Nov 162014
 

Kalau ada ancaman pesawat asing yang datang, Jakarta dalam keadaan ”telanjang” alias hanya mengandalkan meriam atau rudal yang entah berfungsi atau tidak, atau menunggu F-16 yang butuh puluhan menit untuk tiba di Jakarta.


Pesawat Tempur TNI AU melintas di Jakarta

Pesawat Tempur TNI AU melintas di Jakarta

Kalau lebih ditelaah, ada hal menarik dalam insiden pendaratan paksa di Lanud Supadio, Selasa (28/10). Saat itu, pesawat Sukhoi bisa segera dikerahkan karena kebetulan sedang latihan di Batam. Dalam kondisi normal, tidak ada pesawat buru sergap di Batam, baik Sukhoi maupun F-16, sehingga bisa jadi pesawat asing tanpa izin pun bisa berdansa di udara tanpa ada tindakan.
”Memang waktu itu kebetulan,” kata Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) Marsekal Muda Hadiyan Sumintaatmadja, pekan lalu.

Ia mengakui, Kohanudnas yang tugasnya khusus menangani ancaman kedaulatan udara mengalami kendala dalam jumlah pesawat buru sergap yang bisa dipakai untuk mencegat. Hal ini juga bisa dilihat dalam kasus jet Gulfstream IV yang sempat menambah kecepatan menjadi 920 kilometer per jam sehingga Sukhoi dari Makassar harus mengejar dengan kecepatan suara 1.700 km per jam, itu pun baru berhasil mencegatnya nyaris di perbatasan dengan Australia.

Saat ini, pesawat buru sergap yang mumpuni adalah F-16 A/B dan C/D yang berjumlah 15 buah serta 16 Sukhoi Su-27 dan Su-30. Sukhoi bermarkas di Makassar, Sulawesi Selatan, sementara F-16 di Madiun, Jawa Timur. Selain itu juga ada F-5 E/F di Madiun yang beroperasi, jumlahnya kini 9 buah. Pesawat-pesawat tempur milik TNI AU yang lain adalah pesawat tempur taktis yang punya spesifikasi kecepatan terbang di bawah kecepatan suara sehingga tidak bisa untuk mencegat.

Ini berarti, kalau ada pesawat asing tanpa izin di Natuna, Sorong, atau di atas Sumatera, bisa dikatakan, hanya bisa menonton lewat layar Pusat Operasi Pertahanan Udara Nasional tanpa bisa berbuat apa-apa.

”Ke Sorong itu butuh sekitar 2 jam, ke Medan juga sekitar 2 jam dengan Sukhoi atau F-16. Yang bisa kita lakukan hanyalah sebatas memantau, lalu lapor kepada Panglima TNI, buat nota diplomatik,” katanya.

Jakarta telanjang
Salah satu masalah klasik lain adalah tidak adanya markas pesawat tempur buru sergap di Jakarta. Dengan kata lain, kalau ada ancaman pesawat asing yang datang, Jakarta dalam keadaan ”telanjang” alias hanya mengandalkan meriam atau rudal yang entah berfungsi atau tidak, atau menunggu F-16 yang butuh puluhan menit untuk tiba di Jakarta.

Saat ini, secara bergantian pesawat-pesawat tempur buru sergap itu menginap di Jakarta. Hadiyan juga mengakui, beberapa instalasi vital tidak dilindungi dari serangan udara.

Kepala Staf TNI AU Marsekal IB Putu Dunia mengakui, jumlah pesawat yang bisa mencegat pesawat asing masih jauh dari cukup. Pesawat Hawk 100/200, misalnya, yang bermarkas di Lanud Supadio, Pontianak, penggunaannya bukan untuk pengejaran, apalagi kalau pesawat yang dikejar bermesin jet. Pesawat F-5 juga sudah habis masa pakainya dan sedang dicari penggantinya.

”Ya, bagaimana, uangnya tak cukup,” katanya di sela-sela Indo Defence, beberapa waktu lalu.

Selain pesawat sedikit, Kohanudnas pada praktiknya juga tidak memiliki pesawat sendiri untuk digerakkan sewaktu-waktu. Pesawat berada di bawah TNI AU, sementara Kohanudnas berada di bawah Mabes TNI. Secara rutin, hanya sepertiga dari jumlah pesawat TNI AU yang bisa dipakai. Sepertiga lainnya dalam pemeliharaan dan sepertiga sisanya dipakai latihan demi kemampuan pilot-pilot.

Hadiyan mengatakan, di negara-negara lain, penggunaan pesawat tempur dibagi dua bagian yang terpisah. Komando Strategis untuk serangan-serangan strategis sehingga yang dilatih adalah sasaran-sasaran strategis di darat, seperti pengeboman.

Sementara itu, Komando Pertahanan Udara bertugas siaga 24 jam untuk menangani sasaran-sasaran yang berhubungan dengan wahana udara.

”Organisasi ini penting kalau kita mau diakui. Tapi, yang lebih penting lagi jumlah pesawatnya,” kata Hadiyan.

Efek gentar
Pengamat intelijen Susaningtyas Kertopati mengatakan, sebaiknya ada pangkalan udara TNI AU yang dilengkapi dengan pesawat tempur sergap, seperti di Lanud Medan, Natuna, Tarakan, Biak, Timika, Kupang, dan Jakarta. Tujuannya agar Indonesia memiliki efek gentar dalam pertahanan udara.

Hal senada disampaikan Hadiyan. Ia membeberkan bahwa ada beberapa wilayah penting yang harus dijaga, seperti Selat Malaka, Aceh, dan Batam yang bisa menggunakan pesawat dari Medan. Selain itu juga perlu pesawat di Natuna yang strategis, mengingat kondisi di Laut Tiongkok Selatan, dan pesawat di Tarakan atau Manado yang bisa menangani masalah di Ambalat.

Alternatif lain, minimal, setiap Komando Sektor Hanudnas memiliki tiga pesawat tempur buru sergap. Saat ini ada empat Kosek, yaitu Kosek 1 di Sumatera Selatan, Natuna, Jakarta, Jawa Tengah, dan Kalimantan Tengah. Kosek 2 di Makassar, Kaltim, NTT, NTB, dan Sulawesi; Kosek 3 di Dumai ke arah barat; sedangkan Kosek 4 di Biak. Setiap Panglima Kosek bisa mengeluarkan komando cegat terhadap pesawat tempur kalau ada pesawat asing masuk.

Hadiyan mengatakan, dari segi kualitas, pesawat Sukhoi dan F-16 sudah cukup menggetarkan lawan. Namun, selain pesawat, yang juga penting adalah senjatanya.

Dicontohkan, Sukhoi yang mencegat jet Gulfstream awalnya sempat tak dihiraukan sampai akhirnya mengeluarkan R-73 Archer, rudal dari udara ke udara.

”Memang prosedurnya force down itu dengan keluarkan senjata,” cerita Putu Dunia.

Putu Dunia mengatakan, menembak pesawat asing bukan hal yang sederhana kalau merujuk pada kebijakan politik Indonesia. Apalagi terhadap pesawat sipil dan terutama saat dalam keadaan damai. Ada prosedur panjang, seperti perintah Panglima TNI yang sebelumnya merupakan perintah Presiden RI.

Dengan kondisi pesawat tempur seperti ini, realitanya, tidak semua pesawat asing tanpa izin bisa dipaksa mendarat. Kemampuan radar juga jadi catatan.

Saat ini kerja sama radar sipil dan militer sudah semakin baik. Sayangnya, hanya pesawat-pesawat yang menghidupkan transpondernya yang bisa dideteksi radar primary. Itu pun sudah menghasilkan 10-15 pesawat asing tanpa izin yang masuk.

”Ada yang sempat kita force down dan ada yang tidak,” kata Hadiyan.

Edna C Pattisina
Editor: Sandro Gatra
Kompas.com

  128 Responses to “Langit Jakarta yang Telanjang”

  1.  

    yesssss no budget coba lihat dana pendidikan 20% dari apbn hasilnya spt apa?

  2.  

    betul bung Echo01 itu pesawat langsung jadi gosong

  3.  

    Negara kuat tiem kabinet ekonomi harus kuat dan cerdas.. tanpa itu alutsosta hanya alat rongsokan karena ketiadaan sumber enerfi

  4.  

    yakin ibu kota telanjang alias gak punya payung udara..kalau saya gak yakin kalau ibukota telanjang..masih ingat dong keceplosan pak menhan kemarin bahwa tni punya dua skuadron sukhoi..tapi menurut berita resminya tni hanya punya satu skuadron..masa ibukota telanjang..

  5.  

    Masa sih sampai segitu lemahnya keadaan langit jakarta.
    Memprihatinkan!
    Tdk shrsnya hal itu terjadi. Jakarta itu ibu kota negara loh. Pantasnya dipagari dgn rudal rudal psu yg lengkap, jauh, sedang, dan pendek. Disamping pespur yg mumpuni, sbg pengintersep ataupun penggebug.
    Sy kira utk mengantispasi kemungkinan datangnya ancaman dr pulau cocos dan diego garcia pemerintah perlu segera mendatangkan s300/s400 dari rusia, sblm psu produk dlm negri selesai diproduksi masal.

  6.  

    Satrad yg anda sebutkan betul bung. Kebetulan tumah saya deket salah satu Satrad yg snda sebutkan. tp jangan lupa di tanjung priok banyak berjejer KRI yg smuanya juga punya radar plus rudalnya yg siap meluncur . Hehehe itu jg tameng jkt kan.

  7.  

    Smua teman2 lupa ya. Di tanjung priok berjejer tuh banyak KRI yg smuanya jg punya radar canggih plus rudalnya yg siap intercept bom atau rudal dr pespur asing yg mengincar suatu objek di jkt. Bukankah itu juga salah satu “tameng” ibukota jg. Hehehe.. belum.lg yg qt tdk tahu.. tenang saja kawan. Jkt aman belanda masih jauh.. hehehe..

  8.  

    Bingung apa benar segitu rapuh nya pertahanan udara ibukota kita tpi kalo dipikir-pikir ada benarnya juga skuadron pesawat tempur paling dekat dng jakarta ada di madiun…kenapa kok gak Lanud Atang Sendjaja di Bogor diupgrade dng menambahkan skuadron pesawat tempur juga selain utk skuadron heli yg sudah ada disana minimal F-16 lah

  9.  

    Waktunya Bangsa ini menentukan bermimpi terus seolah olah punya segalanya hebat paling kuat paling hebat yang hoax hoex atau bangun ke realita saat ini dan melaksanakan revolusi perkuatan pertahanan…..

    Yah hanya saya anda dan kita semua yang mampu menjawab….

    Jika bukan sekarang kapan lagi..jika kita siapa lagi

    Menunggu ada pulau lagi di caplok….

    Kalau perlu adakan kumpulkan koin untuk save NKRI…

  10.  

    yaaa kompos lagi makin gk bermutu tuh koran blm lg yg pny partisan oee….

  11.  

    pada kenyataanya memang indonesia msh kekurangan alutsista penjaga NKRI, jngan naif bung! amerika begitu telanjang persenjataanya toh gak ada yg berani macan2, itu krn otot amrik terlihat gede dan kuat, meskipun telanjang gak ada yg berani colek dia. yuk kita sama2 memajukan negeri ini dg menjadi yg terbaik di bidangnya masing2 agr ekonomi kita tumbuh pesat dan pertahanan jd kuat. salam hangat bung.

  12.  

    PeshawaT Rahasianya dimana?

  13.  

    Klo mau buktiin ya monggooo..bsa msuk langit daerah skitar jkarta aja dah huwebat..plagi msuk lngit jkrta bsa2 tuh monas yg mluncur..

  14.  

    Langit jakarta telanjang, ibarat seorang gadis cantik yang telanjang di tempat umum !
    miris,memprihatinkan, tidak bermoral ……..ntar kalo sudah diperkosa orang, biar tahu rasa !!!

  15.  

    Sudah jelas australia adalah ancaman, mengapa sampai menganggap megara sahabat? Apakah hanya basa basi diplomatis?

  16.  

    gimana gk melemah bung rupiah krn kitanya sndr lbh ska menilai dg dolar dr pd dg rupiah….pdhl lbh dr 60 th dunia di tipu dg penggunaan asu$ sebagai alat pembayaran internasional, gampang nya mrk cuma ongkang2 nyetak duit pdhl kta hrs mandi keringat untuk dpt duit…..itulah rusak nya sistem moneter ciptaan asu yg ada hnya pemerasan….apa anda masih ingat di era 70 an ekonomi dunia terguncang gara2 asu nyetak dolar seenak udele buat biaya perang mereka tanpa di backup cadangan emas mrk…dan asu tdk ingin ada yg mengusik kemapanan yg tlh mrk rasakan slm ini , apa lg mengusik dolar mrk dh bnyk yg menjadi korban.

  17.  

    Melindungi obyek vital termasuk ibu kota negara secara permanen adalah dengan menggunakan sistem pertahanan udara berlapis :
    1. sistem pertahanan udara jarak jauh , segera pasang sistem rudal S-300/400
    2. sistem pertahanan udara jarak menengah, segera pasang sistem rudal BUK-M1
    3. sistem pertahanan udara jarak pendek dan sangat pendek, segera pasang Pantsir dan IGLA

    masing-masing 4 batalyon dan pokoke rusia punya ….

  18.  

    PERNYATAAN masalah rapuh atau kuat pertahanan Ibulkota saat ini tidaklah penting Untuk Didebatkan.. soalnya butuh penafsiran yang bermacam macam contohnya antara lain :
    – untuk meredam kawasan dalam perlombaan pengadaan Alutsista..
    – pemberian alasan ke negara tetangga biar tidak curiga kalo kita memang membutuhkan Alutsista
    pertahanan ibukota karena masih telanjang..
    – biar dapat perhatian yang lebih dari pemerintah dan DPR..
    – menghindari upaya pengembangan antidot pihak asing terhadap alutsista yang kita punya
    sehingga inormasi yang diterima asing masih dalam keadan abu abu
    – dan amsih banyak lagi penafsirannya pernyataan tersebut. lha wong kita sedang giat giatnya mengejar ketertinggalan maslah teknologi alutsista lewat TOT dengan pihak negara lain sehingga tidak menimbulkan geger negara kawasan..

    saya tidak yakin pertahanan Ibukota selemah itu soalnya saya tau sendiri bagaimana SOP penanganan VVIP mantan Wapres Boediono saat berkunjung ke Bojonegoro yang amat begitu ketat dan berlapis lapis dan masih banyak lagi..

    lebih baik artikel ini harus dimunculkan dan disampaikan ke pihak yang berkepentingan terutama DPR biar ada perhatian serius masalah kebijakan persetujuan pemberian anggaran pertahanan..

  19.  

    ini kenyataan pahit yg harus kita terima, memang kita masih sangat kurang keberadaan alutsista yg dpt mempertahankan dari hal2 buruk yg tak terduga, contoh kasus saat jajak pendapat di Timor Leste dulu, Australia sdh bisa patroli di wilayah kita bahkan hingga mengawasi Jakarta dgn F/A-18 super hornet-nya, Juli 2003 juga /A-18 super Hornet AL USA latihan bermanuver di atas laut P. Bawean, tetapi TNI pasti sdh berhitung masak2 cara lain dgn keterbatasan pespur, spt tameng udara dgn rudal2, disamping itu juga masih menghitung kebutuhan dana bila jatuh pilihan pada salah satu dari pespur yg digadang2 (Su-35, Gripen & Typhoon), meski saya pikir mayoritas masyarakat menginginkan pespur yg memiliki ‘efek getar’…Su-35..intinya adalah proses utk menutup kelemahan itu sedang berjalan, semoga tdk lama lagi ada keputusanjalan keluarnya.

  20.  

    bung Hariyanto:

    anda bicara soal jajak pendapat timtim,kasus bawean itu tahun berapa?kalo tahun” itu memang kita akui kita banyak kekuranganya.
    tapi sekarang jangan di bandingkan dengan tahun lalu.pak SBY menjabat Presiden tahun 2004.dan saat itu pula mulai ada wacana pembaharuan dan penambahan alutsista melalui program MEF 1.2.3.
    Masih untung sekarang black flight dapat di intersep TNI AU.itu artinya MATA kita sudah peka.coba kalo itu pesawat sampai lolos dari pantauan SATRAD kita.pasti komenya pada beuuhhh….

  21.  

    Ada bung tapi pertahanan udara titik, kyk qw3, starstreak