May 192017
 

Unjukrasa berujung anarkis di Venezuela (News.cgtn.com)

PBB – New York – Dewan Keamanan PBB mengalihkan perhatiannya 17/5/2017 pada krisis di Venezuela sebagai tindaklanjut atas peringatan Amerika Serikat terhadap konsekuensi “ketidakstabilan serius” di negara tersebut.

Ratusan ribu orang turun ke jalan di negara yang berpenduduk 30 juta orang itu. Mereka marah karena kekurangan makanan, krisis obat-obatan dan inflasi yang melonjak. Setidaknya 43 orang tewas dalam kerusuhan yang telah berlangsung selama berminggu-minggu itu.

“Kami mulai melihat ketidakstabilan serius di Venezuela,” ujar duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa Nikki Haley setelah rapat tertutup Dewan Keamanan, yang penyelenggaraannya digagas oleh Amerika Serikat.

“Maksud dari pembahasan ini adalah untuk memastikan semua orang menyadari situasinya … kami tidak berniat mengeluarkan resolusi dewan keamanan,” tambahnya.

Presiden Nicolas Maduro menyalahkan oposisi atas krisis negara yang telah terjadi pada semua sisi. Dia menuduh lawan lawannya mencoba melengserkannya dalam sebuah kudeta dengan dukungan Washington.

“Masyarakat internasional perlu menghormati hak asasi manusia atas anggota komunitasnya,” kata Haley.

Pengunjuk rasa menuntut pemilihan umum, pembebasan bagi para pegiat yang dipenjara, bantuan luar negeri untuk mengimbangi krisis ekonomi dan otonomi untuk badan legislatif yang dikuasai oposisi.

Seorang pejabat tinggi urusan politik PBB memberi penjelasan terkait situasi di Venezuela tersebut kepada 15 anggota Dewan Keamanan pada Rabu, 17/5/2017.

Duta Besar Uruguay untuk PBB Elbio Rosselli, presiden Dewan Keamanan untuk bulan Mei, mengatakan bahwa pada saat ini Uruguay Percaya bahwa krisis Venezuela harus ditangani di dalam wilayah.

Sedangkan Duta Besar Venezuela untuk PBB Rafael Ramirez menuduh Amerika Serikat mendorong elemen kekerasan di Venezuela untuk berusaha menjatuhkan pemerintah Maduro. Namun Haley membantahnya dengan mengatakan bahwa Washington tidak mengusulkan rapat dewan untuk mengganggu urusan dalam negeri mereka.

“Campur tangan AS mendorong aksi kelompok-kelompok kekerasan di Venezuela,” katanya, setelah menunjukkan foto vandalisme dan kekerasan yang ia salahkan pada kelompok oposisi.

Duta Besar Bolivia untuk PBB Sacha Sergio Llorentty Soliz, setuju dengan pendapat Ramirez.

“Pertemuan ini, alih-alih membantu memecahkan masalah, malah benar-benar akan menjadi kendala,” ujarnya.

Venezuela Kirim 2000 Prajurit

Venezuela mengatakan mengirimkan 2.000 prajurit pada 17/5/2017 ke negara bagian di perbatasan yang merupakan titik nyala gerakan radikalisme anti-pemerintah setelah penjarahan yang menewaskan seorang remaja 15 tahun dalam kerusuhan terbaru di negara tersebut.

Kebanyakan toko dan tempat usaha di San Cristobal, ibu kota negara bagian Tachira di perbatasan Kolombia, ditutup dan dijaga oleh tentara pada Rabu, meskipun penjarahan berlanjut di beberapa sektor miskin, kata penduduk setempat.

Orang-orang mengambil barang-barang termasuk kopi, popok bayi dan minyak goreng di negara penghasil minyak, OPEC, di mana krisis ekonomi brutal telah membuat bahan pokok dan obat-obatan menghilang dari pasaran di negeri itu.

Barikade sampah, ban mobil, dan pasir berserakan di jalanan dan kehidupan sehari-hari berantakan di kota yang juga menjadi titik nyala selama gelombang kerusuhan 2014 terhadap Presiden sayap kiri Nicolas Maduro itu.

Pemerintah Maduro menuduh pengunjukrasa mencoba melakukan kudeta dengan kekerasan dan mengatakan jika para pengunjuk rasa tidak lebih dari “teroris.” Perusahaan minnyak negara PDVSA juga menyalahkan pemblokiran sebagai penyebab kekurangan bensin di negara itu, Rabu.

Di Tachira, remaja Jose Francisco Guerrero ditembak mati dalam serentetan aksi penjarahan, kata kerabatnya.

“Ibuku menyuruh saudaraku untuk membeli tepung dan beberapa saat kemudian, kami menerima telepon mengatakan ia sudah terluka oleh peluru, “kata saudara perempuannya Maria Contreras, saat menunggu jenazahnya dibawa ke kamar jenazah San Cristobal.

Kantor kejaksaan mengkonfirmasi kematiannya, yang menjadikan total korban tewas dalam enam minggu kerusuhan setidaknya 43 orang, sama dengan aksi protes pada 2014.

Antara / Reuters

  11 Responses to “Krisis Venezuela Tahap Akut, Sedikitnya 43 Tewas”

  1. Test

  2. Wow bakar2 di venezuela kayak MALARI 1974

    • Dia menuduh lawan lawannya mencoba melengserkannya dalam sebuah kudeta dengan dukungan Washington.
      –TANYA KENAPA?
      sudah pasti karena mamarika sakit hati ditikung cina hahahahahaha
      1-Mulai dari pangkalan militer diambil alih
      2-kebijakan dan kepentingan amerika di tikung CINA
      3-Maduro pro Timur
      dalang cuma 1 =mamarika (kudeta turki – kudeta mesir – rusuh cuba)

  3. Kaosssssss

  4. Jg sampai kita di NKRI jadi niru-niru demo yg memang makanan empuk bagi para provok keji,,, marilah kita jaga bersama keharmonian BANGSA KITA INDONESIA dg kepelbagaian budaya. BENEKA TUNGGAL IKA…….

  5. Sebuah pembelajaran yang sangat berharga dan langkah. Mari terus menyalakan lagi api persatuan dan kesatuan kita. Ubahlah segalanya dengan cara yang halus dan smart, jangan benturkan tembok, beloklah ikuti jalur yang sesuai dengan semangat kekeluargaan dan kecintaan akan keutuhahan dan kebaikan bersama seluruh anak bangsa.
    65 dan 98 cukuplah sudah.

  6. Mirip kerusuhan 98 dmn dalangnya sama bgt juga arab spring! Semoga aja suatu sa’at nanti sibiang kerok merasakan hal yg sama

 Leave a Reply