enak gak dengan buang uang dapet kilo 6 biji, kasihan hiu kencana, dapet ks ribet!.

      • sudah tanya mas…..

        Vietnam sekarang sudah bisa bikin Korvet sendiri mas, dilanjutkan sekarang negoisasi agar bisa bikin si KILO di Vietnam, syaratnya harus nambah minimal 4 unit, itu pun mungkin memakai cara seperti Korea dengan Indonesia, bahkan lebih buruk dan panjaaaaaang

        berapa ratus-ribu triliun rupiah yang harus dikeluarkan Vietnam mas, untuk mencapai swasembada alutsista

        bandingkan di Indonesia, baru beli 3 udah ruwet bin ribet, belum lagi proyek KFX, kita hanya 20% itu pun belum dibayar sepenuhnya, udah DPR mencak-mencak, bikin malu aja…..

  5. dulu pimpinan PT PAL pernah mengatakan bahwa PT PAL sebenarnya mampu buat kapal selam,tapi karna biaya pembuatannya yang sangat besar maka PT PAL tak mau berjudi.
    mungkin dengan kerjasama dengan korsel dengan tot nya,keberanian dan keyakinan PT PAL untuk buat kapal selam akan semakin kuat.

  6. jangan lupa PT PAL pernah memperbaiki kapal selam TNI dan bersamaan dengan itu mungkin mereka mempelajarinya.

  7. pada ribet amat……apa pada lupa y klo kapal selam yg terakhir bakal di buat di PT. PAL…..lah klo di buat di PT. PAL berarti kan seluruhnya dikerjakan karyawan PT. PAL dengan pengawasan DSME….lah klo gtu ngapain cemas, TOTnya kan pas jatahnya PT. PAL ngebuat kapal selam terakhir, sekarang disuruh liat dlu prakteknya pas kapal selam ketiga, berarti korsel dah bener dong…….

    • SIGMA & PKR adalah contoh yang nyata…

      • ya pemerintah kita dong yg harusnya menyiapkan segalanya agar tidak ada alasan korsel untuk menolak membangun di PT. PAL (peralatan, SDM, dock dll)….sekalian jaminan hukum bahwa kita akan menanggung kualitas kapal selam ketiga yg qta bangun sendiri….itu makanya dalam kontrak awal harus jelas hal-hal yg membatalkan kontrak dan hal-hal yg dikenai penalty

    • Jawaban yang jitu bung…..inilah yang saya tunggu….

      Kapal selam yang ketiga dikerjakan di PT. PAL, berarti ToT sudah berjalan benar. masalah alasan Korea saya mendukung 100% dan benar.

      masalah SIGMA dulu, jauh berbeda, karena dikontraknya (yang udah diteken) emang tidak ada kausul yang menyatakan 2 kapal terakhir dibangun di PT. PAL.
      jadi kalau dulu katanya 2 kapal terakhir dibuat di PT. PAL itu semua masih RENCANA belum kontrak, namun sudah menjadi opini publik (yang dihembuskan oleh orang yang ngak ngerti tapi sok tau) yang katanya itu sudah kontrak.

      berbeda dengan Korea karena sudah kontrak, dan isinya sudah diumumkan secara terbuka adalah kapal ke tiga dibangun di PT. PAL.

  8. dari pertama user mintanya KILO,bisa nembak ke daratan,dipinjemin duit lagi sama rusia, TNI-AL bangga, negara tetangga pada pusing, tapi dengan harga yang sama disalip CBG dengan iming2 TE O TE, KFX ditunda se enaknya, puncaknya adalah curhatnya dirut PT.PAL, (bener dong darimana???)

  9. Kalau pembangunan kapal selam cbg class yang ke tiga akan dilakukan di PT PAL dengan program full LEARNING by DOING sudah pernah saya jabarin kan..itu kesempatan kita BELAJAR ngelontok dan habis habisan bagaimana menjadi tukang jahit/merakit kapalselam
    Sekalian aja dengan nyolong teknologi juga designnya..di PT.PAL ribuan tenaga ahli bisa belajar karena waktu pembuatannya akan berlangsung lama kurang lebih 2 tahunan.

    Segal ruwet dan mbulet yang sekarang ditimbulkan oleh instansi terkait jangan jangan untuk skenario yang lebih strategis..APA ITU?
    Kalau felling saya sih nanti dibilang TOT kapal selam dari korea akan sedikit terlambat pengerjaannya (PAdahal Tidak) dan mengingat akan semakin panasnya ketegangan LCS dan MENDESAKNYA kebutuhan KS untuk menjaga selat selat ALKI kita maka pemerintah perlu untuk membeli KS Kilo untuk kepbutuhan mendesak tersebut diatas sambil menunggu program TOT cbg berlangsung.

    Skenario tsb dibutuhkan untuk menimbulkan dan menampakan KS Kilo yang sudah dibeli di era 2007 sebagai bentuk Pertanggungan jawaban pemerintah dalam hal penggunaan dana untuk pembelian alutsista yang akan dipamerkan dalam latgab thn 2014,
    Indikasi lainnya bahwa hari ULTAH TNI 5 oktobere 2014 juga akan dilakukan di surabaya adalah tempat yang IDEAL untuk menampilkan seluruh defile pasukan fliying pas dan Sailing pass semua alutsista 3 Matra..
    Kesempatan yang Pas untuk menampilkan KS Kilo yang Strong tsb.Kalau Killonya ditampilkan pastinya ada yang lebih BARU dan Detereen untuk disimpan dan dikeeps sebagai secret weapon.
    Kalau khayalan saya ini benar saya sih mendukung saja apa yg terjadi sekarang ini menjadikan kroya sebagai aktor ulet dan mbulet (kambing hitamnya)

    Permainan Taka Tiki kemenhan untuk menyimpan erat sebuah pembelian alutsisita dan memberikan statemen untuk memancing OPINI masyarakat pecinta tanah air (Termasuk di warjag ini) selain untuk mengaburkan juga untuk mendapatkan DUKUNGAN akan sebuah kebijakan yang akan diambil.
    Seperti saat ini yang terjadi sebelumnya KSAD memberikan statemen Apache akan ditunda karena kenaikan BBM dan diralat karena kurangnya anggaran pemerintah .setelah ramai jadi bahan debatan di forum forum dan menuai kecaman .MAKA sekarang warga Warjag mendengar Kemenhan aka mabesad akan meminta tambahan anggaran senilai 6 T untuk pengadaan helo apache tersebut,,pasti ada yang disembunyikan paling tidak perihal jumlahnya
    Karena setahu saya dana untuk pembelian 8 apache sebelumnya sdh ada dan tanda bintangnya sudah dicabut..kalaupun dugaan saya benar memang mabesad merasa kurang dgn jumlah 8 apache yang ada karena NANGGUNG untuk konsep perang kavaleri modern yang diperlukan 6 apache setiap sortienya.(pernah kita bahas sebelumnya)

    Sekedar khayalan saya Tukang Warnet saja sih,,Bung Diego,bung WH,bung Danu dan MR MElekteck saya jangan dibata yaa hehehehe

  10. Klo menurut sy sih batalin aja pembelian cbg, negara sekelas indonesia sudah seharusnya menunjukan taringnya..pepatah mengatakan pembeli adalah raja..berani gak kita berlaku seperti raja, mengobrak abrik korea jika tdk sesuai keinginan pembeli.ada banyak keuntungan jika melihat masalah ini, jika bener korea mangkir, trs kita batalin secara tegas..yakin deh byk tawaran dari negara laen yg lebih kopenten dibidang KS.klopun tdk, kita belikan saja KS kilo yg dari rusia.makin moncer lautan kita.pada intinya kita musti tegas klo kita mau di hargain bgsa laen.

 Leave a Reply