Kroasia, Laos, dan Thailand Ingin Beli Pesawat N219

49
104

v

Bandung — Pesawat baru produksi PT Dirgantara Indonesia (Persero), yakni N-219, diminati sejumlah perusahaan penerbangan baik di dalam negeri maupun luar negeri. Pemesanan sudah mulai dilakukan meski saat ini PT DI sedang dalam tahap perakitan akhir untuk pembuatan prototipe pesawat tersebut.

“Ada beberapa perusahaan penerbangan swasta yang ingin langsung melakukan kontrak dengan memesan sekitar 30 pesawat. Kami belum dapat memutuskan. Kami harus berkonsultasi dulu dengan Kementerian Badan Usaha Milik Negara, apakah hal ini diperbolehkan. Sebab, kalau satu perusahaan penerbangan memesan beberapa pesawat dalam sekian tahun, maka perusahaan lain, yang juga ingin membeli, tidak bisa memperolehnya. Mereka bisa saja memprotes karena dinilai telah terjadi monopoli,” kata Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (DI) Budi Santoso, Kamis (12/11/2015), di Bandung, Jawa Barat.

Budi mengemukakan hal itu seusai acara syukuran atas Pencapaian Tahap Validasi Rekayasa Rancang Bangun Struktur N-219 Hasil Kerja Sama PT DI dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) di hanggar N-219, Bandung.

Pesawat itu telah selesai dirancang dan dibangun strukturnya secara utuh berbentuk pesawat asli, dan direncanakan diresmikan Presiden Joko Widodo. Pesawat komuter berkapasitas 19 penumpang dengan dua mesin turboprop dan bernilai investasi sekitar 50 juta dollar AS itu direncanakan pula dapat terbang perdana pada tahun 2016.

Sejumlah perusahaan penerbangan yang berminat membeli N-219 di antaranya Aviastar dan Trigana Air. Perusahaan ini telah menandatangani nota kesepahaman dengan PT DI.

Selain itu, sejumlah negara juga telah menyatakan minatnya untuk membeli pesawat angkut ringan yang dapat beroperasi di daerah penerbangan perintis ini, yaitu Kroasia, Laos, dan Thailand. Thailand yang pernah membeli pesawat NC-212 dan CN 235 itu ingin membeli N-219 untuk kegiatan menurunkan hujan buatan guna mendukung pertaniannya.

“Kanada juga menawarkan kerja sama untuk produksi N-219,” ujar Budi.

Pesawat N219
Pesawat N219

PT DI menargetkan produksi N-219 pada 2017 rata-rata 6 unit per tahun, lalu pada 2018 sebanyak 10 unit per tahun, dan pada 2019 ditingkatkan sebanyak 18 unit per tahun, dan maksimal adalah 20 unit per tahun dengan melihat pula kebutuhan pasar.

Budi mengemukakan, pihaknya optimistis pesawat N-219 mampu menguasai pasar pesawat terbang di kelasnya. Harga jual pesawat ini juga diupayakan berkisar 5 juta – 6 juta dollar AS per unit. Harga ini relatif lebih murah dibandingkan dengan kompetitor, yakni pesawat Twin Otter buatan Kanada yang dijual sekitar 7 juta dollar AS per unit.

Pesawat N-219 juga memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya dapat lepas landas dan mendarat dalam jarak pendek di landasan sepanjang 600 meter, dapat lepas landas dan mendarat di landasan yang tidak beraspal, mudah dioperasikan di beberapa daerah terpencil, kabin terluas di kelasnya, serta biaya operasional yang kompetitif.

“Pesawat N-219 juga unggul karena desainnya mengacu pada teknologi tahun 2000-an, sedangkan kompetitor desainnya adalah teknologi tahun 1960-an. Pesawat ini juga dapat dikendalikan dengan kecepatan rendah, yaitu 59 knot. Itu sebabnya pesawat ini dapat mendarat dalam jarak pendek di landasan sepanjang 600 meter. Dengan demikian, pesawat ini sangat cocok untuk melayani penerbangan perintis dengan kondisi bandara di daerah- daerah terpencil, yang umumnya kondisi landasan pendek dan tidak beraspal,” tutur Budi.

b

Budi juga menjelaskan, pesawat N-219 dapat digunakan untuk menjangkau seluruh daerah penerbangan perintis di Indonesia yang tersebar di 21 provinsi, meliputi 170 rute penerbangan. Rute penerbangan perintis terbanyak adalah di kawasan Sulawesi dan Papua.

“Paling tidak dengan 100 unit pesawat N-219 sudah dapat melayani semua rute penerbangan perintis,” ujarnya.

Chief Engineering N-219 PT DI Palmana Bhanadhi mengatakan, pesawat N-219 juga dapat difungsikan untuk kegiatan militer, patroli maritim, ataupun evakuasi di daerah bencana. Palmana menyinggung pula, mesin N-219 menggunakan PT6-42A, 850 shaft horse power (shp) buatan Kanada, dan baling-baling Hartzell buatan AS.

“Untuk sistem avionik, kami menggunakan Garmin 1000 buatan AS. Dalam pemilihan mesin ini, kami tidak pilih satu perusahaan, tetapi melalui seleksi pada sejumlah perusahaan. Kami juga beraudiensi dengan customer, dan mereka lebih menyukai mesin dari Kanada ini yang reputasinya dikenal bagus. Mesin ini telah digunakan lebih dari 2.500 pesawat. Dengan begitu, harganya tidak mahal, pemeliharaan dan suku cadang juga mudah diperoleh,” katanya.

Kompas.com

49 KOMENTAR

    • Betul bung Van, Kanada jeli melihat banyaknya negara berkembang yang infrastruktur daratnya masih tertinggal, tapi penduduk kelas menengah-atas berkembang lebih pesat dari pembangunan infrastrukturnya, sementara Kanada sendiri sudah puluhan tahun tidak mengembangkan lagi twin otternya. Melihat peluang di depan mata sementara pesawat buatan sendiri akan lekang dimakan waktu, maka mereka tertarik membangunnya di Kanada.

  1. Semoga segera hadir pesawat amfibi lokal.. Untk transportasi yg cepat dan pariwisata! Hingga bnyk turis yg akan dtng ke pulau2 kecil kita yg indah permai.. Dngn demikian akan bnyk membuka usaha baru dan kesempatan kerja buat warga lokal.. Indonesia pasti bisa! Met pagi warjager semua, slmt brakhir pekan! 🙂

  2. Sekali2 buat yg bisa keluarin parasut …inovasi gitu lho…contoh aja dari eject di pesawat tempur..jadi kalau parasut keluar mesin otomatis mati..parasut ada 2 depan dan belakang..kedengaran aneh…tapi coba dong…semua yg ada sekarang kan perta dianggap aneh…hehe

  3. Mantaplah…buat penerbangan perintis.terutama daerah pedalaman..biar pembangunan dan ekonomi merata..moga pemerintah memperhatikan pembangunan di pedalaman…semoga.biar semua merasakan pemerataan pembangunan dan perekonomian…biar menjadi besar bangsa ini.

  4. Wong sampeyan yg muke lu gile goreng pisang atawa tempe saja musti beli bahan bakunya dipasar dulu. Memangnya sampeyan tanam pisang sendiri? Bikin tempe sendiri? Bikin bumbu dan tepung sendiri? Bikin kompor dan wajan sendiri? Hebat tenan bila semuanya dilakukan sendiri. … apalagi membuat pesawat terbang…

  5. Super Tucano, KT-1B, dan Grob, semua pesawat yang saya sebut itu pakai mesin baling-baling dari Pratt & Whitney.

    Seri T-50 golden eagle dan semua variannya, F16 C/D dan E/F bahkan V serta Gripen, semua jet yang saya sebut itu pakai mesin buatan GE.

  6. Ini nih yang membuat banyak para ahli made in indonesia pada keluar dari negeri ini. Sudah pejabatnya banyak yang tidak benar, masyarakatnya pesimistis tidak menghargai hasil rancangan orang” terbaik dinegeri ini.
    Toh mereka membuat N 219 dengan kerja keras. Realistis saja itu tidak 100% made in indonesia. Tapi kebanggan itu tetap ada karena hasil dari rakyat untuk rakyat indonesia.
    NKRI

  7. pemikiran ahli pt DI tepat. komponen penting ada dipasaran sehingga user bisa cari sparepart yang murah. tidak harus ke indonesia atau mendatangkan ahli indonesia. iphone itu 100% buatan sendiri? samsung? atau yang lainnya. intel buat hp sendiri?

  8. Yahh.. stidak2 nya kita patut bangga dan brbesar hati lah bhwa indonesia mampu mmproduksi pesawat ddlm negri.
    Klo mau dipikirin smuany musti 100% kapan mmulainya klo tdk dr skrg? Tak ada yg instan smua prlu proses..wong masak mie instan aja musti msk dl toh..?

    Produk luar jg sama, sangat jarang yg 100% lokal. Stidak2 nya tu bukti SDM kita sdh sjajar dgn ngara yg sdh lbh dahulu mmproduksi hal yg sama.

    Slm sejahtera..