Oct 242013
 
KSAD Jenderal Budiman (photo: Antara)

KSAD Jenderal Budiman (photo: Antara)

SALAH satu perubahan fundamental dari era reformasi ialah keluarnya TNI dari arena politik praktis di Indonesia. Namun, kerisauan akan netralitas TNI dalam pe­milu masih menghantui perhelatan pesta demokrsi itu di Tanah Air. Untuk mengetahui lebih jauh tentang komitmen TNI-AD dalam pemilu, wartawan Media Indonesia Siska Nurifah mewawancarai Kepala Staf Ang­katan Darat (KSAD) Jenderal Budiman, saat berjunjung ke kantor redaksi Media Indone­sia, Jakarta. Berikut petikannya:

Pemilu 2014 sudah didepan mata. Apa­kah Anda bisa menjamin TNI, khususnya Angkatan Darat akan bersikap netral da­lam pemilu mendatang?
Sejak tahun 1998, sistem demokrasi mulai ditegakkan, dan sejak saat itu TNI berkomit­men untuk bersikap netral.Kami sudah membuktikan itu di tahun 2004 dan 2009, kami full netral.Para anggota pun sudah de­wasa dan mengerti demokrasi.Kita tak bisa lagi memihak salah satu calon.Konyol jika berani berpihak.Jelas kita harus netral.
Terus bagaimana dengan anggota keluarga TNI?
Kita (tentara) memang tidak punya hak pilih.Tapi keluarga memiliki kebebasan tanpa pengaruh siapa pun.Keluarga bebas untuk memilih.
Bagaimana kita Anda dalam meningkat­kan profesionalisme TNI-AD?
Kami memiliki kewa­jiban untuk meningkatkan profesionalisme.Mulai dari pening­katan kualitas fisik, rasa tanggung ja­wab, keahlian, kedi­siplinan, dan sebagainya.Saat ini ang­gota Angkatan Darat seba­nyak 315 ribu.Setiap tahun kami memecat 50 anggota yang melakukan pelanggaran.Ini bentuk profe­sionalisme kami.Meskipun kami akui saat ini memang memiliki kesulitan dalam hal rekrutmen.Karena keinginan masyarakat untuk menjadi tentara berkurang.
IMG-20131024-00060
Soal pembelian peralatan perang baru, sering mendapat sorotan…?
Kami telah membeli High Mobility Artilery Rocket System (Himars) untuk dua batalion. Kita pilih Himars karena memiliki efek counter terorisme yang lebih fokus. Kami tidak beli lewat broker, langsung dari pabrik.De­ngan bernego untuk memperoleh harga ter­murah dengan kualitas terbaik dari Eropa.Kami begitu terbuka soal pembelian alat.
Bagaimana perencanaan jangka pan­jang TNI-AD ke depan?
Kami telah menyeleksi 100 lulusan akade­mi militer yang paling aktif dan terbaik dari tahun 1984 hingga 2003. Untuk menyusun konsep lima tahun ke depan. Mereka akan mendesain visi jangka panjang menuju TNI AD yang profesional dan modern.
Dalam pandangan TNI-AD, apa sih an­caman bangsa ini sekarang?
Bebicara soal ancaman, TNI AD lebih berkonsentrasi untuk mempersiapkan an­caman dari luar.Contohnya, Papua ada banyak kepentingan di dalamnya yang sewaktu-waktu bisa pecah.Dan berbicara soal Papua, masalahnya begitu berat dan tidak bisa dianggap enteng.Kami juga melakukan serangkaian ekspedisi dalam upaya pertahanan wilayah Papua.Kami pun mencoba masuk bagaimana rakyat mencintai kita, dan memberikan kemajuan pembangunan di dalamnya.
Bagaimana soal kesejahteraan ang­gota TNI-AD, apakah alokasi anggaran yang ada sudah memadai?
Gaji prajurit lumayan, pangkat terendah bisa mencapai Rp3,9 juta. Cukup ditambah dengan renumerasi.Secara keseluruhan biaya belanja barang di bawah 20%, 80% untuk gaji. (Media Indonesia cetak, 24/10/ 2013).
MLRS Himars

MLRS Himars

Ada yang menarik dalam wawancara ini. Di situ disebutkan TNI AD membeli Himars untuk kebutuhan dua batalion. Dulu TNI AD sempat kepincut dengan MLRS Himars buatan AS. Kontestannya adalah Himars VS Astros II. Namun karena Himars dianggap terlalu mahal, akhirnya yang datang MLRS Astros II.  Belum jelas, apakah himars yang dimaksud dalam wwancara itu sistem persenjataan: High Mobility Artilery Rocket System (Himars) atau fisik MLRS Himars buatan AS.

  17 Responses to “KSAD Jenderal Budiman dan Netralitas Pemilu”

  1. Ini yang datang HIMARS apa Astross 2 ??? Bukannya lebih enak Astross yang munisinya bisa diganti – ganti, terus tidak rawan embargo pula !?! (apa TNI membeli keduanya)

  2. mungkin salah tulis atau salah kutip kali….
    tdk ada notification dari amrik atau pernyataan resmi dari kemhan soal himars.
    Bisa dilihat di linknya Defense Security Cooperation Agency.

  3. Wow, himars untuk counter terrorism yang lebih fokus?

    Berarti kemampuan deteksi himars lebih canggih dari intel di lapangan dan begitu diketahui persembunyiannya langsung dihajar dengan roket…
    🙂

    • 😀 memang janggal jika MLRS untuk melawan terorisme gan, sekarang teroris kan sering sembunyi di kostan dan kontrakan di permukiman padat penduduk, masa mau di bom pake MLRS, 1 RW bisa rata dgn tanah.
      sementara separatisme sekarang cenderung organisasi2 politik dan meninggalkan unit2 tempur, saya sempat baca salah satu tokoh opm di PNG pasukannya hanya mempunyai 1 senjata rakitan, itupun ga ada pelurunya

  4. Ngeri2 sedap nih panglima…cara polos dia untuk efek gentar kawasan…atau emang polos banget….heeeeeee…nanti arhanud tni kita beli s-500…ditaruh batam..kupang ..sulawesi..cilacap…said panglima

  5. High Mobility Artilery Rocket System ASTROS II 😀
    sepertinya KASAD rancu antara istilah Himars dan MLRS, sepertinnya jika MLLR tjap Himars yg produk USA beritanya tentu lama dan heboh sejak negosiasi

  6. Memang banyak jenderal kita yang ngga tahu soal alutsista modern….

  7. jendral kan tahunya hanya uang/kongkalikong menjelang untuk pensiun gan….?kalau prajurit baru tahu alutsista mana yg modern yg harus dibutuhkan…atau mungkin bahasanya untuk menyerang teroris agar dapat izin dari si paman sam istilah helowennya Trick-or-treating..?ho..ho..ho..

  8. wtf…. armed buat counter-terorisme ?
    hekekekek

    wartawannya apa pak kasadnya yg bodrek nih…. 😀

    • itu memang isu yang sekarng, kalau jaman perang dingin, isunya “anti komunis’ kalau sekarang ” anti teroris” artinya menunjukkan alat tersebut dapat dioprasikan dengan alat pendukung yang minimum, untuk operasi yang nenghancurkan objek yang terukur dan terpilih, memiliki prsesisi dan akurasi yang tinggi.berdaya hancur yang kuat tapi tidak harus masif, bisa digunakan untuk mendukung perang yang terbatas, mampu mengajar target yang terletak tidak jauh dari penduduk dengan korban penduduk yang minimum, yang jelas pak kasad bukan orang bodoh, sama saja dengan pak pramono dulu ketika mendatangkan leo dan kawan2xnya.

    • O, pakai bahasa kode !

      Kalau alutsista ex benua Amerika (Astros/Himars) disebut “dari Eropa” berarti ini bahasa kode lagi ya?

 Leave a Reply