Jun 062015
 

Jakarta – Pada 1983 Angkatan Darat Amerika Serikat (US Army) memesan kendaraan tempur jenis baru untuk mengganti “Jeep”. AM Generals, perusahaan otomotif Paman Sam sukses memenangkan tender 55.000 unit.

Konsep kendaraan jenis baru tersebut bernama “High Mobility Multipurpose Wheeled Vehicle”, yang tersohor dengan nama Humvee dan sebagai pendamping Tank M1 Abrahams atau kendaraan militer lainnya.

Negara-negara lain pun banyak memproduksi kendaraan sejenis Humvee ini, salah satunya Sherpa besutan Renault, Perancis. Pada Oktober 2011, Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menantang PT Pindad (Persero) untuk membuat kendaaran sejenis.

“Kendaraan taktis type baru seperti ini akan dibutuhkan, saya minta dalam dua bulan Pindad sudah bisa memberikan paparan purwarupanya,” demikian tantangan SBY.

Menanggapi permintaan SBY, PT Pindad pun mengaku tidak sulit karena mereka sudah mengembangkan kendaraan tersebut sejak 2010. Di mana, Pindad telah memiliki sebuah model yang dibangun berbasis Panser Anoa.

“Panser itu sasis dan mesinnya dari Renault, sedangkan body dan komponen lainnya dibuat sendiri PT Pindad. Saat ini baru satu unit, namun pemesannya sudah ratusan,” ucap Dirut PT Pindad saat itu, Adik Aviantono menanggapi tantangan SBY.

Pada Indo Defence 2012, PT Pindad menampilkan kendaraan tempur versi ringan dan diberi nama Komodo oleh Presiden SBY. Kendaraan ini menggunakan mesin dieselintercooler dengan power kendaraan 214 Tk  pada 2.500 rpm dan rasio 25 Hp per ton.

Saat ini, PT Pindad sudah memproduksi beberapa varian yang digunakan TNI dan Polri. Varian-varian Komodo yakni Komando, Intai, Ambulans, Pemukulan Ram, Cannon Towing, Peluncur Roket, dan APC (Armoured Personnel Carrier).

Beberapa negara seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei tertarik dengan Komodo. PT Pindad terus berinovasi dengan melakukan pengembangan baru agar Rantis Komodo bisa dikenal dunia internasional.

“Kita terus melakukan pengembangan termasuk peningkatan komponen dalam negerinya. Saat ini Komodo bisa juga menggunakan mesin produksi Jepang,” ungkap Direktur Utama PT Pindad, Silmy Karim kepada tim Liputan6.com beberapa waktu lalu.

Versi sipil

PT Pindad pun mengaku sudah banyak permintaan dari masyarakat Indonesia agar Komodo dibikin versi sipil. Kendaraan memiliki kemampuan yang andal dan desain yang gagah ini akan dibuat menyerupai Hummer, Humvee versi sipil dan Sherpa versi Sipil.

“Kebanyakan (peminta) suka karena menganggap Komodo desainnya gagah. Jadi konsumen yang senang off road dan ingin merasakan military looks dari Komodo kami memang sedang siapkan,” terang Direktur Utama PT Pindad (Persero) Silmy Karim saat berbincang dengan Liputan6.com di kantor pusat Pindad di Bandung, Jawa Barat.

Meski tengah mempersiapkan segala hal menyangkut Komodo sipil, Simly menyatakan rencana tersebut bukan sebagai suatu upaya baru untuk masuk ke dalam wilayah yang sebenarnya bukan ‘teritori’ PT Pindad.

“Kecuali kalau kita diberikan tugas dan diberikan beberapa hal untuk mendukung jalannya program mobil nasional. Pasalnya hal tersebut tidak sederhana, itu cukup kompleks dan belum tentu konsumen (dalam skala ekonomis) menginginkan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Silmy mengatakan untuk Komodo sipil bagian eksteriornya tidak perlu menggunakan plat anti peluru begitu juga kacanya. Selain itu, banyak yang meminta ukuran tubuhnya sedikit dikecilkan, karena dimensi Komodo saat ini sangat besar.

Di bagian ketiga ini, Tim Otomotif Liputan6.com akan mengajak sahabat Liputan6.comberkenalan dengan Kendaraan taktis Komodo buatan anak bangsa ini serta rencana pengembangan ke versi sipilnya. Sahabat Liputan6.com akan ditemani oleh host Amii Nindita mengupas keandalan Komodo 4×4 ini. Seperti apa? Simak videonya di bawah ini :

Sumber : Liputan6.com

jakartagreater.com

  27 Responses to “Komodo Tak Kalah dengan Humvee Amerika Serikat”

  1.  

    Pertalite

  2.  

    Awas si Komo lewaaatt..

  3.  

    Komodo baru ada 100an unit, kenapa tdk di produksi massal? Karena masih banyak komponen yg impor. Begitu juga dgn Anoa, mungkin kalau sudah di produksi massal, sekarang bisa mencapai 800+ unit. Seharusnya jika Texmaco masih hidup, mesin 190 HP pada Komodo adalah barang keluaran lama, tinggal riset mesin 350 HP buat Anoa dan 700 HP buat tank medium Pindad. Tapi sayang, Texmaco sudah tiada…

  4.  

    Malaysia kacung Asing, wajarlah orang yg tdk suka asing seperti dia dibatasi pergerakannya

  5.  

    hehe.. kapan yaa kira kira peluncuran sipil semi militer..
    saya suka yg komodo

  6.  

    Bagus di naik kan jadi artikel .Mari kita analisa sama sama jiran kita yang sedang sakit .Diagnosa penyakitnya apa ya ?.

  7.  

    Dulu ada wacana PT TEXMACO mau di bumn kan ketika mau bangkrut karena banyak perdebatan dari pemerintah sendiri dan tidak lupa di motori aseng jd gagal

  8.  

    Klo minat Adira ato fif bisa lesing gk ya

  9.  

    “Komodo bisa juga menggunakan mesin produksi Jepang”…. sepertinya kreasi indomesin tuh……

    •  

      Ingat Indomesin adalah pengimpor mesin bukan produsen. Mereka beli (impor) lalu jual dgn keuntungan. Birokrasi impor lama. Bisa jadi 1 bulan baru datang. Lebih baik buat mesin sendiri, bisa Mass Producing suatu kendaraan. PT. Texmaco gugur, harusnya PT. Alam Indomesin Utama menggantikan mereka dlm produksi mesin juga truk. Masa Tentara Indonesia, pakainya truk Jepang? Ada yg salah dgn bangsa ini? Ada truk Maesa I dan Maesa II malah pakai truk Isuzu (catatan: Maesa bukan buatan Indomesin, tetapi juga merupakan produk Indonesia).

  10.  

    Saya yakin kalo komodo dibikin versi sipil dgn 120tk harga LCGC..Insya Allah laris..jgn merek mobil itu2 aja yg merajai pasar dlm negeri..bangun automotive karya anak bangsa lewat pindad..Anda percaya kami bisa…

  11.  

    Gagah euy tu mobil,,,bisa kredit g bung silmi karin heheee

  12.  

    TEXMACO merupakan perusahaan raksasa di negeri ini yang sempat mencicipi masa kejayaan pada masa orde baru. Jikalau kita pertimbangkan betapa beruntungnya negeri ini mempunyai anak bangsa yang brilliant, terbukti dengan pesatnya teknologi yang dikembangkan texmaco, mulai dari mesin tekstil beserta produk tekstilnya sampai dipenghujung kejayaanya mampu menjalar dunia otomotif. Didunia tekstil mungkin lebih dikenal produk-produk texmaco ini berupa polyester (serat buatan) salah satunya dan permesinanannya (merk PERKASA) juga dibidang otomotif texmaco berhasil membuat beberapa varians mobil yang bisa dibanggakan seperti mobnas maleo, timor s-2, texmaco macan (MVP), texmaco kancil (city car).
    Berbeda dengan keadaan pada saat masa jayanya TEXMACO sekarang hanya sebuah nama besar perusahaan yang sempat menjadi kebanggaan bangsa ini. Keaadaan TEXMACO saat ini sudah sangat memprihatinkan, bisa dikatakan kolaps bahkan kasarnya bangkrut. Tentunya kita sebagai orang-orang yang mau berpikir tentunya ada sedikit rasa penasaran yang semoga saja rasa penasaran itu bisa diteruskan dengan pikiran briliantnya, kenapa PT.TEXMACO bisa bangkrut? Jawaban singkatnya adalah karena PT.TEXMACO mempunyai utang yang jumlahnya lebih besar dari nilai asetnya sendiri. Jawaban tersebut cukup menjawab tapi perlu kejelasan lanjut agar para pemikir dinegeri ini bisa belajar dan mengambil hikmah.
    Seberapa besarkah hutang TEXMACO itu? Jika dihitung utangnya berkisar sekitar Rp.18 triliun sedangkan jika aset TEXMACO sendiri dijual diperkirakan hanya akan mencapai nilai sebesar Rp.800milyar yang notabene hanya mampu menutupi 5% utang perusahaan. Demikian kacaukah? Kenapa bisa sampai pada kondisi seperti itu? Ketika orang-orang penting yang mempunyai kekuasaan terutama di negeri ini sudah kurang peduli dan kurang pertimbangan terhadap masa depan bangsa dan kesejahteraan orang banyak hal-hal diatas bisa dengan mudah terjadi.
    Sebenarnya saat berjalanya betapa dimanjakannya TEXMACO ini terutama dengan didapatkannya fasilitas kredit preshipment dari Bank Indonesia dengan kucuran dana yang amat besar serta faktualnya banyak terjadi pelanggaran peraturan kredit dan perbankan. Saat itu ada 20 perusahaan yang menerima fasilitas tersebut diantaranya PT. TEXMACO yang mempunyai kredit dengan nilai terbesar namun dalam langkahny a TEXMACO tidak mampu mengembaliakn sebagian besar tunggakannya termasuk pula beberapa perusahaan lain seperti Bakrie Group, namun saat itu TEXMACO lah yang mempunyai tunggakan paling besar. Selain utang piutang dengan investor dan pihak lain (dari beberapa sumber).
    Jika kita memandang sekilas dari besarnya jumlah utang perusahaan tentu beberapa orang akan sempat berpikir bangkrut dan menjadi bebanlah perusahaan ini. Dengan utang yang begitu besar perusahaan tidak akan mampu menjalankan kegiatan operasionalnya. Tapi lain halnya dengan orang-orang yang berpikir panjang dan matang tentu tidak akan terlalu mengungkit masalah tanpa solusi namun akan memikirkan betapa besar sejarah teknologi yang telah ditorehkan TEXMACO , hampir mirip dengan perjuangan Nissan dan toyoda/Toyota. Tentu orang-orang ini akan berpikir bagaimana membangkitkan perusahaan ini tanpa mengesampingkan pemecahan masalah yang ada.
    Selama ini, kalau kita perhatikan, sepak terjang Meneg BUMN dan BPPN hanya dilandasi pemikiran sesaat. Bagaimana mendapat uang seketika dari penjualan aset-aset bermasalah untuk menutupi defisit anggaran pemerintah. Bahkan lebih jauh lagi, aset-aset yang liquid pun, akhirnya diobral juga demi menutupi defisit anggaran dan memoles citra Indonesia sebagai negara yang konsisten mengikuti arus pasar bebas dunia (deregulasi dan privatisasi) yang disarankan IMF.
    Kasus menggegerkan misalnya, pernah terjadi pada penjualan obral PT Indosat – perusahaan telekomunikasi yang jelas-jelas sangat strategis dan menguntungkan secara bisnis — kepada perusahaan milik pemerintah Singapura. Protes masyarakat terhadap divestasi Indosat tak digubris pemerintah. Jadilah satelit Palapa yang legendaris dan jadi kebanggaan bangsa Indonesia “terbang” ke tangan Singapura.
    Sekarang, kasus yang nyaris sama menimpa PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan PT Texmaco. PTDI merupakan BUMN “icon” kemajuan teknologi dirgantara Indonesia yang selama ini jadi kebanggaan bangsa. PT Texmaco, terutama Divisi Engineering-nya, juga merupakan perusahaan swasta “icon” kemajuan dan kemandirian industri permesinan Indonesia.
    Texmaco, misalnya, telah berhasil membuat produk otomotif dan mesinnya sekaligus dengan komponen lokal 95 persen (baca: bandingkan dengan PT Astra Indonesia yang telah berumur 30 tahun lebih hanya mampu memproduksi otomotif dengan komponen lokal paling tinggi 60 persen), membuat mesin tekstil yang kualitasnya diakui dunia internasional, dan pelbagai produk permesinan yang lain. Tak salah bila dikatakan PT Texmaco merupakan “icon” perusahaan swasta yang peduli terhadap kemandirian dan kemajuan teknologi permesinan Indonesia.
    Tapi, apa di kata? Pemerintah tampaknya tidak peduli terhadap hal-hal semacam itu. Begitu juga Texmaco, nasibnya sama: pemerintah tak peduli dengan apa yang dirintis oleh perusahaan itu. Pemerintah hanya melihat Texmaco punya utang triliunan rupiah. Tak terpikir untuk apa uang sebanyak itu. Pengembangan industri permesinan dan alat-alat berat – seperti halnya industri pesawat terbang dan permesinan — memang padat modal. Texmaco yang susah payah mandiri terjebak di sana dan akhirnya nyaris bangkrut. Lalu, pemerintah hendak menjualnya dengan harga Rp 800 miliar – hanya senilai 5 persen dari total aset Texmaco!
    Menurut pemikiran saya sebagai seorang mahasiswa yang kebetulan menggeluti teknologi tekstil, terus terang saya merasa sangat prihatin dengan keadaan ini. Sekiranya mengingat kembali artikel yang pernah saya baca tentang sikap Negara barat (AS besrta kroni-nya) yang selalu menekan Negara lain yang sedang berkembang seperti Indonesia agar masuk kedalam saran-sarannya berupa swastanisasi, pasar bebas dan deregulasi sedangkan mereka sendiri tidak mau masuk dalam arena itu. Hal ini jelas akan membuat Negara berkembang tercekik dan menjerit. Walau bagaimanapun industry vital seperti permesinan dan tekstil adalah industri yang padat modal dan perlu didampingi pemirintah sebagai bos dari segala bos (super power).
    Jujur saya lebih mendukung pemulihan kembali TEXMACO yang tentunya dengan campur tangan dan tanggung jawab pemerintah. Karena jika saya ditanya kenapa TEXMACO bisa bangkrut? maka jawaban saya adalah karena pemerintah terlalu mengambil ego konsisten terhadap gengsi internasional. Kemajuan teknologi dan pemikiran serta prestasi anak bangsa akan sangat lebih berharga jika dibanding dengan uang Rp.18 Triliun yang menjadi utang PT.TEXMACO dan utang inipun bukan karena penghamburan perjuangan kemajuan melainkan hasil ketamakan dan kebobrokan moral anak bangsa yang tidak bertanggung jawab…

  13.  

    good job

  14.  

    dlm video nya… ada penampakan tank.

  15.  

    Sangar coyy,

  16.  

    Baru nntn mega factories “armored troop carrier” tentang humvee nya ITALY “iveco” yg kena IED tapi kelima penumpangnya selamat karena desain V hull body dan desain kursi seperti kursi balap F-1…mobil boleh hancur tapi prajurit harus selamat…semoga komodo nanti terus berkembang….amien…..