Korea Utara Menembakkan Rudal dan Mencoba Mengacak Sinyal GPS

Korea Utara menembakkan rudal jarak pendek ke laut dan berusaha mengacak sinyal navigasi GPS di Korea Selatan. Peluncuran rudal itu terjadi beberapa jam setelah para pemimpin Korea Selatan dan Jepang berjanji untuk bekerjasama mencegah Korea Utara mengembangkan sistem nuklir dan program rudalnya.

Para pejabat Korea Selatan mengatakan bahwa upaya pengacauan sinyal GPS itu tidak menyebabkan gangguan besar di militer, penerbangan dan transportasi laut, serta sistem telekomunikasi Korea Selatan. Namun, lebih dari 130 kapal nelayan melaporkan adanya masalah dengan sistem navigasi mereka dan beberapa terpaksa kembali ke pelabuhan.

Kementerian Pertahanan Korea Selatan menyebut upaya jamming itu sebagai provokasi yang mengancam keselamatan publik dan operasi militer di selatan. Kementerian Pertahanan telah memperingatkan Korea Utara untuk segera menghentikan upaya jamming atau menghadapi konsekuensi yang tidak ditentukan.

Sinyal jamming yang terjadi minggu ini merupakan yang pertama sejak tahun 2012.

Korea Utara telah meluncurkan sejumlah rudal jarak pendek dan proyektil lainnya sejak awal bulan lalu, saat Korea Selatan dan Amerika Serikat melakukan latihan militer tahunan. Korea Utara melihat latihan militer itu sebagai persiapan menjelang invasi.

South Korean President Park Geun-hye (L), US President Barack Obama (C) and Japanese Prime Minister Shinzo Abe hold trilateral talks on the margins of the Nuclear Security Summit in Washington DC, USA, 31 March 2016. (EPA/YNA)
Di Washington, Presiden Barack Obama bertemu dengan para pemimpin Korea Selatan dan Jepang untuk membahas cara-cara melawan ancaman nuklir Korea Utara. Obama juga bertemu Presiden Tiongkok, Xi Jinping, dan keduanya menyerukan Korea Utara untuk menyerahkan senjata nuklirnya. Tiongkok juga sepakat untuk sepenuhnya melaksanakan pembatasan ekonomi yang diberlakukan oleh Dewan Keamanan PBB terhadap Korea Utara.

Washington Times

Tinggalkan komentar