KRI Teluk Bintuni Resmi Operasional

77
138
KRI Teluk Bintuni. (photo: Sailbumi.com)
KRI Teluk Bintuni. (photo: Sailbumi.com)

Lampung – Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro meresmikan kapal jenis “landing ship tank” (LST), yakni Kapal Republik Indonesia (KRI) Teluk Bintuni 520 yang merupakan hasil produksi industri galangan kapal dalam negeri.

“Pengadaan satu unit kapal angkut ini bertujuan untuk mewujudkan kekuatan pokok keamanan dan pertahanan. Kapal angkut tank ini diproyeksikan untuk digunakan oleh jajaran lintas laut militer TNI AL,” kata Purnomo dalam peresmian KRI Teluk Bintuni dan pelantikan Komandan KRI Teluk Bentuni-520 di Srengsem, Panjang, Bandar Lampung, Sabtu (27/9).

Selain Purnomo, hadir juga Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Marsetio dan Gubernur Lampung M Ridho Ficardo dan pejabat terkait dalam peresmian tersebut.

“Pembangunan kapal angkut tank ini merupakan bentuk pembinaan pemerintah untuk industri dalam negeri agar mengurangi ketergantungan dengan negara lain di masa mendatang. Pemerintah juga sudah membentuk Komite Kebijakan Industri Pertahanan untuk membina industri pertahanan,” ujar Purnomo.

KRI Teluk Bintuni 520 memiliki panjang 120 meter, dapat mencapai kecepatan 16.000 knot, didukung dua unit mesin yang masing-masing berkapasitas 3.285 KW.

Kapal yang dibangun dengan biaya sekitar Rp 160 miliar dan dikerjakan selama 16 bulan ini mampu mengangkut hingga 10 unit tank Leopard buatan Jerman seberat 62,5 ton ditambah 120 orang awak kapal dan 300 orang pasukan.

Gubernur Lampung M Ridho Ficardo mengatakan keberadaan industeri galangan kapal di provinsinya juga dapat mendorong perekonomian Lampung.

“Kami memimpikan dengan keberadaan industri galangan kapal dan industri maritim di pelosok tanah air bisa membangun kekurangan Angkatan Laut sehingga di laut kita jaya, bukan hanya di laut kita tapi juga di seluruh dunia,” kata Ridho.

Ia mengaku berniat membangun industri maritim di Lampung karena ditunjang dengan kondisi Teluk Lampung yang cocok untuk membangun industri maritim.

Direktur Utama PT Daya Radar Utama (DRU) Amir Gunawan mengaku membutuhkan tenaga kerja yang berkualitas agar dapat membangun industri maritim.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro meresmikan KRI Bintuni 520 di Lampung (photo: Antara)
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro meresmikan KRI Bintuni 520 di Lampung (photo: Antara)

“Saya berterima kasih karena sudah memercayakan kepada kami untuk menyediakan alutsista (alat utama sistem senjata) nasional sehingga ikut andil dalam perekonomian nasional dan khususnya perekonomian Lampung agar bisa juga dibanggakan sebagai penghasil kapal industri maritim Indonesia, kami harapkan pemerintah dapat juga menyediakan tenaga kerja maritim di Lampung,” kata Amir.

Kapal tersebut tercatat sebagai kapal pertama yang diproduksi di Indonesia yang dapat mengangkut Leopard.

“Kapal ini adalah kapal paling besar untuk militer ‘non-combat’. KRI Teluk Bintuni 520 adalah kapal angkut yang dipersenjatai,” ujar Amir setelah menjelaskan bahwa perusahaannya biasa membuat kapal tanker atau kapal pesanan Kementerian Perhubungan.

PT DRU sendiri mampu membangun kapal hingga kapasitas 17.500 dead weight tonnage (DWT) atau ton bobot mati yang dipesan oleh Pertamina, Kementerian Perhubungan dan Kementerian Pertahanan.

Sedangkan untuk divisi reparasi kapal juga sudah memperbaiki berbagai kapal tanker, feri, tug boat, bulk carrier, kapal konversi dan kapal lain hingga ukuran 8.000 DWT.

“Untuk reparasi itu kita harus membangun fasilitas docking dan biayanya tidak murah, untuk kapal berkapasitas 30 ribu ton bobot itu butuh biaya kira-kira Rp 300 miliar,” ungkap Amir.

PT DRU sendiri sudah membangun docking di Lampung.

“Lampung itu kondisi teluknya bagus dan dekat dengan Jawa, saya ingin membuat Lampung menjadi provinsi yang bisa dianggap sebagai salah satu provinsi industri maritim di luar industri lain, jadi tidak perlu ke Singapura misalnya,” jelas Amir.

Saat ini DRU sedang mengerjakan pesanan PT Pertamina dengan nilai kapal mencapai 23 juta dolar AS. Tidak kurang dari 268 kapal sudah dikerjakan PT DRU yang telah berdiri sejak 1972 itu. (BeritaSatu.com).

77 COMMENTS

  1. UUD 1945
    BAB VI PEMERINTAHAN DAERAH
    Pasal (4) Gubernur, Bupati, dan Walikota masing masing sebagai kepala pemerintah daerah provinsi, kabupaten, dan kota dipilih secara demokratis.
    etimologis ‘ demokrasi ‘ ???
    mohon pencerahannya ???

          • Bung nuncaku@ Didalam demokrasi ada yg nama nya direct dan indirect democracy (langsung dan tidak langsung/ representative). Kedua nya sama demokratis nya.

            Gmn ini, rakyat Indonesia masih bnyak yg ga memahami apa itu demokrasi dan bagaimana demokasi berfungsi..owalaaaaahh..

            Bung sakalputung@ sudah ada 2 thread yg membahas topik ini, kenapa harus membajak thread? ini?

          • maap bung deli, maklum oon,,,
            pencerahannya lagi para sesepuh, apa hubungannya sama presidentil kita ( kita langsung no parlementil ),,

          • Bung Sakal putung@ Tidak ada hubungan nya, karna pilpres dan pilkada sudah ditetapkan secara terpisah dan berbeda.

            Di amandemen ke empat pasal 6A ayat 1 dengan jelas mengatakan bahwa “Presiden dan wakil presiden dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat”

            Sementara anda kutip diatas adalah pasal 18 ayat 4 dari amandemen kedua, yg jelas menetapkan bahwa pemimpin daerah dipilih secara demokratis. Dan pasal yang sama ayat 1 mengatakan, Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota, yang tiap-tiap provinsi, kabupaten, dan kota mempunyai pemerintah daerah, yang diatur dengan undang-undang.

            Kesimpulan nya, Pemerintah daerah dapat dipilih secara langsung maupun melalui representative (DPRD) selama itu sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Nah Undang-undang nya baru sudah di sahkan DPR RI melalui cara demokratis dan nantinya DPRD yg bertugas memilih pemimpin daerah pun akan di pilih oleh rakyat, dan mereka akan memilih dengan cara yang demokratis pula di gedung DPRD masing2.

    • He he suka banget Bung karena tidak ada alasan lagi Leopard tidak bisa ke Kalimantan. Tinggal disiapin dermaga disono.

      Tapi ngomong2 ini sudah 2 kali ada ketidakakurasian dalam artikel, entah salah ketik atau bagaimana.

      • kalo mai dipaksakan gk perlu dermaga bung
        kan ntar ini kapal merapat ke bibir pantai yg dalamnya ampe 1,5mtr
        baru dah si tank ini merayap ke darat
        tp kalo gk dipaksakan ya lewat dermaga
        kan bukan kondisi darurat
        hehe

        • Rasanya kapal ini desain ro-ro menggunakan dermaga, bukan LST murni yg bisa mendaratkan vehicles di bibir pantai. Selain terlalu besar (nanti malah ngga bisa mundur lagi dari bibir pantai), Leopard bisa ambles di bakau, tambak, sawah di pantai sebelum sampai ke jalan raya/ kota!!

          • Maaf, lupa kasih keterangan / pertanyaan di link tsb 🙂

            Maksud saya, dari gambar tersebut terlihat bagian bawah KRI 520. Nah apa perbedaan desain fisik kapal RO-RO dengan LST? Di mana kemampuan LST adalah merapat ke pantai.

          • Jelas beda dong bung, bedanya antara lain :
            – LST dibuat untuk mendukung operasi ampibi, sedangkan ro-ro adalah salah satu jenis kapal transport khusus kendaraan.

            – LST hanya dilengkapi bow door & ramp, sedangkan ro-ro bisa memiliki bow door & ramp, stern door & ramp, atau side door & ramp.

            – Konstruksinya juga beda, LST draught-nya kecil terutama di depan utk bisa mampir ke pantai, bow/ haluannya tidak runcing tetapi bulat, sedangkan untuk ro-ro tidak ada pembatasan.

            – Tonase LST terbatas supaya dapat mudah mampir dan keluar dari bibir pantai, sedangkan utk ro-ro tidak ada pembatasan

            – kecuali LST USS Newport class, bow-nya runcing seperti kapal lain sehingga dapat mencapai 20 knot, konsekwensinya unloading dicapai melalui penggunaan 34 m ramp dioperasikan di atas bow dan didukung oleh lengan derek kembar.

  2. (OOT) knapa ya KCR uatan dalam negeri kita kok kayaknya tanggung banget dan seakan kurang greget, dah gitu persenjataannya tidak langsung dipasang, kayak KCR 60, knapa gk langsung pake meriam 57/76, trus kenapa gk langsung dipasang rudal, trus knapa cuman 2 peluncur rudalnya dan knapa rusalnya cman C-705, gk C-802 gitu…

    KCR-KCR negara eropa yg ukurannya dibawah 60 meter ajaada yang dipasang 2 meriam kaliber 76 mm + 4 rudal dgn kecepatan kapalnya sampai 40knot+, nah KCR kita kecepatannya cuman mentok di 30, KCR jadi rasa kayak kapal patroli aja????

        • masalah kecepatan itu untuk mengurangi bobot dan konsumsi bbm nya,biaya operasional juga semakin murah,nh aen pernah baca di blog mana gituh,semua permintaan user,memang sih untuk bobot diatas 400ton itu di myanmar sudah bisa disebut corvette,lagian nih kcr tugasnya cuma buat mengisi kehadiran patroli laut,buat nangkep maling ikan,kayu dan imigran gelap,senjata yg sudah diinstal kcr 60 sudah gahar bung

          tapi tetap KCR ini ada keuntungannya antara lain dapat memancing pertumbuhan industri pekapalan Indonesia.nanti ketika sudah mulai kuat industrinya baru deh bkin yg gede2an

        • Gepard Class itu berasal dari Albatros Class.
          Dan FPB 57 PT PAL itu berbasis dari Albatros Class.

          FPB 57 TNI-AL itu punya meriam reaksi cepat Bofors 57mm mk2.

          Kenapa Gepard dan Albatros pasang meriam 76 mm dan mampu 40 knot? Sedangkan FPB 57 itu hanya dipasang 57 mm dan 30 knot?
          ( Di mana kalo TNI-AL pasang 76 mm itu di kelas korvet, )

          FPB 57 TNI-AL bisa saja dipasangi ala Gepard / Albatros, tetapi…..

          Karena daerah operasi berbeda (laut Baltik vs selat-selat dan laut di Indonesia) yang tentu memberikan penugasan dan karakteristik yang berbeda.

          KCR (Kapal Cepat Rudal) dan FAC (Fast Attack Craft – Gepard dan Albatros) sejatinya sih sepadan secara kelas.

          Seperti yang dibilang bung amble…, TNI-AL selain perlu kemampuan pukul juga jelajah. Kalau si Gepard dan Albatros benar2 lebih ke pukul, jadi dijejali meriam kaliber besar.
          Sedangkan FPB 57 sudah cukup dengan kaliber 57 mm dan rudal C-802.
          Rudal C-802 dan C-705 pun punya daya getar, kan? Tidak kalah dgn Exocet.

  3. @bung soto lamongan,maap jwbne mlh bercandaan saya.. Helicoptercarrier itu sejenis kapal yg berfungsi untuk mengangkut helikopter,helinya sndri bertugas untuk mengangkut pasukan,misalnya marinir.pasukan diangkut menuju pantai atau posisi yg sdh ditentukan..

  4. Siip btw kok setelah dicat dan terbentuk kok mirip kapal roro ya apa design nya memang ngambil design kapal angkut roro kukira akan meredesign LPD Makassar class trus dimodifikasi agar bisa memuat MBT
    tapi tetep bangga kita bisa buat kapal angkut MBT sendiri

  5. @ricky bung ricky mereka itu mah memang udah canggih pengembangannya , saya yakin lambat laun PT Pal bisa menyaingi nya , negara lain tidak akan takut bung kalo indonesia cuman bisa ngimpor senjata , wong kalo peluru nya abis/(sparepart) udah selesai ko , tapi negara lain lebih takut kalo kita bisa membuat persenjataan sendiri secara mandiri tanpa bergantung pada negara lain karena ,
    1 . Sparepart gampang karena bikin sendiri/tak kesulitan mendapatkan bahan baku karena semua ada di indonesia
    2 . Mereka tidak bisa meng embargo kita karena kita buat semua sendiri dari awal sampai akhir
    3 . Mereka tidak tau seberapa hebatnya persenjataan indonesia yang dibuat sendiri , karena mereka tidak tau spek asli dari produk itu .
    Banyak ko contoh negara yang membuat persenjataannya sendiri seperti iran , walaupun negara lain ingin menyerang iran khususnya “barat” mereka akan berpikir ribuan kali karena iran membuat senjata sendiri , sekarang tinggal Indonesia dan PT Pal .

LEAVE A REPLY