Dec 032017
 

Lhoksemawe, Jakartagreater.com. KRI Imam Bonjol-383 Koarmabar yang sedang melaksanakan Operasi Walya Udhaya-17 BKO Gugus Keamanan Laut Komando Armada RI Kawasan Barat (Guskamlabar), berhasil membantu proses evakuasi penyelamatan terhadap kru Kapal MV 8 Langsa AP ONE jenis Floating Production Storage Offshore (FPSO) pada Posisi 05 18’56” U – 098 02’48” T tepatnya di Perairan Lhoksemawe, Aceh Utara, Jumat, 01/12, 2017.

Kejadian bermula saat MV 8 Langsa AP ONE terkena cuaca buruk di perairan Lhoksemawe, dimana pada saat kejadian, kecepatan angin antara 40-50 knot dan tinngi gelombang mencapai 7 meter. Hal ini menyebabkan jangkar haluan dan buritan MV 8 Langsa putus, ditambah dengan kebocoran di bagian lambung kapal. Menyikapi situasi darurat tersebut, maka pihak kru kapal segera melaporkan kejadian tersebut kepada otoritas aparat setempat Lantamal I Belawan dalam hal ini Lanal Lhoksemawe. Selanjutnya Lanal Lhoksemawe melaksanakan koordinasi dengan Koarmabar dengan diteruskan kepada Guskamlabar. Dengan cepat Guskamlabar segera mengirimkan KRI IBL-383 dari Sabang. KRI IBL-383 segera bergerak dari Sabang pada Kamis malam menuju ke lokasi pencarian di perairan Lhoksemawe Aceh.

Pada Jumat pagi (01/12), KRI IBL-383 berhasil menemukan Kapal MV 8 AP ONE di perairan Lhoksemawe. Selanjutnya berhasil melaksanakan komunikasi melalui kontak radio komunikasi, dimana diperoleh keterangan bahwa seluruh personil yang berada di atas kapal berjumlah 23 Orang dalam keadaan selamat dan aman. Namun mereka masih trauma dikarenakan sehari sebelumnya terkena cuaca buruk yang menyebabkan rantai jangkar putus. Pada saat KRI IBL-383 tiba dilokasi, situasi masih dalam keadaan cuaca buruk dimana tinggi gelombang rata-rata 5-6 meter dengan kecepatan angin 60 Knot, sehingga proses evakuasi tertunda dikarenakan KRI IBL-383 tidak dapat merapat di kapal MV 8. Menghadapi situasi tersebut maka KRI IBL-383 melaksanakan asistensi pengamanan dengan berada disekitar lokasi kapal sambil menunggu kedatangan bantuan dari kapal lain yang telah disiapkan yaitu TB Cempala.

Setibanya TB Cempala di lokasi, proses evakuasi segera dilaksanakan, sehingga akhirnya 20 personel MV 8 Langsa AP ONE berhasil di evakuasi serta dibawa menuju ke daerah Idi Rayeuk dalam keadaan aman dan selamat. Selanjutnya setelah TB Cempala berhasil mengevakuasi, maka KRI IBL-383 menuju ke Pelabuhan Krueng Geukeuh Lhoksemawe untuk melaksanakan konsolidasi. Selanjutnya 20 personel yang berhasil dievakuasi dibawa ke Posal Idi Rayeuk Lanal Lhoksemawe untuk diberikan perawatan dan pengecekan kesehatan. (Dispen Koarmabar).

  45 Responses to “KRI Imam Bonjol-383 Koarmabar Bantu Evakuasi Kapal Offshore”

  1. mangtapss….
    dimana ada TNI disitu negara hadir…..

    Quick response

    • Dari kisah ini, saya kok kurang sreg kapal2 bakamla yang baru dilengkapi dg instalasi peluncuran rudal segala….kesannya para perencana kita terlalu menyerap mentah2 konsepnya USCG !!

      Kalo USCG gitu anggarannya gede, kapal2 cutter CG mereka sdh dilengkapi varian radar sea giraffe dan CMS nya pun sudah support utk peluncuran rudal….sementara kelengkapan utk menunjang tugas utama CG tetap terakomodasi krn kapal mereka besar dan fasilitasnya komplit.

      Punya kita….gak yakin dah

      Desain kapal bakamla yang cocok menurut saya ya kayak milik vietnam yang pake desain damen itu….fasilitas dan perawatannya lebih sesuai utk menjalankan tugas CG/bakamla, spt punya ruangan yang besar utk menampung korban evakuasi/pengungsi/nelayan yang tertangkap (malah ada penjaranya), punya persediaan air tawar/makanan/baju kering+selimut yg banyak, dan diburitan kapal ada kaitan untuk menarik kapal2 yang mogok

      • Mas Hari, kapal2 CG kita per unit 80 meter seharga 117 milyar dan 110 meter seharga 229 milyar.

        Kapal seharga itu memang hanya punya alat navigasi standar sehingga siap berlayar.

        Namun belum dilengkapi peralatan standar KRI seperti sensor : Radar 3D, sonar, CMS, decoy dsb.

        Kalau pakai sensor lumayan lengkap seharga 500-550 milyar. Tapi belum termasuk senjata.

        • jadi kalo ditotal kira kira berapa bung…..????
          boleh dp dulu ngak…???
          🙂

        • Gini lho om @Phd….

          Gambaran kapal CG yang ideal itu ya spt yang diungkapkan oleh Bu Susi….fgs utamanya adalah menjalankan tugas constabulary(penegakan hukum dilaut)…jangan dibebani tugas lain yang malah bikin tugas utamanya jd keteter.

          Silahkan melihat kapal2 CG milik negara2 eropa yang beregistrasi/bercat sipil.

          Tugas2 konstabulari itu ya spt yang sering kita lihat dinegara kita atau dikawasan lain:
          -mengamankan potensi perikanan, tambang lepas pantai, harta karun hingga ZEE, termasuk nangkepin nelayan asing yang curi ikan di zee kita, maka Bu Susi minta kapal yang ada penjaranya.
          -Mengevakuasi korban kecelakaan dilaut, evakuasi pengungsi dilaut.
          -Penanganan pencemaran laut akibat tumpahan minyak atau bahan berbahay lainnya
          -Mendukung survei potensi perikanan di Zee
          -Mengevakuasi(termasuk menderek kapal) korban kecelakaan dilaut, sspt kapal tenggelam, pesawat jatuh ddilaut
          – mengatassi penyelundupan (barang, narkoba, human trafficking)
          – Dll

          Nah, perlengkapan kapal CG itu utamanya harus bisa mendukung tugas2 konstabulari diatas shg kerjanya benar2 efektif dan efisien.

          Kalo yang dijadikan patokan adl USCG tanpa diadaptasi dg kondisi lokal (kebutuhan lokal) ya jadinya nanti “salah delivery”….yg dibutuhkan tidak ada/kurang sesuai, sementara yang tidak dibutuhkan malah lebih didahulukan.

  2. kayaknya dwi pungsi bung……??? atau mungkin serba guna…jadi nyambi bung patroli bisa sar juga bisa atau mungkin bisa juga jadi kapal perang ,,maklum serba kurang kalo engak diakali yaa rada repot….!!! tapi memang kurang besar bila untuk laut dalam seperti samudra hindia…!!!
    🙂

    • Kalo soal ukuran mah relatif bung, karena berhubungan dg desain dan kondisi lapangan (karakter perairan :luasnya, tinggi ombaknya, kedalaman alur pelayaran)….yg lebih penting adalah enduran, akomodasi awak (air, makanan, ruang beraktivitas) sarana penunjnag tugas (semprotan air, alat penangana pencemaran laut, katrol, drone/uav/auv, rhib, dssb)….alat2 utama utk. menunjang mmissinya tersedia begitu

  3. lebih repot lagi kalo melihat tugas dan kewenangan yang dilakukan…yaa bung..saya piqir konsep kapal seperti itu untuk menjalankan semua pungsi setidaknya dua tipe kapal….!!!

    • Kalo kapal. CG dipasangi fungsi peluncuran rudal gitu konsekuensinya banyak lho…..gak sekedar ditemplokin rudal trus jalan

      Kapal harus punya cms atau (kalo tidak) dia hrs punya ssitim peluncuran rudal mandiri yang terpisah dr cms kapal….kalo dia gak punya radar permukaan yang handal, setidaknya harus punya sistim datalink atau komunikasi anti jamming shg kapal ini bisa mendapat pasokan info baringan target dr platform yang lain (pesawat mpa/drone/kasel).

      Atau misalnya kapal mendadak dilengkapi dg cms, radar, alkom dan rudal….tapi awaknya kan harus dilatih dulu utk mengoperasikan rudal dan senantiasa berlatih taktik dan strategi pertempuran laut yang sebenarnya bukan tupoksinya.

      Ibarat kita punya smartphone…..sementara kita hanya menggunakannya hanya utk telpon, sms, nonton “nono live” diyoutube atau muter musik doang, kan mubazir jadinya

      • Mas Hari,

        Begini lho :

        Untuk kapal-kapal CG yang benar-benar menjalankan fungsi CG itu nanti akan dibangun sesudah 2024.

        Sebab kapal-kapal CG yang sekarang itu saya curiga dibikin hanya sebagai kamuflase untuk platform KRI nantinya.

        Skenarionya begini :

        Kapal2 CG 110 meter yg mau dibikin ada 4 unit.
        Kapal2 CG 80 meter yg mau dibikin ada 10 unit.
        Total 4 + 10 = 14 unit

        Selain itu ada lagi dana pinjaman luar negeri usd 1067,5 juta ( 14 trilyun) untuk pembuatan korvet pengganti Parchim Class sebanyak 14 unit.

        Ditambah dana pinjaman senilai IDR 2 triliun dalam negeri untuk bikin opv 80 – 90 meter sebanyak 2 unit.

        Jadi KRI baru setara Korvet/opv ada 14+2 = 16 unit

        Jika 14 Parchim dan 6 Van Speijk dipensiunkan sebagai KRI dan diganti cat putih coret merah sebagai CG maka CG akan dapat 14+6 = 20 kapal.

        Sebagai gantinya 14 kapal CG yang baru ( 4 unit 110 meter + 10 unit 80 meter) akan naik kelas jadi KRI diganti cat silver dengan senjata bekas van Speijk dan Parchim.

        Akhir 2023 akan didapat :

        Coast guard 20 opv
        TNI AL dapat tambahan 30 korvet baru sehingga total korvet TNI AL adalah :
        3 fatahillah class
        3 bung tomo class
        4 diponegoro class
        6 RE martadinata class
        2 opv lokal 90 meter
        14 korvet 90 meter pengganti Parchim
        4 korvet 110 meter ex CG
        10 korvet 80 meter ex CG

        3+3+4+6+2+14+4+10 = 46

        46 unit korvet TNI AL di 2023
        20 unit CG ex KRI di 2023

        • Coba kita cari blueprintnya kapal bakamla 110 (biasanya dirilis diwebsite)

          Kalo sudah ketemu kita bahas disini…

        • Mas Hari,

          Kita lihat dari penampilan CG 110 meter, di bagian depan ada geladak bertingkat.
          Strukturnya mirip (hanya beda dikit) dengan CG hamilton Class.

          Pada geladak bertingkat :
          Dengan membandingkan antara tinggi orang (1,65 meter) di samping bawah kapal dengan ukuran geladak bertingkat : panjang, lebar depan dan lebar belakang maka ukuran geladak bertingkat itu mirip ukuran pada geladak bertingkat di Parchim Class (geladak yg diisi 2 unit RBU-6000 dan 1 unit Ak-230).

          Prediksi saya :
          Pada geladak 110 meter ini akan dipasang 1 unit oto melara 76 mm ex Van Speijk dan 2 unit RBU-6000 ex Parchim.

          Van Speijk ada 6 unit, maka canon 76 mm juga ada 6 unit, akan dibagi ke 4 unit 110 meter dan 2 unit opv 90 meter.

          Parchim tersisa 14 unit maka AK-230 pun ada 14 unit yang akan dibagikan ke 14 unit korvet 90 meter baru.

          Sedangkan rbu-6000 akan dibagikan ke 110 meter 2 unit x 4 kapal dan 1 unit x 14 korvet 90 meter baru. Sisanya untuk 6 korvet baru yg akan dibangun sesudah 2024.

          • Sebenarnya soal dudukan rudal ini saja yang terasa mengganggu om@Phd…

            Kita mengimbuhkan fasilitas ini tujuannya spy benar-benar bisa dan siap utk digunakan.

            Artinya, spy benar2 siap menggunakan rudal, “materialnya” harus ada (rudal, cms, radar, alkom), “pengawaknya” harus berlatih taktik&teknik pertempuran laut serta berlatih mengoperasikan rudal….dan ini yang penting, periodik “melaksanakan latihan basah” peluncuran rudal.

            Disinilah kelihatan bolong2nya perencanaannya….kita ini bukan amerika, negara adidaya yang produsen rudal.

            Sedangkan utk kapal kombatan saja kita masih defisit rudal dan kadang ketika latihan terjadi kegagalan.

            Lha kalo amerika kan, yang produsen rudal, ia bisa kasih ke USCG stok rudal generasi lama utk latihan….sementara kalo CG kita mau latihan pake apa?

            Ini utk gagah2an saja atau memang salah menyerap konsep negara lain….

  4. Harusnya kalo ada kondisi seperti ini yang turun tangan pertama kali adalah heli SAR……gimana dong AU beli heli SAR (katanya sih) yang super mahal, malah cuman nongkrong dihanggar, dipakein pita kuning pulak (kayak juara tur de java)????

  5. memang terlihat tumpang tidih kewenangan dengan AL….yang menjadi persoalan kewenangan dalam masalah penegakan hukum laut…..lalu AL dan KRI menjaga kedaulatan….ini konsep bakamla seperti pemborosan….!!!

    • Memang tidak semua negara memiliki CG bung aming….termasuk negara2 maju dieropa

      Sebagian ada yang menyatukan tugas CG menjadi satu kecabangan dr militer, sementara sebagian lainnya mempunyai CG.

      Konsep CG yang paling lengkap itu memang USCG, tapi tidak berarti kita bisa meniru mentah-mentah konssep mereka, krn beda kapasitas, kapabilitas dan kakarakter geografinya.

      Menurut saya konsep CG dinegara eropa, kanada dan jepang lebih sessuai dg kondisi kita

      • niru tanpa dimodifikasi memang kurang kreatip…!!!
        mungkin meniru menjadi kecabangan militer akan lebih baik selain melengkapi dan memperkuat AL juga lebih murah dalam murah biyaya ….karna hanya menambah pasilitas yang sudah ada…!!!!

  6. itu roket yang diinstal buatan mana bung…kayanya produk dalam negri….????

  7. kalo dak salah korvet kelas parchim panjang sekitar 70 meteran….kalo ngak salah maklum kapal tua….bukan yang komen sudah lupa….!!!!
    😀

  8. sebagian kapal kita sudah pada uzur untung kita rajin dan kreatif …..!!! pengadaan alutsista saat ini belum mampu mengantikan alutsista lama…!!! munkin perlu cari terobosan untuk jangka pendek agar benar benar poros maritim terlihat nyata…bukan sekedar ucapan simbolis….!!!

    • Gampang, acuhkan UU ToT, beli destroyer dari Spanyol atau Korea. Selesai perkara. Masalahnya kita butuh ToT agar kita mampu memproduksi sendiri, bahkan kalo ada ancaman perang kita bisa memenuhi sendiri Alutsista kita. Wajar kalo telat soalnya kita ngejar ToT dulu. Kalo dah bisa buat sendiri, ya ntar kayak Korea,India atau China.

      • kok salah tot seh bung….??? yang salah tu tidak semua negara doyan krupuk seperti rusia hingga bisa dibarter….!!!!

        • Itulah ganjalannya bung. Setiap pembelian alutsista dari luar mewajibkan TOT dan offset lainnya kepada kita. Sekarang masalah apa produsen mau membgaikan begitu saja teknologi yg mereka punya setelah melakukan riset beberapa lama. Entar kalau mengesampingkan uu TOT malah melanggar uu, demi mengejar alutsista yg gahar tanpa tetotet.

          • Noh, LM aja nawarin pindah produksi F-16 ke India kalo India jadi borong F-16V. Buat beberapa produsen gak akan masalah selama ada uang, bahkan walopun belinya ketengan 11 biji pake nego.

  9. Kita punya Basarnas, punya Bakamla. Harusnya kedua instansi digabung aja biar gak ribet atau ada kepastian penanganan kejadian sehingga memudahkan pergerakan personil.

    • Kita punya Polair, punya Bakamla, punya petugas pengawas kelautan KKP. Banyak bener instansi yg punya job desk yg mirip.

    • Basarnas tentu beda dng Bakamla. Dr sisi tupoksi aja sdh berbeda, yg satu bertugas utk penyelamatan dan yg satu utk keamanan sipil laut.
      Polair jg beda tugasnya dng bakamla. Polair itu disungai dan perairan tepi, sedangkan bakamla berada dilaut. Kelembagaan yg menaungi jg beda kok. Gmn bisa mau disatukan.
      Kalo mau tau bedanya tugas Bakamla dan KKP, itu bs ambil contoh didarat antara patroli dishub dng polisi lalulintas. Dishub cuma bisa merazia angkot, bus khususnya plat kuning dan truck bermuatan. Tp polisi lalu lintas bisa semua. Namun kalo polisi jg ngurusi trayek angkot dan truck maka habis waktu tersita dan pengaturan lalulintas jd terabaikan.
      Itulah kira2 gambaran umumnya bung AG

      • Kenapa gak dibuat simpel aja. Disemua negara di dunia yg punya CG, CG selain berfungsi sebagai penjaga keamanan dan perairan laut juga berperan sebagai search and resque. Itu akan lebih baik daripada kita punya banyak instansi yg sebetulnya bisa dijadikan satu tupoksinya. Biar fleksibel dan hemat anggaran.

        • Kalai loe mau hemat? Naik gripen atau f16, kecuali tn phd, lbh baik hemat nyawa drpd naik gripen & f16

          Hahhaahaaaa

          • Yg dibahas apa jawabannya apa, efek benggala bir pletok tapi gak kuat. Biar keliatan macho kayak orang Rusia yg suka minum Vodka.

            Hhhhhhhhhh

        • Berbeda fungsi bung

          CG fungsi utamanya keamanan sipil di laut bung Agato. Kalau ada kapal sipil asing masuk yg blom terlapor, itu tugasnya CG. Adapun jika ada bencana dilaut itu bersifat bantuan.

          Basarnas itu fungsinya Pencarian dan penyelamatan baik darat (gunung, hutan, tebing, perbukitan) maupun laut, sungai dan danau.

          Jika dianalogikan yg lain. Ibarat satpam kantor dan pemadam kebakaran.

      • Jadi menurut ruskye? Pollantas porsinya kendaraan umum non angkutan & polhub porsinya kendaraan angkutan umum atau digabung saja mnjadi satu tugas, pollantas & perhubungan

        Hahhaahaaaa

  10. Reaksi cepat KRI-IBL wajib di acungi jempol….evakuasi berhasil dan semua awak selamat.

  11. Iya, emang aneh tuh orang. Coba dasternya dipake dulu biar kalo ngawar ngiwir gak malu2in.

    Hhhhhhhhhh

  12. ini pada ngomongin sapa sih …??? huha apa carin atau neng seven….!!!!
    😀 😉

 Leave a Reply