JakartaGreater.com - Forum Militer
Aug 302014
 

Ilustrasi GNSS

Lapan dipilih oleh Asia Pacific Space Cooperation Organization (APSCO) atau organisasi kerja sama keantariksaan Asia Pasifik sebagai tuan rumah pelaksanaan International Training Course on Global Navigation Satellite System (GNSS) Technology and Its Applications. Kegiatan ini berlangsung pada 26 Agustus hingga 3 September 2014 di Hotel All Sedayu, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Pelatihan ini diikuti oleh 45 peserta dari berbagai negara anggota APSCO yaitu Tiongkok, Bangladesh, Iran, Mongolia, Pakistan, Peru, Thailand, Turki dan Indonesia.

Kepala Lapan, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, dalam sambutan pembukaan acara, Selasa (26/8) mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan kontribusi aktif Indonesia dalam kegiatan APSCO. Selain itu, Thomas juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) anggota APSCO dari berbagai negara, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi satelit. 

“Kegiatan ini juga diharapkan menjadi wadah pertukaran ide dan keahlian antarpeserta yang berasal dari perwakilan negara-negara anggota APSCO termasuk Indonesia,” Thomas menambahkan. 

GNSS 2Sementara itu, Sekretaris Jenderal APSCO Celal Unver dalam sambutannya, menyampaikan rasa terima kasih kepada Indonesia, dalam hal ini Lapan, atas sambutan dan kesediaan menjadi tuan rumah kegiatan ini. Ia berharap, sebagai signatory state (negara penandatangan) berdirinya APSCO, Indonesia dapat menjadi full member state (negara anggota tetap) APSCO. 

“Indonesia merupakan negara penting bagi APSCO. Sebagai negara terbesar keempat dari sisi populasinya, kami mengharapkan Indonesia bisa menjadi anggota tetap APSCO. Banyak keuntungan yang bisa dirasakan Indonesia jika sudah menjadi anggota tetap, diantaranya bisa mengajukan projek-projek strategis bagi Lapan (Indonesia) yang akan kami diskusikan dalam dewan APSCO agar bisa disetujui dan didukung oleh negara-negara anggota APSCO lainnya,” Celal menjelaskan. 

GNSS

Peserta kegiatan ini mendapatkan kuliah dan pelatihan dari ahli GNSS dari Beihang University, Beijing, China. Salah satu peserta yang berasal dari Bangladesh, Abdus Salam Khan mengaku antusias mengikuti kegiatan ini.

“Meskipun GNSS bukan latar belakang pendidikan saya, namun saya akan berusaha sebaik mungkin untuk mengikuti kegiatan ini dan memahami materi yang disampaikan,” ujar Abdus.

GNSS 3

GNSS merupakan istilah generik standar untuk sistem navigasi satelit yg menyediakan informasi posisi, kecepatan dan waktu dengan jangkauan global. GNSS biasa kita kenal seperti GPS (Amerika Serikat), GLONASS (Rusia), GALILEO (Eropa), dan BEIDOU (China). Pertama kali teknologi GNSS muncul dengan menggunakan teknologi NAVSTAR-GPS yang dikembangkan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat. GNSS dapat digunakan oleh Militer maupun sipil baik untuk  Survei dan Pemetaan, Geologi, Navigasi Laut atau Udara, Hiking, dll.

 

Sumber : Lapan dan JKGR

Berbagi
 Posted by on August 30, 2014

  54 Responses to “Lapan Tuan Rumah Pelatihan Internasional Sistem Satelit Navigasi Global”

  1.  

    Selamat siang,moga2 tambah ilmunya….!!!

    •  

      Semakin di percaya oleh dunia internasional untuk menyelenggarakan dan menjadi magnet bagi kawasan 😀

      10thn lagi negara yg tadinya memusuhi NKRI akan malu sendiri, karna indonesia cinta damai dan cinta persahabatan kepada siapapun

  2.  

    Mantap..alon2 asal klakon,Yakin Indonesia BISA!!

  3.  

    1

  4.  

    Absen

  5.  

    Slmt siang

  6.  

    mantap

  7.  

    Yuk masuk ke Segmen ilmu pengetahuan,

    Teknologi GNSS secara umum lebih baik dari metode pemetaan konvensional karena masalah kecepatan dan waktu. Selain itu GNSS mampu memberikan informasi posisi yang lebih akurat (sampai level milimeter) dimanapun di permukaan bumi dan dapat memberikan informasi posisi lebih cepat dan mudah (dibanding metode lain). Kekurangannya seperti di atas, makanya dengan melihat geografis negara kita ini, sudah seharusnya Indonesia memiliki Satelit Navigasi sendiri.

    •  

      Salam kenal Bung, kapan ya kira2 kita buat GNSS sendiri atau sudah dibuat rencananya?

      •  

        Masih lama Bung Lem Aibon, setidaknya mulai dari sekarang sudah harus persiapan. Saat ini kita masih berkutat di peluncuran satelit ke Low Earth Orbit, untuk sampai ke MEO dan GEO itu butuh waktu lagi (untuk keterangannya sudah saya tulis komen dengan bung MIrza dibawah).

        Sebenarnya kita bisa menggunakan teknologi Stratosphere Drone untuk sementara ini. Ok sedikit bercerita, Taiwan juga saat ini membutuhkan GNSS untuk pemetaan, tapi sampai disana mereka beranggapan masih jauh dan saat ini mereka akan menggunakan teknlogi stratosphere Drone untuk masalah ini, dan yg keren mereka akan menggunakan ilmuwan Indonesia yaitu Prof. Josaphat untuk membuat stratosphere Drone bagi kepentingan mereka.

        Prof. Josh punya ide untuk membantu Indonesia, sudah pernah saya bahas di artikel drone Prof. Josaphat. Namanya ISS, drone ini bisa membantu kajian geologi, pemetaan atau survey, tapi untuk navigasi memang belum bisa. Jadi drone ini akan berspec satelit, dan pengoperasiannya pun lebih mudah apalagi dengan sensor SAR yang bisa tembus awan atau VLF dan Microwave yg bisa berfungsi untuk bawah tanah. Tinggal pemerintah kita mau atau tidak menggunakan teknologi ini.

        Kedepan, Prof Josh dan Lapan akankembangkan satelit A-5 yg sensornya sangat menggiurkan, saat ini beberapa staff lapan sudah/akan belajar ke Lab Prof. Josh di Jepang agar kedepan Indonesia bisa menghasilkan satelit yg lain dari yg dipunya negara lain. Meski kita telat, setidaknya kita bisa mengejar.

        😀

    •  

      Bung jalo,selamat siang,satelit komersial spt Indosat bisa di gunakan sebagai satelit navigasi…???ato memang perlu satelit khusus navigasi….ma’ap,bener2 blank saya…

      •  

        Bung Mirza untuk GNSS minimal 24 satelit (saat ini 30) mengorbit di atas permukaan bumi dengan ketinggian 20,000 km atau masuk di Geostationary Orbit (GEO). Tapi ada juga yg di Medium Earth Orbit (MEO) seperti COMPASS China tapi menggunakan 30 satelit. Untuk indosat bisa aja bung, yg penting ada source navigasi didalamnya tapi ketinggiannya yah minimal harus MEO. India sedang mempersiapkan Indian Regional Navigation Satellite System (IRNASS) ada 7 satelit yg ditempatkan di GEO tahun 2015 3 satelit akan diluncurkan lagi dan direncanakan pertengahan tahun 2015 India sudah memiliki sistem Navigasi atau GNSS.

        Saat ini kita baru masuk di LEO (Low Earth Orbit). Lapan A-2 atau Tubsat masih di sekitar LEO, jadi masih panjang, makanya kerjasama ini diperlukan agar kita kedepan bisa mencapai MEO atau GEO.

        LEO, LEO (Low Earth Orbit) Satelit pada lingkaran low earth orbit ditempakan sekita 161 hingga 483 km dari permukaan bumi. Karena sifatnya yang terlalu dekat dengan permukaan bumi menyebabkan satelit ini akan bergerak sangat cepat untuk mencegah satelit tersebut terlempar keluar dari lintasan orbitnya. Satelit pada orbit ini akan bergerak sekitar 28163 km/jam. Satelit pada orbit ini dapat menyeselaikan satu putaran mengeliling bumi antara 30 menit hingga 1 jam. Satelit pada low orbit hanya dapa terlihat oleh station bumi sekitar 10 menit.

        MEO, Medium Earth Orbit Satelit dengan ketinggian orbit menengah dengan ketinggian 9656 km hingga 19312 km dari permukaan bumi. Pada orbit ini satelit dapat terlihat oleh stasiun bumi lebih lama sekitar 2 jam atau lebih. Dan waktu yang diperlukan untuk menyeleseaikan satu putaran mengitari bumi adalah 2 jam hingga 4 jam.

        GEO, or Geostationary Earth Orbit. Satelit dengan orbit GEO mengitari bumi 24 jam dan relative diam terhadap bumi (berputar searah rotasi bumi). Sama dnegan waktu yang dibutuhkan bumi berotasi pada sumbunya. Umumnya ditempatkan sejajar dengan equator bumi. Karena relative diem terhadap bumi maka spot (wilayah radiasi sinyal ) juga tidak berubah. Jarak ketinggian dari permukaan bumi sekitar 35895 km. GEO satelit akan selalu terlihat oleh stasion bumi dan sinyalnya dapat mengjangkau 1/3 dari permukaan bumi. Sehingga 3 buah GEO satelit dapat mengjangkau seluruh permukaan bumi kecuali pada wilayah kutub Utara dan kutub Selatan. Untuk Orbit LEO dan MEO , umumnya merupakan Polar Orbit karena inklinasi lintasan terhadap ekuator sangat besar.

        •  

          Ok bung terima kasih,o ya melenceng,artikel yg paspampres kok tiba2 ilang ya bung jalo,apa lupa ngeblur ya…???he..he..

        •  

          Catatan untuk penjelasan bung Jalo :
          Satelite GEO, teoritis mmg bisa menjangaku 1/3 permukaan bumi, tetapi karena faktor2 teknis telekomunikasi (footprint, kekuatan sinyal, besar antena dst), biasanya cakupan/footprintnya tidak sebesar itu. seperti misal satelit Palapa C atau D, foot printnya sekitar Asean ++ saja.
          Satelit GEO, dianggap diam karena sinkron dengan putaran bumi, tapi sebenarnya tidak diam. Bergerak dengan kecepatan 3 km/s lebih dan relatif diam kira2 dalam box 50 km2!. Untuk itu satelit setiap jangka waktu tertentu (kira2 kalau mau keluar dr box tsb) perlu di kembalikan ke posisi yg pas melalui proses manuver. Biasanya per 10 hari – 2 minggu.

          •  

            Satelit MEO atau pun LEO, biasanya memang memiliki incline. Tujuannya agar foot print terjangkau ke daerah tertentu. Namun tidak selalu Polar orbit. Tergantung kepada sudut incline yang dimiliki/daerah yang di tuju. Satelit polar cocok untuk satelit dibawah GEO negara2 utara, semacam Rusia.
            Saya tidak tahu satelit Indonesia A1 (tubsat), memiliki inclinasi berapa, tapi boleh saya duga kira2 5-10 derajat atau bahkan mungkin 0, karena cakupan daerah yang dituju Indonesia diatas katulistiwa dan bisa di cakup dengan besar inclinasi sebesar itu. Satelit ini dipastikan bukan satelit polar.

          •  

            Terima kasih tambahannya bung ochoa, selamat datang di Jakartagreater.

            Ok untuk inclinasi Lapan Tubsat berada di 97,6 derajat diketinggian 620 km dengan periode 99.039/menit. Untuk ground track velocity itu 6,744/s dan circular velocity 7.542 km/s

            Nanti kalau lapan A-2 baru berada di incliasi 8 derajat. Terima kasih untuk tambahan ilmu pengetahuannya ya bung ochoa, salam kenal.


        •  

          Satelit MEO atau pun LEO, biasanya memang memiliki incline. Tujuannya agar foot print terjangkau ke daerah tertentu. Namun tidak selalu Polar orbit. Tergantung kepada sudut incline yang dimiliki/daerah yang di tuju. Satelit polar cocok untuk satelit dibawah GEO negara2 utara, semacam Rusia.
          Saya tidak tahu satelit Indonesia A1 (tubsat), memiliki inclinasi berapa, tapi boleh saya duga kira2 5-10 derajat atau bahkan mungkin 0, karena cakupan daerah yang dituju Indonesia diatas katulistiwa dan bisa di cakup dengan besar inclinasi sebesar itu. Satelit ini dipastikan bukan satelit polar.

    •  

      Emang sebenarnya kita blom punya satelit ya Bung Jalo ?…soalnya ada warung yg bilang kita udh punya trus kalo blom punya ngapain LAPAN dipilih jadi host ??

      •  

        Kita sudah punya beberapa satelit baik penelitian maupun komersil. Kalau penelitian ada Tubsat kerjasama dengan Jerman. Kedepan ada Lapan A-2 dibantu peluncuran oleh India.

        Untuk satelit Navigasi kita memang belum punya karena ini berada di Medium Earth Orbit (MEO) atau Geostationary Orbit (GEO). Untuk host disitu cuman menjelaskan masalah apa yg sedang kita kerjakan sekarang begitu juga dnegan negara lain apa yg negara mereka kerjakan. Jadi seminar itu untuk memperkenalkan state-of-art dan tren masa depan teknologi GNSS, mempromosikan kemampuan dan teknologi inovatif dari GNSS dan pemanfaatannya, memperkenalkan bagaimana membangun aplikasi GNSS secara lengkap, mempromosikan kerjasama di bidang GNSS beserta teknologi dan pemanfaatannya dan sebagai wadah pertukaran ide dan keahlian antar peserta yang berasal dari perwakilan negara-negara anggota dan Indonesia.

        Jadi gini bung, kalau kita belum bisa apakah kita hanya duduk termenung dan menunggu wangsit karena ilmu itu akan datang sendiri?? Jawabannya tidak, kita harus mengikuti perkembangan trend, belajar jika tidak bisa. Makanya ada kata2 begini,

        “jika orang-orang dulu malas menuntut ilmu, maka saat ini kita masih berkeliaran dihutan berburu hewan dengan batu sebagai pisau,” 😀

      •  

        Oohh iya kita untuk aplikasinya Insyallah sudah bisa menguasai. Tapi untuk ke sistem itu masih banyak yg harus dipelajari dan dikuasai seperti Continuously Operating Reference Station (CORS), pasti bingung, 😀

        CORS disebut Permanent Reference Station adalah Sistem yang terdiri dari Receiver GPS dan Antena GPS yang diatur secara baik pada lokasi yang aman dengan ketersediaan sumber energi yang handal serta dengan perangkat TIK yang dapat melayani layanan koreksi. Lalu ada International Terrestrial Frame (ITRF), ada Precise Point Positioning, dll… 😀

    •  

      Maaf bung [email protected] ini pertanyaan oot,bisakah Tehnologi GNSS memetakan object kecil di dasar laut contoh kasus pesawat meledak dan tenggelam di dasar laut.

    •  

      hebatnya lagi bung jalo, anggota APSCO yaitu Tiongkok, Bangladesh, Iran, Mongolia, Pakistan, Peru, Thailand, Turki dan Indonesia juga ada di dalamnya……
      apakah dari sekian negara anggota tersebut… ada kerjasama khusus dengan indonesia?

  8.  

    mantap, kapan lagi klu bukan sekarang!!

  9.  

    keren, namanya “Gara-gara” :mrgreen:

  10.  

    Ikut absen

  11.  

    Memantau

  12.  

    Paling cuma bagibagi ilmu sekedarnya..
    Ayo Lapan maju Terus!
    belajar ke iran aja . .

    •  

      Kita yang belajar ke IRAN atau IRAN yang belajar ke kita atau mungkin mengembangkan bersama ? Hehehe….

      •  

        Kita berlajar bersama mungkin bung, Iran punya kekurangan dan kita bisa pasti di bantu begitu juga sebaliknya. Tapi memang teknologi antariksa Iran sudah jauh melangkah dari pada negeri kita, tapi tidak ada kata terlambat untuk belajar. 😀

  13.  

    Moge Paspampres Kawal Jokowi

    http://postimg.org/image/v7trettgj/

  14.  

    bagus jga indonesia jdi tuan rumah..
    paling gak para ilmuan kita bsa mncuri ilmu dari para tamu untuk indonesia mandiri 2025..maju trus lapan..

    •  

      Yup, itulah yg dicari termasuk kerjasama pengembangan SDM. Mari kita dukung, karena untuk membuat GNSS itu perlu biaya yg sangat besar. Eropa aja mereka mengunakan Galileo, mungkin kedepan kita bisa jadi Lead Integrator bagi ASEAN, atau mungkin kita bisa mengembangkan untuk negara kita sendiri. 😀

  15.  

    INFO
    Saham maskapai penerbangan milik Malaysia, Malaysia
    Airlines, terkoreksi sebesar 21,1%. Saham Malaysia
    Airlines anjlok hingga 15 sen dan angka tersebut
    terendah sejak 1998. Investor mengkhawatirkan, Malaysia
    Airlines akan bangkrut. not truly asia…. bad asia kaleeeee

  16.  

    BREAKING NEWS: MAS PHK 6000 Karyawannya!
    colex bung Yayan 🙂

  17.  

    jadi gnss plus punyanya pak josh ya bung jalo?
    iya kok punya indonesia namanya gara-gara? apa nanti signalnya bisa nutup sinyal lain yang se frekuensi? kalo ngga salah mirip satelit palapa yang sebelum tim tim lepas ya(ngarep.com)

    •  

      Maksudnya gimana bung Freaxout? kalau berbagai satelit nanti masuknya ke Stasiun monitor lalu dikirim ke Antena dasar lalu masuk ke ruang control atau CORS Kalau ada GNSS pasti transmisinya 2 yaitu untuk sipil dan militer.

      •  

        Oh takirain gnss nya di perbagus sama pak josh, kan kekurangannya ngga bisa oceanography sama dalam tanah. Kalo punya pak josh kan bisa. Maklum bukan jurusan cuman kadang suka iptek

        •  

          Kalau dalam tanah sebenarnya bisa menggunakan teknologi SAR, kalau air beda lagi bung. Kalau dalam tanah kan bisa menggunakan VLF dan Microwave kalau dalam air, nah ini nih… 😀

  18.  

    Sebenarnya jenis satelit navigasi GPS diorbit geo sprt ini sangat penting bagi negara2 yg ingin militernya kuat dan mandiri. bkn knp2.. pespur, kaprang, kasel, rudal jarak jauh, batalyon artileri howitzer termasuk mlrs astros, satuan infanteri dan raider, sar dll sangat bergantung dgn teknologi Navigasi GPS selain compas dan peta. GPS sbg alat pemetaan elektronik berbasis satelit tentu saja yg paling akurat dibanding compas dan peta. krn itu hampir semua alat2 dan perlengkapan alutsista militer termasuk rudal2 berpandu jarak jauh dan jg kenderaan sipil sangat tergantung kpd satelit GPS ini, ,lht saja negara2 yg memproduksi alutsistanya dan menjualnya kenegara lain, negara tsb wajib mempunyai mempunyai GPS sendiri atw setidaknya bekerjasama mengunakannya sprt negara2 eropa yg krn wilayahnya kecil dan saling berdekatan serta satu ideologi mrk mempunyai GPS bersama dan. navigasi GPS amarika jg bnyk digunakan oleh negara mitra mrk, termasuk TNI yg byk mengandalkan sistem GPS US. wlw glonass pny rusia jg menjangkau kawasan Indonesia dan sekitarnya, tp krn kebanyakan alutsista TNI produk barat dan us, maka sebenarnya militer kita rentan disabotase alutsistanya oleh US dan konco2nya. mrk tinggal memanipulasi data atw mematikan sistem navigasi GPS itu sementara. maka alutsista sprt yg saya sebut diatas akan gawur.. rudal2 sprt yakhont yg lintasannya acak dan sulit ditebak akan bingung membuat menentukan titik kordinat sasarannya. saya krg begitu mengetahui apkh yakhont dikita memakai sistem glonass rusia apakah menggunakan GPS milik US? tp yg jelas alutsista2 yg bergantung kpd navigasi GPS akan mnjd buta dan lumpuh. Di trit jauh sebelumnya saya jg sdh komeng mewanti2 perlunya mengantisipasi agar jgn terlalu bergantung kpd salah satu penyedia layanan GPS tertentu berikut dgn produk alutsistanya. krn sangat gampang melumpuhkan setiap alutsista buatan mrk sendiri, yg mana sistem kontrolnya yg mnjd kunci alutsista tsb msh dikuasai mrk, (asing dan aseng). Salam..

  19.  

    Cita2 membuat uav/drone utk pengawasan ilegal fhising di laut dan ilegal logging di hutan akn cm jd wacana debatable dan mimpi kosong yg ketinggian klw kita msh tergantung dgn GPS milik asing. bisa saja uav dan drone memakai menara kontrol atw bts milik provider telekomunikasi. tp itu perlu dana yg sangat besar dan yg namanya sistem bts ttp aja byk kekurangan daerah yg msh blankspot blm lg dari regulasi dan izin dari sipemilik bts tsb, sangat repot bin jadul. Solusinya yah Ini sprt wacana diatas.. semoga secepatnya Indonesia mandiri di teknologi kunci sprt ini. Salam lg..

  20.  

    Yah makanya jangan anti amrik dan sok gak butuh kalo belum mumpuni secara kemampuan militer dan ekonomi lebih baik bersikap secara cerdas bukan anti asing emangnya kita bisa hidup sendiri seperti katak dalam celana…

  21.  

    BISA MINTA TOLONG MEMBERIKAN PENJELASAN TENTANG SATELIT MEO YANG SECARA LENGKAP
    TERIMA KASIH

 Leave a Reply