Jun 272017
 

Prototype Tank FNSS Turki – PT Pindad Indonesia (FNSS)

Ternate – Komando Resopr (Korem) 152/Babullah Ternate, Maluku Utara (Malut) membutuhkan Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) dalam mengantisipasi masuknya faham radikal dan terorisme di daerah itu.

Danrem 152/Babullah Ternate, Kolonel Inf Sachono di Ternate, mengatakan pada hari Minggu 24 Juni 2017 di Ternate.”Ada upaya untuk penambahan personel dan alutsista berupa artileri medan, tank dan pertahanan udara dengan persiapan personel menjaga teritorial untuk menghadapi ancaman terorisme dan radikalisme.” .

Kolonel Inf Sachono mengungkapkan, pihaknya saat ini telah membangun kekuatan dengan penambahan personel di pos gabungan di daerah perbatasan seperti Desa Sofi dan Wayabula di Pulau Morotai.

TNI juga menggandeng berbagai organisasi Islam untuk membangun kerja sama secara intensif dalam memperkokoh semangat kebangsaan dan nasionalisme.

Hal itu penting dilakukan karena adanya indikasi masuknya faham fundamentalis yang ingin menjadikan agama tertentu sebagai dasar negara.

Danrem menyatakan, kekalahan di Suriah membuat ISIS terdesak keluar, dan saat ini sedang berupaya menguasai Kota Marawi di Filipina Selatan.

Namun, gempuran dari militer Filipina membuat posisi mereka terpojok serta berusaha melarikan diri ke negara-negara terdekat termasuk Indonesia.

Karena itu, Pulau Morotai yang berbatasan dengan Filipina patut diwaspadai sebagai sasaran infiltrasi (penyusupan) dari kelompok ISIS tersebut.

“Kita semua perlu waspada dan siaga. Aarat keamanan saat ini pun meningkatkan pengamanan dengan melakukan patroli di daerah pesisir dan pulau terpencil,” katanya.

Danrem lebih jauh mengatakan, dihadapkan dengan jumlah wilayah yang sangat luas dengan personel maupun alutsista yang terbatas, maka diperlukan peran serta seluruh masyarakat untuk turut menjaga wilayah ini disusupi kelompok radikal tersebut, salah satunya dengan cara mewaspadai nelayan-nelayan dari Filipina.

Saat ini, aparat keamanan dan pemerintah daerah mengintensifkan pendataan warga baru dan pendatang.

“Seluruh personel diinstruksikan untuk mewaspadai adanya organisasi yang mengarah ke khilafah di jalur Luwuk, Taliabu dan Buru Selatan. Tiga daerah itu pernah menjadi tempat pelatihan teroris,” katanya.

Danrem menambahkan, Desa Sofi dan Galela juga merupakan jalur perdagangan dari Filipina yang perlu diwaspadai.

“Amrozi pernah datang ke Morotai dan ditolak oleh masyarakat Pulau Morotai. TNI sangat mengapresiasi sikap masyarakat yang bersatu melawan faham-faham radikalisme itu.”

Antara

Bagikan: