Langkah Antariksa Lapan

55
59

IMG_20140822_122726

 

IMG_20140822_122446

 

IMG_20140822_122408

 

IMG_20140822_122719

 

IMG_20140822_122245

Bogor, 22/08/2014 – Lapan bekerjasama dengan dengan India untuk meluncurkan Satelit A1, sekaligus mengejar ambisinya untuk bisa membuat roket peluncur satelit sendiri pada tahun 2020 – 2025.

Tahun Pemerintahan Periode 2009-2014, tidak terlalu gemilang bagi Lapan. Target mereka untuk meluncurkan roket pengorbit ke luar angkasa tidak tercapai. Roket RX 550 juga baru sebatas uji statis dan tidak bisa uji terbang karena ada kendala di bagian nozzle.

Kini Lapan bekerja sama dengan Ukraina untuk memperbaiki nozzle roket RX 550 dan 750 yang masih bermasalah. Namun persoalannya Ukraina pun sedang dirundung masalah konflik dengan Rusia.

Lapan perlu gebrakan agar kesan jalan di tempat tidak kental terasa. hDiharapkan, pemerintahan Jokowi – JK ke depan mampu menjadi katalisator, mendorong dan memberi ruang bagi Lapan, untuk berkembang lebih jauh. (JKGR).

55 COMMENTS

      • Maaf baru jawab bung bin_vick, itu namanya Polar Satellite Launch Vehicle atau kendaraan satelit punya India den. Ini merupakan sistem peluncuran sekali pakai dikembangkan dan dioperasikan oleh Indian Space Research Organisation (ISRO). PSLV ini digunakan untuk membawa satelit ukuran kecil ke geostasioner Transfer orbit (GTO). Untuk mesinnya menggunakan system booster dengan Thrustnya sebesar 500 ribuan kn. Kalau di Indonesia biasa disebut roket sonda. Ia, kita numpang di ISRO. Soalnya roket sonda kita masih dalam pengembangan.

        Ini saya kasih sedikit gambaran roket ini…

      • Biak masih belum bung, kita masih nebeng India. Kan kita punya rencana, di Biak ini masih lama prosesnya apalagi Rusia pergunakan untuk kepentingan komersil. Dan mereka juga sedang terjadi konflik, jadi perlu dipikirkan kerjasama kedepan karena berkaitan dengan hubungan internasional.

    • Ia bener bung Andri, satelitenya mereka molor gak tahu ada masalah dimana. Rencana tahun kemarin selesai tapi ternyata ada beberapa masalah jadi tahun depan Insyallah sudah selesai. Sebenarnya bisa saja kita sewa satu PSLV tapi biaya besar yaitu 17 juta USD, sedangkan peluncuran ini masih menggunakan anggara Lapan yang begitulah bung andri tahu. Jadi sistemnya kerjasama aja berupa nebeng, kalau ada biaya itu tidak besar.

      • Bung Diego, sebenarnya untuk Nozzle rumusnya sudah berhasil dipecahkan pengujian statis awal tahun ini sudah berhasil. Ada beberapa hasil yg sudah berhasil dilakukan baik melalui proses Case bonded dengan nilai lumayan dan diprediksi bisa untuk dilakukan uji terbang. Tapi mungkin uji terbang belum bisa dilaksanakan soalnya tim sedang menyiapkan renstra 2015-2019, dan juga disibukan dengan 7 program prioritas seperi roket pertahanan. 😀

        Waktu itu saya dikabari mau lakukan pengujian pada pertengahan tahun ini, sayangnya saya denger lagi timnya lagi pada lembur karena banyak program. Soalnya timnya sedikit dan yg harus dikerjakan itu menggunung. Saya kalau main kadang kasihan juga lihat kondisi teman-teman disana, 😀

          • Bung Faadhil, di Lapan itu 1 orang peneliti atau perekayasa bisa megang sampai 7 program loh.

            Jadi begini bung Faadhil, ada satu istilah begini 1 sainistis itu lebih baik dibanding 10 politikus. Untuk mencari satu ahli contohya ahli Aeronautika itu tidak gampang bung, makanya istilah diatas saya bisa katakan bener. Bidang antariksa ini bener-bener sulit, makanya pernah mantan Presiden India mengatakan Negara maju adalah negara yang bisa menguasai teknologi Antariksa.

            Jadi bisa dikatakan, mencari seorang yang bener-bener ahli dalam teknologi antariksa itu cukuplah sulit. Saya aja sekarang ngambil kuliah jurusan Aeronautika, dan saya sendiri merasakan sulitnya ilmu ini. Di lapan itu ada strata, yang S1, S2, dan S3 tapi itu juga tidak menjamin, ada lulusan S2 mengepalai suatu progran dan anggotanya S3.

            Kalau program sebenarnya sudah ada, dan sekarang masih dalam proses. Sebenarnya banyak ahli kita dibidang Aeronautika, tapi banyak juga yang keluar karena selain masalah kesejahteraan ada juga masalah fasilitas disini. Dan juga, untuk perekrutan itu juga harus ada kebijakan langsung MenPAN, karena berkaitan dengan belanja pegawai.

  1. Sebaiknya peluncuran satelit berikutnya dilakukan di biak numfor, kebut pembangunan stasiun peluncurannya, tot roket dg china ato rusia termasuk teknologi nozzle, pengendalian satelit dan pembuatan satelit, dan kirim anggota tni AU untuk pelatihan kosmonot di rusia,kirim insinyur lapan ke rusia dan china, imbal baliknya kita beli teknologi rudal balistiknya

    • Hehehehehehe, teknologi mereka lebih maju bung saat ini kita baru berhasil membuat Satelite yg terbaru adalah Cartosat-3 dengan resolusi 2.5 m, sedangkan kita melalui Lapan A-2 baru sampai di resolusi 6 m. Mereka sudah buat yg untuk skala Industri dan kita masih dalam tahap menuju industri atau masih dalam proses pengembangan / riset.

      Coba lihat foto perbedaan dibawah ini…

      Lapan A-2

      Cartosat-2b (versi terakhir)

      • Hadeuuh. Jadi gemes. Berharap pemerintah mau alokasikan lebih banyak lagi untuk mengejar ketertinggalan di bidang antariksa. Korupsi di mana-mana itu lah yang menghambat kemajuan bangsa (sambil geleng2 kepala ini) ..

LEAVE A REPLY