Sep 132014
 

Apakah kita cukup bangga sebagai pemakai, perantara dan makelar teknologi atau produk asing ?


 

Visited Prof Guey Shin Chang, Director of Taiwan National Space Organization (NSPO) to collaborate to develop SAR onboard Solar UAV and GPS-RO microsatellite, 3 September 2014, Taiwan.

Under Licensed Country dan Karoseri Teknologi Asing

Selama menjadi peneliti BPPT dan TNI-AD di Indonesia pada tahun 1989-1999 dan peneliti di Chiba University & ISAS JAXA 2002-sekarang, setiap tahun lebih dari enam kali saya berkunjung ke instansi penelitian dan pendidikan Indonesia, selain untuk mengunjungi mantan mahasiswa saya yang telah banyak kembali ke instansi pemerintah dan swasta di Indonesia. Biasanya juga untuk melakukan ground survey penelitian saya mengenai perubahan lingkungan Indonesia dan pengamatan menggunakan satelit dan peta-peta kuno saya, serta mengumpulkan naskah-naskah lama Indonesia. Setiap terbang dalam negeri Indonesia, saya selalu atur jauh hari untuk mendapatkan posisi kursi dalam pesawat agar mempermudahkan saya melakukan survey perubahaan lingkungan dari dalam pesawat di setiap jalur penerbangan yang sering saya lewati,misalnya jalur pantura Jakarta – Solo, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Makassar dll.

Syukur hingga beberapa tahun yang lalu saya selalu menggunakan dana sendiri untuk kunjungan ke Indonesia, walau akhir-akhir ini mulai banyak instansi yang mau membantu untuk akomodasi agar mempermudah saya berkunjung ke Indonesia, terimakasih atas bantuannya ! Saya juga sering mengajak peneliti dan professor Jepang, Amerika, Taiwan, Korea, Malaysia dll yang saya danai mereka agar bisa ikut berkontribusi untuk memajukan pendidikan dan penelitian Indonesia. Walau sering saya menemukan pengalaman lucu, dimana rekan-rekan Indonesia mengira saya yang dibayari oleh orang asing, sehingga mereka terpusat menjamu orang asing dan melupakan saya, maklum juga itu adalah salah satu etika buruk orang Indonesia, bahkan orang terdidikpun selama ini. Saya perhatikan banyak rekan Indonesia secara psikologi keilmuan merasa di bawah orang asing, sehingga memberikan penghormatan yang berlebihan dan sebaliknya tidak dapat menghargai kemampuan sendiri dan orang Indonesia lainnya.

Pada saat berada di instansi penelitian, pertahanan dan keamanan dll saya perhatikan adanya kebanggaan akan produk asing. Sehingga pada saat saya tanyakan apa produk atau usaha Anda untuk meningkatkan mutu, efisiensi, keakuratan pekerjaan Anda ? Semua hampir tidak bisa menjawab. Bila kita tidak bisa menjawab, lalu selama ini apa yang bisa kita kontribusikan kepada masyarakat dari hasil pekerjaan kita sehari-hari ? Sebenarnya kita, orang Indonesia berangkat setiap pagi dan pulang sore untuk bekerja bukan hanya untuk meningkatkan pendapatan yang bisa mencukupi kehidupan sehari-hari diri sendiri dan keluarga, tetapi kita bekerja keras untuk masyarakat, negara dan dunia. Pada saat kita bekerja agar kita dapat memberikan yang terbaik untuk dunia, maka kita perlu perlengkapan yang baik, bermutu, berefisien tinggi, harga murah, akurat hingga ‘cantik’ atau cocok dan mudah dipakai sehari-hari, dari hanya pensil, ballpoint hingga pesawat tempur.

Alat-alat tersebut adalah barang-barang sehari-hari yang ada di sekitar kita hingga perlengkapan tercanggih untuk pertahanan dan keamanan negara. Kita masih sering temukan perlengkapan kecil hingga besar yang berlabelkan made in (buatan) negara asing yang mutunya tidaklah sebagus yang kita harapkan. Seakan negara kita ini adalah laboratorium atau kelinci percobaan bagi negara-negara asing untuk menguji produk-produk mereka. Negara asing sangat beruntung mendapat income besar dari hasil penjualan produk teknologi rendah (low technology) mereka, berupa barang-barang bermutu rendah dan terkadang membahayakan kita. Hasil keuntungan tersebut menjadi pemasukan mereka untuk mengembangkan teknologi yang lebih bagus, dan kita menjadi pasar mereka lagi untuk mendapatkan produk yang lebih mahal. Hasil pemasukan mereka dari penjualan produk di Indonesia dapat menghidupi peneliti-peneliti asing, pada saat peneliti-peneliti kita kekurangan dana dan pendapatan, sehingga sudah menjadi rahasia umum mereka banyak mempunyai pekerjaan kedua ketiga dsb berupa mengajar di beberapa universitas, wiraswasta, jual-beli saham dll. Bila kita beri angket kepada seluruh peneliti kita akan pekerjaan kedua, ketiga dst (side business), bisa kita petakan kondisi sebenarnya kwalitas peneliti kita dan proyeksikan terhadap hasil penelitian selama ini, berikut kontribusinya pada kemajuan negara dan dunia. Walau tidak disalahkan seorang peneliti juga mengajar di universitas lain untuk mendapatkan tambahan pendapatan, tetapi bila seorang peneliti juga merangkap menjadi dosen dibeberapa Universitas, sebenarnya dia telah mengambil lapangan pekerjaan untuk orang lain pula, sehingga lapangan pekerjaan berkurang. Bahkan banyak peneliti lembaga penelitian yang mempunyai jabatan sebagai ketua jurusan atau dekan dll, sehingga pekerjaan yang seharusnya sebagai peneliti tertinggalkan untuk pekerjaan ‘administrasi’. Akhirnya yang terkorbankan adalah masyarakat dan negara, karena seharusnya mereka dipekerjakan untuk meneliti, tetapi merangkap pekerjaan yang menjauhkan dari kegiatan penelitian sendiri.

Profesi peneliti memerlukan konsentrasi tersendiri yang berlanjut untuk dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi sang peneliti sendiri, instansi, masyarakat dan dunia. Profesi peneliti di negara mana saja hampir saya dalam artian berkorban waktu, dana, perasaan dll untuk menghasilkan suatu produk dan pengetahuan yang cocok, bermanfaat, efisien, murah dll sesuai manusia dan lingkungan negaranya, bahkan untuk dunia. Masih banyaknya masyarakat yang silau dan terkagum-kagum akan produk hasil teknologi dan ilmu pengetahuan negara asing, dapat diartikan sebagai masih rendahnya hasil para peneliti dan dukungan serta kepercayaan pemerintah dan masyarakat untuk membuat produk yang cocok untuk kita sendiri.

(Ilustrasi)

Seringnya kunjungan ke Indonesia dalam puluhan tahun terakhir, saya sering perhatikan di bungkusan produk-produk di pasar tradisional, super market, toko swalayan, warung dll yang tertuliskan ‘under license …’. Hampir separuh lebih produk yang dikonsumsi masyarakat kita tertera kalimat ini. Sejak merdeka, sudah 69 tahun masihkan kita harus tergantung pada negara lain untuk produk yang dikonsumsi oleh masyarakat kita, terutama obat-obatan, makanan kaleng, bungkus kering, sepedamotor, mobil, bahkan pesawat terbang. Walau ada perusahaan mobil, pesawat, kapal dll di Indonesia, kalau kita cermati baik-baik, ternyata mesin, sistem elektronik dll di dalamnya juga under license negara lain, walau saat launching mereka menggembor-gemborkan sebagai produk anak bangsa. Sepertinya ada kesalahan persepsi terhadap ‘produk anak bangsa’, karena kita sering melihat dari tampilan produk saja, tanpa teliti melihat jeroan produk tsb. Kita menginginkan negara mandiri teknologi dan ilmu pengetahuan, bukan negara pembungkus teknologi asing dengan hanya merakit dan membungkus dengan bodinya saja, kemudian mempromosikan sebagai ‘produk anak bangsa’. Kita bukan ‘karoseri teknologi asing’. Jangan salah artikan capaian teknologi bisa dicapai hanya dengan merakit dan membangun bodi mobil, pesawat, kapal dll, dimana didalamnya ternyata komponen produk asing.

 

Salam hangat selalu,

Josaphat TetukoSri Sumantyo

www2.cr.chiba-u.jp/jmrsl/

Bagikan:
 Posted by on September 13, 2014

  71 Responses to “Under Licensed Country : Makelar Teknologi = Transfer Teknologi”

  1.  

    a

    •  

      akhirnya bisa no 1

    •  

      Assalamualaikum wr.wb
      Indonesia sebenernya negara yang hebat, namun seperti prof Josaphat katakan dibutuhkan seorang penyatu/pemersatu agar semua komponen bangsa bisa di daya gunakan secara maksimal.
      intinya dibutuhkan seseorang yang berjiwa besar terhadap bangsa dan negaranya, berani mengatakan salah bilamana salah dan berani mengatakan benar bilamana benar, dan memegang teguh nilai ketuhanan serta nilai-nilai pluralisme/etika masyarakat nusantara berdasar dengan konsep negara kesatuan republik Indonesia. menegakkan keadilan serta sikap kedermawanan kesetiakawanan berwawasan lingkungan nusantara.

      saya berasal darisini
      saya lahir disini
      saya besar disini
      saya hidup disini
      saya tua disini
      dan saya mati disini
      inilah negaraku
      aku mencintainya
      akan kubawa menuju kejayaan
      Tuhan bersama kita,
      Insyaallah.

      kalau salah ya maaf 😀
      maaf oot 😀

    •  

      Pantat tetangga memang lebih indah

  2.  

    Tidur dulu….

  3.  

    wah..om josh langsung nih artikel..makasih om.

  4.  

    Maju Terus Indonesiaku!

  5.  

    absen

  6.  

    SEMOGA PAK JOSEP gak lupa ama negri yg telah melahirkan nya yaitu NKRI

  7.  

    ah dah biasa

  8.  

    Ckckck…luar biasa, apalagi kalimat terakhir artikel diatas..mengenaa..sekalii..

  9.  

    @Bung jalo apakah sang prof. sdah mau main disini?

  10.  

    Sek penting absen.
    Pun sulitnya minta ampun. .

  11.  

    inlander om josh. mengenai menjamu tamu saya hanya bisa bilang kalo salah kaprah. sebenarnya semua orang yang menjadi tamu ya harus di tata dan di jamu terlepas bule ato nusantara.

  12.  

    Kata kata prof sangat menyentuh dan menyakitkan bagi sebagian pengambil kebijakan di negara ini 🙂 semoga kedepannya hasil penelitian anak bangsa ini bisa lebih dihargai, diberi ruang dan di produksi massal untuk kepentingan sendiri dulu lah, gak usah muluk muluk dulu untuk ekspor, pasar dalam negeri aja sudah sangat besar potensinya dengan jumlah penduduk kisaran 300 jutaan.

    •  

      Banyak juga peneliti yang merasa hasil penelitiannya sebagai “miliknya sendiri” sehingga hasil penelitiannya masih sebatas invensi belum menjadi suatu inovasi. Menurut stadi tahun 2002 (periskop) untuk menjembatani agar hasil penelitian bisa lebih bisa diterapkan perlu usaha intermediasi..peneliti tidak bisa apa2 kalau hanya “sendirian”

  13.  

    Ronda malam

  14.  

    Sedih bacanya mas Jalo…krn memang itu kenyataannya..tetapi memicu semangat bhw kita harus berbuat lebih untuk Negara dan Bangsa kita..usaha yang paling gampang adalah mencintai produk sendiri..

  15.  

    welcome di jkgr om prof.josaphat.
    pulanglah ke tanah air tercinta prof..
    bantulah kami jadi negara produktif dn produsen ..
    kami uda bosan dgn alutsista hibah ,udah hibah seken lgi..
    pra kasatria tni dlm dekade ini dibungkus ama baju yg mirisss..gak tega ngomongnya..

    segera plg prof..
    salam dn doa kami utk prof sekeluarga..
    siap !!
    hormat kepada bung jalo@
    grak !!

  16.  

    Kita mulai dari pak jokowi,berikan dana riset besar ke lembaga2 riset strategis dan universitas,buat kerjasama produksi antara bumn,universitas dan user, misalnya bikin rudal anti pesawat, beri dana yg besar ke itb,ugm,pindad,PT.DI, dahana dan tni au sbg user,dijamin dlm 5 tahun kt bs bikin rudal sendiri

  17.  

    bmg jalo oleh2x dari sidoarjo apa aja bung jalo

  18.  

    Salam untuk para sesepuh dan warjager.

    Miris stlh membacanya, seorang profesor yg sangat dihargai di negeri org tp kurang dihargai di negeri sendiri. Salut dan bangga dg beliau krn msh mau memikirkan nasib bangsanya dan sy berharap beliau tetap berkontribusi untuk negerinya dan tdk berfikir untuk pindah kewarganegaraan. Biarlah beliau tetap berkarya di negara yg memfasilitasi, membiayai penelitian dan menghargai hasil karyanya asalkan hasil karya terbaiknya diberikan untuk NKRI.

    •  

      Bung, kalau kita mau jujur banyak lagi,banyak mungkin lebih 1000 orang pintar kita yg mengabdi di luar negri,seperti prof jo diatas,bahkan ahli baterei rudal us salah satunya itu orang indonesia,kalau saja pemerintah kita mau memenggil mereka pulang semua,wah saya jamin untuk rudal gampang banget kita buat,tentu rudal dgn rasa indonesia,belum lagi para insinyur muda kita yg di jerman yg setelah tamat sekolah di sana tidak mau pulang ke indonesia wah banyak jumlahnya, itu semua ada di kemuan pemerintah kita,kita harus desak oemerintah kita agar menyediakan dana riset yg lebih besar lagi.

      •  

        Bekas alumni PT DI diluar aja ada sekitar 40 ribuan yg bekerja di industri pesawat terbang itu belum yg ahli selain PT DI. Bisa dibayangin dong kalau 10.000 atau 5.000 balik aja, 🙁

        •  

          Setuju Bung Indra, negara kita hrs lebih meningkatkan dana riset serta memperhatikan kesejahteraan para peneliti agar mereka tdk eksodus ke negara lain.

          Bung Jalo izn bertanya, apakah jk nanti R80 dan program IFX mulai berjalan para tenaga ahli yg di PHK pd saat PT DI kita dl sempat membuat panci untuk mempertahankan hidupnya apakah akan direkrut kembali?

  19.  

    siapkah bangsa kita memulai pola hidup baru ?
    pakai produk asli lokal ?
    semoga kaum warjager bisa jadi pelopor cinta produk sendiri …

  20.  

    Bung @Josaphat TetukoSri Sumantyo, semoga figur2 sprti Anda yg akan ditunjuk jd Menristek. Mudah2an Anda sendiri yg ditunjuk. Semoga… Amin…

    Sundul Bunh @jalo.

  21.  

    gimana ya,wong lebih bangga make produk asing,mulai dari gadget,kendaraan dll katanya sih lebih prestige dan gengsi

  22.  

    Absen nih.. jam tidur kebalik hehehe :mrgreen:

    Miris + Kecewa 85% + Prihtain.. memang ane lihat secara umum masyarakat kita masih terbawa pola konsumtif.. harus ada perubahan dalam diri kita sndiri utk perilaku konsumtif.. atau jika tdk bsa d hentikan.. mungkin juga bisa dengan pengalihan produk dr luar negeri ke produk lokal.. jadi secara tdk langsung, kita lah yang “memodali” mreka2 produser lokal

    Pendapat tukang buka buku hehehe

    •  

      *Prihatin

    •  

      ya betul Bung … mari kita mulai puasa nonton acara TV yg penuh dengan iklan yg tanpa kita sadari telah mengubah pola hidup kita yg konsumtif…dan ajarkan pula pada anak2 kita sendiri karna terus terang kebanyakan para Ortu banyak yg nyerah ketika berhadapan dgn keinginan anaknya bukan pada kebutuhan anaknya dan sayangnya pula hal itu disupport oleh berbagai perusahaan pembiayaan dgn produk consumer yg tidak segan2 akan menghabiskan gaji sebulan para nasabahnya tanpa peduli dia bisa makan apa enggak..maaf kalo ada yg salah ini cuma pendapat pribadi

  23.  

    Hujan batu dinegeri sendiri lebih bermartabat.

  24.  

    minimal punya mobnas dah,tapi dengan kualitas internasional,kita gengsi dan menganggap produk dalam negri itu juga karna kualitasnya,alasan paling banyak!

  25.  

    yah…begitulah pak ….. 🙁

  26.  

    om freax@ inlander
    gak setuju cocor om freax@
    kalau saudara nusantara ya di peluk ..dan disambut lebih hormat dn hangat dr tamu asing.. ibarat kata saudara nusantara rumahku adalah rumahmu prof.., tp klu org asing rumahku bukan rumahmu , makan aja yg disajikan tuk tamu asing.., bla ..bla
    sebaiknya om freax@ gak sama ratakan mana emas dn mana loyang..

    •  

      Hahaha ya boleh dah. Hanya kebiasaan kita pingin eksis, kalo bisa cerita kita kenal orang2 berilmu apalagi dari luar kelihatannya wah. Iya apa ngga? Itu merupakan suatu prestise tersendiri. Kecuali rakyat kecil kayak saya yang perjamuannya cuman waktu kenduren ajah. Kagak pernah nerima2 tamu2 luar dan pergaulannya juga ya kelas rendah lah. Tapi saya jauh lebih bangga dengan bangsa ini, walo cuman daerah asia ajah jalan2nya. Apa yang kita punya jauh lebih baik. Mulai dari orang2nya sampai alamnya. Kalo ada turis nerman silahkan tanya, betapa menyenangkannya hidup di indonesia terutama di jawa dimana pengemis aja masih banyak dan kadang lebih kaya dari yang ngasih. Di luar negri sebenarnya juga banyak pengemis hanya saja orang2nya ngga sehangat kita. Mirip di ntt kalo mau makan kudu kerja. Orang ntt kadang bingung kalo ada orang jawa selametan disana. Ngga bantu ngga apa di kasih makan. Silahkan lihat disana, apa ada pengamen ato pengemis, walaupun mereka kurang hidupnya.Tapi kalo tamu tetep di tata dan di jamu. Beda dengan luar udah dingin pelit apatis hehehe saya suka indonesia

  27.  

    Benar sekali Prof Josh, untuk bisa menghasilkan teknologi perlu diperbanyak lembaga2 penelitian yg menampung anak2 muda berbakat dari lembaga pendidikan yang juga berkualitas tinggi dg para pengajar yg berbobot dan fasilitas ajar yg lengkap dan sekolah yg murah shg dapat menampung seluruh anak berbakat dari berbagai daerah di Indonesia.
    Mencari anak berbakat ini kok saya teringat susahnya mencari sebelas pemain yg sanggup menjadi pahlawan di lapangan hijau padahal kita tahu anak2 berbakat yg pandai mengocok bola sangatlah banyak di negeri ini.
    Pola penjenjangan pendidikan yang baik dengan kurikulum yang bermutu serta pencarian bakat sedini mungkin perlu dilakukan. Bagaimana caranya? Selama ini pendidikan SD,SMP masih diberikan kurikulum umum, nanti masuk SMA baru ada pengurusan walaupun penjuru san yg ada masih juga termasuk umum yg seharusnya mulai SMP sudah dilakukan pengurusan kurikulum ajar yang sepesifik bahkan dapat diarahkan berdasarkan hasil psikotes yg benar spt test IQ, EQ, DISC dll sehingga penjurusan anak sudah sesuai dan pas. Perbanyak sekolah dg jurusan yg lengkap di berbagai bidang keilmuan. Apalagi di tingkat PT Musti lebih banyak lagi bidang kelilmuan bukan saja terapan tapi juga ilmu dasar /MIPA.
    Outlput dari dunia pendidikan inilah yg ditampung lembaga2 penelitian yang tentunya diberikan dana yg cukup di berbagai bidang dengan skala prioritas untuk mendukung pembangunannya industri yang lebih banyak lagi industri dasar/hulu sampai hilir.
    Dengan pola pengembangan pendidikan yang berkualitas, pembangunan lembaga riset yg mumpuni yg links-match dengan industri serta digerakkan oleh birokrasi yang juga the right man in the right time on the right place maka dalam 20 tahun ke depan Indonesia mencapai kejayaan spt yg diimpikan founding Father dalam Pancasila dan UUD45.
    Maaf ngelantur ngomong lagi mendem jengkol maklum pendapat tukang jahit. Ampun pinisepuh JKGR.

  28.  

    Banyak cakap nih profesor macam paling hebat sedunia…kamu kalo nggak lari keluar negeri emang bisa jadi kayak sekarang?????? Indonesia emang sudah ditakdirkan jadi gembel bung mental pemimpinnya aja pada gembel belum lagi kroco kroconya pengemis semua cuman beda ngantor sama berdasi doang….

  29.  

    mari cintai produk dalam negeri ,,,
    seburuk apapun kita pakai dan kita beli ..
    sembarai kita meningkatkan mutu produk dalam negeri kita sendiri..
    salam..

  30.  

    Masalah beli lampu aja jadi ribet mikir nasionalisme. Produk china harganya 6500, murah banget, barangnya banyak, tersedia dimana2, sampai warung kelontong pun jual. Merk asing under licend terus terang terang terus harganya 30.000. Untung ada lampu SNI merk G3 harga 12000. Semoga kulitas asing harga 2x aseng.

  31.  

    Salut buat Prof. Josh…
    Tetap berkarya Prof.

  32.  

    buat yang punya rekening M M an atau T T an yg udah gak khawatir hari esok makan apa, bangun pabrik dong, apa aja dech pabrik makanan, pabrik peralatan ringan ampe berat, pabrik teknologi rendah sampai tinggi, ato pabrik2 apa lagi ya?

    karena industri kecil atau besar, low tech high tech pasti butuh ilmuan, dan tenaga kerja pastinya. shg tenaga kerja kita ga harus menempuh bahaya ke luar negeri (tapi klo niat nya emang cari tantangan yo monggo aja sih..).

    untung dikit tapi bikin produk banyak dan yg penting tiap hari jalan. biasanya orang kita ga suka repot cari “recehan” pengennya sekali untung sebongkah sekalian. ini salah satu kendala, harus ada gebrakan. saya kira orang luar negeri, jepang at china sebagai pembanding, mereka ulet cari “recehan” dan dilakukan berpuluh atau mungkin beratus tahun dan mereka sukses…

    hayo dimulai…

  33.  

    Ada maksud tersirat dari kata kata Prof josaphat.pesan beliau sangat jelas,kita disuruh jadi diri kita sendiri.intropeksi dari kekurangan diri sendiri akan membuat kita lbh selamat, yakin dan Percaya diri dlm bekerja,berkarya,belajar dan terus belajar.Dan rasa percaya diri itu bisa diterjemahkan dgn karya kreatif sesuai di bidang kita tanpa menggapai sesuatu yg bkn jalan kita.benar kita di dlm mencari nafkah hrs rakus/sapu bersih disetiap peluang untuk menambah income,tapi ada sisi negatif dari segi berkarya.kita tak berbeda dgn mesin pencari duit,harta kita bisa bertambah berkali kali lipat tapi kemampuan kita hanya sekadar tahu ilmu untung rugi.Seandainya skill dan kerja keras kita difokuskan hanya di dlm satu jalur maka akan tercipta idea baru,dan idea baru itu akan bertambah maju dengan desakan kreatifitas kita sendiri dan akan menimbulkan suatu kebanggaan bahwa bikinan kita walaupun kurang bernilai tapi itu adalah hasil jerih payah atas keringat sendiri dan sudah tentu kita akan berat tangan memakai produk orang lain.Dan hasil keringat diri sendiri itu akan menjadi penyemangat untuk bereksperimen,beridea,terus berusaha membuat sesuatu yg lebih baik/maju/bermutu/efesien untuk bersaing dgn produk orang lain.
    Salah satu hal yang menarik lg dari kata kata Prof josaphat,Negara asing membeli barang mentah kita dgn harga murah kemudian barang tsb yg sudah diolah alias sdh jadi akan di jual ke kita kembali dgn harga mahal.betapa sangat ruginya kita tidak bisa mengolah bahan mentah tsb dgn alasan kekurangan modal,tidak punya skill,tidak punya alat,tidak ada ilmu pengetahuan,biaya riset nihil,tidak punya tehnologi itu,pagar birokrasi,Mental kuli.
    Terimakasih buat Prof Josaphat atas ” Kuliahnya”.Semoga niat baik anda dan sumbangan anda disambut oleh Pemerintah RI yg baru nanti.Maaf opininya ngawur dan bikin penuh padat wall JKGR.salam Bung Jalo,mohon dikoreksi.

  34.  

    Jika produk kita ingin dapat bersaing di negeri sendiri harga harus bersaing,kita butuh energi yg tdk mahal untuk produksi.china sdh pakai nuklir untuk energi.bgmana mau bersaing jika kita masih pakai energi fosil untuk produksi.kita butuh lahan untuk produksi kapas diluar negeri.sebab cuacanya kurang cocok.kita butuh komitmen pemerintah,kita butuh teknologi untuk maju.PR BESAR utuk pemerintah mendatang.

  35.  

    Sebenarnya kita bisa lb murah dan berkualitas dlm menghasilkan produk untuk kita sendiri.tapi kita tdk pernah mau melakukanya.kita sdh nyaman dgn produk impor .dulu ada sepatu cibaduyut yg bagus sekarang bgmana nasibnya para pengerajin dgn adanya kelangkaan kulit.untung rotan masih dapat direm ekspornya jika tdk pastilah kita akan memakai kursi rotan made in china yg bhn baku rotan dari hutan kita.

    •  

      @Orca.
      Benar yang anda katakan, banyak sekali kita diserbu bahan baku dari negara lain khususnya dari tiongkok. kalo dipikir adanya kelangkaan bahan baku dr dalam negeri karena adanya kebijakan yg memudahkan proses import dari negara lain, maksud saya produsen lokal enggan mengolah bahan mentah menjadi bahan baku. karena harganya akan jauh dibandingkan dr produk import tersebut, salah satu kulit tadi.
      Menurut pengalaman, sebenernya produk indonesia sangatlah diminati oleh pasar luar negeri salah satunya karena kualitasnya, Contohnya furniture dan handicraft kita banyak yg diburu para wisatawan asing.
      Jadi mungkin bisa dimulai untuk memakai produk dalam negeri dari diri sendiri, maupun keluarga kita sendiri. Syukur2 bisa mengetok kiri dan kanan rumah kita, atau teman2 kita untuk memulai mencintai produk dalam negeri.

      salam,

  36.  

    keri…..

  37.  

    Kalau dulu pak Habibie mengadakan program beasiswa STAID untuk industri dan lembaga strategis, kalau sekarang apakah ada yang seperti itu?

 Leave a Reply