Aug 092017
 

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Viktorovich Lavrov tiba di Jakarta, 9/8/2017 (Protocol MoFA RI)

Jakarta – Menteri Luar Negeri RI Retno LP Marsudi bertemu dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Viktorovich Lavrov untuk membahas berbagai kerja sama bilateral antara Indonesia dan Rusia.

“Merupakan suatu kehormatan bagi saya dan Indonesia untuk menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov. Tiga hari lalu kami bertemu di Manila dalam acara ASEAN,” ujar Menlu Retno Marsudi saat bersama Menlu Rusia di Kementerian Luar Negeri RI di Jakarta, Rabu, 9/8/2017.

Menurut Retno Marsudi, kunjungan Menlu Lavrov memiliki arti yang sangat penting karena merupakan kunjungan bilateral resmi pertama Menlu Rusia ke Indonesia.

Dalam pertemuan bilateral ini, kedua Menlu menandatangani dokumen Rencana Konsultasi antara Kementerian Luar Negeri Indonesia dan Rusia untuk periode 2017-2019.

“Dan penandatanganan dokumen ini secara jelas menunjukkan keinginan Kementerian Luar Negeri kedua negara untuk mengintensifikasi hubungan konsultasi dan komunikasi antara Indonesia dan Rusia,” ujar Menlu Retno.

Dia menyebutkan beberapa topik kerja sama bilateral yang menjadi fokus pembahasan, salah satunya di bidang politik dan keamanan.

Pertemuan Tim Menteri Luar Negeri RI Retno LP Marsudi dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Viktorovich Lavrov membahas berbagai kerja sama bilateral Indonesia dan Rusia, 9/8/2017. (Protocol MoFA RI)

Terkait kerja sama di bidang politik dan keamanan, kedua Menlu membahas tentang upaya peningkatan kerja sama penanggulangan terorisme, keamanan dunia maya, industri strategis.

Untuk kerja sama ekonomi, keduanya membahas tentang peningkatan kerja sama perdagangan dan investasi serta kerja sama pariwisata melalui “people-to-people contact”.

Untuk bidang perdagangan, Rusia merupakan salah satu pasar yang belum dimanfaatkan (untapped market) potensial di kawasan Eropa.

Nilai perdagangan bilateral Indonesia dan Rusia pada Januari hingga April 2017 mencapai 788,93 juta dolar AS, dan nilai tersebut menunjukkan peningkatan sebesar 50,77 persen dari nilai perdagangan bilateral di periode yang sama pada 2016.

Untuk bidang pariwisata, jumlah wisatawan Rusia yang berkunjung ke Indonesia pada 2016 mencapai 80.514 orang, dan pada Januari-Mei 2017 jumlah kunjungan mencapai 52.189 orang.

Selain membahas berbagai isu bilateral, kedua Menteri juga membahas isu-isu regional dan global, seperti perkembangan situasi di Semenanjung Korea, Laut China Selatan, dan di kawasan Timur Tengah. Dirilis Antara, 9/8/2017.

  43 Responses to “Lavrov ke Jakarta, Hubungan RI – Rusia Semakin Lengket”

  1. Waahhhh…makin besar kepala aja nih si jimmy. Makin ngelunjak dia. Makin meremehkan dan menganggap sepele bung Tukang Ngitung Phd bakaslan nih.
    Gak bisa dibiarkan nih.

    • Hahaha… Anjay Ada Kompor Meleduk…

    • Selama yang dibeli Rusia itu barang2 jadi hasil industri RI, saya nggak menolak karena mendatangkan kesejahteraan bagi rakyat RI.

      Tetapi transfer of technology tetap harus jalan menurut amanat UU. Sebab yang kita kejar dan mau itu teknologi terkini bukan teknologi jaman baheula.

      • Setuju, tapi saya ada pertanyaan, jika teknologi ToT yang di minta berlebihan bagaimana?
        Contohnya minta ToT cetak biru SU35?
        Apa tidak bersyukur jika ToTnya seperti pabrik / bengkel perbaikan Sukhoi ada di Indonesia? Karene menurut saya ToT yang diberikan juga harus disesuaikan dengan kemampuan kita.
        Ibaratnya tingkatan SMP tidak mungkin diberikan ToT tingkatan S1, S2 atau S3

        • menlu dl, nti presiden rusia nya

        • Minta cetak biru Su-35 itu tidak berlebihan lho.

          Lha orang RI yang diajari itu khan bukan cuma lulusan SMP toh ?
          Kalau sampeyan bilang yang diajari itu cuma lulusan SMP berarti sampeyan ngenyek para pegawai PTDI toh ? Apa mereka cuma lulusan SMP ? mereka itu banyak lulusan S2nya lho. Mereka tahu cetak biru itu seperti apa dan bagaimana mempelajarinya serta membuat benda persis cetak biru itu.

          Lagipula apa salahnya dengan lulusan SMP ? Bu Susi juga lulusan SMP tapi bisa jadi dirut Susi Air dan juga bisa jadi Menteri. Jadi jangan ngenyek para lulusan SMP lho.

          Yang berlebihan itu minta cetak biru Su-57.

          • Ada perbedaan sudut pandang antara kita.
            Mereka (Rusia) membuat alutista dengan berbagai macam riset dan pengujian.
            Kita memang punya tenaga ahli, tapi belum lavel SU-35 (pespur).
            Bahkan project KFX/IFX terkendala oleh lisensi USA dan harus mencari options lain.
            Intinya menciptakan dan menjiplak itu berbeda, contoh pesur China.
            Meskipun mendapatkan cetak biru, tetap saja tidak semudah membalikan telapak tangan.
            Lebih baik ToT secara bertahap sesuai tingkatannya.

          • Btw apakah mentri Susi bekerja sendiri?
            Semua butuh team work dan sudah tentu ada yang lebih ahli secara teori dan praktek untuk mendampinginya.
            Oleh karena itu kaprang PKR, kaplam Changbogo dan KFX/IFX indikasi kemampuan tenaga ahli kita untuk sementara ini.
            Intinya tenaga ahli kita butuh waktu untuk mencapai kelas SU-35 atau lebih.
            Cepat atau lambat tergantung sinergi tenaga ahli, pemerintah, TNI dan semua unsur yang terkait.

          • Orang ini cuma gagal paham, di maklum saja

          • aku pernah tu liat cetak biru, wuih, tulisanne hampir ndak kebaca…..biru kabeh…

        • Kalo masalah cetak biru ga ada yg berlebihanlah bung@WK.. Kalo kita minta trus dikasih masa dibilang berlebih..

          Anda trlalu meremehkan orang2 di PT DI bung.. Yg perlu dicatat ini TOT ya bung.. Bukan mengembangkan sendiri.. Biar ga salah persepsi.. Kalau TOT itu yg diperlukan fasilitas.. SDM kita hanya menyerap teknologi yg ditransfer dan mengaplikasikan.. PT DI bukan pabrik yg baru 1-2 tahun dibangun.. Kemampuan SDM sudah trbukti dgn mampu membuat N-219.. Justru dgn adanya TOT mendorong pemerintah mengupgrade fasiltas yg sudah ada..

          Anda boleh berbicara kemampuan SDM kita ga mampu menyerap teknologi cetak biru pesawat yg diberikan kalau indonesia belom pernah punya industri pesawat.. Justru bolanya ada di pemerintah,, siap atau ga mengeluarkan dana yg besar untuk mengupgrade fasilitas yg sudah di PT DI..

          • Pemerintah siap kok bung.

            Buktinya sekarang Kemhan sedang uji kelayakan daerah di propinsi Lampung untuk mencari lokasi yg cocok untuk pindahkan PTDI, PINDAD dan PT. PAL di Lampung.

            Lokasinya tidak berdekatan tetapi jaraknya mungkin puluhan atau ratusan kilometer antara satu dengan yang lain.

            Propinsi Lampung masih luas dan jumlah penduduk tidak padat sehingga bisa buat pabrik yang lebih luas 3 – 5 kali lebih luas dari yang ada sekarang di Bandung maupun Surabaya.

            Kalau inhan itu jadi dipindah ke Lampung, maka arhanud yang kuat dan berlapis bakal dipasang di Lampung untuk melindungi 3 obvit itu.

          • Siap apa bung TN,.?

            Kenapa Kemhan yg sibuk, bukannya ketiga industri strategis itu ada di Kem BUMN ya.?
            Lalu kenapa wacananya di Lampung.? Daerah gempa.?
            Dari situ aja sudah menunjukan ketidak siapannya bung, tanpa melakukan study kelayakan. Diwilayah Kalimantan dan timur Indonesia masih bisa. Kok gesernya selalu kebarat. Apa yg menjadi motif pemilihan Lampung.?

            Memang ketiga BUMN itu akan diperluas tapi bukan pindah wacananya. Seperti Pindad ada yg dibandung dan di Turen Malang.

            Yg Pindah itu bung Jimmy, si sales saingan ente, abis dpt borongan gede langsung pindah rumah di pondok indah….. ahhh…si Jimmy mbual tok kerjanya.

          • PT DI ke Bandara Kertajati kayaknya ….khususnya produksi Sipil, yang militer tetap yang ada sekarang.
            Ini Regio kabarnya sudah selesai ganti rugi lahan di kawasan terpadu industri dirgantara di kertajati.

            Klo Pindad bukannya expansi yang sudah ada di Malang khususnya untuk peluru, artileri dan mortir.

            Klo PT. PAL , apakah yang di Tanggamus Lampung? padahal kapasitas produksi sekarang ini di galangan PT. PAL surabaya masih/hanya 15% dari kapasitas penuh.

          • owalahhhhh , ….
            I see….

            Pak Menhan bilang “Beberapa waktu lalu, Ryamizard juga sempat menyinggung soal pemindahan industri pertahanan ke Lampung. Dia menjelaskan rencana tersebut, Minggu (21/5), di Hotel Novotel Bandarlampung.
            ’’Saya sudah membicarakannya kepada gubernur. Karena di Jawa, Bandung, itu sudah penuh. Di Lampung lebih lebar, masih luas wilayahnya,” kata putra daerah Lampung ini.

            capekkk dechhh

          • Bung@ruskye,, ane setuju dgn studi kelayakan.. Idealnya sebisa mungkin memang tidak satu area industri antara PT PAL,, PT DI dan Pindad.. Karena riskan,, bila trjadi perang.. Yg harus di jadiin satu area justru industri komponen pendukungnya biar mempermudah jalur produksi..

            Utk PT PAL dipindahin ke barat justru bagus bung utk kapal komersilnya.. Yg di surabaya khusus militer.. Memang harusnya expansi yg bagus bukan memindahkan keseluruhan fasilitas yg sudah ada.. Lebih baik buat upgrade mesin dan peralatannya dibanding buat ngebangun gedung baru secara besar2an..

      • hahahaha, jadi teringat Harga SCORPION sama dengan harga MBT dengan bonus “blue print”, ……..

        Gilirannya Rusia ajah dikejar-kejar sampe mampus untuk TOT atau Blue Print …padahal beli ketengan…… gilirannya USA ga ada ba-bu-ba-bu tiba-tiba semua sudah dibayar lunas-nas siap dikirim barang bekas…

        yang aneh lagi, “keberhasilan” toto KFX/IFX bermodalkan “20%” … malah dijadikan olok-olokan, hanya tukang ngrakit laaa, hanya dapat produksi sayap laaa, proyek boong-boongan laa….

        ga konsisten jadinya, …. beli ketengan minta TOT/blue print (khusus Rusia) …. beli banyak tapi bekas boleh tanpa TOT (USA) ….. Modal “20%” dapat TOT (korea) dibilang dikibuli/boongan …???

  2. Hahaha… Pak Putin&Chemezov Segera Menyusul… 😆

  3. ini perkataan “Dark Rider” August 9,
    2017 at 4:31 AM
    Wahai, para Sukhoi
    fanboyz hoaxer!
    Bangunlah dari mimpi!
    Su-27SK dari tahun 2013,
    TIDAK AKAN BISA DI-
    UPGRADE ke versi SKM !
    Silahkan lihat dulu foto
    Su-27SKM, dan lihat
    kembali foto Su-27SK!
    Sudah melihat bedanya?
    Versi SK tidak mempunyai
    refueling probe, krn
    dasarnya adalah versi
    downgrade dari Su-27S
    tahun 1980-an.
    Semua instrumen cockpit
    masih analog… Ini mau
    diganti kemlayar LCD
    seperti SKM saja sudah
    perlu perombakan total.
    Lebih lanjut, radarnya
    juga berbeda.
    Versi downgrade dari
    N001 versi original, bukan
    versi N001P, atau VEP.
    “Kemampuan equivalent
    dengan Su-35K”?
    😀
    Ini kebohongan yg lebih
    menggelikan lagi.
    Komputer, radar, airframe,
    IRST, ECM, mesin, dan
    hampir segala sesuatunya
    berbeda jauh.
    Segala sesuatu yg
    diperuntukkan ke Su-35,
    tidak bisa dipasang
    kembali ke Su-27 tahun
    1980an,
    Sudah tidak compatible.
    Sekali lagi, jangan terlalu
    banyak bermimpi!
    AU Russia sendiri tidak
    memakai Su-27SK, SKM,
    atau Su-30MK, dan MK2.
    Keempat model ini adalah
    Versi Export Downgrade
    Kommercheskiy, dimana
    segala sesuatunya sudah
    dikurang2i.
    Silahkan merayakan
    kembalinya TS-2701, dan
    -2702!
    Atau bagaimana supplier
    yg seharusnya sudah
    pengalaman maintenance
    Sukhoi, ternyata butuh
    waktu 20 bulan untuk…..
    sebenarnya ini hanya
    praktek menginjak2
    kedaulatan Indonesia.
    Belajarlah untuk
    bertobat!
    Di blog ini, kita tidak
    membicarakan siapa yg
    menang, atau siapa yg
    kalah, melainkan
    Kebutuhan Pertahanan
    Udara Indonesia, yang
    mandiri, dan berdaulat .
    Jangan terlalu banyak
    main game!
    Kedaulatan, tidak hanya
    tergantung kepada jenis
    pesawat tempur.
    Ini hanya 20% dari efek
    gentar, dan itu juga kalau
    bisa dipersenjatai dengan
    missile non-downgrade.
    Kita membicarakan
    bagaimana membangun
    industri pertahanan lokal,
    sesuai amanat UU
    no.16/2012, bukan untuk
    dipermainkan oleh para
    perantara.
    Kita menbicarakan
    pembangunan sistem
    pertahanan udara yg
    lengkap, terkoneksi
    Network, siap tempur,
    memiliki kemampuan
    Sigint, ECM, ECCM, dan
    memenuhi persyaratan
    latihan udara yg
    sebanding dengan
    standard NATO!

  4. putin liburan ke bali nanti…

  5. Beli mig 35, gripen, elbot, sukhoi jg boleh asal rudal2nya jg dapat, dan bisa melengkapi ifx

  6. Semoga barter dagang bisa beli iskander

  7. Penandatanganan sukhoi secara resmi(akan…hahahha)…mungkinkah 2018-2019 russian party…

  8. Perdagangan antara Rusia dan Indonesia sebagaimana dilaporkan Bloomberg Senin telah anjlok sejak 2012, namun Menperindang Enggartiasto Lukita mengatakan sanksi finansial dan perdagangan Uni Eropa dan Amerika yang luas terhadapRusia merupakan PELUANG bagi Indonesia untuk menghidupkan kembali perdagangan melalui kesepakatan barter di industri lain. “Iniadalah kesempatan yang tidak boleh hilang dari genggaman kita,” katanya.

    inilah pentingnya sistem perdagangan, sama sama untung, rusia untung kita juga dapat makan / punya lapangan kerja jadi bukan cuma beli beli beli…

  9. ” Perdagangan antara Rusia dan Indonesia sebagaimana dilaporkan Bloomberg Senin telah anjlok sejak 2012, namun Menperindang Enggartiasto Lukita mengatakan sanksi finansial dan perdagangan Uni Eropa dan Amerika yang luas terhadapRusia merupakan PELUANG bagi Indonesia untuk menghidupkan kembali perdagangan melalui kesepakatan barter di industri lain. “Iniadalah kesempatan yang tidak boleh hilang dari genggaman kita,” katanya…”

    inilah pentingnya sistem perdagangan, sama sama untung, rusia untung kita juga dapat makan / punya lapangan kerja jadi bukan cuma beli beli beli…

  10. mantap wes nyimak aja

    top 10 militer dunia

    https://youtu.be/1pfhrGiJjVM

 Leave a Reply