Apr 242018
 

Kompleks rudal pertahanan udara S-300PMU2 buatan Rusia © Ajvol via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Rusia mungkin memasok sistem rudal permukaan-ke-udara atau SAM jarak jauh S-300 ke Suriah secara gratis, menurut media berbahasa Rusia yang mengutip pernyataan sejumlah sumber.

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, telah menyatakan bahwa masalah pasokan atau suplai sistem pertahanan udara S-300 dari Rusia masih belum diputuskan, seperti dilansir dari laman Sputnik News.

Sergei Lavrov menambahkan bahwa Presiden Vladimir Putin telah membahas masalah tersebut bersama dengan Kementerian Pertahanan Rusia demi membantu menghindari situasi dimana Suriah tidak cukup siap untuk “tindakan agresif” seperti serangan udara besar-besaran yang dilakukan oleh AS, Prancis dan Inggris pada April 14.

“Apa keputusan-keputusan yang akan diambil oleh pimpinan Rusia nanti bersama dengan perwakilan Suriah masih belum ditentukan, disini bukan rahasia lagi”, kata Lavrov.

Direktur departemen non-proliferasi serta pengawasan senjata dari Kementerian Luar Negeri Rusia, Vladimir Ermakov mengatakan dalam sebuah pernyataan terpisah pada hari Senin, 23 April 2018 bahwa tak ada perjanjian internasional yang bisa membatasi pasokan senjata pertahanan dari Rusia ke Suriah.

Pada gilirannya, juru bicara Kremlin yakni Dmitry Peskov menolak berkomentar tentang kemungkinan suplai sistem rudal permukaan-ke-udara jarak jauh S-300 ke Suriah.

“Saya hanya akan mengingatkan pada Anda sekali lagi tentang pernyataan yang dibuat oleh Presiden Putin setelah serangan rudal dilancarkan kepada negara berdaulat telah melanggar dasar-dasar hukum internasional”, kata Peskov kepada para wartawan sehubungan dengan kemungkinan pasokan sistem S-300 ke Suriah.

Sebelumnya pada hari itu, surat kabar Kommersant melaporkan bahwa Rusia mungkin memasok sistem rudal permukaan-ke-udara jarak jauh S-300 ke Suriah secara gratis, dalam kerangka bantuan militer ke negara Arab tersebut.

Surat kabar tersebut mengutip sumber diplomatik dan militer yang mengatakan bahwa masalah memasok sistem rudal permukaan-ke-udara jarak jauh S-300 Rusia ke Suriah “secara praktis telah dipecahkan”.

Pasokan akan dilakukan dalam rangka memberikan bantuan militer dan teknologi ke Damaskus yang menurut sejumlah sumber mengatakan Suriah “tidak memiliki uang” untuk membayar pengiriman.

Komponen S-300, seperti kendaraan pengangkut dan pengisi (TEL), kendaraan kontrol dan peluncur, serta stasiun radar, akan dikirimkan ke Suriah baik oleh pesawat angkut militer ataupun kapal Angkatan Laut Rusia.

Jika dikirimkan, S-300 diharapkan menjadi bagian dari sistem pertahanan udara Suriah, yang saat ini terdiri dari sistem rudal pertahanan udara usang S-125, S-200, Kvadrat dan Osa serta Buk buatan Soviet.

Juru bicara Presiden Rusia Dmitry Peskov, menolak berkomentar soal apakah Moskow akan memasok sistem S-300 tersebut ke Suriah, namun menekankan bahwa serangan rudal Barat pekan lalu terhadap Suriah “telah semakin memperburuk situasi di sekitar permukiman Suriah”.

Akhir pekan lalu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan kepada Sputnik bahwa Moskow tidak lagi terikat oleh “kewajiban moral” untuk tidak memasok sistem S-300 ke Damaskus setelah serangan rudal Barat baru-baru ini di Suriah.