Jun 142012
 


Perancis datang ke Indonesia di saat yang tepat, akan tetapi sekaligus memberikan pilihan yang sulit. Negara pembuat Frigate La Fayette ini tiba tiba saja menawarkan transfer teknologi, untuk berbagai jenis mesin perang. Perancis seolah-olah tahu, Indonesia sedang “mumet” dengan urusan Transfer of Technology (ToT) yang beberapa kali “dikerjai” oleh negara yang diajak bekerjasama.

Dua tawaran yang disorong oleh Perancis adalah transfer teknologi untuk meriam kelas berat Caesar 155mm, jika Indonesia membeli dalam jumlah besar. Tawaran berikutnya yang menggiurkan adalah penjualan mesin pesawat tempur untuk Indonesian fighter jets experiment (IFX), jika Indonesia bersedia membeli pesawat Rafale.

IFX tampaknya harga mati yang dipatok oleh pemerintah untuk membuat lompatan teknologi di tanah air yang sudah lama terhenti. Pemerintah sangat percaya diri dengan pembangunan IFX, karena Indonesia cukup maju di teknologi dirgantara.

Jika proyek IFX ingin berjalan mulus, TNI AU tampaknya harus berpaling dari rencana ke depan yang ingin membeli Sukhoi SU-35, ditukar dengan Rafale Perancis.

Jet Tempur Rafale Perancis


Hingga kini belum ada negara asing yang membeli jet tempur Rafale, sehingga Perancis harus menambahkan opsi ToT, agar jet tempurnya dibeli orang. Pola pembelian alutsista plus ToT sudah dilakukan Indonesia untuk Panser Anoa dan Ranpur Sherpa.

Persoalan lain bagi Indonesia sekaligus peluang bagi Perancis, adalah pembangunan 3 kapal selam Changbogo Indonesia, oleh Korea Selatan. Pemerintah Korea Selatan meminta uang 300 juta USD, jika Indonesia menginginkan transfer teknologi dari kapal selam tersebut.

Kalau klausal itu tidak dipenuhi, maka pengorbanan membeli tiga kapal selam kelas “anjing kampung” yang bergerak sangat lamban akan menjadi sia-sia. Untuk apa membeli kapal selam seperti itu, jika tidak disertai Transfer of Technologi.

Tapi apakah Indonesia yang uangnya pas-pasan mau merogoh kocek tambahan 300 juta USD, demi mendapatkan ToT kapal selam Changbogo ?. Godaannya adalah, dari pada menambah uang 300 juta USD, lebih baik dibelikan kapal selam Kilo Class Rusia.

Kemampuan tempur kapal selam Kilo Class, tidak perlu diperdebatkan lagi. Negara Barat saja menyebutnya sebagai lubang hitam (Black-Hole), bagi sistem pertahanan mereka.

Namun untuk mendapatkan Kilo Class, bukan perkara gampang, karena pengadaan alutsista harus disertai ToT, seperti yang diamanatkan Presiden SBY. Sementara kita semua tahu untuk urusan ToT, Rusia sangat “pelit”, terutama bagi negara non-sekutu lama mereka.

Di sinilah posisi Perancis menjadi penting. Perancis menawarkan penjualan kapal Selam sekaligus dengan ToT-nya kepada Indonesia.

“Kalau ingin membeli kapal selam yang bagus, jangan ke Korea yang “KW2″, beli langsung ke pembuatnya, seperti kami”, ujar salah seorang pejabat Perancis.

Scorpene Class Perancis, Milik Malaysia


Di tengah krisis Eropa saat ini, Perancis tidak terlalu perduli untuk membatasi transfer teknologi militer konvensional. Bahkan Perancis pun menawarkan penjualan rudal konvensional tercanggihnya Exocet MM40 Block III. Padahal sebelum krisis Eropa, untuk mendapatkan Exocet MM-40, Indonesia sangat kesulitan dan dihadapkan pada jalan yang berliku.

“Tuan….barang dagangan sudah digelar. Now…..make your Choice !”, mungkin begitulah yang disampaikan pejabat militer Perancis yang sudah tahu masalah yang dihadapi para Petinggi TNI dan Kemenhan.

Selain munculnya masalah dalam pembelian kapal selam Changbogo, pengadaan Light Frigate Sigma 10514 juga masih menyimpan persoalan.

Anggota Komisi 1 DPR, berniat menyoal pembelian Sigma 10514, karena tidak disertai dengan ToT yang diharapkan. Wakil Ketua Komisi 1 DPR, TB Hasanuddin, mempertanyakan mengapa Orrizonte Fincantieri Mosiaic Italia tidak jadi dibeli, padahal Italia bersedia melakukan ToT 25 %.

Di tengah persoalan itu, Perancis bisa menyambung ucapannya lagi. “Bagaimana tuan-tuan…?. Mau mencoba frigate La Fayette yang telah dilengkapi teknologi Stealth ?”, ujarnya sambil bersenandung lagu last tango in paris.

Tampaknya kecil kemungkinan bagi Indonesia membatalkan pembelian Sigma 10514 Belanda karena telah menandatangani kontrak. Kecuali mau membatalkan pembelian 3 korvet Nakhoda Ragam Class ex Brunei Darussalam, ditukar dengan Frigate La Fayette, berikut ToT-nya.

Frigate La Fayette Perancis


Pilihan yang sulit karena TNI AL harus mengejar kuantitas MEF (minimum essensial Force) 2014.

Tampaknya langkah Malaysia berpartner dengan Perancis untuk urusan kapal laut sudah tepat. Mereka memesan kapal Selam Scorpene Class ke Perancis. Dan kini Malaysia juga memesan 6 Light Frigat Gowind Class ke Perancis dengan imbalan ToT. Bahkan Gowind Class kedepannya akan dibangun di Malaysia.

Langkah yang diambil oleh Angkatan Laut Malaysia, terukur dan tepat sasaran.

Berbicara tentang ToT, kini Angkatan Darat terus melaju dengan pembangunan Rudal Nasional yang diharapkan memiliki jangkauan tembak di atas 100 km pada tahun 2014. Targetnya adalah peluru kendali dengan jarak tembak 300 – 500 Km.

Begitu pula dengan TNI AU melaju dengan proyek IFX dan diharapkan 6 prototype IFX rampung pada tahun 2013.(Jkgr).

  32 Responses to “Last Tango in Paris”

  1. bung yang kapal selam chang bogo itu kasih sumbernya dong kalau enggak kan dianngap hoax

    • Cek ke Dephan. Salam

      • justru langkah memberi 300 juta itu adalha langkah yang briliat dan berani untuk belajar, jangan pelit2 kalo mau belajar asal ada ilmunya jangan cuma mau beli ajalah.
        sebagai perbandingan kalo segi dimensi type 212 lebih besar ato lebih kecil dibanding kilo? tapi lebih mumpuni mana?

  2. kenapa sampai sekarang masih ada yang bilang Italia bersedia melakukan ToT 25 % ? adminnya juga buat tulisan yang bener dunk

    • Memang Fincantieri Italia menawarkan ToT ke Dephan.

      According to Sudarsono, who met with Italian defence minister Arturo Parisi on Thursday, the Italian government has agreed to provide a bank guarantee for 85 percent of the costs while the remaining 15 percent will be provided by the state banks of Indonesia. On top of that there will also be a joint production with the shipyards in Surabaya in East Java with the hope of developing “a home grown maritime defence”.

      “That is why we emphasised the Corvettes which have landing platform docks,” he said. “They have a dual role in that they are mainly transport and do not have strong fighting capability,” he said.
      “It’s not just purely for defence, but also for development,” he said.

      Link: http://www.mentari-mtu.com/news.php?id=4

      • memang itu ada diberitakan, tapi yang di katakan indonesia diberi bagian mengerjakan 25% dari nilai kapal tersebut ( joint production) , tapi bukan TOT, karena kalo TOT yah harus membayar. tidak ada yang namanya TOT yang tidak membayar. kalo cuma membuat fisik kapal pasti bisa dan bisa menguntungkan PT PAL saat ini juga, tapi bukan engineering kapal tersebut apa lagi software dari kapal. sementara yang penting adalah design kapl perang, teknologi elektronika, combat management system, sistem integrator. dan penguasaan algoritma combat management sistem yang di embbed komputer kapal dan material stealth dan design steal dari kapal, sehingga kalo ilmunya sudah bisa bisa mulai tau kebutuhan material yang bagaimana yang harus dipenuhi industri material kapal yang harus dipenuhi vendor baja dalam negeri kedepannya.

        kalo cuma mau gitu ya tidak berkembang2 sampai kapanpun,jangan jadi bodohlah kita gara2 besarnya uang yang mau diterima sesaat ini.

  3. Saya pikir kalau pemerintah balik ke prancis sekarang, berarti kerja dan uang yg sudah dikeluarkan selama tahun terakhir ini akan sia-sia, dan saya yakin tidak ada negara dan orang yang akan bagi teknologi rahasia walaupun dengan membayar apalagi cuma cuma. lihat kasus meko malaysia yang harus bayar sangat mahal untuk TOT
    Saya yakin para ahli teknologi dan pemerintah di Indonesia sudah memikirkannya.

  4. Ngawurnya di mana Pak, Bisa dijelaskan ? Salam

  5. untuk tulisan2 anda ini saya tidak sependapat

  6. Saya juga tidak sepakat, apalagi anda mengatakan KS changbogo sebagai KS “anjing kampung”, apa tolok ukurnya sehingga dicela sedemikian rupa ? Anda sudah tahu data-2 teknisnya ? Anda operatornya ? Kalau sekarang kita sepihak membatalkan perjanjian & beralih ke produsen lain apakah anda yakin akan semulus dugaan anda ? Belum tentu, bisa jadi bumerang bagi kita, bisa diadukan ke mahkamah internasional karena melanggar perjanjian, keluar biaya lagi. Korea minta 300 juta usd utk biaya ToT wajar saya rasa, kita sekolah aja perlu biaya masak ToT dikasih gratis ? Demikian juga soal PKR, 220 juta USD utk Frigate sigma kosong wajar, lihat saja maroko keluar 400 juta lebih utk sigma komplit, kalau tdk tahu poin-2 perjanjian lebih baik kita jaga statement kita, simpan saja kegalauan anda untuk diri anda sendiri. Semua sedang proses koq, saya yakin pemerintah sudah berupaya memberikan yg terbaik utk meningkatkan kualitas pertahanan kita, dan saya juga merasa pemerintah tidak galau & bingung walau banyak tawaran kiri-kanan. Paradigma pengadaan alutsista di TNI sudah berbeda, dulu from-top-to-bottom, sekarang from-bottom-to-top

  7. yang namanya kS bukan dinilai dari rudalnya, torpedo saja, dari sini saya yakin kalo saudara tidak menguasai alutsista KS, tapi mengenai persenjataan KS yang anda sebuatkan semuanya sudah ada di Chang bogo yang sedang di bangun. saya kira awalnya anda cukup menguasai alutsista.
    yang jelas sebagaian angkatan laut yang menggunakan KS diesel electric masih mengatakan KS teknology type 209 masih lebih bagus dr teknology kilo.

    • Saya kira, Jerman melepas teknologi KS Type 209 ke Korea, karena teknologi KS itu sudah “out-of date” bagi Jerman.

      KS Changbogo (1200 ton) adalah KS eksperimen bagi Korea Selatan untuk mendapatkan ToT, sehingga tidak heran pembelinya hanya Indonesia. Kini Korea lebih mengandalkan KSS-II Type 214 (1800 ton) dan sedang membangun KSS-III (3500 ton) yang akan dilengkapi Vertical Launch System.

      Awalnya Indonesia pun tidak pernah tertarik dengan yang namanya KS Changbogo, meski KS Cakra Indonesia telah diretrofit di Korea sejak tahun 2002.

      Tahun 2008 Vladimir Putin menyetujui rencana Indonesia untuk membeli Kilo Class Rusia. Namun seiring dengan perkembangan strategi militer Indonesia yang mewajibkan adanya ToT , Indonesia pun melirik KS Changbogo dengan harapan adanya ToT.

      Tampaknya Indonesia mencoba mengadopsi cara Korea Selatan dalam membangun kemandirian teknologi militer.

      Jika, kita tidak mendapatkan ToT dari pembelian KS Changbogo, apa kelebihan KS ini sehingga harus dibeli ?. Kalau kita menginginkan ToT Changbogo, dibutuhkan 300 juta US. Dari mana uangnya ?.

      Apakah harus mengorbankan pembelian korvet/ light frigate ragam class, sementara Sigma 10514 pun, hanya dibeli “kosongan” tanpa sistem pertahanan, elektronik dan senjata.

      Jika pemerintah memilih ToT KS Changbogo dan melepas Nakhoda Ragam Class, lalu apa senjata pemukul/ deteren yang bisa diandalkan TNI AL ?.

      Yang ada nanti KS Changbogo (KW2 Tyoe 209 Jerman) menghadapi ancaman KS Scorpene Malaysia. Sigma10514 non senjata menghadapi Gowind Class Malaysia. Sementara 4 Korvet Sigma 9113 Indonesia menghadapi Frigate Lekiu atau Korvet Kedah Class Malaysia. Masak mau kalah dari semua posisi ?.

      Persoalannya adalah, angka 300 juta USD itu, tidak dipublish sejak awal, sehingga semuanya terang benderang. Sekarang setelah menandatangani pembelian 3 KS Changbogo, baru kita tahu butuh 300 juta USD untuk ToT.

      Hal ini mirip dengan pembelian 4 korvet Sigma 9113. Awalnya dikatakan 2 akan dibangun di Indonesia. Setelah ditandatangani, baru kita tahu dari pihak Damen Schelde yang mengatakan “Kami tidak pernah menjanjikan ToT untuk Korvet itu. Dan benar ke 4 korvet, semua dibangun di Belanda. Salam.

      • ya ada benarnya tulisan anda tapi lebih banyak ngga tulisan anda, alias ngawur.., ngga benarnya tulisan anda karena tulisan anda bukan teknis tapi politis.., sudahlah lebih baik tunggu saja hasilnya karena lebih banyak ngga bergunanya tulisan anda.

      • kelihatanya kapal light fregat dari brunei tetap dibeli kan dananya dari kapal pkr sigma yang enggak dibuat dulu , kalau ks changbogo itu udah tersendiri dananya

    • Setidaknya lebih menguasai dari yang tidak tahu mana lebih besar, tipe 212 atau Kilo.

      Tanggapan anda tidak bermutu, tidak mengembangkan wacana, hanya judging/labelling, akan lebih informatif kalau dijelaskan faktor apa lagi yang dijadikan pertimbangan pemilihan kapal selam, seperti teknologi rancangan propeler yang senyap

  8. Kenapa ribut masalah changbogo, cangcut, yang penting bagaimana pemerintah via KEMHAN mendapat TOT, mendapat senjata sesuai keperluan dan standar operasional TNI. Yang harus wanti2 mau tidak negara tersebut berbagi atau cuma akal akalan agar senjatanya laku. seperti LEO belanda yang mungkin satu paket dengan PKR DSNS alias Pengawal kena rudal karena senjata dan sistim di downgrade.Kita harus ambil risiko dengan OSN italia atau perancis yg mau memberi sedikit demi sedikit Teknologi. jangan pernah kita di bodohi oleh orang bodoh celaka bung. kualitas dan kuantitas senjata yang kita buat akan menjadi tolok ukur dari TOT tersebut.

  9. Walah malah pada ribut kaya komisi 1..utamakan musyawarah ..kalau prancis ngasi Tot beneran ya alhamdulilah….kalau nggak ya cari jalan yg terbaik gitu aja …semuanya proses.. dan yg penting kita dapet ilmu pembuatan alutsista canggih untuk bisa mandiri kedepannya.

  10. blog anda sangat bagus,sangat polos,tidak takut,tidak sotoy,jelas linknya,penuh semangat, hampir (hampir lo ya!) semua penggemar alutsista pasti mampir setiap hari menunggu info baru,maju terus DIEGO. salam…

    • saya setuju sedangkan bung parnas … mana punya loe… biar gua mampir juga masih mendingan diego banyak postingannya daripada ngnggur browsing gak tentu arah bagus mbaca tulisan ( atau apapun namanya ) punya kang diego… ya gak

      • Menulis di domain publik usahakan untuk memperdalam / mempertajam wacana dengan argumen dan kontra argumen bagi pengetahuan dan kemajuan bersama, kalau cuma bilang ngawur, gak setuju, itu cuman kusir dikasih gadget, kualitas debatnya gak ada kemajuan!

  11. penuh semangat, walaupun terkadang terlalu lepas, tulisan anda menyirtkan harapan akan Militer Indonesia yang lebih baik di masa depan, tetap giat menulis bang diego, tolong tulisan lebih obyektif dengan membandingkan parameter lebih lengkap, cntohnya kilo vs cbg, tlg diperjelas plus minusnya scara berimbang, lgkapi pula dg rencana pngembangan brdasarkan kebutuhan NKRI , jgn hanya berdasarkan impian anda semata,saya kira sebuah pilihan pstilah disertai pemikiran yg matang, cblah terka hal2 yg menyebabkan kemhan mengambil kputusan demikian, hall ini dapat mempertajam analisa anda thd suatu kasus. salam !

  12. saya kira membeli senjata pd dsrnya adalah membeli sistem, mulai dr teknologi, pelatihan, dan kemampuan perang itu sndiri, brikut analisa saya kenapa TNI memilih CBG drpd Kilo :
    1. faktor kebiasaan, TNI AL sdh hapal luar kepala dg model u209 khususnya versi upgrade yg sy kira tdk berbeda jauh dg cbg, dg cara ini akan mempersingkat kru Cbg nantinya dlm menguasai dan memanfaatkan teknologi dan sistem persenjataan scr maksimal shg mmpu menampilkan performa terbaik lbh cepat (lihat kasus scorpene malaysia yg td bs menyelam merupakan kggalan pihak perancis dn malaysia dlm menyesuaikan sistem scropene dg lingkungan yg baru) 2. faktor pembelajaran, jelas hanya korea yg mau menjual teknologinya dg hrg yg terjangkau kantong kita (biasanya penjualan teknologi mensyaratkan pembelian skala besar) 3. faktor kebutuhan, dengan tipikal laut dangkal di Indonesia bagian barat yang mnjadi hot spot dg potensi konflik yg besar menghruskan kapal selam yg tidak terlalu besar, 4. faktor keuangan, dg dana yg terbaatas dan kebutuhan TNI utk mmpercepat kekuatan minimum memaksa TNI lbh mengejar kuantitas dibandingkan kwalitas lbh dahulu. Saya kira pilihan kita thd cbg tidak memupuskan harapan akan masuknya kmbali kilo dalam tender pengadaan kapal selam TNI dikemudian hari

  13. Lebih baik mengejar kuaintitas MEF tahap 1 terlebih dahulu, masalah perancis bisa dipikirkan setelah 2014.

  14. Kalu perancis bersedia melakukan T.O.T kapal selam sepenuhnya, ya tidak apa apa!

  15. setuju ulasan the great,… dan setuju juga dgn mas parnas, berfikir positif.
    Saya setuju Kemenhan dan para Koleganya tentunya sdh memikirkan segala sesuatunya yg terbaik buat bangsa ini, lagi pula kalau kita terlalu berpikiran negatif berprasangka2 terus dan berpikiran Kemenhan salah2 terus, apakah kita sebagai warga bangsa Indonesia gak merasa ngeri, masak kalau seandainya para pimpinan pimpinan militer kita tipe yang selalu gampang sekali dibodohi???, gimana kalau perang yaa?, … positif lah, pembelian alutsista militer pastinya berbeda dengan pembelian barang2 komoditas2 yg umum, ada tingkat kerahasiannya, singkatnya kalau segala sesuatunya dibuka total ke publik apa gak kebayang tuh tetangga pasti belum apa2 tau2 udah ngeduluin lagi ngeduluin lagi, dah preventive duluan mereka… kapan kita yg didepan dong?, heee, Udahlah percayakan pada ahli nya ya, mereka pasti melakukan yg terbaik bagi bangsa ini seperti kita2 juga semua yg ada di blog ini. Maju Terus Indonesia-ku dengan Tot nya…

  16. Indonesia tidak perlu ragu dengan pilihan yang jelas sudah dianalisa atau dipertimbangan, sakira itulah yang terbaik dan jangan terlalu banyak mendengarkan nada-nada sumbang kalau mau maju…

  17. Bagaimana dengan Berita perihal Rafale mengalahkan Thypoon dalam pengadaan pesawat tempur India sebanyak 126

  18. tenang gan…semua persenjataan di tangan tni pasti di otak atik (pasti jagonya)…….klo gak salah kita banyak penyimpan senjata….yg masih misteri…..klo diungkap ke media…..tetangga sebelah kiri atas kanan bawah…..pada koprol n jungkir balik …sambil bilang….lo punya masalah ma gw…….bravo tni….

  19. saya setuju pemilihan ks changbogo ke korsel sebab kita bisa nantinya membuat ks dan merawatnya, soal teknologinya memang masih kalah jika harus disejajarkan dengan kilo,apalagi pt pal sudah dapat membuat senjata ks.suatu penghematan yg besar bila tot ks209 dapat terlaksana,soal untuk membuatnya lebih canggih itu urusan setelah 2020

 Leave a Reply