JakartaGreater.com - Forum Militer
Apr 112014
 

Lapan

Salah satu industri Alutsista yang sangat penting adalah ..

Pesawat Terbang dan pesawat Tempur, karena dengan kemampuannya yang serba bisa dan mematikan, dapat meng-cover seluruh Kawasan Nusantara.

Bangsa Indonesia adalah bangsa dengan segudang para ahli dan orang pintar yang mumpuni dengan berbagai bidang keahlian, termasuk salah satunya adalah kemampuan membuat dan menciipta pesawat, baik pesawat komersil ataupun pesawat tempur, sebut saja kita mengenal Prof.dr.ing.BJ Habibie profesor bidang aerodinamika ternama dan terbaik saat ini yang dimiliki bangsa Indonesia. Dari tangan dinginnya kita mengenal N250 yang lahir dari hasil buah karya putra putri bangsa indonesia saat itu.

Indonesia dengan Kondisi Geografis yang luas dan terdiri dari berbagai pulau, sangat membutuhkan Armada Pesawat Tempur yang memadai, untuk memenuhi kebutuhan Dalam Negerinya maka Indonesia merancang dan membuat sendiri Pesawat Tempur, hal ini didasarkan atas dasar kebutuhan yang mendesak dan vital.

Dimulai dengan kerja sama pembuatan pesawat tempur dengan Korea Selatan dengan program KFX /IFX dan saat ini masih berjalan kerja samanya. Adapun hasil kerjasama ini kelak diharapkan dapat membawa kemajuan penting dalam ilmu pesawat tempur bangsa ini kedepannya.

Menurut Ir. SULISTYO ATMADI salah seorang Kepala Program LFX, saat ini ada kerjasama antara LAPAN, PT.DI dan berbagai Universitas Teknik ternama dalam negeri untuk membantu terwujudnya program LFX ,KFX/IFX, dalam arti minimal kita mampu mencuri ilmu nya dari Korea Selatan.

Sementara tujuan dari kerja sama Lapan/ PT.DI dan lainnya adalah:

  • • Mendapatkan suatu konsep pesawat latih-lanjut generasi ke 4.5 dengan kemampuan multi misi.
  • • Memperoleh Rancangan Pesawat Tempur yang sesuai dengan kondisi dan situasi Indonesia
Design IFX Lapan image PPKP

Design IFX Lapan image PPKP 1

lapan1

Design IFX Lapan image PPKP 2

lapan3

Design IFX Lapan image PPKP 3

lapan4

Design IFX Lapan image PPKP 4

lapan5

Design IFX Lapan image PPKP 5

Dalam hal ini banyak hal telah dilakukan LAPAN sebelum dimulainya program LFX dan KFX/IFX, seperti:

  • LAPAN harus menyiapkan SDM nya utk mendukung Program KFX Indonesia harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri, di bidang Teknologi, Penerbangan, khususnya Pesawat Tempur Supersonik GENERASI 4,5 serta generasi 5.
  • Membuat Desain Konseptual Pesawat Tempur Supersonik
  • Pembuatan Model untuk Uji Terowongan Angin dan Uji dengan perangkat lunak berbasis CFD Pengujian model Aerodinamik menggunakan Terowongan Angin Bekerjsama dengan perguruan tinggi (ITB) yang juga sebagai tim perancang KFX mempunyai Kemampuan/ Kelebihan dalam teori Perancangan, dan dari Industri (PT.DI, PTSmartAviation)
  • Koordinasi Sinergi antara Lembaga Riset (Pustekbang-LAPAN), Perguruan Tinggi jurusan AeroAstrodinamika Teknik Penerbangan ITB, diwakili oleh Dr. Ir.Rais Zain,PTDI, PTSmartAviation, diwakili oleh Ir. Agung Nugroho

Tujuannya adalah :

  • Merealisasikan Pembuatan Prototipe Pesawat LFX dari hasil rancangan ini, setelah dilanjutkan dengan tahap Preliminary Desain dan Perancangan detail Tahapan Pengembangan ke depan.
  • Evaluasi Rancangan Konseptual yang telah dihasilkan/ prototipe.
  • Melanjutkan Tahap Preliminary Desain (Rancangan Awal)single atau dobel engine. Melanjutkan Tahap Perancangan Rinci dan pembuatan terowongan angin.
  • Pembuatan Prototipe Pesawat Terbang Tempur Supersonik LFX Tiga tahun dari sekarang.

Dengan demikian diharapkan hal ini menjadi gambaran bahwa bangsa Indonesia tidak main main dalam mengembangkan program mandiri pesawat tempur nya mari kita berdoa semoga tidak lama lagi bangsa indonesia dapat kembali menjadi macan asia di bidang industri pesawat tempur yang di segani oleh negara kawan dan lawan. (by Telik Sandi).

Berbagi

  143 Responses to “Lapan Fighter Experiment, Jembatan KFX/IFX Indonesia”

  1.  

    izin nyimak

    •  

      Izin ikut melamun disini warjager..
      Indonesia kan baru saja mendirikan Universitas Pertahanan Indonesia, alangkah baiknya apabila digunakan sebagai wadah untuk mencetak dan menggodok calon leading researchers kita..
      Tidak sulit sepertinya mencari 500 bibit2 unggul yg ber IQ diatas 160 apabila Pemerintah kita serius ingin mandiri dalam teknologi, dan mengejar ketertinggalannya dari negara maju.
      Scouting dilakukan oleh agen resmi pemerintah yg terpercaya, setelah menemukan bibit yg berkualitas, lakukan pendeketan kepada orang tuanya dan meminta kewajiban mereka untuk berkontribusi kepada negara dengan mengutus anak mereka untuk belajar di Universitas Pertahanan Indonesia. Siapa sih orang tua yg gak luluh anak nya dibiayai negara untuk mengenyam pendidikan bertaraf internasional..
      Siswa2 yg terpilih kemudian mengenyam pendidikan dari berbagai disiplin ilmu sesuai dengan keahlian mereka. Berikan mereka pemondokan di dalam wilayah kampus, berikut fasilitas olahraga dan hiburan. Sehingga secara halus membatasi akses mereka terhadap dunia luar, agar tidak terkontaminasi sdengan hal2 yg tidak diinginkan..
      Lengkapi kampusnya dengan laboratoium2 dan fasilitas penunjang pendidikan lain yg bertaraf internasional . Kemudian staff pendidik yg merupakan profesor2 terkemuka dunia dari dalam maupun luar negri..
      Setelah para siswa lulus mengenyam pendidikan dan minimal telah mendapat gelar DR/ Ph. D., kemudian lulusannya disebar di berbagai BUMN, BUMNIS,dan BUMNIP sebagai leading researchers..
      Apabila hal diatas terwujud, dalam kurun waktu 30, insya Allah indonesia bisa mandiri..
      Ada beberapa keuntungan apabila pencetakan ilmuwan di sentralkan di Universitas Pertahanan Indonesia, diantaranya yaitu :
      1. Pendidikan gratis akan membuat ilmuwan loyal terhadap Indonesia, dikarenakan rasa hutang budi yg besar terhadap negara.
      2. Doktrin militer yg ditanamkan juga akan menumbuhkan rasa nasionalisme tinggi
      3. Pemerintah akan mudah untuk melakukan quality control terhadap lulusannya sehingga dapat dilakukan evaluasi dan problem solving apabila terdapat kekurangan
      4. Akan lebih leluasa untuk R&D hingga ketahap classified atau sampai topsecret R&D sekalipun, kaena dilakukan oleh lembaga Internal.
      5, manajemaen informasi dan telekomunikasi yg lebih mudah karena sentralisasi.
      Memang plan ini membutuhkan dana yg tidak sedikit, dan perlu waktu untuk membuahkan hasil, tapi kalo sudah berjalan optimal, indonesia tidak akan pernah kekurangan SDM untuk menunjang kemandirian kita.. dan insya Allah dalam kurun waktu 30 tahun, kita akan kembali menjadi macan Asia, bahkan macan Dunia yg disegani kawan dan ditakuti lawan.. semoga suatu saat nanti bisa terwujud.. Amiin.. IMHO, dimohon masukannya dari warjager apabila ada masukan..

      •  

        hehe..dulu sempet gue kemukakan STTP, sekolah tinggi teknologi persenjataan.
        rupanya udah menjelma universitas skrg ya…syukurlah 😀

      •  

        Iya bang donnie crow.. mudah2an ini menjadi langkah pertama bagi bangsa kita dalam keseriusannya mengejar ketetinggalan dari negara2 maju.. semoga opini saya diatas di dengar think tank nya kementrian petahanan kita.. maaf hanya opini guru SMK saja..

    •  

      Eh maaf.. ikut boncengan pertamax nya bung heinz..

    •  

      Kayalnya acuan untuk LFX adalah rafale deh

  2.  

    pertamax

  3.  

    Apakah LFX akan menjadi Pespur buatan dalam negeri pertama sebagai hasil kerjasama IFX??? atau LFX project lain dari Lapan??

    •  

      [email protected] LFX adalah :thumbup mendukung KFX/IFX.ini semacam tim bayangan yang akan menbantu terwujudnya IFX, diluar nanti LFX bisa membuat project sendiri itu lebih bagus.tapi saat ini kedua nya berhubungan erat dalam kerjasama projek pesawat tempur nasional

  4.  

    lumayan 10 besar….

  5.  

    yg menarik dr artikel di atas adalah redaksi “Pembuatan Prototipe Pesawat Terbang Tempur Supersonik LFX Tiga tahun dari sekarang”. jika mengacu redaksi di atas ada 2 hal yg sy tangkap :
    1. Jika ternyata tulisan tersebut prosesx telah berjalan dari tahun-tahun kemarin, bisa diartikan prototipe
    pespur bs terwujud lebih cepat (sblm 2017)
    2. Jika berdasarkan terbitnya tulisan (2014), bisa diartikan prototipe pespur insya Allah bs terwujud tahun
    2017

    •  

      [email protected] , menurut sumber hoex nya ini Plan B jika KFX/IFX ada kendala,ibarat kata, jika korea selatan sedikit mangkir, minimal kita bisa jalan sendiri. clue nya

      1.rencana pembelian Thypon dengan TOT
      2.rencana pembelian Rafael dengan TOT
      3.rencana pembelian Gripen dengan TOT

      semua akan menjadikan Indonesia, mampu membuat pesawat tempur sendiri. tapi jgn dipercaya ya bung,,ini hoex..soalnya kan prototipe nya blom jadi, pasti nanti katanya :hoax2

  6.  

    kalimo……

    mantap untuk terus dikembangkan…

  7.  

    bung kenapa ya bangsa ini selalu membeli alat tempurnya dari berbagai macam negara?? kenapa tdk dari rusia aja… hibah dari paman sam,australia dll…

    •  

      karena RI menganut non blok senjata dari timur dan barat mengisi arsenal indonesia, maknyus gk tuh

    •  

      Kalau Rusia macet gimana bung? Misal Rusia mengalami krisis sehingga tidak bisa produksi lagi alutsista & sparepart nya, atau misal juga hubungan RI – Rusia terganggu sehingga kita di embargo lagi… Lumpuh semua donk alutsista kita? Piye tuh bung?
      Itu lah untungnya kita non blok, beli alutsista dimana-mana. Macet dari 1 negara, masih ada dari negara lain. Kan kira Rapopo kalau ada problem dari 1 negara produsen bung… 😀

      Analisa Awam…

    •  

      Senantiasa perlu diingat Bung, bawa pemenuhan alutsista strategis buatan dalam negeri itu lebih penting. Dengan adanya kemampuan kita untuk memproduksi sendiri alutsista-alutsista strategis tersebut bisa dipastikan “daya gertak dan pukul” kita tentunya akan lebih, lebih dan lebih kuat powernya.

      Sementara ini untuk pengadaan alutsista strategis yang memang kita sendiri belum mampu membuatnya, maka pengadaanya dengan cara membeli dari negara-negara lain baik itu buatan blok barat maupun buatan blok timur. Tapi disini saya hanya ingin sedikit menjelaskan dan menceritakan bahwa setiap membeli alutsista-alutsista tersebut kita mempunyai prinsip kewaspadaan yang utama, yaitu :

      “Bahwa setiap Negara penjual Alutsista, pasti akan senantiasa berusaha “mengebiri” sebagian kemampuan tempur Alutsista perang mereka yang kita beli.”

      Prinsip ini kita pegang teguh, untuk itu segala sesuatunya akan amat tergantung dari kemauan dan usaha serta imaginasi kita sendiri, agar dapat mengexploitasi semaksimal dan seoptimal mungkin Alutsista-alutsita yang telah kita beli. Jangan kita membiarkan diri kita gampang di”kadali” oleh Negara lain (Penekanan Pak SBY dalam RAPIM TNI di Cilangkap). Sebagai salah satu contoh nyata : KS Type 209/1300 yang kita beli pada tahun 1978-1980 dari Jerman (saat itu Jerman Barat), tidak dilengkapi dengan peralatan Decoy “semacam Pillenwerfer dan projektil Bold” Ini penting karena reagen kimia decoy dapat menyerap energi pancaran sonar lawan, apalagi Pillenwerfer yaitu decoy pasiv anti torpedo.. (padahal seharusnya dalam kontrak diserahkan berbarengan dengan penyerahan KS ke kita, setau saya sampai KS Type 209/1300 ini di overhoul total pertengahan tahun 2000an Decoy ini enggak juga kita terima). Padahal Decoy ini sangat berarti untuk menghindari Wire Guided Torpedo alias Torpedo dengan pengendali kabel type Gould Mk.48 ataupun torpedo kendali non kabel dengan active / passive sonar homing head type Honeywell Mk 46 Mod 5 miliknya KS Collins Australian Navy. Decoy ini bila dilepaskan tepat pada waktunya akan membangkitkan signal akustik dominant, yang akan amat mempengaruhi system pencarian sasaran homing head torpedo. Sehingga torpedo tidak lagi mengejar KS kita, akan tetapi justru berubah arah akan mengejar decoy tersebut.

      Selain itu pada saat pelatihan disana awak KS kita juga tidak pernah diajari pemanfaatan “submarine chart”, yaitu suatu peta bawah air dari suatu daerah tertentu di dalam alut, yang memuat data tentang parameter CTD (temperature, kadar garam, berat jenis air laut) ditempat tersebut, yang sebenarnya, amat penting untuk pengaplikasian taktik peperangan KS dibawah air. Makanya ahli-ahli tempur TNI AL saat itu untungnya sempat membuat “doktrin” sendiri bagaimana cara pengoperasian KS Type 209 ini dengan baik dan benar bedasarkan pengalaman-pengalaman awak KS kita sendiri. ( Taskap Pasis Dikreg X SESKOAL TA.1983-1984 dengan judul “Pengoperasian kapalselam type U-209 dalam menunjang tugas pokok HANKAMNAS dilaut”)

      Disini kita bisa melihat bahwa Tidak ada Angkatan Perang Negara sebaik bagaimanapun, yang akan mau membagi taktik peperangannya secara “gratis” kepada kita. Mungkin buku atau pun naskah tentang taktik tersebut bisa kita peroleh dengan mudah, seperti contoh : ATP 28, atau naskah US Navy “Submarine Operation” NW 2003, serta US Navy “Anti Submarine Operation” NW 2004, seperti yang diajarkan di SESKOAL) tapi pada pelaksanaan rill operasinya dilapangan alias dilaut “bueeehh” berbeda 180 derajat!
      Contoh nyata terakhir adalah saat penembakan Yakhont pada latihan Armada Jaya tahun 2011 pertama kali yang gagal mengenai target sasaran ex KRI Teluk Bayur, padahal saat itu kita sudah dibantu oleh “awak-awak” dari negeri pembuatnya sana. Barulah setelah dilakukan “tapa brata” oleh “awak-awak” kita sendiri pada latihan Armada Jaya tahun 2012 Yakhont kita berhasil menghancurkan sasaran ex KRI Teluk Berau dalam waktu +/- 2 menit.

      Berdasarkan banyak pengalaman inilah maka pengadaan Alutsista strategis yang “terpaksa kita beli” dikarenakan kita belum bisa membuat sendiri, baik itu dari blok Barat maupun Blok Timur pasti ada embel-embel “kalo enggak barang kualitas satu kami tidak mau beli!” disini bisa berarti adalah bentuk “fisik” bisa sama tetapi boleh di check “jeroannya” pasti beda.
      Beberapa contohnya adalah : “Jeroan” Hawk 209/109 kita aslinya sudah bukan versi standart Hawk seri 200/100 kebanyakan. “Jeroan” SU.30 Mk2 kita bisa dicheck pasti lebih canggih dari SU.30 MKM sonora. Pembelian Tank MBT Leopard A4 walaupun bekas, tapi Jerman sampai-sampai mau menyibukan diri memenuhi permintaan kita untuk “mengupgrade” nya manjadi “lebih mumpuni” hingga akhirnya mereka sendiri menyebut versi Tank itu Leopard Revolution Indonesia. Contoh lebih anyarnya adalah kenapa kita membeli Pespur T.50i dari Korea sana tanpa “radar”, jawabannya adalah karena kita ingin mengemplementasikan sendiri jenis radar yang lebih canggih dibanding radar asli “bawaannya.”

      “Bahwa setiap pembelian Alutsista dari negara lain saat ini harus dalam bentuk G to G atau kita memesan langsung kepada pabrik dan negara pembuatnya. (tidak ada lagi rekanan/broker) dan tidak lupa Transfer of Technology nya.”

      Ada kisah KSAD kita yang sekarang Pak Budiman dulu pernah terlibat langsung dalam pengadaan multiplelaunch rocket system (MLRS), beliau pernah tanya kepada “broker” berapa harga pasti untuk satu batalion? Dijawab “sekian juta dollar Pak”. “tidak bisa turun?” “tidak bisa Pak.”. Pak Budiman enggak percaya dan beliau pergi sendiri kenegara dan pabrik pembuatnya. Hasilnya adalah dengan harga “sekian juta dollar” nya broker tadi ternyata kita mendapatkan MLRS untuk dua batalion plus dengan pusat pendidikannya. Begitupun dengan pembelian Tank MBT Leopard, dengan harga yang sama ditawarkan oleh “broker” kita hanya mendapat 44 biji Tank, setelah Beliau turun langsung kita malah mendapat 3x lipat jumlahnya plus juga Tank pendukung untuk recovery, Tank untuk tugas Zeni dan penyapu ranjau, serta tidak lupa 50 unit Tank Marder, itu semua dengan harga yang sama!

      Intinya dari kesemua itu adalah Pemanfaatan para ahli-ahli ORSA (Operation Resesach and System Analysis) masing-masing alutsista di lingkungan TNI untuk menciptakan Operational Requirements yang baik dan benar, dengan demikian alutsista-alutsista strategis yang sudah dan akan berdatangan nantinya enggak hanya “mangkrak” di pangkalannya masing-masing aja, akan tetapi mampu memberikan nilai deterent yang menakutkan bagi kekuatan musuh yang ingin coba-coba mengganggu kedaulatan negara kita

      Intinya lagi adalah Pemenuhan alutsista strategis dengan asli buatan bangsa Indonesia sendiri adalah suatu keharusan dan kewajiban! dan alhamdulillah semua itu saat ini sedang berjalan pada “track” yang benar.

      NKRI harga mati!

      •  

        Mencerahkan sekali bung @PS..sekaligus mnjwb sindiran komentar2 miring yg blg kita dikibulin wkt beli T-50i yg tnpa radar & msh bnyk lg..

        Jd inget mkn bakso nya Om @Satrio.. He he he..

      •  

        @bung PS

        Kalau liat tulisan ente kayaknya ente lulusan cipulir ya he he he…

        Mengenai pemilihan alutsista menurut sy amat didasarkan pada doktrin wilayah bung PS. Negara lain seperti singapork dan malon memilih alutsista tanpa doktrin yg jelas.contohnya singapork memilih leopard tapi mengalami kesulitan dalam pengoperasian karena sempitnya jalan singapork yg penuh bangunan yg menyulitkan manuver leo.kalau singapork di serang dari darat maka leo mereka hanya akan jd sitting duck attack plane/hello atau rudal AT…malon jg memilih scorpen karena panik shg tdk memikirkan mau di taruh dimana…padahal dgn bobot segitu sangat sulit scorpene untuk .anuber di laut dangkal yg notabene sama dgn perairan barat kita…pemilihan scorpene menurut saya lebih pada unsur gertak,bkn teknis…

        Saat mereka salah langkah dgn cerdik kita memetakan kelemahan mereka dan memilih alutsista yg tepat guna dan efektif.alutsista boleh sama tp kita pesan beda dgn mereka.atau kita lawan A dgn B…

        Percayalah TNI mungkin terlihat lemah tp dibalik itu tersimpan kuku tajam yg senantiasa kita tunjukkan pd musuh2 kita tanpa di ketahui publik umum untuk menjaga kerukunan antar bangsa yg lebih penting drpd ambisi tumasik dan melaka untuk jd yg paling iyes di kawasan ini…

        •  

          nampaknya [email protected] ahli sejarah nih..jarang ada yg sebut bahwa singapura dulu nya adalah tumasik,tempat pelarian keturunan terakhir raja majapahit raja Brawijaya V yang lari mengungsi akibat kerajaaan nya di serang kerajaan demak. .
          tumasik adalah perkampungan nelayan kecil yang dijadikan pangkalan angkatan laut raja kertanegara kediri ketika berusaha menghadang bala tentara khubilai khan yang akan menyerang kediri :2thumbup buat [email protected]

          •  

            He he bung kancil bisa aja…benar bung.pahang dan kedah juga bekas jajahan majapahit.kalau begitu boleh dong kita klaim singapork dan malon wilayah kita berdasarkan sejarah masa lalu? Cuma kita yg berani menantang kekaisaran cina sementara bangsa lain di kawasan ini lebih memilih jadi ayam sayur…

            Siap siap aja kalau kita sdh jadi reman kayak cina

        •  

          setuju Bung Wehrmacht

      •  

        ….KSAD Pak Budiman pernah tanya “broker” harga pasti satu batalion MLRS, dijawab “sekian juta dollar”. Pak Budiman pergi sendiri ke pabrik pembuatnya. Dengan harga “sekian juta dollar” broker ternyata dapat MLRS untuk dua batalion plus dengan pusat pendidikannya. Begitupun pembelian MBT Leopard, dengan harga yang ditawarkan “broker” kita hanya mendapat 44 biji, setelah beliau turun langsung malah dapat 3x lipat plus tank recovery, tank zeni dan penyapu ranjau + 50 unit marder, itu semua dengan harga yang sama !….

        lessons learned ?

        asumsi saya: broker jauh lebih banyak mudharat daripada manfaatnya, semoga contoh kasus ini bisa diestafetkan ke pejabat2 selanjutnya agar tidak terjadi CLBK…

        •  

          Setuju Bung Danu untuk asumsinya. kalo jaman “orba dulu” memang hampir kebanyakan saat itu kita membeli alutsista melalui “broker” yang notabene enggak jauh-jauh dan masih ada hubungan dengan “penguasa negeri ini” saat itu, tetapi kalo sekarang tidak lagi. ada banyak payung hukum yang musti wajib ditaati, mulai dari UU, Perpres, sampai Permenhan. :mrgreen:

  8.  

    Semakin banyak riset yang dilakukan indonesia semakin kita dekat untuk menjadi raja di negeri sendiri.
    Semoga pemerintah terus mengalakan program seperti ini yg tdk hanya di lakukan di matra udara melainkan jg di darat dan laut.
    Melihat apa yang telah dihasilkan oleh TNI AD berkerjasama dgn Univ Surya,semoga Universitas yg lainnya jg dpt menjadikan ini momentum untuk “mengejar” kemandirian alutsista. Bahkan saya optimis dgn dilibatkannya berbagai institusi baik swasta maupun pemerintah,Indonesia tdk hanya mampu “mengejar” tetapi “melompat” jauh kedepan.
    Indonesia manjadi penguasa kawasan? Ini hanya masalah waktu bung!!!!

    •  

      klo liat rancangan pesawatnya masih sekitar genre 4,5. mudah2an bisa di kembangkan ke genre berikutnya,
      klo boleh tau trmasuk jenis medium fighter atau heavy fighter?

      cos lebih panjang dan lebih lebar 4 meter dari rafael ( Panjang: 15,27 m, lebar sayap: 10,80 m)
      dan lebih panjang dan lebih lebar 3 meter dari typhon : ( Panjang: 15.96 m, Lebar sayap : 10.95 m)

      tapi lebih pendek 3 meter dan lebih lebar +1 meter Panjang dari su 35 : (21,9 m Lebar sayap: 15,3 m)

  9.  

    Wujudkan…

    •  

      Semoga yg dimaksud bukan pesawat srikandi yg modelnya kae mainan dari namanya z g bs di bawah combat jgn2 pilotnya wara semua klo cowok kan kurang maco.srikandi

  10.  

    lapan figthter… memang ada???? hebat donk

  11.  

    Gambar Lapan Figher 1 yang mesin tunggal dengan canard depan bagus sekali.

    Sangat mirif dengan Rafale.
    Light Rafale kah ?

  12.  

    Lapan perlu diajungi jempol dech….
    sebelumnya :
    1. PT DI menandatangani perjanjian kerja sama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Kerja sama ini meliputi perancangan dan pembiayaan pengembangan pesawat N219.
    2. produk pengembangan lainnya :
    Satellite Early Warning System (Sadewa)
    Satelit Lapan A2
    Satelit Lapan A1 (Lapan Tubsat)
    Lapan Surveillance UAV 02 (LSU 02)
    Rhan
    dll
    3. Skrg ikut mendesign Lapan Fighter Experiment. Cuma timbul pertanyaan: kenapa nggak muncul sekalian Dirgantara fighter Experiment? Atau Lapan-Dirgantara Fighter Experiment …….baru nanti hasil terakhir fix mjd Indonesia fighter Experiment

    •  

      Ada yg pengin liat photo gelar senjata udara sukhoi Su-27/30 TNI AU, silahkan baca di angkasa hal 48 edisi 7 april 2014. Ada rudal permukaan Kh-29TE dan Kh-31P, tdk lupa R-77(RVV-AE) dan R-73

    •  

      Pola kerjasama dengan LAPAN tepat. Sebab PTDI sebagai perusahaan, apalagi baru saja mulai bangkit, sebaiknya tidak dibebani dengan tuntutan riset agar rapornya tidak terbebani dengan pengeluaran riset. Riset ada di LAPAN karena LAPAN adalah lembaga litbang. Sementara, SDM dan teknologi bisa resources sharing dengan PTDI dan lembaga lain, sehingga menjadi lebih efisien.
      Maka jika TOT dari negara lain dilakukan, sebaiknya aktivitas riset dimasukkan ke dalam program LAPAN atau lembaga litbang lain. SDM bisa diambil dari mana saja, seperti PTDI, Perguruan Tinggi, BPPT, dll, tak ada masalah.
      Menilik peningkatan ketegangan di LCS, yang segera perlu dilakukan adalah peningkatan dana untuk riset dalam rangka TOT dan pengembangan teknologi lokal.

      •  

        permsalahannya sederhana, PTDI punya SDM tapi nggak punya duit RND, LPNe punya dana RnD tapi kagak punya SDM

        •  

          Duitnya dari pemerintah, diberikan LAPAN, memakai juga SDM nya PTDI selain SDM LAPAN sendiri, seperti program N219. Bila perlu tambah SDM dari lembaga lain.
          Litbang LAPAN relatif mudah dananya dari pemerintah, karena LAPAN bukan perusahaan, dia tidak harus cari laba.
          Kalau duitnya PTDI, nanti bisa-bisa harus utang. Kalau ada molor dll yang membuat biaya bengkak, rapor keuangan PTDI bisa merah lagi.
          Sekarang bukan lagi jamannya ego sektoral, jadi sumberdaya bisa dipakai bersama. Tentu ada aturan mainnya, misalnya kalau peralatan bisa sewa atau bayar biaya pemakaian. Tapi sebenarnya uang keluar kantong kanan masuk kantong kiri, sebab uangnya pemerintah juga, dan yang menerima lembaga pemerintah juga.

    •  

      Saya masih belum jelas mengenai konsep LFX dan IFX ini…keduanya apakah sama2 mengacu dari R/D dengan Korsel atau LFX ini merupakan salah satu plan B dari pengembangan pespur dmn bisa jadi acuan TOT yg digunakan adalah dari berbagai tawaran oleh Dassault,Eurofighter atau SAAB..dengan terbatasnya dana riset yang dimiliki saja progress pengembangan sudah sejauh ini,apalagi seandainya dana yg diberikan lebih besar lagi..bisa mengejar China negara kita ini 🙂

      •  

        Kendala utama selama ini tampaknya dana. Itulah, pemerintah mendatang harus memberi perhatian lebih, dengan meningkatkan dana bagi kepentingan semacam ini. Sekaligus, direncanakan perencanaan bisnisnya (business plan). Supaya kalau sudah produksi, bisa juga dijual ke negara lain. Jadi misalnya, kalau kita tetap pakai yang versi premium, bisa dibuat versi yang lebih murah, yang dijual ke negara berkembang lain. Kita mungkin tidak ambil segmen pasar untuk negara high income, tapi ambil segmen untuk negara berkembang yang koceknya terbatas. Meniru pola yang dilakukan China dan Pakistan, meskipun sampai sekarang tampaknya masih agak seret, tapi pola pikirnya sudah betul.
        Jadi pendanaan besar, asal diiringi studi kelayakan bisnis yang bagus, dalam jangka panjang akan balik modal dan bahkam bisa untung.

        •  

          Iya bener bung Ghi, dana, infrastruktur, kesejahteraan pegawainya, fasilitas, laboratorium, dll… 🙂

        •  

          Saya sudah bebeapa kali main ke fasilitas Lapan, dan saya kaget karena alat2nya sudah tua2 semua usianya sudah puluhan tahun, sediih gak. 🙂

          •  

            Aduh begitu ya. Itulah, pemerintah jangan ragu-ragu lagi mestinya. sedih juga dengarnya ..

          •  

            Klo begitu mari kita teriakin rame2 …he2, Jadi sepertinya kelihatannya mudah kok terasa sulit yah karna tidak adanya dana. Apa mungkin bangsa indonesia yang segede eropah keselurahan ini gak punya duit buat bantu Lapan.

          •  

            Dana pendidikan 20% tp kebanyakan baru untuk buat gedung, pagar keliling, dll yg tidak ada kaitannya dg peningkatan kualitas pendidikan, coba klau dana pendidikan lebih dikonsentrasikan ke peningkatan kualitas guru, peralatan belajar mengajar plus infrastruktur penelitan pasti kita bs cepat maju…..

    •  

      Bung @ Gue, jangan cuma dacungi jempol aja bung. Kalo bisa diacungi clurit atau pistol bung biar lbh cepat kelar projectnya! Maaf kalo terlalu bersemangat …….!

  13.  

    lanjutkan..!
    semoga impian saya melihat pesawat tempur made in INDONESIA cepat terwujud..

  14.  

    semoga terwujud.

  15.  

    Ya Allah lancarkan jalannya amin dan cepat terwujud dan siapapun pemimpinya tetap melanjutkan program ini salam thank

  16.  

    saya sangat yakin akan kemampuan engineer kita dlm rekayasa pespur, mari sama2 kita dukung

  17.  

    waduh, niat seperti ini harusnya gak usah diungkap eksplisit, dengan sendirinya akan ada ilmu yang diserap;

    …membantu terwujudnya program LFX ,KFX/IFX, dalam arti minimal kita mampu mencuri ilmu nya dari Korea Selatan…

    •  

      Dan kalau Korea Selatan mandek kita harus cari ilmu ditempat lain…
      🙂

      Hehehehehe bercanda, Ok untuk LFX sekarang itu dalam tahap Design Requirement dan Objective (DRO) telah selesai… Hasilnya diambil dari :

      1. Purpose
      2. Weight Sizing Estimation
      3. Matching Chart Sizing

      Untuk Weight Sizing Estimation diperoleh hasil :
      Berat kosong : 33544 lbs (15215.3 Kg)
      Berat penuh : 24043 lbs (10905.72 Kg)
      Maximum berat take-off : 80000 lbs (36287.39 Kg)
      Dari perhitungan weight sizing diperoleh MTOW 80000lbs (36287.39 kg), dengan ini
      untuk sampai tahap ini MTOW pada DRO terpenuhi.

      Bah setelah selesai tahap lanjutan itu Preliminary Desain dilanjutkan dengan Detail Desain nah ini kayaknya agak lama. Makanya kita butuh ToT agar tahap ini bisa selesai, lalu melangkah ke arah prototipe. Setahu saya mereka butuh pembanding dari KFX/IFX lalu ada program N-219 jadi tim lagi fokus ke N-219. Kok pembuatan prototipe 3 tahun ya :-), maaf bung Telik. Setahu saya ini program multi year, Nah tahap Preliminary Desain sampai sekarang masih dikerjakan karena kita juga butuh pembanding untuk masalah airframe. Nah airframe akan dikerjakan oleh PT. DI,dan saat ini PT. DI butuh ToT, meski basic knowledge sudah ada karena butuh pembanding. IMO

      •  

        Masyarakat harus mengawal penuh program lapan atau industri2 strategis dlm negri spy tidak mandek di tengah jalan.. spt yg kita smua sudah ketahui bkn banyak antek2 asing yg tidak ingin indonesia berubah menjadi negara yg maju..

      •  

        Perbandingan dgn yg lain :

        Normal take-off
        * F-22A: 27,200 kg
        * Su-35: 25,300 kg
        * EF-2K: 17,000 kg
        * Rafale: 15,000 kg

        Maximal Payload
        * F-22A: unknown
        * Su-35: 8,000 kg
        * EF-2K: 7,500 kg+
        * Rafale: 9,500 kg

        MTOW
        * F-22A: 28,120 kg
        * Su-35: 34,500 kg
        * EF-2K: 23,500 kg
        * Rafale: 24,500 kg

        LFX dgn mtow 36.287 kg, ? keren juga ya..kira2 kemampuan engine nya,ga jauh dari Su-35s dunx..

        •  

          Hehehehehe, bung Donnie bisa menerkanya…
          Waktu itu insinyur kita mengatakan bahwa pespur kita gak jauh dari teknologi sukhoi… Makanya kita butuh ToT biat nih barang cepat selesai, dari pada kita harus membeli sampai 4-6 skadron. Dan ToT yg kita dapat ya dari EADS itu untuk menambah basic knowledge dan self improvment. Buat bung Donnie bonusnya saya kasih ada sejenis sidewinder yg kita buat sejak tahun 2007, nah ini barang nunggu pesawatnya. Salam

        •  

          Bener bung, makanya kita butuh tambahan ToT untuk airframe dan avionicsnya… Untuk propulsi dan Avionics tenaga pustekbang masih mencari 20% ilmu itu. Mudah2an MEF program ToT-nya lancar biar bisa bikin sendiri…

      •  

        PT Regio Aviasi Industri (RAI), perusahaan dirgantara swasta yang saat ini tengah mengembangkan pesawat R80 resmi menggandeng Dassault Systemes dalam proses rancang bangun pesawat unggulannya itu. Penandatanganan nota kesepahaman ini dilakukan siang tadi (8/4/2014) di Jakarta. (Quote dari majalah angkasa)

        Salah satu puzzle TOT IFX/LFX kah?

  18.  

    Bentuknya mirip raptor yah.

  19.  

    Berita ini menguatkan hoax kemarin bahwa ada Plan B dalam menuju kemandirian Pespur nasional yang saya sebut Srikandi…tidak menunggu KFX/IFX saja..sekarang sudah jelas ya namanya LFX..sudah resmi jadi sebutan Srikandi kita ubah LFX.
    Penggunaan singgel engine itu adalah variant …analisa saya LFX juga akan mempunyai desain yang bermesin ganda..
    Semoga cepat terwujut,,,
    Dan hoax berhikmah akhirnya diberitakan,,semoga hoax kemandirian lainnya menjadi kenyataan amin

    •  

      Plan B ini mengambil kerjasama dengan apa ya bung?apa bisa benar2 murni mandiri 100%..tentunya tawaran dari Dassault dll menjadi salah satu opsi dari Plan B inj bukan?

      •  

        Yup bekerjasama dengan siapa yang menang pengganti F 5 dan memberikan TOT yang paling bagus,,memang masih ke tahap belajar menjahit dulu ,,,baru menuju ke mandiri seutuhnya,

        Tetapi juga ada kerjasama yang sudah berjalan dengan Rusia misalnya ,,dengan opsi memakai avionik sukhoi dan engine saturn
        imho

        •  

          Iya bener bung Satrio, rencana menggunakan engine Saturn, cuman karena bahaya embargo jadi proyek ini sebenarnya dibuat tertutup…

          Jadi karena bahaya embargo dirubah menjadi Untuk single Prat&Whitne t F135 dan Duble 2xAl-41F1

          Tapi yg saturn masih tetap menjadi pilihan karena mesin buatan Rusia memiliki gaya dorong yang relative lebih besar dibandingkan mesin-mesin yang sekelas yang diproduksi oleh Eropa maupun Amerika. 🙂

          •  

            Saya pilih satu mesin, supaya bisa lebih murah dan bisa lebih gampang dijual ke negara berkembang, sehingga tak perlu terlalu khawatir dengan pendanaan untuk pengembangan, karena tertutupi pada akhirnya.

          •  

            Dan rencana awal pembuatannya untuk dua mesin. Karena berkaitan dengan resiko nyawa si yg ngetest nih pesawat… hehehehehe, 🙂

            Kalau sudah selesai dan laku, nambah lagi efek dari bangsa kita terhadap negara usil. Makanya, mari kita dukung Industri Strategis Dalam Negeri.

          •  

            Ohh begitu ya .. ok, kasihan nanti yang nge test .. 🙂

          •  

            setuju dengan pemilihan engine-nya. terutama yang type single. 2 tahun belakangan memang sering pemberitaan kerja sama dengan pemerintah canada.

          •  

            sy stju dgn 2 msin, jd pgmbnganx bs ke medium-heavy, kan pespur medium-heavy lbh mhal tuh jk beli (impor) dbnding yg light, jd dr sisi ekonmi jg ini lbh baik+skligus lnsung bs mnjd pspur pnjga NKRI.

      •  

        Jumatan dulu yaa ..Yukkkkkkkkkk

    •  

      Bung Satrio, bagaimana kalau mesin tunggal. Begini alasannya. Dengan pesawat mesin tunggal, kemungkinan kita nanti bisa jual ke negara berkembang lain akan lebih mudah karena bisa lebih murah, sehingga “ketakutan” tentang besarnya biaya bisa terkurangi. Memang kelasnya akan ada di light atau medium fighter.
      Tapi bukankah medium atau light tetap bisa punya teknologi terbaru? Mungkin yang tetap kalah misalnya jumlah armament yang bisa dibawa, atau daya jelajah. Kalau kemampuan manuver mestinya tetap bisa mengimbangi ya, tergantung teknologinya juga (saya pakai analogi, mesin mobil F1 yang 1600 cc bisa lebih kencang dari yang 2000 cc, karena pakai turbo, juga bisa datang dari faktor ratio tenaga per berat kendaraan).
      Jadi logika saya, kekalahan jumlah armament bisa dikompensasi dengan memperbanyak pesawatnya. kalau si sonotan pakai satu F35, kita lawan pakai dua IFX. Kalau daya jelajah, saya kira kita punya punya “kapal induk” berupa pulau-pulau yang ada di mana-mana. .. sory kalau sotoy .. hehe

      •  

        Bisa bung Ghi,
        Kita memang sekarang butuhnya bisa jahit pesawat dulu ,kalau yang murah dan bertujuan mengganti pepsur medium sebagai workhorse maka yang diutamakan desain singel engine dulu untuk di wujutkan.
        Tetapi kita juga akan mengembangkan yang doubel engine karena untuk memenuhi pespur heavy fighter yang memerlukan kemampuan daya jelajah.

        Sementara ini penempatan F 16 yang singgel engine ditaruh dibase yang dekat dengan potensi konflik..karena kita tidak mempunyai pesawat Tanker udara yang mendukung pengisian F 16..dan heavy Fighter masih dipakai Flanker family yang unggul daya jelajah
        maaf kalau ngawur

        •  

          Nah yang menjadi penasaran dari saya ini soal engine Saturn…entah berjalan/tidak tetapi koq bisa semudah itu Russia memperbolehkan engine pespur top nya untuk digunakan dlm proyek pespur Indonesia?strategi apa coba yg dilakukan pihak RI sampai bisa seperti itu… :Peace:
          Berita ini pula yg sering dianggap pe-ngetroll sebagai :hoax2 salam

          •  

            Kalau anda tahu berarti anda bisa menelisknya dari segala potensi Indonesia
            Kalau anda tidak tahu berarti ada dua kemungkinan ,,anda orang awam yang tidak mau mencoba menganalisa,,atau orang awam yang apriori terhadap bangsa sendiri,

            Misal : jawabannya mungkin sama dengan kenapa renault akhirnya mengijinkan mesinnya dipakai oleh anoa padahal sudah tahu anoa itu ada setelah Indonesia membeli panser mereka..
            Pertama perancis tidak memberikan ijin mesinnya dipakai tetapi setelah tahu mercedes Jerman mengijinkan mesinnya dipakai,oleh anoa,,,pihak perancis akhirnya mengijinkan nya karena tidak ingin keuntungan menyediakan mesin bagi anoa dalam jumlah banyak dicaplok oleh pesaing industrinya,

            mungkin ilustrasi nya seperti itu bung dewakembar,,dan bisa dielaborasi ke potensi lainnya misal SDA,Poltik ,dll

            Karena saya orang awam maka hanya bisa menganalisa saja karena alasan sesungguhnya hanya pihak rusia dan orang dalam pemerintahan saja yang tahu,,,
            Monggo kita sama sama menganalisa bung dewakembar.

          •  

            Bung Satrio….. ada berita berita Hoax yang menarik lagi gak nih….. kangen nih ama crita bung satrio…. 😀

          •  

            apa yaa 😀
            Cerita hoax jaman Orba
            Saat ramai Mobnas dimasa Indonesia Emas 50 thn merdeka
            Saat itu untuk mnedukung Mobnas akan dibangun pabrik mobil nasional disekitar Jakarta
            Tetapi asing tahu maksut udang dibalik bakwan dibalik pendirian pabrik mobnas tersebut
            sehingga saat IMF masuk setelah ekonomi indonesia dihancurkan oleh konspirasi jahat itu ,,program mobnas tersebut ikut masuk syarat IMF agar dihentikan,,dan juga Program N 250

            Apa udang dibalik Bakwan program Mobnas tersebut ?
            Ternyata mesin mesin yang didatangkan dipabrik itu bukan untuk membuat Mobil sekelas sedan tetapi mesin untuk membuat RANPUR dan Tank,,,maka buru buru dilumpuhkan oleh asing ,,
            Ini hanya cerita HOAX saja yaa wajib tidak dipercaya ,,,

            Hikmahnya : Semangat Kemandirian alutsita saat ini juga harus dikawal dengan pertumbuhan ekonomi..dan kestabilan politik.,.,karena semua bisa akan berantakan seperti pada thn 1998,terkena krisis moneter
            Imho

          •  

            Mbah Moel cerita hoax minta yang serius hemmm …ini duarius bung hehehehe
            andaikan pembutan dag pengembangan Ranpur/Tank dalam negeri dimulai saat kita juga mengembang mobnas dipertengahan tahiun 90an

            Mungkin saat ini Teknologi ranpur dan Tank kita sudah mature/matang.
            Karena melihat roadmap kemandirian senapan SS 1 yang sekarang sudah menjelma menjadi SS 2 berbagai variant,
            Padahal program Inhan dalam negeri SS 1 dan Ranpur itu seangkatan..
            dan merujuk SS 1 berapa dana dan pengorbanan yang dilakukan pemerintah untuk bisa membuat senjata dalam negeri,

            Hoax lainnya
            Pencabutan Lisensi roket FFAR (Folded Fin Aerial Rocket) 2,75 inci dari FZ-Belgia, dikerjakan sejak 1982. karena takut Indonesia Mandiri

            Padahal saat itu Divisi Sistem Senjata di wilayah produksi PT Dirgantara Indonesia (DI). Satu dari 27 divisi di perusahaan itu ternyata jarang di perkenalkan kepada umum.
            Itu karena, pertama, sifat produknya yang terbilang ‘sensitif’, dan kedua, karena unit bisnis ini pernah menjadi unit produksi yang berlabel top secret.

            selamat berhoax ria

      •  

        ngapain ngembangin yg light hanya karena nanti klo dijual bisa lebih murah, soalnya menurut ane, apapun yg made in indonesia harganya pasti lebih murah….kan biaya man hour dsini rendah bung…..apalagi sda nya bnyk, material logam dll maksd ane…

  20.  

    Salam NKRI.
    Mohon penjelasan:
    1. Duluan mana proyek antara LFX dan IFX/KFX? Karena sangat sedikit referensi yang saya dapatkan tentang LFX, cenderung simpang siur bahkan.
    2. Alasan apa yang mendasari Indonesia bekerja sama dengan Korea Selatan dalam mengembangkan pesawat tempur Gen. 4.5. Karena secara head to head kemampuan dalam membuat pesawat Indonesia lebih bagus dari pada Korea Selatan. (Maaf kalau saya salah, asumsi ini hanya berdasarkan literatur yang saya kumpulkan.) Apakah hanya karena alasan pendanaan ?
    3. Apa yang membuat PT. DI/Lapan kesulitan membuat pesawat tempur G 4.5 sendiri (tanpa harus kerjasama dengan negara lain) Selain masalah pendanaan.

    Terima kasih. Maaf kalau pertanyaan tidak berbobot, karena ketidak tahuan saya, mohon diberi penjelasan.

    •  

      Ok saya coba sedikit menjawab sesuai yg saya tahu bung didoth…

      1. nah untuk sejarah siapa duluan saya belum tahu nih, tapi sejak dulu kita sudah selalu bermimpi punya pespur sendiri. Dan, saya rasa LFX duluan deh… IMO
      2. Iya benar, untuk pendanaan yg kecil2 aja susah contoh roket dengan anggaran R&D yg miriiis. Nah begitu juga dengan LFX ini, makanya nantinya dibuat konsorsium biar dana R&D yg kecil2 itu dikumpulin jadi banyak, seperti konsorsium pembuatan N-219. Begitu juga dengan para insinyur dan peneliti biar tambah banyak SDM-nya, tapi tetap ada kendala juga. Laboratorium dna infrastruktur belum mendukung. 🙂

      Kenapa kita bekerjasama dengan Korea, karena anggaran kita belum mampu untuk berjalan sendiri. Seperti juga kasus LFX? dalam pembuatan ini ada yg perlu dilihat anggaran, infrastruktur, SDM, perhatian pemerintah, politik, dll

      Ada salah seorang peneliti pesawat mengatakan begini, “Kalau pemerintah percaya, kami pasti bisa,”

      3. OK pertama SDM, Infrastruktur, kesenjangan terhadap peneliti/insinyur, politik, dll

      Kenapa pembuatan ini tidak bisa berdiri sendiri?? Mungkin bung Didoth bisa merangkum apa yg saya tulis diatas.

      Ada kasus, kita sudah bisa membuat KCR 60m atau 40 m, kita sudah bisa membuat kapal dengan bobot 50.000 ton, kita sudah bisa membuat kapal sejenis LPD, LST, dll. Tapi kenapa dalam pembuatan Frigate kita harus bekerjasama dengan DSNS Belanda. Jawabannya ada ilmu kita yg kurang. Nah dengan program ToT ini kita isi serap ilmu yg kurang tersebut..

      Begitu juga dengan LFX ini… Kalau mau berjalan sendiri butuh waktu yg lama dan pemerintah harus berani mengambil resiko jika gagal. Lalu butuh anggaran yg super besar, dan SDM yg selalu berkesinambungan.

      Mudah2an bisa sedikit membantu pertanyaan bung Didoth…
      Salam NKRI

      •  

        Yup Bung Jalo, salah satu kunci adalah resources sharing (penggunaan bersama konwledge, dana, SDM, peralatan, fasilitas), tentu dengan aturan main. Akan meningkatkan efisiensi dan efektivitas. Syukurlah, untuk hal-hal seperti ini sekarang tampaknya ego sektoral sudah mencair.

      •  

        Maaf bung Jalo ijin menambahkan
        Setahu saya ya bung program LFX ini resminya dibentuk setelah kita menerima kabar penangguhan KFX/IFX selama satu setengah tahun.,,
        Setelah mendengar kabar itu pemerintah langsung mengutus Lapan dan PT DI mendirikan Desain Center dan membuat LFX.
        insinyur insinyur kita yang pulang dari Korea ditampung di DCI (Design Centre Indonesia)
        meneruskan EMD Phase (Engineering and Manufacturing Development Phase)

        Ada tiga tahap dalam proyek pengembangan pesawat tempur KF-X/IF-X, tahap pertama, technical development. Kedua, engineering manufacture. Dan ketiga, pembuatan prototipe. Tahap yang ditunda adalah tahap kedua. Pada masa penundaan, pemerintah ROK akan melaksanakan Economic Feasibility Study terhadap program ini.

        Sementara itu bagi Pemerintah Indonesia penundaan tahap EMD program KF-X/IF-X selama 1,5 tahun (sampai dengan September 2014) akan berdampak terhadap rencana anggaran yang telah disiapkan pemerintah.
        Dengan adanya penundaan tahap EMD, pagu indikatif anggaran sebesar Rp. 1.1 Triliun tidak mungkin diserap sepenuhnya. Oleh karena itu pihak RI telah mengintensifkan langkah-langkah penyiapan alih teknologi dengan kegiatan antara lain Operasionalisasi DCI (Design Centre Indonesia) untuk memetakan dan mengembangkan kompetensi SDM yang telah terbentuk selama tahap TD Phase, penguatan industry pertahanan dalam negeri yang akan terlibat dalam program ini, dan Technology Readiness (kesiapan teknologi).

        Jadi yang tanya dana nya dari mana terjawab dengan uraian diatas
        maaf kalau ngawur

        •  

          Siap terima kasih Bung Satrio sudah dibantu, maaf kalau saya ada kesalahan ya. Sejarah terbentuk LFX ini saya belum dapat infonya.

          Untuk dana pagu indikatif Rp. 1.1 Triliun kalau gak salah itu masuk dalam anggaran 2013 ya bung? saya pernah baca tentang Surat Menhan Nomor: B/264/II/2012 tanggal 28 Februari 2012 tentang Revisi Rancangan Awal Pembangunan Pertahanan Negara tahun 2013. Ternyata alokasikannya kesitu ya bung.

          Terima kasih untuk informasi sudah ditambahkan dan dikoreksi bung.

    •  

      Terimakasih pencerahannya om @Jalo, @Satrio dan @ghi.
      Di sini saya menarik kesimpulan awal hal tersebut terjadi karena masalah pendanaan (yang berbanding lurus dengan beberapa hal lain) dan bisa saya asumsikan SDM bukan kendala utama.

      Kalau boleh nih sekalian dong beri pencerahan tentang Gendiwa Project (maaf out of topic)

      1. Apa kabar dengan Gendiwa ? Berhentikah ?
      2. Kebijakan apa yang mendasari pemerintah/TNI lebih mengedepankan (sepertinya, menurut dugaan saya) proyek Fighter Jet ketimbang Helikopter Serbu.

      Karena menurut saya :
      1. Mengembangkan helikopter serbu lebih cepat terbang dari pada mengembangkan fighter jet.
      2. Menurut yang saya baca, helikopter serbu sekelas Apache mampu berantem melawan fighter jet, tergantung gembolan yang dibawa.
      3. Ketika kita sudah menguasai teknologi gembolan dan piranti pendukung yang dibawa Gendiwa, tentunya bukan hal yang sulit untuk menerapkan ke fighter jet, disini kita tinggal mikir aerodinamis untuk proyek jet tempur kita.
      4. Dari sisi ekonomi, kita lebih bisa menjual helikopeter serbu dari pada jet tempur.
      6. Belajar dari Anoa, saya kira itu adalah langkah yang tepat kita belajar membuat panser dan mengembangkannya dari pada kita pada saat itu langsung belajar membuat main battle tank. Saat kita sudah bisa menggunakan bahkan menjual Anoa.

      Terimakasih, maaf sekali lagi, saya benar-benar awam dalam hal ini.
      (sambil nyruput kopi sore, selamat ngopi saudara-saudara sebangsa dan setanah air)

  21.  

    Nyimak

  22.  

    klo liat rancangan pesawatnya masih sekitar genre 4,5. mudah2an bisa di kembangkan ke genre berikutnya,

    klo boleh tau trmasuk jenis medium fighter atau heavy fighter?

    cos lebih panjang dan lebih lebar 4 meter dari rafael ( Panjang: 15,27 m, lebar sayap: 10,80 m)
    dan lebih panjang dan lebih lebar 3 meter dari typhon : ( Panjang: 15.96 m, Lebar sayap : 10.95 m)

    tapi lebih pendek 3 meter dan lebih lebar +1 meter Panjang dari su 35 : (21,9 m Lebar sayap: 15,3 m)

  23.  

    Assaamualaikum wr.wb
    menurut saya ada yang menarik dalam pengembangan KFX/IFX 201
    http://alternathistory.org.ua/proekt-istrebitelya-pyatogo-pokoleniya-kfx-yuzhnaya-koreya-i-indoneziya
    di sana di sebutkan bahwa ada skandal mata-mata mengenai desain 201 yang di curi oleh SAAB dan di gunakan sebagai proyek pesawat siluman
    http://robotpig.net/aerospace-news/saab-new-stealth-fighter-program-_1827
    pakai google translate 😀
    maaf oot kalau salah ya maaf 😀

  24.  

    Kemandirian riset indonesia harus segera dilakukan, sebagai alternatif kalau korea menghentikan lagi program KFXnya. Dana riset sebetulnya bisa diambil dari anggaran pendidikan yg sangat banyak itu, bila setengahnya saja saya rasa indonesia sudah bisa menjadi negara maju daripada sekarang penggunaan dana pendidikan tersebut sgt kurang produktif.

    Mulai sekarang program pengembangan IFX hrs segera difokuskan jgn berganti design lagi, walaupun perlu digunakan plan A dan Plan B tapi harus segera dituntaskan kalau tidak proyek ini akan terjadi keterlambatan.

    •  

      Kalau untuk riset sih bagus bung, tapi kalau sampai setengahnya dana pendidikan dipakai, lalu nasib anak bangsa yang ortunya tidak mampu gmana bung @subzero?… Sekarang aja dengan dana yang menurut anda “sangat banyak” itu, faktanya masih ada anak bangsa yang tidak bisa sekolah dengan alasan tidak ada biaya…
      Kita kan nggak tau mungkin saja teknologi super dimasa depan saat ini sedang tersimpan di dalam otak anak yang sekarang ini tidak seberuntung kita untuk dapat menimba ilmu disekolah…. Semua negara maju di dunia setau saya memulai dari peningkatan kwalitas pendidikan dulu sebelum menuju riset.
      Maaf cuma pendapat pribadi yang miris dengan pendidikan di Indonesia.

      •  

        20% dari APBN adlh sgt byk bandingkan dgn dana militer kita yg kurang dari 1% dari APBN. Kondisi skg krn dari dana tsb belum byk tersalurkan krn msh belum siapnya lembaga pendidikan merencanakan pendidikannya dan membuat program pendidikan

        •  

          Yups 20%,, sangat banyak dan ternyata belum mencukupi….
          Saya juga berharap anggaran untuk pertahanan idealnya dinaikan hingga 2,5% jika melihat situasi keamanan yang dihadapi indonesia saat ini,, namun apa tidak berlebihan jika harus mengorbankan hingga setengah dari dana pendidikan..,,
          10% itu idealnya untuk kondisi perang,, dan saya tidak berharap suatu saat nanti indonesia terpaksa menganggarkan 10% untuk pertahanan…
          Maaf bung lagi2 saya berbeda pendapat,

  25.  

    Kendala utama selama ini tampaknya dana. Pemerintah mendatang harus kreatif, yaitu memberi perhatian lebih dengan meningkatkan dana bagi pengembangannya, sekaligus merencanakan bisnis (business plan) pesawat tempur.
    Gagasannya, kalau sudah produksi bisa juga dijual ke negara lain. Jadi misalnya, kita tetap pakai yang versi premium, tapi juga dibuat versi yang lebih murah, untuk dijual ke negara berkembang lain. Kita mungkin tidak ambil segmen pasar untuk negara high income karena persaingannya tajam sekali, tapi ambil segmen untuk negara berkembang yang koceknya terbatas, meniru pola yang dilakukan China dan Pakistan, meskipun sampai sekarang tampaknya masih agak seret, tapi pola pikirnya sudah betul.
    Jadi pendanaan besar, asal diiringi studi kelayakan bisnis yang bagus, ibarat sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Kalaupun tidak untung, paling tidak kita jadi punya dana tambahan untuk riset-riset lanjutannya/produk lain. Dengan bahasa sederhana, kalau bisa dibiayai orang lain (bukan utang), kenapa tidak? Untuk itu memang diperlukan kreativitas dan ketekunan.

    •  

      @bung ghi,
      sebenarnya pemerintah sudah memulai terobosan dengan bekerjasama dengan Universitas Surya untuk kerjasama penelitian. Cara ini lebih hemat dan cepat karena SDMnya sdh ada (peneliti) dan pemerintah tinggal menyiapkan dananya untuk kemudian memakai hasil penelitannya, daripada memulai semuanya sendiri dari awal melalui Balitbang.

      tanpa mengurangi rasa hormat, Balitbang-pun masih memiliki keterbatasan sehingga mereka juga sering bekerjasama dengan pihak swasta (Rantis 6×6 peluncur R-han dgn PT Alam Indomesin Utama, peledak dan detonator live-bom pesawat Sukhoi P 100-120L dgn PT Sari Bahari, pembuatan rompi tahan peluru level-III A dgn CV Fajar Indah, LCU dgn PT. Tesco Indomaritim)

      dalam industri militer idealnya terdiri dari tiga unsur yaitu user (militer) sebagai pihak yg membutuhkan sesuatu, universitas yg memasok peneliti dan pabrik sebagai bagian produksi. Tapi sayangnya sampai sekarang ini di Indonesia belum ada koordinasi antar tiga unsur tersebut bahkan malah risetnya saling bersaing. bandingkan dengan di Amerika melalui DARPA yg berisikan peneliti militer yg kemudian ketika sudah menentukan proyek yg akan dicapai akan menggandeng universitas untuk memasok peneliti dan setelah dinyatakan layak produksi pemerintahnya akan menggandeng swasta untuk ikut tender produksi. atau bandingkan pula dengan di Rusia & China, disana terdapat biro desain yg jg menggandeng universitas untuk memasok peneliti, setelah proyek dinyatakan layak produksi pemerintah menunjuk pabrik untuk memproduksinya.

      •  

        Bung Bang Ed, iya untuk PTAIU dan yang lain sudah mulai meningkat tampaknya.
        Yang ingin saya katakan bahwa mestinya tidak perlu terlalu kuatir dengan dana riset yang besar. Salah satu cara adalah adanya rencana bisnis dan penghasilan dari paten, di ujung riset-riset itu. Jadi road map nya mesti kokoh.
        Ya istilahnya menghasilkan teknologi tepat guna. Bahkan riset murni pun, jika perlu ada skenario road map hingga menghasilkan kemungkinan teknologi tepat guna.
        Jadi integratif.
        Salah satu masalah memang begitu banyak lembaga riset di sini, membuka peluang besar redundancy, dan itu tidak efisien.
        Tugas pemerintah menatanya, sehingga bisa terjadi resources sharing dan complementary output agar efisien. Dengan kata lain, jika redundancy baik resources dan output bisa diminimumkan, maka dana yang sama bisa dihasilkan jumlah riset lebih banyak.

  26.  

    Kalau buat gambar desain sich oke. Yang lebih susah buat coding untuk control systems nya. Saya sich sangat berharap periset kita dapat membuat airframe nya dr carbon atau yg lain bukan dari aluminium. Hu…hu… Pengen riset material lg.(Nangis.com)

  27.  

    Bangsa ini dalam segala hal ga akan bisa mandiri kalau cuma ngarepin pemerintah dan apbn nya.

    Bisa, kalau sudah ada badan swasta yg terorganisir sebagai pelopornya. Coba kalau lfx/ifx di swastakan saja. 2015 pasti sudah keluar barangnya di glodok.

    Android canggih masih dipirkan penciptanya sudah keluar bajakannya.

    •  

      Swasta yang diluar pemerintah juga banyak membuat karya2 strategis bung, ada teknologi radar, avionics, kapal, pesawat (masih komersial), dll. Dan rata2 pengembangannya tidak menggunakan duit pemerintah. 🙂

      Kalau R&D itu menurut saya masih membutuhkan pemerintah karena ini membutuhkan anggaran besar bung. Dan PT. DI sendiri itu ngutang loh dalam pengembangannya melalui PMN, nanti dibalikin lagi duitnya bung. Ini masuk dalam investasi, begitu juga dengan PT. Pindad, PT. Len, PT. Pal, dll. 🙂

  28.  

    Masalahnya swasta lebih tertarik membangun kondomium, sawit, pabrik, yg multitrilion buat orang cina dan penjajah lainnya di indonesia

    •  

      tidak masalah bung,
      masing masing menyesuaikan dengan kemampuan dan bidang bisnisnya, yang penting demi kemajuan bangsa

      ibarat rumah, ga mungkin lah kehidupan sehari-hari hanya berkutat masalah belajar dan mengasah golok saja 🙂

      maaf, komen ngawur

    •  

      1000ampun saudaraku… Arah saya bukan kesana … Tetapi kepada realitas yg lebih dalam… Kita saudara… Tapi mereka belum..

    •  

      [email protected]

      maaf,sepertinya anda salah satu dari korban propaganda,atau agen propaganda. 🙂

    •  

      Beberapa Perwira TNI berdarah Tionghoa :
      1. Letnan Jenderal TNI Kuntara
      2. Brigadir Jenderal TNI Teguh Santosa (Tan Tiong Hiem)
      3. Mayor Jenderal TNI Iskandar Kamil (Liem Key Ho)
      4. Brigadir Jenderal TNI Teddy Yusuf (Him Tek Ji)
      5. Mayor Jenderal TNI Bambang Soembodo
      6. Marsekal Pertama TNI Ir Billy Tunas, MSc
      7. Brigadir Jenderal TNI Paulus Prananto
      8. Laksamana Pertama TNI FX Indarto Iskandar (Siong Ing)
      9. Mayjen TNI dr Daniel Tjen, SpS
      10. Kolonel Surya Margono alias Chen Ke Cheng (Tjhin Kho Syin)

      Pahlawan Nasional : Laksamana John Lie

      Tambahan : Di rumah Djiaw Kie Siong, naskah proklamasi dipersiapkan dan ditulis. Sukarno dan Muhammad Hatta diinapkan dalam peristiwa Rengas dengklok sehari sebelum kemerdekaan.

    •  

      Siapp salah bung Sarkem 😀
      Saya sudah mengawali diskusi di thread Dicari presiden penjaga alutsista asli Indonesia.,
      Dan respon koment dari Warjager sangat mencerahkan dan mencerdaskan buat pembaca sekalian
      Ditambah kontribusi artikel oleh Bung Yayan ,bung Jalo dan bung bung lainnya sehingga jiwa nasionalisme disini terangkat,,

      Membuat artikel kewiraan yang cetar membahana dan merasuk sukma itu harus puasa mutih dulu tujuh hari :mrgreen: sehingga timbul jiwa yang bening sehingga ide bisa mengalir dengan lancarnya,
      Saat ini masih kebayang “enak jamanku itu” lho sehingga belum bisa puasa mutih 😀
      (ini yang cepet ngerti maksutnya biasanya bung Now )

      Tapi koment saya masih banyak kok yang nyenggol kewiraan bung sarkem
      soo Jangan Kawatir..aku ra popo

    •  

      sama sekali tidak masalah bung, mereka menciptakan ratusan ribu bahkan mungkin jutaan lapangan kerja dan negara memungut pajaknya.

      menurut anda AS punya anggaran militer sekian kali lipat china itu dari mana jika bukan dari hasil pajak sektor swasta?
      uni soviet runtuh apa bukan karena tidak punya kelas pengusaha swasta yang tangguh, hanya bumn korup?

      wawasan anda hanya ras, selain itu (no comment deh)…

  29.  

    Persoalan R&D dan berbagai penelitian di Indonesia sekarang ini adalah bukan masalah dana, dan kedepan mudah-mudahan, minimal di forum para warjager ini, tidak ada lagi keluhan masalah dana.
    sebagai mana komen-komen saya dan rekan yg lain mengenai pendanaan dan sumber dana terdahulu.

    MASALAH DANA ATAU ANGGARAN KHUSUNYA MILITER DAN PENGEMBANGANNYA, KITA ADALAH TERBESAR DI KAWASAN INI. DAN MUNGKIN SEBENTAR LAGI SEPULUH TERBESAR DIDUNIA.

    Masalah kita adalah :;

    1. Kita tidak percaya pada produk, atau hasil karya, teman sendiri, orang kita sendiri. Ngg usah bicara produk anak bangsa deh, karna itu pasti ngg masuk dalam hitungan mereka.
    2. Kalau ada dana masuk atau dana segar, pastilah yg diutamakan, pikiran sendiri, enaknya duit ini saya apain ya. jadi ngg mikir orang yg jauh walau sangat butuh. klu bicara proggram yg udah lama direncanaain atau udah program yg udah mateng. “maaf saja yaa itukan program si Anu udah ngg kepake kita ganti aja”. atau “ahh jangan deh nanti yg dapat nama dia lagi. terus kita gimana”
    3. Wah ini ada dana lebih ini, kita buat poryek apake biar bisa diduitin. peduli setan dengan peralatan nya LAPAN yg sudah jadul.
    4. Dll – dll.

    Lalu yg kita salahkan Pemimpim, presiden, menteri, atau DPR,,,, ….. !!! ngg usah deh kita salahkan diri kita dulu, lingkungan kita, teman kita dan saudara kita. kita mulai dari sini dulu.

    Dengan demikian saya sangat berharap perubahan terkecil yg kita mulai dari diri kita sendiri akan merubah lingkukungan kita instansi kita, yg pada akhirnya akan merubah semua budaya, kebiasaan yg tidak baik bagi msyarakat indonesia menuju lebih baikkk aaaaammmmiiinnn !!!!!.

    Akibat nya kita akan sangat menydadari jika kita kebagian yg dipercayakan mengelola dana, walaupun kita, tempat kita, institusi kita, dept kita ada kebutuhan juga. tapi kita bisa mengalah karena ada intstitusi lain, dept lain dan ada tim lain yg lebih membutuhkan.

    JAYALAH INDONESIA

    Thanks.

  30.  

    Ini saya kasih foto road mapnya…
    Mudah2an membantu…

    http://lookpic.com/O/i2/860/2rMudcLR.jpeg

  31.  

    I think bleeding process nya tidak seperti diatas.

    Too many infringements yang harus dilewati Indonesia dalam memproduksikannya apalagi dijadwal untuk dijadikan stop-gap bagi pesawat yang lebih gress.

    Kenapa saya katakan demikian? PT DI maupun industri strategis di Indonesia masih belum memiliki kemampuan untuk memproduksi highly advanced support material. Bukan saya mau mengecilkan, tetapi banyak Industri strategis kita hanya memiliki mesin produksi yang sudah uzur.

    Ditambahlagi, Indonesia dari dulu selalu ingin bersifat “instant” tanpa mau bersusahpayah dan invest dalam solid RnD. Padahal tujuan RnD adalah sebagai leverage bagi lompatan berikutnya. Sehingga redudancy tidak terulang, misalnya ToT hal hal yang sama yang hanya buang buang waktu dan biaya.

    Dulu ada salah satu rekan yang menyarankan untuk menyatukan lembaga penelitian yang akan meneliti tidak hanya procurement tetapi juga utilitas alutsista terhadap iklim dan situasi di Indonesia. Jadi tidak asal beli seperti kapal kapal ex Jerman Timur jaman pak Habibie yang sebenarnya tidak cocok dengan litoral Indonesia 🙂

    Indonesia butuh suatu lembaga kajian strategis yang mandiri dan solid seperti DARPA.

    Tabik,

    •  

      Setuju sekali Bung Brotosemedi .
      Ambil contoh pabrik mobil, ada industri lokal yg perlu disiapkan, jok, roda, ban, aki, plat baja, wiring, instrument, lampu dst. nya. Coba diaplikasikan ke pes pur.

      Bukan saya anti ToT, saya bangga sekali kita sdh punya pabrik pesawat, kapal, panser, senjata, amunisi, mesiu, dan nanti radar/ elektronika dst. nya. Jadi tk jahit dengan sekian persen bahan jaitannya lokal sudah diatur di UU, tapi bagaimana implementasinya? Ada nggak bahan lokalnya? Kalau belum, siapa yg bisa buat, dan butuh bantuan/ fasilitasi/ biaya berapa? Dulu sy dengar, AL kerjasama dgn lokal buat aki ks, ini bagus, seharusnya dikordinir, jangan biarkan dangdutan sendiri.

      Biaya dapat dicari tapi waktu kalau sdh hilang tidak dapat diganti lagi. Setuju RND sangat perlu tapi mesti terarah, siapa yg bertanggung jawab ya kalau alutsista tentunya KemenHan, salah satunya melalui semacam DARPA. DARPA ini strategis sekali, tapi harus diingat jangan sampai diberangus oleh birokrasi, jadi konsepnya mungkin semi independent atau apalah silakan dipikir.

      •  

        Untuk material khusus kita sudah berjalan bekerjasama dengan posco Korea Selatan, tahun depan mudah2an sudah bisa beroperasi….

        •  

          Mas Jalo,
          Yang posco itu kan kerja sama antara INA dan ROK dalam pengadaan steel. Yang saya maksud adalah industri hulu yang dapat dijadikan support bagi industri strategis di Indonesia. Contoh kongkrit, misalnya untuk membuat pesawat, siapa nanti yang membuat baut cor yang memiliki presisi tinggi dengan tingkat surface-stress tertentu? Ini baru baut dan mur, belum lagi yang lainnya. 🙂

          •  

            Terima kasih bung Brotosemedi, atas koreksinya…
            Sebenar pertanyaan saya itu ditunjukan kepada bung Antonov… Ok bung memang sekarang Industri huliu kita belum sinergi dengan industri pertahanan atau litbang2 kita. Yah kita maklumi bung, akibat campur tangan negara tempat anda bekerja yg membuat membuat industri hulu mati suri dan belum bangkit sepenuhnya.

            Alhamdulillah sekarang Presiden membentuk KKIP yg bisa mengawal industri pertahan dalam negeri hingga tahun 2029. Kita maklumi KKIP ini baru dan terus belajar agar bisa sempurna. Ada empat tahap yg sudah disiapkan KKIP yaitu pertama, 2010-2014, lalu 2015-2019, 2020-2024 dan 2025h2029. Di 2010-2014 ini KKIP mencanangkan empat program strategis, meliputi penetapan program revitalisasi industri pertahanan, stabilisasi dan optimalisasi industri pertahanan, penyiapan regulasi industri pertahanan dan penyiapan produk masa depan.

            Untuk mengawal industri dalam negeri maka dibuatlah UU no 16 tahun 2012. Kita tahu UU yg dibentuk ini masih baru, dan butuh waktu agar UU bisa terealisasi dengan sempurna. Dan tahun ini inhan mulai menerapkan kelayakan komponen lokal karena pemerintah mulai melirik komponen lokal dengan memberikan dana segara untuk R&D maupun ToT. Meski dananya belum sempurna, tapi perhatian sudah mulai ada.

            Untuk pertanyaan —-> “industri hulu yang dapat dijadikan support bagi industri strategis di Indonesia. Contoh kongkrit, misalnya untuk membuat pesawat, siapa nanti yang membuat baut cor yang memiliki presisi tinggi dengan tingkat surface-stress tertentu? Ini baru baut dan mur, belum lagi yang lainnya.”

            Ok di negara kita sudah memiliki namanya Pusat Teknologi Penerbangan Lapan, untuk R&D mungkin disini tempatnya yg selalu bekerjasama dengan litbang2 lainnya. Saat ini ada pengembangan bersama namanya itu Jet Latih “NOVA” yg pengerjaan prototipenya sudah hampir final.

            Dari sini membuktikan bahwa PT. DI ingin maju kedepan, dengan mengembangkan pesawat tempur. Kedepepan kalau kita benar dapat ToT, ini bukan hanya PT. DI yg belajar tapi juga tim Litbang TNI atau Kemenhan, BPT, Pustekbang, Universitas2, dll. Dan setelah belajar nanti kan KKIP tinggal menyusun konsorsium pesawat tempur nasional. Sekarang kita masih mencari ilmu yg beberapa persen belum kita bisa.

            Contoh kasus pembentukan konsorsium pesawat N-219, ini bukan hanya Lapan dan PT. DI, ada beberapa BUMNIP lain yg terlibat seperti PT. Len, KS, dll…

            Saya cuman sedih aja bung Brotosemedi, melihat orang yg pesimis dengan pengembangan dalam negeri. Contoh kasus gimana dalam negeri Amerika sangat mendukung program F-35 yang pengembangannya lama dan menghamburkan banyak anggaran. Padahal diluar Amerika seperti teman2nya atau negara lain beranggapan bahwa ini pesawat “gagal”.

            Nah ini negara kita baru mau mengembangakan pesawat tempur dalam negeri sudah galau. Lalu mengkaitkan-kaitkan dengan pesawat super stroong yang didalam negerinya aja diperuntukan untuk stop-gap.

            Terima kasih…
            Salam hormat untuk bung Brotosemedi dengan bung Antonov

          •  

            Jolo says: Ok bung memang sekarang Industri huliu kita belum sinergi dengan industri pertahanan atau litbang2 kita. Yah kita maklumi bung, akibat campur tangan negara tempat anda bekerja yg membuat membuat industri hulu mati suri dan belum bangkit sepenuhnya.

            Saya kira disinilah salah kaprahnya mas Jolo. Seyogyanya kita jangan langsung menyalahkan negara lain kalau kita sendiri belum bisa. Karena inilah kendala yang membuat kita bisa maju tanpa menyadari kekurangan dan keterbelakangan kita. Seharausnya kita legawa dan belajar dan bukan buruk muka cermin dibelah.

            Saya sudah melihat kecenderungan di industri strategis kita mas, semua tehnologi dan riset sebenarnya sudah mendukung, hanya beberapa gelintir orang jadi tidak suka kalau kita mandiri, karena procurement prospect menjadi hilang. 🙂
            Litbang di Indonesia seharusnya merupakan lembaga mandiri yang tidak bisa “didikte” demi keuntungan finansial.

            Itu sebabnya ide ide brilyan dari ilmuan kita hanya ditampung dan diolah sampai sebatas maket/alat peraga saja yang dibanggakan sebatas pameran/expo.

            Belajar dari kasus Habibie/Nurtanio. Pesawat yang dibuat untuk sekelasnya terlalu overqualified. Digital avionics, fly by wire dll, akibatnya tidak ada yang beli karena ongkos kemahalan untuk pesawat sejenis. Kenapa TNI dan pasar dalam negeri saja tidak tertarik seperti yang diproyeksikan? Aneh to?

            Tabik.

      •  

        Excellent pak Antonov,

        Great minds think alike…. 🙂

    •  

      Pandangan yang menarik bung Brotosemedi, hanya saja suka atau tidak Indonesia memang tertinggal “banyak” tahun dalam teknologi industri militer. Mengalihkan sepenuhnya dana yang digunakan untuk mengejar Tot kedalam RnD nasional itu sama dengan memulai dari nol. Selain sama-sama butuh biaya besar tapi juga memakan waktu yang jauh lebih lama untuk mengejar ketertinggalan teknologi. Permasalahannya, masa damai di kawasan regional saat ini hanyalah api dalam dalam sekam, tinggal menunggu waktu saja untuk membesar. Jika Indonesia membuang terlalu banyak waktu dalam RnD (hanya demi harga diri sesaat) ditakutkan dikemudian hari kita hanya akan menemui kata “terlambat”. ToT dalam hal ini adalah untuk mengejar ketertinggalan teknologi dengan melakukan “lompatan teknologi”.

      Namun memang idealnya dana yang dialolasikan untuk RnD seharusnya bisa lebih besar dari sekarang, agar rencana kemandirian nasional tidak berjalan pincang tertatih tatih (tabah sampai gol). Hanya saja skala prioritas menunjukkan timeline datangnya ancaman lebih dekat daripada waktu yang dibutuhkan bagi RnD untuk menelurkan hasilnya. Maka cara tercepat mengatasi hal tersebut adalah dengan belanja alut sista sembari berburu ToT + berdampingan menjalankan program kemandirian nasional. Jadi ini bukan sekedar keinginan instant, melainkan pemikiran logis yang dipertimbangkan dengan matang.

      Salam

      STMJ

      •  

        @mas STMJ,
        Memang benar, RnD adalah solusi yang membutuhkan jangka multi-stages dibanding ToT. Yang saya maksud adalah pemikiran RnD dalam 2 dasawarsa kebelakang seyogyanya sudah dimulai. Seperti pelari marathon jarak jauh, dalam etape panjang memang terlihat lamban, tetapi begitu memasuli fase final, kecepatannya ter-akselerasi.

        Kita lihat misalnya China, dalam 2 dasawarsa kebelakang pertumbuhan tehnologi China sangatlah lamban, coba bandingkan dalam 3 tahun belakangan ini, terlihat banyak lompatan tehnologi. Inilah kunci RnD. Jika postulatnya sudah dikusasai minimal 70 persen, akan mendukung lompatan lompatan di bidang lain yang saling kait berangkai.

        Berbeda dengan ToT yang mana hanya spesifik dalam bidang tersebut. Istilahnya besaran moment dan vektornya terbatas. Sebaliknya RnD justru membuka pintu peluang yang bersinggungan dengan bidang tersebut.

        Tapi itu kembali kepada kita sendiri, yang penting adalah kemauan.
        Selama ini khan yang menjadi trend adalah “proyek mercusuar” yang sebenarnya tidak tepat guna. Karena kita dapatnya secomot disini dan secomot disana. Begitu sudah berkeinginan membuat selalu kandas hingga tahapan maket/model tidak lebih.
        That being said, because kita lebih senang instant.

        Tetapi saya setuju dengan rethorik anda, duite sopo? Bondhone kumpeni? 🙂

        Tabik,

        •  

          Setuju lagi Bung Brotosemedi, pemikiran/ cara pandang yg excellent.
          Beda kayak saya banyakan makan mie instant he he he.
          Salam hormat.

        •  

          Bung Brotosemedi, RRC mengeluarkan biaya yang “sangat” tidak sedikit dalam proses pengembangan teknologi kemiliterannya. Dan perlu dicatat sebagian besar teknologi itu bukanlah hasil cipta karsa RRC, melainkan hasil dari ToT sana sini, membeli desain RnD sana sini dan jipklak sana sini. Lalu sembari belajar sana sini dan comot sana sini mereka kemudian mengembangkan beberapa yang made in China dari hasil RnD-nya sendiri. Apa yang mereka kumpulkan dengan comot sana sini itu berlaku sebagai landasan pijak “proses belajar” untuk melompat lebih tinggi dan kemudian berakselerasi. “Proses” yang sama juga sedang dilakukan oleh Indonesia hanya saja dengan budget yang disesuaikan dengan dompet mbak Pertiwi karena cak kompeni sudah pulang 😀 .

          Secara pribadi saya lebih setuju dengan kemandirian nasional bahkan sangat mendukung, hanya saja dengan segala keterbatasan yang ada saat ini. Sekiranya bagaimana mencapai target / tujuan yang paling mungkin dicapai terlebih dahulu, sekedar berusaha realistis. Kemandirian nasional bukan utopia, tapi untuk menuju kesana membutuhkan proses. Dan karena Indonesia tidak memiliki segala ilmu dan pengalaman yang dibutuhkan untuk itu, kita tidak dapat dengan serta merta hanya mengandalkan hasil dari RnD sendiri. Optimis dan percaya diri boleh, asal tidak kelewatan saja 😉

          Pondasi telah dipersiapkan oleh pemerintah saat ini dan sebentar lagi tongkat estafet akan diserah terimakan. Tinggal pada pemerintah berikutnya apakah akan melanjutkan membangun pondasi itu dan kemudian berlari ataukah hanya akan jalan-jalan cantik saja seperti biasanya. We’ll see,..

          Salam,

          STMJ

          •  

            Mas STMJ,
            Kalau kita mundur sedikit kebelakang 3 dasawarsa (30thn) lalu. Sudah banyak procurement yang kita dapatkan dilengkapi dengan ToT/technical know how. Coba dianalogikan secara berbanding lurus, jika kita melakukan RnD. Sekarang kita sudah bisa berendeng dengan konsorsium eropa dalam memproduksi barang barang strategis.

            Kenapa kok selalu ToT? Karena alasan yang selalu dihembuskan oleh yang punya uang adalah: uang tidak cukup, butuh tenaga ahli dari luar yang mahal dan lain lain. Yang intinya kita tidak DI INGINKAN untuk maju. Karena kalau kita mandiri, tidak ada kantung kantung yang lining up terisi hard-cash akibat procurement. Betul tidak? 🙂

            Pak Habibie beserta rekan rekan, mau pulang ke Indonesia karena dijanjikan oleh pak Harto untuk dibuatkan lembaga penelitian mandiri semacam laborat tehnologi terapan untuk RnD.
            Jadi dia pulang bukan karena tertarik menjadi Dirut BPPT atau menteri.

            Setelah bayi hasil kerja sama Casa, IPTN dan MBB Messerschmidt kelihatan ujudnya dan dijadikan “proyek mercusuar”, pak Habibie ditendang ke atas menjadi menteri sekaligus beberapa jabatan sekaligus supaya beliau tidak punya waktu lagi menjalankan RnD.
            Silakan dipikir masing masing, beliau adalah Tehnokrat dan bukan politikus.

            Ini menunjukkan bahwa:

            1. RnD itu sebenarnya tidak mahal dan biayanya bisa tenggang renteng antara pemerintah, swasta dan lebaga pendidikan/Univ.
            Lain dari ToT yang hanya dan hanya jika (if and only if) making procurement.

            2. Anda benar, China dapat dari sana dan sini ToT maupun hasil KW. Tetapi toh semuanya tidak dapat digabungkan (tailored-up) jika China sendiri tidak melakukan Reversed Engineering yang didapat dari internal RnD bukan?

            3. Dompet ibu pertiwi sebenarnya tebal, hanya dibuat agar diyakini (perceived as) bahwa kita modal tipis. Lha itu uang total hasil korupsi saja sudah melebihi anggaran GBHN kok. Apalagi neraca barang dan jasa Indonesia saat ini meningkat, ditambah lagi dari pendapatan pajak. Lha uangnya pada kemana?

            Kemandirian Indonesia bukan hanya proses. Tetapi juga harus merubah total perilaku dan scope tujuan. Yang penting adalah komitmen dari pemerintah dan supremasi hukum yang sah. JIka syarat ini sudah terpenuhi, saya yakin, kita tidak akan mbulet terus jika ditanya tentang tehnologi strategis dengan alasan finansial.

            Tabik,

  32.  

    Kemandiriaan Beralutsista butuh waktu yg panjang mkax Step by Step..Hanya perlu dorongan,motivasi,serta peran Pemerintah & Rakyat dlm memacu industri2 strategis agar bs berdikari & sepadan dg Bangsa maju lainx..Hal ini akan mendorong terciptax Industri2 Lainx di dlm negeri sperti mobil,kereta api,serta produk2 elektronik lainx..Adlh Kunci Negara Kita bs Maju Amin..Amin..Jaya Indonesiaku..Inti Berharap Kita sprti Japan & Korea Selatan…Maaf jika da clh…

  33.  

    Lapan memang harus luwes dan membantu meningkatkan minat belajar ilmu angkasa dan wahana angkasa,maupun luar angkasa dan wahana luar angkasa bagi rakyat indonesia .Lapan harus bertanggungjawab meningkatkan minat dan kontribusi masyarakat yang berpengetahuan dan berindustri terkait angkasa dan luarangkasa tanpa harus sejalan dengan ideologi Lapan atau ideologi regim penguasa negeri ini Agar kita bisa menjadi bangsa yang “wajar” sebagaimana bangsa lain dalam mengelola teknologi dan sumberdaya manusia..Ayo majukan terus teknologi peroketan.http://www.nasa.gov/pdf/427652main_PMC_2010_Pech_Russian.pdf ,majukan kreatifitas,http://www.wmo.int/pages/prog/arep/wwrp/new/documents/SEE.Abshaev_M_Russia.pdf , Majukan persatelitan http://www.f1fanatic.co.uk/2014/01/23/satellite-image-russian-grand-prix-track-taking-sochi-f1/ dan http://swfound.org/media/167224/Through_a_Glass_Darkly_March2014.pdf

  34.  

    nymak…

  35.  

    buat [email protected] alangkah baik nya jika ilmu bung yang tingi di gunakan dan di tularkan kepada bangsa sendiri,dari pada bekerja di USA.. karena bangsa indonesia banyak membutuhkan ahli ahli seperti bung..
    untuk masalah projek LFx dan hubungan nya dengan KFX/IFX akan lebih bagus jika [email protected] bisa bergabung,sehingga kami kami di sini bisa “belajar” dari bung yang sangat pinter dan jenius ilmu pesawatnya..
    bagaimana bung? anda tertarik kembali ke indonesia dan mari kita bekerja sama demi kemajuan bangsa,

    •  

      ah [email protected] bisa aja,, situ kan komandan saya,,baru mau lapor ni ndan..saya cuma ofice boy yang curi curi ilmu dari [email protected] dan sesepuh JKGR ini,jadi malu saya deh,

      laporan selesai,, ijin pulang ndan..! den karung nya udah nunguin tuh

    •  

      @bung Telik Sandi,
      Seperti yang bung Jalo cantumkan link nya.

      Dari dulu hingga sekarang, salah kaprah rakyat Indonesia bahwa anggapan tenaga ahli Indonesia sangat kurang adalah keliru. Yang sebenarnya adalah :

      1. Komitmen support pemerintah dan supremasi hukum belum jelas.
      2. Sarana dan prasarana sebagai wadah para ahli ini kalau repatriasi.
      3. Leverage sustainment of technology sangat kurang. (support of research Universities).
      4. dan banyak lagi.

      Artinya, menjawab penyataan anda sebenarnya bukan terletak pada para ahli untuk MAU PULANG apa tidak. Saya yakin masih banyak yang patriotis dan mau pulang. Tetapi setelah pulang mau ngapain? Mau riset ini dan itu selalu terhalang ABS, uang penelitian dikebiri melulu, tidak ada recognition atas usahanya, dll. Akibatnya tidak salah jika peneliti profesional ini pindah

      ad.1 Coba bayangkan, Keppres dan SK Menteri bisa melangkahi Perpu yang ada, sehingga memungkinpan para “calo” mencari obyek. Bagaimana mau mengembangkan tehnologi kalau pengambil keputusan malah melindungi “calo” dan memilih membeli dari luar daripada membeli hasil sendiri?

      ad.2 Sarana yang kita banggakan dan bayangkan masih jauh dari standar minimum. Butuh perombakan yang hakiki agar BPPT maupun lembaga kajian ilmiah kita untuk menjadi lembaga kajian normal yang sehat.
      Lha wong penelitinya melakukan “penelitian” dengan anggapan sebagai kejar tayang untuk setoran kok. Bukan benar benar ilmiah. Coba tanya rekan rekan anda secara jujur? 🙂

      Juga proyeksi kita dalam hal tehnologi masih rancu. Masih belum ada skala prioritas agar ada batasan yang jelas dan tegas.

      ad.3 Leverage sustainment of Technology ini yang lebih parah. Memang kita memiliki beberapa univ penelitian dan institute tehnik yang baik. Tetapi mereka sangat kering menghasilkan paparwork ilmiah yang sudah disahkan secara peer-review. Kalau mau jujur, dari sekian universitas terbaik, Universitas manakah yang sudah diakui masuk 200 besar dunia?
      sebagai perbandingan, Nanyang Univ-Singapore, Chulalongkorn Univ-Thailand, De la Salle Univ.-Philippines semua masuk setidaknya 300 besar dunia. Sayangnya tidak ada satupun dari Indonesia. Kenapa bisa begitu? Kembali, karena lembaga pendidikan kita hanya mencetak sarjana, bukan sebagai lebaga pendidikan dan penelitian ilmu ilmu dasar.

      Mohon maaf bagi semua pembaca, saya hanya ingin menyampaikan keadaan kita secara realitas. Mudah mudahan ada yang tergugah dan menyadari kekurangan kita untuk lebih giat maju mengejar ketinggalan. Daripada kita hanya bisa menyalahkan saja tanpa mau melihat kekurangan dipihak kita sendiri. Serta hanya puas dngan hasil hasil yang bersifat temporer dan superfisial saja.

      Tabik.

  36.  

    thanks [email protected],, salam suksess selalu
    kalo bole saya tambahkan: untuk universitas/institute di indonesia sudah ada yg masuk 200 misal : IPB,UGM,ITB cuma ha itu di lihat dari berbagai disiplin ilmu,misal IPB atas dasar ilmu pertanian dan kehutanannya,sedang UGM untuk Modern Language,menurut QS World University Rankings by Subject 2013. memang untuk jurusan seperti teknik atau mungkin aerodinamika blum ada,hal ini disebabkan sedikit nya SDM bangsa kita yang “kembali” untuk bekerja di indonesia atau menularkan ilmu nya dengan kembali mengajar di universitas di indonesia,mungkin di indonesia seorang idealis masih sedikit,ketimbang seseorang yang bekerja karena materi,memang betul uang adalah segalanya, jadi hal ini kembali lagi ke hati nurani seseorang.

    salam hormat [email protected]

    •  

      very well said bung @TS.
      memang lebih dibutuhkan hati nurani dan tekad memajukan bangsa melebihi financial/economic interest. Mungkin juga ada cerita yg bisa dijadikan referensi mengenai ini yaitu direktur batan yg pulang dr mamarika untuk mengabdi pada bangsa dan hasilnya luar biasa. Indonesia menjadi satu2nya negara dikawasan asia yg menghasilkan low radiation plutonium (mungkin salah, ga hafal bener sih soalnya ga paham dg bidang ini) yang digunakan untuk medis.
      Apakah beliau kembali ke Indonesia dg menuntut kondisi Indonesia telah ideal dulu? Tidak, tapi tekadnya lah yg menciptakan kondisi dimana Batan dulu mati suri sekarang mampu mengekspor sesuatu yg berasal dr rekayasa teknologi tinggi.

      Semua terpulang kepada pribadi masing2 dan tekadnya untuk memajukan bangsa.

      Jaya terus Indonesia ku!!!

    •  

      “..hal ini disebabkan sedikit nya SDM bangsa kita yang “kembali” untuk bekerja di indonesia atau menularkan ilmu nya dengan kembali mengajar di universitas di indonesia,mungkin di indonesia seorang idealis masih sedikit,ketimbang seseorang yang bekerja karena materi,memang betul uang adalah segalanya, jadi hal ini kembali lagi ke hati nurani seseorang..”

      100% setuju… ada yg tau pak Habibie sekarang mengajar di universitas Indonesia yg mana yah?

 Leave a Reply