Nov 032016
 
KAI KUH-1 Surion

KAI KUH-1 Surion

Korea Aerospace Industries mengatakan pihaknya telah menandatangani kesepakatan awal dengan perusahaan Indonesia untuk menjual produk-produk mereka di pasar global, (2/10/2016).

Di Indo Defence 2016 yang digelar 2 hingga 5 November 2016 di Jakarta, KAI dan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) sepakat melakukan pemasaran bersama untuk mengekspor pesawat di Asia Tenggara, Timur Tengah dan Afrika, ujar pihak KAI dalam sebuah pernyataan .

“Kedua perusahaan akan memperluas kerja sama dalam operator penumpang, pesawat militer dan bisnis kedirgantaraan,” ungkap Chief Executive dan Presiden KAI, Ha Sung-yong dalam sebuah pernyataan.

KAI KUH-1 Surion

KAI KUH-1 Surion

Berdasarkan kesepakatan tersebut, KAI memiliki tujuan untuk mengekspor helikopter serbaguna KUH-1 Surion ke militer Indonesia yang diharapkan secara bertahap menggantikan 200 unit armada helikopter yang menua. Ini akan membantu PTDI meningkatkan kemampuan perawatan pesawat, dan PTDI akan membantu KAI memenangkan proyek-proyek lokal di perawatan pesawat, perbaikan dan operasi, katanya.

Kedua perusahaan pesawat juga berencana untuk mengembangkan kendaraan udara tak berawak (UAV) dan mempromosikan pesawat mereka di pasar global melalui pemasaran bersama, ujar KAI.

Sumber : Yonhapnews.co.kr

Bagikan:

  54 Responses to “Korea Selatan Gandeng Indonesia Jual Pesawat ke Pasar Global”

  1.  

    NH 90 kok ga ditawarin kesini yaa…..

    •  

      Katanya Yonhap

    •  

      Ini ada plus minusnya .
      Plusnya adalah ada trasfer tehonologi dari korea ke indonesia. Seperti disebut diatas adalah pengembangan UAV .Ilmuwan kita akan dapat trasfer tehnologi . Meskipun begitu harus hati-hati juga ,tehnologi apa yang bakal di trasfer tentang uav ? Kita masih lemah dalam tehnologi pengendali dan aeronotika (olah gerak benda di angkasa )dalam kecepatan tinggi dan kontrol .Andai sudah khatam tentu kemampuan itu bisa jadi dasar pengembangan rudal.
      Jeleknya adalah akan jadi pasar hely produksi mereka ,DI hanya di jadikan broker bukan perakit apalagi pembuat .
      ayo di pikir untung ruginya ?

  2.  

    Korea jual dab kasih ToT Destroyer Sejong The Great class sama Kapal Induk heli Dokdo class dong. Ntar kita bantuin penjualannya deh.

  3.  

    Lha….bukannya PT. DI sendiri sdh punya mitra dr Eropa utk kerjasama mulai dr heli sampe dng fixed wing. Jika spt itu, apa bedanya dng kerjasama yg dilakukan PT.DI dng konsorsium Eropa.? Sedangkan Indonesia sendiri membutuhkan pasar utk melepas produknya ke pasar global, baik produk yg berbentuk lisensi, maupun kelak produksi asli dalam negeri. Bukankah Indonesia dlm hal ini PT. DI jg bercita cita ingin produksi asli BUMN tersebut menjadi primadona dinegeri sendiri bahkan kelak di kancah regional dan internasional. Kalo hanya kerjasama agar produk mereka di pakai di republik ini, artinya makin jauh saja dr cita cita kemandirian bangsa. Sampe kapan BUMN kita akan jd tukang jahit.?
    Salam sehat pagi warjag

  4.  

    Kesempatan PT DI,tapi kurang dipercaya oleh pemerintah karena kinerja PT DI buruk. Petinggi TNI pun kurang respek..
    Terlalu sering bermain harga untuk meraup keuntungan tinggi menggunakan nama pesawat buatan indonesia,tapi buatan spanyol..kenerja perawatan tidak berkopeten terlambat menggerjakan tidak sesuai jadwal.suku cadang susah nyariin bertele tele,kong kali kong.
    gimana tidak geram TNI AU.
    Banyak catatan PT DI.
    Mesti carik CEO yang berkopeten untuk memajukan BUMN..
    Wakil presiden jusuf kala aja menasehati dirut PT DI.
    Banyak makan uang rakyat juga subangsihnya pada negara kurang,
    Sempat diselamatkan perusahaan dari gulung tikar,sekarang ngelunjak.
    Berkopetensi secara tidak sehat.

    Smoga diberikan hidayah
    Demi kemajuan NKRI

    •  

      Lebih baik membuat perusahaan baru yang bergerak di bidang dirgantara khusus menangani bidang-bidang yang enggan ditangani PT DI (TOT Sukhoi, kendaraan dan sucad prioritas TNI-AU, dsb).

      Dengan adanya persaingan, barulah PT DI mau berintrospeksi diri dan memperbaiki diri. Kalau tetap tidak mau, binasakan saja.

    •  

      Ini kok ada yg janggal ini sama KASAU sekarang lebih banyak bicara di Media daripada di Internal PT.DI. Bukan kah KASAU komisaris utama PT.DI?

      Klien PT.DI bukan cuma AU saja, Ada negara afrika, Korsel, Thailand, Fhilipina, Malaysia, TNI AD, TNI AL dan POLRI, apa mereka banyak dirugikan? Apa mereka ini selalu teriak?

      Tadi ada konfirmasi dari dirut PT.DI, kalau masalah mainten dan suku cadang mereka tidak ada perjanjian artinya tidak ada kewajiban untuk memenuhinya, beda dengan klien PT.DI yang lain semua ada perjanjiannya.

      kalau masalah delay katanya tergantung pembayarannya kalau full lebih cepat diselesaikan.

      •  

        @ibenk

        Biasa…gak mau nganggarin utk kontrak servise, tapi kalo butuh maunya diduluin.

        itu namanya :”Buruk muka, cermin dibelah”

        Manajemen logistik AU seharusnya dibenahi juga…berinvestasi sucad spy kesiapan operasinya makin tinggi

      •  

        @yos stefano

        Iya juga sih, tapi…..

        …..putri-putrinya pak kasau cantik-cantik je, xixixi

      •  

        Jelas sudah TNI dan DI harus pfofesional . TNI memang punya dinas khusus untuk pemeliharaan alutsistanya ,seperti DISLATBANG di masing masing angkatan ditambah depohar .
        Tapi TNI harus sadar diri juga ,kenyataan tidak semua bisa mereka lakukan . Diharapkan ada sinergi antara DEPOHAR DAN DI .
        Ada perjanjian secara tertulis mengenai kontrak dan rincian jelasnya ,misal waktu ,cara pembayaran dan sebagainya .Jangan mentang -mentang DI punya negara maka TNI seenaknya saja menggunakan tenaga mereka tanpa di bayar .Intinya dua-duanya harus profesional.

    •  

      @ibenk

      Saya sudah baca bukunya pak kasau…

      Dalam posisi beliau sbg komisaris PT.DI tdk pernah terdengar sumbang saran utk kemajuan PT.DI atau pihak lain yang berkompeten (kem. Bumn)….yg konsisten dari dulu adlaha upaya menggolkan produk leonardo (spartan dan aw-101) tanpa memperhitungkan konsekuensinya.

      Memang kedua pesawat tsb sangat hebat dikelasnya…tapi diasia-pasifik hanya dioperasikan oleh aussy (spartan) dan jepang (aw-101). Lalu bagaimana dg after sales servicenya? Sementara disekitar Indonesia jaringan sucadnya sangat terbatas….lha wong sucad dan servicenya aja masih kerjasama dg DMG kok masih mau nambah keruwetan yang lain lagi?!!!

      •  

        lha emang doi tahunya menerbangkan pesawat jadi dan udah dinyatakan laik terbang, gak tahu bgmn lika liku proses pembuatan pesawat sejak berbentuk gambar di layar monitor komputer, gimana mau kasih masukan..

        inilah komisaris ex officio..

      •  

        @ubed

        Yang tak kalah parahnya, AU tidak mau berinvestasi menyekolahkan para pilotnya ke sekolah Test Pilot, yang fungsinya untuk melakukan assessment thd pesawat yang akan dibeli atau pesawat yang baru selesai melakukan perawatan/modifikasi.

        Jadi selama ini hanyalah pilot senior yang berkualifikasi instruktur itulah yang ditugaskan mjd test pilot…padahal negara2 tetangga yang sering dilecehkan, tiap tahun mengirim pilot ke sekolah test pilot spy terjadi regenerasi

      •  

        Nah nampaknya penjelasan anda ini yang tunggu bung, jadi jangan dari sisi PT.DI melulu kita bully, kasian juga kalau dibilang mereka tidak kompeten nyatanya bisa rancang bangun pesawat baru. kalau kurang modal dan SDM ya saya kira bisa jadi dan itu biasa.

      •  

        @ibenk

        Saya punya kutipan evaluasi thd heli aw-101 dari seorang test pilot PT. DI (bukan AU lhoo)…mungkin satu2nya test pilot RI yang pernah melakukan assessment thd heli tsb, jauh2 hari (pd era pengembangan N-250) sebelum kontroversi heli AW muncul ke media :
        1. Heli ini memiliki mekanisme pelipatan baling2 dan ekor yang dikendalikan oleh sistim elektrik yang rumit, shg menyulitkan dlm perawatannya
        2. Heli ini memiliki 3 mesin, dimana satu diantaranya hanya berfungsi utk membantu memberikan tambahan daya angkat ketika heli akan take-off atau landing. Tanpa bantuan mesin ke-3 ini heli tdk akan sanggup take-off/landing…sementara ketika sdh terbang cruising, mesin ke-3 ini harus dimatikan yang berarti aerodinamika heli ini kurang efisien.
        3. Dalam persiapan untuk take-off/landing, heli ini membutuhkan waktu tambahan utk mensinkronkan ketiga mesin yang bekerja tsb.
        4. Jaringan purna jual (sucad&service centre)nya dikawasan aspac, mengingat terbatasnya populasi heli.
        5. Keseluruhan aspek diatas, mempengaruhi kesiapan operasional heli ini….apalagi utk operator yang memiliki anggaran terbatas, seperti AU kita.

  5.  

    UAV… wah ini yang bikin seger……

  6.  

    PTDI sebenarnya pabrik pesawat terbang atau pabrik sekalian broker pesawat?

  7.  

    rombak PTDI…bagus untuk kompetensi supaya airbus tdk memonopoli.sekarep udele dewek..cuma korea yg terbukti ngasi TOT…sampai TNI mengelu ..BUMN ..ya..ko..payah jgn makn uang raykyt doang..contoh tu..PiNDAD..dan PAL…

  8.  

    dunia mengindonesia.
    produsen alutsista dunia berbondong-bondong berduyun-duyun menawarkan produk mereka kepada Indonesia sampai mulut mereka berbusa-busa.

  9.  

    win to win

  10.  

    Kelak semua produk militer korea/ri dijointkan kayak kfx/ifx. Lama2 lee min ho pun bs di ToTkan ….ahahahah…

  11.  

    Waah by Yonhap beritanya??….ganti orang2 di PTDI yg tidak cinta negri ini…anggap saja peremajaan(kalo pada ngeyel)..saya yakin masih banyak yg berpotensial kog dinegri ini…

    •  

      Gak usah sok tau PT DI kurang perhatian dari pemerintah pusat emang kalian siapa suruh ganti orang2 di PT DI ingat brow orang2 yg di pt di binaan Prof.habibi semua !! Pemrintah nya aja gak peduli ma pt di.

    •  

      @kaliber

      Maklum bung…banyak yang tidak mau mempelajari PT.DI dg seksama, giliran berita bagus dipuji2 setinggi langit…ehh pas berita jelek, dimaki-maki.

      Suka tidak suka, manajemen PT.DI saat ini dg segala keterbatasannya adl personel yang sangat loyal dan mempertahankan PT.DI tetap eksis….orang lain ada yang sanggup, bertahan disaat sulit.

      Pembenahan manajemen adalah sebuah keniscayaan, tapi tetap harus melalui penelaahan yang menyeluruh spy tuntas segala permasalahannya.

      Tidak sekedar didorong “rasa sakit hati” karena jagoannya tidak goal…!!!

  12.  

    Patut d pertimbangkan.

  13.  

    tak heran bila indonesia dan korea punya hub yg special.. tau ga nama negara korea ada jg di indonesia, bila saudara pernh jln2 naik kereta past anda tau..

  14.  

    cakep nih surion

  15.  

    RI butuh heli mulirole 10 ton dan heli angkut yang ada ramp doornya.
    Heli angkutnya yang bisa dimasukkan rantis semacam komodo atau m113.
    super puma tak bisa muat rantis ini.
    contoh heli angkut ini adalah Chinook dan AW101.

  16.  

    Enak ya korsel….
    1.Hai Ri beli t50i kalau gak beli proyek ifx batal mau gak
    2.semua semua harus mau kalau gue suruh menjual kalau tidak ifx batal.
    Akhirnya jadi pesuruh saja… Ngenes dek dengarnya.
    Tapi demi tot dan ilmu biarlah sakit dulu tapi harus bersungguh2 mereka2 yg dipercaya negara untuk belajar,jangan main2,karna harga diri Ri,dipertaruhkan.

  17.  

    Tgu apache dan chinook aja, utk heli, ga usah beli lg, apache dan chinook sdh cukup dl, skr fokus utk rudal hanud jarak sedang dan jauh, serta jet tempur pengganti f5 tiger yg sdh sepuh dan rudal udara ke udara dan udara ke permukaan beli yg banyak …itu…

  18.  

    Daripada Surion lebih baik PT. DI fokus dipengembangan H225M Caracal dan MH-65 Dolphin. Jangan sampai fokus terpecah

  19.  

    Kurang setuju jika PT.DI bantu jualan barang korea.apalagi barang yg akan di bantu jual adalah barang andalan buatan PT.DI yaitu helicopter. Mau di kemana ini super puma nanti nya.di antara kekurangan PT.DI. Dalam pemenuhan alusita semoga kedepan nya akan lebih baik. Satu lg TNI jgn sampai membeli helicopter.surion ini.apa kata.dunia.alamat divisi heli PT.DI akan mati..karena yg menjadi sumber hidup PT.DI adalah helicopter dan casa cn235 wajib kita lindungi.

  20.  

    modelnya mirip2 H225M Cougar yg di pesan TNI ya ?? tampak depan

  21.  

    Penawaran nya banyak sekali ya …
    Sampai Bingung …mau memilih yang mana …
    Mau Fokus dimana …
    Kalau ini dipilih …mana yang akan ditinggal kan …
    Lalu kerja sama dengan MBDA atau Euro copter Dan yang lain …Termasuk Swedia itu Bagaimana status nya …
    Pending ..batal ..atau terus …
    Ada yang bisa jelaskan ..

  22.  

    Gak inget Kasus AW-101 soal Heli akan lebih sulit krn entah benar atau tidak airbus tidak akan tinggal diam soal produsen heli lain yg masuk lewat PT.DI

  23.  

    P><P

  24.  

    200 unit armada heli tni yg udh tua??? apa ga salah tuh tni au nya heli sebanyak itu..ayo mari berhitung dong hehe

 Leave a Reply