Jun 052018
 

Rudal hipersonik “Zircon” buatan Rusia. © Pravda via Youtube

JakartaGreater.com – Angkatan Udara AS (USAF) terpaksa melewatkan kompetisi yang menelan biaya $ 1 milyar untuk pengembangan rudal jelajah hipersonik akibat kurangnya modal yang tersedia untuk membayar berbagai sumber demi mengembangkan prototipe alternatif, menurut dokumen pemerintah yang baru dirilis.

Seperti dilansir dari laman Flight Global, langkah tersebut adalah merupakan kebijakan Departemen Pertahanan AS yang biasa pada program pengembangan persenjataan yang paling canggih.

Lockheed Martin Space Systems yang berbasis di Denver, AS memenangkan penghargaan pengiriman dan jumlah tak terbatas senilai hingga $ 928 juta untuk pengembangan rudal jelajah hipersonik pada bulan April 2018.

USAF mengantisipasi permintaan hanya sejumlah rudal hipersonik yang diluncurkan dari udara dan tidak merencanakan kompetisi lebih lanjut untuk memproduksi versi alternatif senjata dari produsen lain. Layanan mengatakan bahwa mereka tidak memiliki dana yang diperlukan untuk membayar kompetisi dari berbagai sumber melalui fase pengembangan teknik dan manufaktur.

Namun USAF berencana mendorong persaingan di antara para pemasok komponen yang mungkin untuk senjata serangan konvensional hipersonik melalui penggunaan antarmuka standar.

Layanan akan mempercepat upaya untuk mengembangkan senjata hipersonik dan pesawat terbang ringan dan canggih untuk mengimbangi teknologi hipersonik China dan Rusia.

Kesulitan dalam hal menghadapi senjata hipersonik telah mendorong Pentagon membuat perlombaan senjata. Mengembangkan senjata hipersonik canggih adalah “prioritas teknis tertinggi” untuk militer AS, kata Michael Griffin, Wakil Menteri Pertahanan AS bidang penelitian dan rekayasa, pada bulan Maret 2018.

Dokumen justifikasi dan persetujuan telah dibuat di bulan Oktober 2017 sebelum USAF memberi kontrak rudal hipersonik kepada Lockheed Martin Space. Dokumen versi yang disunting yang kemudian dipublikasikan, memberi alasan terhadap rencana pemerintah untuk memberikan satu-satunya kontrak kepada perusahaan tersebut untuk merancang, mengembangkan dan mengintegrasikan rudal hipersonik yang diluncurkan dari udara.

Lockheed Martin Space telah dikontrak untuk menyediakan pekerjaan rekayasa program, dan rekayasa sistem yang mengarah pada tinjauan desain kritis yang suksen dalam waktu 24 bulan setelah penghargaan. Perusahaan ini menyediakan pekerjaan pengembangan teknik dan manufaktur untuk mendukung Kemampuan Operasional Awal pada 2022.

USAF menerima pernyataan kapabilitas dari 12 perusahaan setelah meminta minat untuk mengembangkan rudal hipersonik pada bulan Juni 2017. Kantor program rudal serangan konvensional hipersonik menganggap hanya lima dari penawar potensial yang layak untuk menjadi vendor yakni Boeing, Lockheed Martin, Northrop Grumman, Raytheon Missile Sistem dan ATK Orbital.

Pada akhirnya, hanya empat dari lima vendor yang layak mengajukan penawaran, dimana Lockheed Martin Space dipilih sebagai pemenang penghargaan.

Bagikan:

  8 Responses to “Kurang Modal, USAF Lewatkan Kompetisi Rudal Hipersonik”

  1.  

    AS lagi miskin…gayanya saja sok jaguh wkwkwkwkwk

  2.  

    Fulus

  3.  

    loe jlskan itu ama agato kronologi utang amerika ketiongkok & ama fajar, dibilngnya pula tiongkok nafsu gede, semuanya pengen gede, tanya juga ama fajr, apakah fajar sudah gede dibuat tiongkok, hehhehee

    tapi ngomong2 bagai mana misi perburuanmu yg masih dirahasiakan aming lee

    hahhaahaaaa

  4.  

    LM selalu memenangkan tender, apakah persaingan murni dgn yg lain?

  5.  

    negara super kaya kok kurang modal, sdh buat tp di sembunyikan.

 Leave a Reply