Nov 052015
 

suriah

Semakin banyaknya pihak yang terlibat dalam konflik di Suriah menyulitkan untuk mengetahui siapa teman dan siapa musuh. Ada banyak kelompok pemberontak, jihadis, dan pasukan pemerintah Suriah yang saling bertempur, sementara elemen-elemen dari luar Suriah juga ikut terlibat.

Teman jadi musuh dan musuh jadi sekutu sementara, semuanya berubah cepat tergantung lokasi pertempuran.

Dalam berbagai bentrokan di sekitar Aleppo, kota terbesar sekaligus bekas pusat bisnis Suriah, situasinya semakin kacau.

Kelompok pemberontak menuduh pemerintah Suriah, yang dibantu sekutunya Rusia dan Iran, justru membantu kelompok teroris Negara Islam (ISIS) karena menggempur kubu-kubu pemberontak di sebelah utara Aleppo. Disanalah, pemberontak yang berjuang untuk menggulingkan Presiden Bashar al-Assad terus menerus diserang, termasuk dengan serangan bunuh diri.

Pada saat yang sama di bagian selatan dan tenggara Aleppo, pemberontak berperang guna mencegah pasukan pemerintah mengepung daerah-daerah yang sudah dikuasai pemberontak.

Sementara itu, juga di bagian selatan Aleppo, militan ISIS minggu ini berhasil merebut jalan raya sepanjang 15 kilometer antara Hama dan Aleppo dari tangan pemerintah Suriah. Kata pemerintah, ISIS memenangkan pertempuran tiga hari itu dengan bantuan tidak langsung dari kelompok pemberontak pimpinan Jabhat al-Nusra, afiliasi al-Qaida.

Dengan kemenangan tersebut, ISIS berhasil menguasai rute darat terakhir yang digunakan pemerintah Suriah untuk memasok bantuan ke Aleppo. Ini membantu pemberontak karena melemahkan upaya ofensif pemerintah terhadap mereka.

Baik pemberontak anti-Assad dan pemerintah langsung saling tuduh bekerjasama dengan teroris ISIS. Tetapi pada saat bersamaan, jika berguna bagi taktik militer mereka, kedua pihak itu juga mengambil manfaat dari kehadiran ISIS di medan perang.

ISIS tidak menunggu lama untuk memanfaatkan kehadiran Rusia yang hendak mendukung rezim Suriah. ISIS langsung memperkuat ofensif yang tadinya macet guna merebut kota Marea, Tal Rifat dan Azaz di sebelah utara Aleppo yang dikuasai pemberontak.

Beberapa hari setelah Rusia ikut melancarkan serangan udara, ISIS langsung bergerak di sebelah selatan dekat perbatasan dengan Turki, dan merebut desa-desa Tal Qrah, Tal Sousin dan Kfar Qares.

Rusia menggelar serangan udaranya lebih dari setahun setelah Amerika mulai membantu pasukan pemberontak di Suriah. Amerika awalnya hanya memasok bantuan pangan dan perlengkapan, sebelum akhirnya memberikan pelatihan, uang dan informasi intelijen.

Amerika, Bahrain, Qatar, Yordania, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab mulai menarget kubu-kubu ISIS di Suriah dengan pesawat tanpa awak bulan September 2014.

Konflik di Suriah berawal dengan gelombang demonstrasi pada Maret 2011, terilhami oleh gerakan Kebangkitan Arab yang pro-demokrasi di kawasan itu. Bentrokan antar demonstran dan pasukan pemerintah dengan cepat berubah menjadi pertempuran bersenjata, termasuk penggunaan senjata kimia.

Menurut data PBB, sampai bulan April, perang disana telah menewaskan hingga 300.000 orang.

Lebih dari 7,6 juta orang terpaksa mengungsi di dalam negeri, sementara lebih dari lima juta lainnya telah melarikan diri ke negara-negara tetangga. Ratusan ribu lainnya juga telah mengungsi ke Eropa

 Posted by on November 5, 2015

  21 Responses to “Konflik Suriah, Siapa Kawan Siapa Lawan ?”

  1.  

    NO 1

  2.  

    Siapa cepat, dia dapat.

  3.  

    Duo

  4.  

    Kasihan rakyat suriah yg netral jadi korban politik perebutan kekuasan orang2 dengan baju agama

  5.  

    Menyedihkan sekali perang yang terjadi di suriah, beginilah jika militer dan BIN nya lemah.sangat mudah untuk memecah belah suatu negara.

    dunia tahu siapa dalang perang tersebut. jika bantuan asing ingin membantu suatu negara mesti lewat pihak yang legal, bukan memberi bantuan kepada pihak pemberontak.

    beginilah jika PBB yang wewenang-nya hanya diberikan kepada negara” yg memiliki hak veto.
    bagaimana bisa menghasilkan perdamaian dan keadilan jika setiap keputusan bisa dirubah oleh negara yang memiliki hak veto.

    sebenarnya NKRI pun pernah mengalami hal yang sama dan pil pahit tersebut dengan lepasnya timor timur. kemudian ACEH yg mencoba lepas dari NKRI ( siapa yg mendanai GAM sampai memiliki senjata dan amunisi sebanyak itu ) kita bersyukur masih bisa mempertahankan kedaulatan aceh di NKRI.jangan sekali-kali masalah kedaulatan dibawa kepada mahkamah international jika diplomasi kita lemah, seperti yang terjadi pada sipadan dan legitan.dan banyak gerakan” separatis lainya.

    kita wajib bersyukur BIN dan aparatur TNI/POLRI masih bisa mengatasi walaupun belum sampai akar”nya.

  6.  

    Agama hanya kedok untk ambisi politik

  7.  

    cuma bisa selesai dg musyawarah….perang hanya akan menimbulkan luka dan dendam yg akan selalu berbalas
    liga arab ngapain aja ya??
    kok mau2nya wilayahnya dihancurkan asing

    selesai

  8.  

    dihabisin aja semuanya, disisain pasukan resmi dari pemerintah aja..saya yakin penduduk suriah tidak mempedulikan siapa yg jadi juaranya, mereka hanya menginginkan hidup yg normal dan tidak ada aksi dan hukuman yg tidak berkrimanusiaan..

  9.  

    Ambisi apa tuhhhh

  10.  

    Negara dan Rakyat kalau kehilangan jati diri ya seperti demikian…..

    Berperang dengan campurtangan asing….dan rakyat kabur tidak membela tanah air hingga darah penghabisan…

  11.  

    Putin berkata, “saya tak akan melepas suriah, sekalipun pertempuran sampai di jalanan moskow” komitment, bukan mencla mencle…, perhitungannya adalah integritas, bukan untung rugi..