Jan 102019
 

Helikopter serang T-129 ATAK dilengkapi rudal anti tank jarak jauh UMTAS © Milborne One via Wikimedia Commons modified by JakartaGreater.com

JakartaGreater.com – Otoritas pengadaan Turki bekerja untuk mengidentifikasi mengapa beberapa individu yang paling berbakat dalam industri pertahanan bermigrasi ke negara-negara Barat, sebuah eksodus yang dapat menghentikan sejumlah program domestik.

Seperti dilansir dari laman Defense News, otoritas pengadaan Turki, Presidensial Industri Pertahanan, juga dikenal sebagai SSB dan secara langsung melapor kepada Presiden Recep Tayyip Erdogan telah melakukan survei untuk lebih memahami migrasi tersebut.

Sebuah mosi parlemen mengungkap bahwa dalam beberapa bulan terakhir total 272 pejabat industri pertahanan, sebagian besar insinyur senior, meninggalkan Turki untuk pekerjaan baru di luar negeri seperti Belanda, Amerika Serikat dan Jerman masing-masing menempati urutan teratas. Negara penerima lainnya adalah Inggris, Kanada, Australia, Austria, Belgia, Italia, Swedia, Polandia, Prancis, Finlandia, Jepang, Thailand, Qatar, Swiss serta Irlandia, menurut penelitian internal SSB.

Perusahaan-perusahaan yang terkena dampak eksodus ini adalah entitas yang dikendalikan negara seperti spesialis elektronik pertahanan Aselsan, perusahaan pertahanan terbesar di Turki, spesialis perangkat lunak militer Havelsan, produsen roket Roketsan, perusahaan teknologi pertahanan STM, Industri Dirgantara Turki dan SDT.

Pesawat terbang nirawak (UAV) Anka buatan Turki

Sejumlah temuan diantara mereka yang pergi dan menanggapi survei termasuk:

  • 41 persen berada pada kelompok usia 26-30. “Ini menyoroti tren di antara profesional yang relatif muda untuk mencari peluang baru diluar negeri”, kata pejabat SSB.
  • 40 persen memiliki gelar sarjana; 54 persen memiliki gelar pascasarjana dan 6 persen memiliki gelar doktor atau lebih tinggi.
  • 59 persen memiliki pengalaman lebih dari 4 tahun dalam industri Turki.
  • Kelompok terbesar diantara mereka yang migrasi (26 persen) mengutip “peluang pada promosi dan kemajuan profesional yang terbatas” sebagai alasan utama untuk mencari pekerjaan di perusahaan asing. Alasan lain termasuk kurangnya kesempatan promosi (14 persen); gaji rendah (10 persen); dan diskriminasi, mobbing dan ketidakadilan di tempat kerja (10 persen).
  • 60 persen mengatakan mereka menemukan pekerjaan diperusahaan pertahanan asing setelah mereka mengajukan lamaran.
  • 61 persen adalah insinyur dan 21 persen adalah peneliti industri.

Di antara harapan para responden menyebut bahwa mereka akan mempertimbangkan untuk kembali bekerja di Turki apabila:

  • Mendapat gaji yang lebih tinggi
  • Kondisi kerja yang lebih baik
  • Penggunaan penuh hak cuti tahunan
  • Manajemen dikelola secara profesional
  • Ada dukungan dari manajemen puncak untuk pekerjaan akademik lebih lanjut.

Purwarupa tank tempur utama Altay buatan Turki © Daily Sabah

Mereka juga menginginkan situasi politik di Turki menjadi normal dan bagi karyawan untuk memenangkan hak-hak sosial sesuai dengan standar Uni Eropa. Mereka juga ingin jaminan tidak akan ada diskriminasi karyawan menurut keyakinan politik, gaya hidup dan keyakinan agama. Mereka menambahkan bahwa mobbing harus dihentikan dan para karyawan diberi kesempatan yang sama.

Sebuah artikel yang baru-baru ini diterbitkan New York Times, mengutip Institut Statistik Turki, mengatakan bahwa lebih dari seperempat juta orang Turki bermigrasi tahun 2017, meningkat 42 persen dari tahun 2016, ketika hampir 178.000 warga meninggalkan Turki. Jumlah warga Turki yang mengajukan suaka di seluruh dunia melonjak 10.000 pada tahun 2017 menjadi lebih dari 33.000 orang.

“Pelarian orang, bakat, dan modal didorong oleh kombinasi kuat berbagai faktor yang telah menentukan kehidupan di bawah kepemimpina Erdogan dan bahwa lawan-lawannya telah semakin putus asa disini untuk tinggal”, menurut analisis New York Times.

“Mereka termasuk ketakutan akan penganiayaan politik, terorisme, ketidakpercayaan yang semakin mendalam terhadap peradilan dan kesewenang-wenangan terhadap hukum, serta iklim bisnis yang semakin memburuk, dipercepat oleh kekhawatiran bahwa Erdogan telah memanipulasi manajemen ekonomi secara tak adil untuk menguntungkan dirinya sendiri dan lingkaran dalamnya”, lanjut artikel tersebut.

Seorang insinyur senior yang meninggalkan perusahaan Turki untuk bekerja di bisnis non-Turki, Eropa mengatakan kepada Defense News: “Saya tahu beberapa rekan yang ingin pergi tetapi belum menemukan pekerjaan yang tepat. Saya berharap krisis sumber daya manusia untuk mendapatkan penanganan lebih serius di tahun-tahun mendatang, tergantung pada kapasitas perusahaan Barat untuk mempekerjakan lebih banyak bakat Turki”.