Apr 052015
 
Wakil Kepala Polri, Komisaris Jenderal Badrodin Haiti (KOMPAS/IWAN SETIYAWAN)

Wakil Kepala Polri, Komisaris Jenderal Badrodin Haiti (KOMPAS/IWAN SETIYAWAN)

Palu – Wakil Kepala Polri Komjen Badrodin Haiti mengemukakan, latihan perang TNI sejak 1 April 2015 di Kabupaten Poso mempermudah Polri mengejar kelompok teroris pimpinan Santoso dan Daeng Koro. Badrodin Haiti kepada wartawan di Palu, Sabtu (4/4/2015) malam, mengatakan latihan perang yang melibatkan 3.000-an anggota TNI tersebut membuat kelompok teroris yang dipimpin Santoso dan Daeng Koro menghindar ke tempat yang lebih aman.

Latihan perang TNI tersebut dilakukan di sekitar Gunung Biru, Kabupaten Poso. Lokasi itu selama ini dikenal sebagai lokasi persembunyian kelompok sipil bersenjata. Saat latihan perang, TNI meluncurkan beberapa roket ke arah Gunung Biru.

Badrodin mengaku, Polri sudah mengantisipasi menyingkirnya kelompok teroris. Polri kemudian melakukan penyekatan di beberapa lokasi di Kabupaten Poso dan wilayah perbatasan. “Ini terbukti berhasil, dan telah menangkap dua terduga teroris,” kata mantan Kepala Polda Sulawesi Tengah ini.

Dia juga berterima kasih kepada TNI selama menggelar latihan perang di Kabupaten Poso sehingga tugas Polri lebih ringan. Menurut Badrodin, Polri dan TNI terus berkoordinasi dalam menumpas gerakan radikal di Kabupaten Poso dan sekitarnya.

Sebelumnya, Panglima TNI Jenderal Moeldoko menyatakan latihan perang TNI itu adalah kegiatan rutin tahunan yang lokasinya bisa di mana saja.

“Latihan ini tidak untuk menangkap kelompok teroris. Tapi kalau ketemu mereka, ya, diminta menyerah atau ditembak,” kata Moeldoko saat berkunjung ke Palu. (KOMPAS.com).

  10 Responses to “Latihan Perang TNI Permudah Pengejaran Teroris”

  1.  

    1 donk..

  2.  

    Pertomak lgi

    josgandos markotos

  3.  

    Sial.. Beda ,0 bung

  4.  

    bahasa halus.. LATIHAN PERANG.. padahal memerangi agar gak terkesan menyerang poso jadi DOM daerah operasi militer.. kalo memerangi poso warga poso jadi ikut membantu

  5.  

    akibatnya ada yang tertembak

  6.  

    sepertinya para separatis di poso udah naik level dimata pemerintah.makanya diperlukan operasi militer untuk memeranginya.dan ini merupakan kabar buruk bagi separatis,karena TNI bukanlah lawan yang sepadan bila dinilai dari kemampuan individu antar personel meski ada beberapa diantara separatis merupakan lulusan akademi di timteng/perang di-arab.padahal selama ini separatis selalu menghindari untuk tidak menjadikan anggota TNI sebagai target karena mereka tao akan dampak akibatnya.jangankan di markas polis*,didalam penjarapun masih dikejar…hehehheeee

  7.  

    Nah gt donk bagus kerjasamanya Kakak Adik..
    Next….Papua