Jun 022018
 

Sistem pertahanan udara S-400 Triumf dalam sebuah parade latihan militer di Moskow. © UMNICK via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Arab Saudi, sebagai salah satu negara yang memblokade Qatar, mengancam akan melaksanakan aksi militer terhadap tetangganya jika mengakuisisi sistem pertahanan udara S-400 buatan Rusia, seperti dilansir dari laman Le Monde, harian berbahasa Prancis pada hari Jumat.

Raja Arab Saudi Salman bin Saud © Robinson Niñal via Wikimedia Commons

Dalam sebuah surat yang ditujukan kepada Presiden Prancis Emmanuel Macron, Raja Arab Saudi Salman menyatakan akan keprihatinan mendalamnya dengan pembicaraan yang sedang berlangsung antara Moskow dan Doha untuk penjualan sistem pertahanan anti-pesawat canggih.

Raja Arab Saudi meminta kepada Prancis meningkatkan tekanannya ke Qatar, mengatakan bahwa dia khawatir tentang konsekuensi dari akuisisi Doha terhadap sistem rudal pertahanan udara yang katanya akan mengancam kepentingan keamanan Saudi.

“Kerajaan Arab Saudi akan siap untuk mengambil semua langkah yang diperlukan untuk dapat menghancurkan sistem pertahanan ini, termasuk tindakan militer”, kata Raja Salman seperti dikutip dalam surat itu, yang diperoleh Le Monde melalui sumber yang dekat dengan Istana Elysee.

Blokade selama setahun

Pada bulan Januari, duta besar Qatar untuk Rusia mengatakan bahwa Doha sedang melaksanakan pembicaraan “tingkat lanjut” dengan Moskow untuk mengakuisisi sistem pertahanan udara mutakhir.

Pembicaraan terjadi setelah penandatanganan perjanjian kerjasama militer dan teknis antara kedua negara pada bulan Oktober 2017 untuk kerjasama lebih lanjut di bidang pertahanan selama kunjungan Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu ke negara Teluk.

Pada tanggal 5 Juni 2017, Arab Saudi bersama negara-negara sesama Dewan Kerjasama Teluk (GCC) yakni Bahrain, Uni Emirat Arab, serta Mesir memberlakukan blokade laut, udara dan darat di Qatar, mereka menuduh negara itu telah mendukung “terorisme” dan mendestabilisasi wilayah tersebut, yang menurut Doha bahwa tuduhan itu tidak benar.

Di antara daftar tuntutan untuk penyelesaian krisis itu, kuartet pemblokiran meminta agar jaringan media Al-Jazeera dan pangkalan militer Turki untuk ditutup.

Pada bulan Oktober, saat kunjungan Raja Salman ke Moskow, kerajaan Arab Saudi juga menandatangani perjanjian awal untuk membeli sistem S-400 Rusia.

Ketika ditanya apakah penentangan Arab Saudi terhadap kesepakatan dengan Qatar itu akan mempengaruhi perhitungan Moskow, Pavel Felgenhauer, analis pertahanan yang berbasis di Rusia, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ini tidak mungkin terjadi.

“Rusia telah selama beberapa tahun mencoba membangun semacam hubungan perdagangan dengan Arab Saudi tetapi itu tidak benar-benar berhasil”, kata Felgenhauer.

Felgenhauer menambahkan bahwa Arab Saudi jelas telah mengikat tali politiknya untuk setiap kesepakatan yang mungkin dengan membeli persenjataan Rusia. Termasuk juga mendesak Rusia untuk mengurangi kerjasamanya terutama dengan Iran dan mungkin mengubah posisinya di Suriah.

“Qatar tidak mengikat tali semacam itu [dan] Rusia tidak akan secara militer mencoba terlibat dalam apa yang terjadi di Teluk… dalam hal apapun rudal anti-pesawat tersebut, jika mereka akan muncul di Qatar, ini tidak akan ada dalam waktu segera”, jelasnya.