Oct 162018
 

Pesawat angkut tilt-rotor MV-22B Osprey © Korps Marinir AS via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Menyebut kata Osprey di Jepang, dan reaksi pertama akan selalu berupa komentar tentang catatan keselamatan pesawat angkut yang dikembangkan AS tersebut, seperti dilansir dari laman Asahi Shimbun.

Dan ternyata, itu bukanlah satu-satunya kekhawatiran tentang pesawat tilt-rotor sayap tetap yang ditakdirkan untuk menjadi andalan bagi Pasukan Bela Diri Jepang. Osprey adalah pesawat yang sangat canggih dan karenanya sangat mahal untuk dipelihara.

Kementerian Pertahanan Jepang telah menunjuk Kamp Militer Kisarazu yang berada di Prefektur Chiba pada mesin dan pekerjaan pemeliharaan Osprey lainnya berdasarkan Pedoman 2015 untuk Kerjasama Pertahanan Jepang-AS. Perjanjian yang mewajibkan sekutu dalam memperkuat kerangka kerja untuk memperbaiki dan memelihara semua “peralatan umum”.

Kamp Kisarazu mulai melakukan servis berkala terhadap armada Osprey Korps Marinir AS pada awal 2017, namun setelah berlangsung selama 19 bulan, pekerjaannya belum ada yang selesai.

Penundaan tersebut pasti akan diterjemahkan ke dalam biaya yang terlampau tinggi dan pelatihan yang kurang, menurut informasi orang dalam. Sebanyak 5 (lima) unit CV-22 Osprey Angkatan Udara AS dikerahkan ke Pangkalan Udara Yokota di Tokyo barat pada tanggal 1 Oktober.

Pesawat menjalani pemeriksaan berkala setelah beroperasi dalam jam penerbangan yang ditentukan. Ospreys militer AS wajib menjalani pemeriksaan lengkap setiap lima tahun sekali.

Pekerjaan pemeliharaan di Kamp Kisarazu dilakukan oleh produsen mobil Subaru Corp, yang dipilih oleh militer AS melalui tender karena departemen kedirgantaraan yang ada di perusahaan telah memproduksi dan memperbaiki sejumlah pesawat terbang bersayap tetap dan helikopter militer Jepang.

Pekerjaan pemeliharaan Osprey pertama dimulai pada bulan Februari 2017 di hangar kamp Kisarazu. Pesawat itu dibongkar, bagian-bagiannya diganti dan badannya di cat ulang.

Meskipun pemeliharaan biasanya hanya memakan waktu antara 3 – 4 bulan, proyek ini awalnya diperkirakan akan memakan waktu selama 7 bulan, karena ini adalah pertama kalinya bagi Subaru untuk melakukan servis pesawat Osprey.

Namun pekerjaan tersebut masih belum kelar sampai sekarang. Sementara semua tugas perbaikan di hangar itu diselesaikan pada bulan September, pesawat belum menjalani uji keselamatan penerbangan.

Seorang pejabat Kementerian Pertahanan Jepang menjelaskan bahwa dibutuhkan waktu lebih lama dari yang diperkirakan untuk mendapatkan suku cadang serta alat khusus, dan mencari tahu bagaimana cara melakukan tugas tersebut.

“Tidak ada masalah struktural yang ditemukan pada pesawat tersebut”, kata pejabat kementerian itu. “Saya yakin keterampilan pekerja pemeliharaan akan meningkat seiring berjalannya waktu, sehingga bisa mengurangi waktu yang dihabiskan untuk memeriksa setiap pesawat”.

Namun, biaya servis Osprey akan sangat mahal.

Menurut perkiraan Departemen Pertahanan Jepang, biaya perbaikan 17 unit Osprey milik GSDF akan mencapai 147,6 miliar yen atau sekitara $ 1,29 miliar selama periode operasi 20 tahun.

Jika, seperti yang diharapkan, setiap pesawat menjalani pemeriksaan menyeluruh setiap lima tahun, akan ada 51 pemeriksaan dan servis penuh yang akan menelan biaya $ 15,2 juta per unitnya.

Biaya yang dipersiapkan tidak hanya untuk pesawat yang memerlukan perbaikan rutin, tetapi juga biaya untuk menangani malfungsi.

Biaya pemeliharaan per unit Osprey ternyata jauh lebih tinggi daripada untuk helikopter angkut CH-47 Chinook (130 juta yen atau sekitar $ 1,16 juta) dan helikopter tempur AH-64D Apache (150 juta yen atau sekitar $ 1,34 juta).

GSDF dijadwalkan untuk membeli sebanyak 17 unit MV-22 Ospreys dari AS, bersama dengan 24 unit Osprey dari Korps Marinir AS, akan dipertahankan di Kamp Kisarazu. Di bawah pengaturan tersebut, 5 – 10 Osprey akan menjalani pemeriksaan pemeliharaan berkala di sana setiap tahun.

Masih belum diputuskan dimana pemeriksaan dan servis Osprey akan dilakukan untuk 10 unit CV-22 Osprey yang akan dikerahkan ke Yokota Air Base pada tahun 2024 atau lebih.

Melakukan pekerjaan di Kamp Kisarazu akan memberi beban tambahan pada fasilitas.

“Penundaan servis yang lebih lama akan memiliki dampak yang cukup parah, seperti mengurangi frekuensi latihan”, kata sumber Kementerian Pertahanan. “Ada prospek yang sangat nyata bahwa lebih banyak staf pemeliharaan akan dibutuhkan untuk menyelesaikan proses ini dengan cepat, yang berarti biaya yang lebih tinggi”, pungkasnya.

Analis militer Yoshitomo Aoki mencatat bahwa pesawat tiltrotor Osprey memang secara teknologi jauh lebih kompleks daripada helikopter biasa, sehingga “mempertahankan mesin dan suku cadang jauh kali lebih sulit daripada model pesawat lain”.

Bagikan:

  3 Responses to “Lebih Setahun Servis, MV-22B AS Belum Kelar”

  1.  

    pesawatnya lagi nungguin onderdil di bengkel AHAS tuh.

  2.  

    bentar lgi osprey juga di jiplak nih sama negara china.

  3.  

    kelamaan service nanti tahu tahu negara china sdh punya yg baru.xi xi xi

 Leave a Reply