JakartaGreater.com - Forum Militer
Nov 102014
 

image

Jakarta – Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional  (Lapan) bersama Chiba University, Jepang mengembangkan microsatelite canggih pertama di dunia yang menggunakan Sensor Aynthetic Aperture Radar (SAR).

Chiba University diwakili Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL) milik Profesor Josaphat Tetuko Sri Sumantyo — ilmuwan asal Indonesia yang punya nama di Negeri Sakura.

Kabid Teknologi Muatan Satelit Lapan, Wahyudi Hasbi mengatakan, pihaknya dengan Profesor Josaphat telah melakukan MoU pada Mei 2013 terkait pengembangan satelit bernama A-5 berbobot 100 kg ini.  Lapan akan mengerjakan Platform/BUS-nya sedangkan Profesor Josaphat akan sensor SAR untuk payloadnya.

“Jika ini berhasil bagian dari suatu terobosan, karena kita bisa pasang payload SAR yang biasanya di satelit besar ke satelit yang kecil. Dari segi payload ini memang belum ada, nah itulah tantangannya. Kalau kelas 600-an kg, baru di Eropa kalau nggak salah itu Astrium, mereka sudah punya rancangannya,” ucap Wahyudi kepada Liputan6.com.

Wahyudi menjelaskan, teknologi SAR ini adalah teknologi terbaru dan sangat sulit, oleh karenanya pihaknya mengajak Prof. Josh — panggilan Josaphat– yang sudah terkenal di dunia mengembangkan ini. Pihaknya pun akan berusaha agar Microsatellite LAPAN A-5 ini akan sangat bermanfaat untuk masyarakat Indonesia.

“Sekarang arah Pak Presiden Jokowi  masalah maritim ya, jadi SAR ini sangat akan membantu makanya kita akan berusaha dan belajar. Untuk maritim itu sangat butuh SAR. Selain itu sesuai dengan pengalamannya, teknologi SAR bisa juga membantu pengamatan kota, lingkungan dan sebagainya. Selama ini satelit yang menggunakan optic bermasalah dengan awan, nah SAR bisa tembus awan bahkan hingga dapat menghitung ketinggian pohon,” tambahnya.

Sementara itu, saat ditemui saat diundang memberikan kuliah umum di Institut Teknologi Bandung pada 05 November 2014 kemarin, Prof. Josh menuturkan, sensor yang ia buat juga akan sangat bermanfaat untuk program ketahanan pangan. Kualitas benih padi pun bisa dianalisa menggunakan satelit ini.

“Kita juga mengembangkan Microwave-Vigitation-Remote Sensing, itu menggunakan gelombang electromagnetic ini untuk melakukan monitoring tumbuhan. Jadi teknologi ini bisa melihat bibit padi apakah kualitas bagus atau tidak, ini yang sedang kita kembangkan,” tutur Guru besar Universitas Chiba, Jepang ini kepada Liputan6.com.

Menurut Wahyudi, untuk desain pihaknya sudah ada. Saat ini tantangannya adalah memasukan sebuah radar yang biasanya ukurannya sangat berat ke dalam sebuah satelit dengan berat 100-200 kg. Untuk itu diperlukan ketelitian, namun ia yakin kita mampu menguasai teknologi ini.

“Satelit yang menggunakan SAR ini rata-rata biasanya ukuran 1-2 ton ke atas. Ini butuh power besar sampai 1.000 watt. Ini menggunakan solar panel, bayangkan jika satelitnya kecil harus punya power besar untuk memancarkan sinyal radar ke Bumi. Jadi tantangannya besar sekali,” katanya.

“Kemarin itu Pak Josh ada beberapa perubahan misalnya antenna kita rencanakan deploy, nah sekarang itu beliau lagi rancang yang tidak perlu di-deploy jadi ukurannya diperkecil. Untuk teknologi antenna, beliau memang pakarnya di bidang itu,” ungkapnya.

Komponen Dalam Negeri

Selain tantangan di bagian payload, pihaknya juga mendapatkan tantangan lainnya yakni dari segi anggaran pembuatan satelit ini. Direncanakan Satelit LAPAN A-5 ini bisa selesai pada 2019. Ia berharap pemerintah dan masyarakat mendukung dan mendoakan agar program ini bisa terlaksana dengan baik.

“Untuk membuat ini kira-kira biayanya di bawah Rp 150 milliar, kalau satelit besar (menggunakan SAR) itu bisa Rp 5-10 trilliun. Sekarang di Eropa juga sedang bikin Satelit SAR dengan berat 600-an kg, itu harganya Rp 1-2 trilliun. Karena sangat mahal dan melihat keterbatasan anggaran kita makanya kita berusaha semuanya yang kita bisa, kita mampu tapi semua itu butuh waktu. Kita harapkan tetap di-support oleh pemerintah,” harapnya.

Prof. Josh yang lahir di Bandung, Jawa Barat pada 25 Juni 1970 mengaku, saat ini tidak ada masalah dalam pengembangan Satelit A-5 ini. Dengan didukung anggaran yang baik ia yakin pengerjaan satelit ini bisa lebih cepat.

“Pengembangan butuh kurang dari 3-4 tahun.  Kalau ada biayanya, setahun atau 2 tahun sudah selesai. Untuk masalah saya rasa nggak ada, cuman masalah security aja, misalnya pengembangan radar dari saya, Lapan yang kembangkan satelitnya. Mudah-mudahan 4 tahun ke depan kita sudah bisa meluncurkan, tergantung masalah di atas tadi,” tutur Josh yang juga menjadi Visiting Profesor di Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA).

Dengan pengalaman mengembangakan satelit A-1 hingga A-4, Wahyudi yakin Satelit A-5 akan “kaya” dengan komponen dalam negeri.  Ia mencontohkan, dalam satelit LAPAN A-2 pihaknya telah berhasil membuat desain satelit, struktur satelit dan payload, stepper motor, magnetic coil, reaction wheel, power converter, harnessing satelite, test componen, sistem satelitnya,  dan ground stationnya.

“Lapan A-3 yg sedang dikembangkan ini kita sudah bisa bikin Star Sensornya, jadi untuk attitude control satelit kita pakai sensor bintang itu kita sudah bikin sendiri di A-3. Nah makin kedepan Insya Alah kita makin tinggi kandungan dalam negerinya. Karena kita harapkan industri dalam negeri bisa support kita,” ujar Wahyudi.

“Target kita 60-70 persen ya, cuman kalau kita hitung dari desain dari integrasi itu sudah 100%, hanya di level komponen ada beberapa kita masih impor karena kita nggak mungkin bikin sendiri. Misalnya, Gyro mau nggak mau kita harus impor. Itu masih ada lagi dari Prof. Josaphat yang sensornya dibuat sendiri, jadi kira-kira cukup besar ya. Nah beliau dihitung sebagai putra bangsa,” imbuhnya.

Lalu bagaimana dengan peluncurannya?

“Untuk peluncuran kayaknya kita harus bersama Jepang ya, karena teknologi ini bisa dipakai untuk militer dan sipil jadi Jepang membatasi kita untuk tidak meluncurkan menggunakan yang lain kecuali sama mereka,” jelasnya.

Karena ini pengembangan teknologi radar, ia berharap peluncuran sendiri dilakukan di orbit ekuator. Namun, karena menumpang ia menyerahkan semua kepada Jepang sebagai pihak yang membantu.

“Sebaiknya untuk SAR ini kita bisa di equatorial orbit ya, kita bisa dapat 14 kali revisit/kontak tiap hari dari satelitnya sendiri. Dan karena teknologinya radar yah, lebih baik di equatorial. Cuman itu kita harus melihat peluang peluncuran dengan Jepang itu, kalau mereka bisa ke Equatorial pasti kita ke situ. Cuman equatorial orbit ini peluangnya kecil sekali, mau nggak mau kita harus menunggu. Karena biasanya untuk satelit kecil kita numpang, sampai ada kesempatan,” mintanya.

“Dapat 14 kali lewat, waktu untuk setiap kali kontak itu 7-12 menit. Saat ini Lapan sudah memiliki beberapa stasiun penerima data sehingga seluruh Indonesia dapat kita cover. Misalnya dari Papua 12 menit selesai lalu kita terima datanya dari Jawa nanti sampai ke Sumatera kita bisa terima datanya lagi,” harapnya.

Synthetic Aperture Radar (SAR) adalah suatu bentuk radar yang digunakan untuk membuat gambar dari obyek seperti Landscape. SAR biasanya dipasang di pesawat atau pesawat ruang angkasa dan berasal sebagai bentuk lanjutan dari Side Looking Airbone Radar (SLAR). Jarak perangkat SAR dikirim melalui Antenna Aperture.

Melalui pengembangan di Lab-nya, Prof. Josh mengaku teknologi yang ia kembangkan bisa menembus segala macam cuaca, kabut, awan, awan dan hutan.  Circularly Polarized Synthetic Aperture Radar (CP-SAR) ciptaannya pun banyak dilirik oleh Badan Antariksa Internasional.

“Karena teknologi SAR onboard di dunia itu selama ini hampir tidak ada. Dan yang bisa mengembangkan itu hanya ada di Lab saya. Karena itu mereka tertarik untuk mengimplementasikan hasil riset kita itu untuk pengembangan satelit-satelit mereka nanti.

Sedangkan, LAPAN saat ini telah menyelesaikan pengerjaan Satelit A-1, A-2, dan menyempurnakan satelit A-3 yang mempunyai lompatan teknologi yang cukup jauh dan mulai mendekati persyaratan operasi penginderaan jauh. Kemudian, Pusat Teknologi Satelit dan Pusat Sains Antariksa LAPAN akan mengembangkan Satelit A-4 dengan menambahkan teknologi sensor infra merah dekat tanpa cooler untuk monitoring kebakaran hutan dan pemantauan gunung berapi dan juga sensor medan magnet bumi yang akan digunakan untuk prediksi gejala alam dan juga penelitian geologi. (Ein)

Credit: Elin Yunita Kristanti

Sumber : Liputan6.com

Berbagi

  45 Responses to “Lapan – Prof Josaphat Kembangkan Microsatellite Tercanggih”

  1.  

    Sgt Menghibur stlh artikel ifx

  2.  

    Mari Kita Dukung

  3.  

    keren nambah ajah nih pak prof

  4.  

    Manteb

  5.  

    top

  6.  

    NKRI harga mati

  7.  

    joss tenan
    tek tunggu kabar selanjutnya

  8.  

    mantab..lanjutkan untuk kejayaan Indonesia.

  9.  

    sirik tanda tak mampu…

  10.  

    test

  11.  

    Trobosan baru yg maknyuss.. Moga aja lapan bisa segera meluncurkanya sendiri
    Gak ndompleng tetangga lgi..

    NKRI maju jaya..

  12.  

    Ajukan ProposaLnya ke pak Jokowi , ini AsLi buatan Anak negri dengan TeknoLogi Mutakhir tanpa EMBEL2 TOT , kaLau ditoLak pak Jokowi , berati pak Jokowi hanya isapan jempoL beLaka dengan moto “MENGEMBANGKAN PRODUK DALAM NEGERI”!!!

  13.  

    Lanjutksn dan segera realisasikan

  14.  

    Lanjutkan dan segera realisasikan

  15.  

    komeng sampah gini mending didelete atau unapprove,ohh yg punya warung sibuk jadi gak bisa saring komeng macem gini,hapus ae wisss

  16.  

    Anak indonesi yg kreatif

  17.  

    @ Dick Malon..jaga tuh atap rumah kamu, udah kita lock sama yakhont.

  18.  

    ANDA PERCAYA KAMI BISA. Lanjutkan.

  19.  

    Pak jozz gandozz.. Tak dukung 100% demi NKRI Jaya..

  20.  

    Mantap..! Insinyur indonesia luar biasa.

  21.  

    seneng rasanya baca artikel kaya gini, ilmuwan yang tidak di hargai tapi masih cinta sama tanah airnya. terima kasih pak josh

  22.  

    Komenmu menunjukan kekerdilan bangsamu.

  23.  

    sungguh penting kepercayaan pemerintah untuk trs mendukung ahli2 anak negeri, agar terus di apresiasi,dg dukungan dana riset yg besar tentunya..ane mohon untuk pemerintahan sekarang agar terus mendukung ilmuwan2 dlm negeri..sampai kapan kita harus trs menjadi bangsa konsumen, beli dan trs beli…klo gada kepercayaan & dukungan dari pemerintah sampai kapan bangsa ini mau maju…..JAYALAH NEGERIKU…!!! …. ….NKRI HARGA MATI…..

  24.  

    Bung diego, saya tambahin…]
    Maaf baru bisa hadir, soalnya tadi gak full tulisannya.

  25.  

    Kalo masalah teknologi,,buatan anak bangsa asli,bisa mbuat ini ,,,itu,,,,,kok rasanya bikin aku ngeflay ,rasanya pun nyaman,,,,nyampe mbacanya pelan pelan,,,,,,agar g keburu habis artikelnya,,,he,,he,,,,trimakasih om

  26.  

    koq lompat kmari komenya

  27.  

    Orang indonesia ud bisa bikin satelit si dicky masih tengak tengok di atas pohon g pake baju. . He heh

  28.  

    Kalau ada dananya, 1 atau 2 sdh jadi.Maaf bg diego mo nanya.Emang kita nggak punya uang segitu? Aneh ya? Apakah hrs rakyat ngumpulin koin utk prof Josh? Gawat bg.

  29.  

    Mak nyusS …

  30.  

    hadirrrrrr

  31.  

    Mudah-mudahan lancar gak digangguin asu …
    Thanks Bung Diego atas posting artikel ini. Jadi tambah pengetahuan.

  32.  

    Semoga nggak pake lama.

  33.  

    Penasaran… Pembuatannya seperti apa.

  34.  

    Saya doakan agar lancar dn satelit Lapan A5 nya cepat mengangkasa …
    Saya jg salut dgn hasil karya anak bangsa yg berteknologi tinggi tsb dimana tdk semua negara mampu utk membuatnya, kl sdh begini sy rasa tdk sulit bagi Indonesia utk membuat Drone sendiri yg sekelas Global Hawk, tinggal ada kemauan dn dana saja utk merealisasikan itu semua, dr pada beli drone yg terlalu mahal buatan luar, lebih baik bikin drone canggih buatan negri sendiri.

  35.  

    Ternyata sudah dari 2013 kemarin lah prof josh..kerjasama dgn lapan…berarti pemerintah mendukung dong..kan lapan milik pemerintah bukan swasta…trus dukung kerjasamanya dgn dana yg cukup..biar cepat selesai..dan bisa di gunakan jdi spy satelite..buat ngintipin tetangga kalo ada yg mau usil sma nkri..

  36.  

    Orang Indonesia yang seperti Profesor Josaphat Tetuko Sri Sumantyo ada berapa ya…kalo dikumpulin ngga kebayang hebatnya Indonesia

  37.  

    Alhamdulilah ternyata beliau sdh di indonesia

  38.  

    Semoga berhasil Indonesia ku ,,

 Leave a Reply