Korea Utara Kembali Luncurkan Tiga Rudal Balistik Rodong ke Laut Timur

Republik Demokratik Rakyat Korea (DPRK) pada Senin (05/09/2016) kembali melakukan uji peluncuran tiga rudal balistik ke perairan timur menjelang Hari Nasional negara itu, kata Menteri Pertahanan Korea Selatan. Seorang pejabat di Kementerian Pertahanan mengatakan kepada bahwa rudal diluncurkan ke Laut Timur pada sekitar 12:14 waktu setempat dari wilayah barat di dekat Kabupaten Hwangju di Provinsi Hwanghae Utara.

Ketiga rudal tersebut diyakini adalah rudal balistik jarak menengah Rodong dengan jangkauan antara 1.000 – 1.500 km, telah meluncur sejauh 1.000 km dan jatuh sekitar 400 km di wilayah perairan Jepang.

Kantor berita Yonhap melaporkan bahwa rudal tersebut mendarat di zona identifikasi pertahanan udara Jepang. DPRK tidak mengeluarkan peringatan navigasi sebelum uji peluncuran tersebut, menurut Kepala Staf Gabungan Korea Selatan (JCS). Pemimpin militer Seoul sudah mendeteksi persiapan uji peluncuran rudal balistik Pyongyang, menurut laporan Yonhap.

Kekhawatiran muncul tentang kemungkinan provokasi Korea Utara menjelang ulang tahun ke-68 berdirinya negara itu pada hari Jumat (09/09/2016). Pada tahun 2014 lalu, Pyongyang melakukan dua periode peluncuran rudal jarak pendek sebelum Hari Nasional negaranya.

Pejabat kementerian pertahanan Korea Selatan mengatakan melalui telepon bahwa militernya telah memantau pergerakan tentara DPRK. Peluncuran rudal terjadi kurang dari dua minggu setelah Pyongyang melakukan uji peluncuran rudal balistik dari sebuah kapal selam pada 24 Agustus 2016. Kapal selam meluncurkan rudal balistik (SLBM) dan terbang sekitar 500 km ke arah timur, lalu jatuh di dalam zona identifikasi pertahanan udara Jepang untuk pertama kalinya.

Tiga rudal balistik Rodong, ditembakkan oleh DPRK pada 3 Agustus lalu, juga jatuh ke zona ekonomi eksklusif Jepang (ZEE).

Uji peluncuran SLBM secara jelas dilakukan sebagai reaksi Korea Utara atas unjuk kekuatan latihan tahunan militer Korea Selatan-AS, dengan nama sandi Ulchi Freedom Guardian, (UFG), yang berlangsung dari 22 Agustus hingga 2 September 2016.

Pyongyang mengecam bahwa latihan simulasi komputer tersebut sebagai gladi resik untuk invasi ke wilayah Korea Utara. Ketegangan juga meningkat di wilayah tersebut dan di Semenanjung Korea akibat kesepakatan Seoul dan Washington pada 8 Juli untuk menyebarkan perisai rudal THAAD di Korea Selatan pada akhir tahun depan.

Kedua sekutu mengklaim bahwa sebuah batterai Terminal High Altitude Area Defense (THAAD), dipasang di Korea Selatan, bisa melindungi terhadap ancaman nuklir dan rudal Korea Utara.

Namun, China dan Rusia telah sangat menentang penyebaran THAAD tersebut.

Sumber: Yonhap News dan Army Recon

Tinggalkan komentar