Des 202018
 

Sistem rudal permukaan-ke-udara Patriot buatan AS © Osman Orsal via Reuters

JakartaGreater.com – Pemerintah AS, melalui Badan Kerjasama Pertahanan Keamanan atau DSCA akhirnya menyetujui kesepakatan senilai $ 3,5 miliar yang diusulkan untuk menjual Sistem Rudal Patriot dan peralatan terkait ke Turki, seperti dilansir dalam rilis DSCA pada hari Selasa, 18 Desember 2018.

“Departemen Luar Negeri AS telah mengotorisasi usulan Penjualan Militer Asing (FMS) ke Turkey untuk Sistem Rudal Patriot & Dukungan serta Peralatan Terkait senilai $ 3,5 miliar”, kata Biro Urusan Politik-Militer Deplu AS di sebuah posting twitter pada hari Selasa.

Dalam proposalnya, pemerintah Turki telah meminta kemungkinan untuk penjualan:

  • 4 (empat) set radar AN/MPQ-65
  • 4 (empat) Engagement Control Stations (ECS)
  • 10 (sepuluh) Antenna Mast Group (AMG)
  • 20 (dua puluh) Stasiun Peluncur M903
  • 80 (delapan puluh) rudal Patriot MIM-104E GEM-T beserta kanister
  • 60 (enam puluh) rudal PAC-3 MSE
  • 5 (lima) pembangkit listrik EPP III

Juga termasuk dengan permintaan ini adalah peralatan komunikasi, peralatan dan alat uji, program program uji, peralatan pendukung, penggerak utama, generator, publikasi serta dokumentasi teknis, peralatan pelatihan, suku cadang dan perbaikan, pelatihan personel, Tim Bantuan Teknis Lapangan (TAFT), Pemerintah AS dan kontraktor dukungan teknis & logistik, Integrasi Sistem dan Checkout (SICO) dan elemen terkait lainnya. Total perkiraan biaya program adalah senilai $ 3,5 miliar.

Tahun lalu, Rusia dan Turki menandatangani perjanjian pinjaman untuk penyediaan sistem pertahanan udara S-400 ke Ankara. Kesepakatan itu memicu perselisihan antara Ankara dan Washington, dengan yang terakhir mengancam untuk menjatuhkan sanksi terhadap Turki, karena Amerika Serikat yakin bahwa senjata itu tidak sesuai dengan standar NATO

Kesepakatan Ankara-Moskow itu telah menjadi perhatian utama NATO. Wakil Sekretaris Jenderal NATO Rose Gottemoeller mengatakan bahwa S-400 tak bisa berintegrasi dengan sistem milik NATO, sementara Ketua Komite Militer NATO Petr Pavel telah mengingatkan Turki bahwa mungkin ada konsekuensi jika mereka memperoleh sistem pertahanan udara S-400 Rusia, menambahkan bahwa itu dapat mencegah Turki menjadi bagian dari sistem pertahanan udara terpadu.

Pada akhir April, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan bahwa Turki juga mempertimbangkan untuk membeli sistem pertahanan rudal Patriot AS atau sistem pertahanan udara lainnya jika bisa mendapatkan tawaran yang adil dari sekutu NATO-nya.