Langkah Strategis Lapan di UAV, Satelit dan Roket

Lapan terus bergerak untuk meningkatkan kemampuan UAV mereka. Saat ini  pesawat tanpa awak LAPAN Surveillance UAV (LSU-02) telah memotret 300 kilometer wilayah pesisir Selatan Jawa, untuk pengumpulan data bagi pemetaan garis pantai dan memperbarui teritorial Indonesia. Pemanfaatan LSU-02 untuk pemotretan garis pantai juga untuk mendukung upaya Badan Informasi Geospasial (BIG) dalam memperbarui teritorial Indonesia.

LSU 2 Lapan juga telah diserahkan kepada TNI AD, untuk kepentingan militer. Pesawat LSU 02 mempunyai bobot 15 kg, dilengkapi 2 kamera foto dan kamera video. Pesawat ini mampu terbang dengan ketinggian 3000 meter. Lapan kini sedang menyiapkan generasi baru UAV yang mampu terbang hingga ketinggian 7200 meter, dengan payload dan endurance yang lebih besar.

Lapan kini telah sampai pada ujicoba penerbangan LSU 5.  LSU-05 merupakan varian baru dari pesawat tanpa awak buatan Pusat Teknologi Penerbangan (Pustekbang) Lapan yang dirancang mampu membawa muatan seberat 25 hingga 30 kilogram.

Generasi kelima varian Lapan Surveillance Aircraft (LSU) ini memiliki bobot 80 kilogram dengan bentangan sayap 5,5 meter dan panjang 4 meter. Dalam sesi uji coba ini, pesawat mampu melakukan take-off, taxi, autopilot atau monitoring, serta landing gear dengan baik.

LSU 5 tercipta berkat kerjasama Lapan dengan dengan Chiba University. Pesawat tersebut ditargetkan mampu membawa muatan CP SAR yang didesain Tim Chiba University yang berbobot hingga 25 kilogram.  Selain harus mampu membawa muatan, pesawat ini juga dituntut memiliki kemampuan terbang dengan kestabilan tinggi sesuai dengan kebutuhan pemetaan yang menggunakan radar.

Kini Lapan sedang merintis UAV kelas medium,  A medium-altitude long-endurance UAV (MALE UAV) yang mampu terbang hingga 800 km. Untuk memperkuat UAV itu, Indonesia juga bekerja sama dengan Tiongkok dalam membuat Male UAV.

Target berikutnya Lapan adalah mengembangkan satelit, roket, stasiun control dan citra satelit resolusi tinggi dan remote sensing. Antara lain dengan membuat Satellite Disaster Early Warning System (Sadewa).

Juga membuat Atmospheric Science Technology Information System (Astina), yang tentunya gambarnya akan disuplai oleh satelit Lapan dengan kemampuan kamera berkualitas tinggi.

Lapan juga sedang mengembangkan aplikasi Coastal and Sea Applications, untuk memonitor kondisi laut Indonesia.  Di sinilah dibutuhkan peran Satelit A2 Lapan untuk  kemampuan kamera thermal dan IR resolusi tinggi. Sistem komunikasi canggih akan terintegrasi dalam pengembangan yang dilakukan Lapan. Tentu beberapa ilmu terapan Lapan ini, juga bisa diaplikasikan untuk keperluan militer. Untuk urusan yang satu ini, memang tidak bisa terbuka.

Selain itu, Lapan juga terlibat mengembangkan pesawat N245, bekerja sama dengan PT.DI. Sementara untuk MALE UAV, mereka akan bekerja sama, termasuk dengan Pindad.

Oleh : B Stepanus

Leave a Reply