Okt 092019
 

Mock-up jet tempur KF-X/IF-X

Korea Selatan berencana untuk meluncurkan fase kedua proyek jet tempur generasi baru untuk Angkatan Udara mulai tahun 2021 dengan anggaran sekitar 4 triliun won (US$ 3,34 miliar), kata agen pengadaan senjata Korea Selatan, lansir Yonhap.

Dengan nama kode FX atau Fighter eXperimental, Korea Selatan telah berusaha untuk mengganti armada jet tempur F-4 dan F-5 sejak 2012. Di bawah fase pertama dari proyek ini yang bernilai sekitar 7,74 triliun won, Korea Selatan telah memutuskan untuk membeli 40 pesawat tempur siluman F-35A pada tahun 2021.

“Pemerintah saat ini sedang mempersiapkan untuk fase kedua proyek, yang akan diluncurkan pada 2021 untuk lima tahun mendatang, dengan mengalokasikan 3,99 triliun won,” kata Defense Acquisition Program Administration (DAPA) dalam sebuah laporan yang disampaikan kepada Majelis Nasional untuk audit parlemen.

Kementerian pertahanan sedang meninjau persyaratan militer, dan berdasarkan hasil, badan tersebut akan menyusun rencana induk untuk proyek dan melakukan studi kelayakan, tambahnya.

Beberapa berspekulasi bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan pembelian lagi 20 jet tempur F-35A lagi, tetapi agensi dan otoritas militer mengatakan bahwa tidak ada yang diputuskan.

Adapun pesawat siluman F-35A, Korea Selatan sejauh ini telah membawa pulang delapan unit, yang dimulai pada akhir Maret, dan lima lainnya akan tiba pada akhir tahun ini, menurut DAPA.

DAPA juga mengatakan bahwa pihaknya akan memulai proses untuk mengembangkan kapal selam Chang Bo Go-III 3.000 ton dengan sungguh-sungguh bulan depan. Proyek senilai 10 triliun won yang dimulai pada 2017, menyerukan pembuatan kapal selam 3.000 ton di dalam negeri pada tahun 2031.

Proyek pengadaan senjata utama yang didorong oleh DAPA juga mencakup pembangunan kapal induk ringan pada tahun 2033. Untuk desain konsepnya dan pengembangan teknologi utama, total 27,1 miliar won telah diperuntukkan untuk tahun depan, menurut agen tersebut.

Mock-up jet tempur KF-X / IF-X

Indonesia dikabarkan menunggak kewajiban pembayaran untuk proyek bersama dengan Korea Selatan untuk mengembangkan jet tempur generasi berikutnya, dengan mengutip masalah keuangan, data sumbar yang ditunjukkan oleh agen pengadaan senjata, pada Senin.

Indonesia adalah mitra proyek KF-X Korea Selatan untuk mengembangkan pesawat tempur dalam negeri dalam upaya untuk pengadaan pesawat tempur untuk angkatan udara sendiri dan meningkatkan industri dirgantaranya. Indonesia sepakat untuk memikul 20 persen dari biaya pengembangan proyek 8,8 triliun won (US$ 7,36 miliar), lansir Yonhap.

Tetapi negara Asia Tenggara itu gagal membayar 301 miliar won yang seharusnya dibayar pada akhir September, menurut data oleh Defense Acquisition Program Administration (DAPA). Sejauh ini, Indonesia telah membayar 272,2 miliar won.

“Mengikuti permintaan presiden Indonesia pada 2018 untuk pembicaraan tentang pembayaran, Korea Selatan membentuk badan konsultansi antar-pemerintah dan telah mengadakan diskusi tingkat kerja dengan Jakarta,” kata DAPA, mencatat bahwa kedua pihak telah bertemu empat kali pada tahun ini.

“Meskipun terdapat keterlambatan pembayaran, pihak Indonesia terus mengirim para penelitinya ke Korea Selatan untuk mengambil bagian dalam proses pembangunan,” kata Kim Joong-ro dari oposisi kecil Partai Bareunmirae mengatakan selama audit parlemen ke dalam pemerintahan, menyuarakan keprihatinan tentang kebocoran teknologi.

Pada Juli, 114 insinyur Indonesia dikirim ke Korea Selatan untuk bekerja dengan Korea Aerospace Industries Co. (KAI), satu-satunya pabrikan pesawat terbang negara itu, untuk merancang dan membuat prototipe pesawat tempur, menurut pejabat DAPA.

Bulan lalu, DAPA mengonfirmasi bahwa desain untuk jet tempur memenuhi semua persyaratan militer, yang memungkinkan proyek untuk melanjutkan ke tahap berikutnya membangun prototipe.

Prototipe akan siap pada paruh pertama 2021, dan agensi sedang mengincar 2026 untuk penyelesaian pembangunan, yang dimulai pada 2016, menurut DAPA.

Bagikan:
 Posted by on Oktober 9, 2019

  10 Responses to “Korea Selatan Luncurkan Fase Kedua Project F-X”

  1.  

    Indonesia tidak ada suara nya mengenai project ini. Apakah masih berpartisipasi atau tidak? Bila masih, sudah sejauh mana kah kemampuan dan pengetahuan para insiyur kita? Jangan sampai hanya menjadi penjahit saja yah nantinya……

  2.  

    Pada batch kedua ini Indonesia sdh bercerai dng Korea selatan.
    Kemungkinan batch kedua nanti santernya minta bantuan Boeing yg akan bekerjasama dng PT.DI utk pekerjaan suku cadang pesawat komeraial Boeing. PT. DI sendiri akan berpisah dng Airbus konsoraium Eropa utk kerjasama bidang pesawat komersial. Kalo gak salah spt itu issue yg berkembang.

  3.  

    Sante, yang kita butuhkan hanya rancangan pesawat tempur saja, bagian lain seperti mesin, radar, irst, ew dan avionik lainnya ngimpor hahaha

  4.  

    Indonesia Uang Darimana???….Ekonomi Tidak ada Perkembangan ( Jalan Ditempat )…Hanya “HUTANG ” yg mengalami PENINGKATAN …..Takutnya Krisis Moneter th 1996 akan Terulang lagi …Gara Gara Jamannya Pa Harto Hutang ke Luar Negeri Jor Joran….Pada Saat Hutang 1 Dolar RP 2500….Setelah Hutang Banyak…Dolar dinaikan dari yg memberi Hutang ..Dari 1 Dolar Rp 2500…Menjadi 1 Dolar Rp 7500..

  5.  

    Korea khawatir kebocoran teknologi …
    emang loe punya tekno apaan sih? ngajak kita jg loe yg enak nya … xixixi

  6.  

    Ndak perlu habiskan anggaran, demi bermimpi bikin pesawat termpur….mbelgedes.