Feb 282019
 

Jet tempur multiperan F-21 alias F-16 Blok 70 India © Lockheed Martin

JakartaGreater.com – Lockheed Martin telah mengubah citra penawaran jet tempur F-16 canggih terbaru untuk India sebagai F-21 dan telah menunjukkan bahwa jet tersebut akan memiliki fitur-fitur baru, termasuk kokpit kaca yang telah direvisi dan fitur-fitur canggih lainnya, seperto dilansir dari laman The Drive.

Tapi tampaknya itu semua lebih kepada banyak peluang kerjasama industri di India, faktor utama dalam iterasi terbaru untuk mengikuti tender jet tempur India, daripada upgrade teknologi yang sesungguhnya. Bahkan mungkin membuka jalan bagi India agar bergabung dengan program Joint Strike Fighter F-35 – klaim yang dihapus perusahaan dari halaman web resmi F-21 tak lama setelah ditayangkan.

Kontraktor pertahanan yang bermarkas di Maryland itu mengungkapkan model F-21 dan merilis presentasi video tentang jet itu bertepatan dengan awal pameran dagang Aero India tahun ini pada tanggal 20 Februari 2019.

Jet tempur F-21 Lockheed Martin sedang dikerahkan melawan Boeing F/A-18E/F Super Hornet, Dassault Rafale Prancis, Eurofighter Typhoon Eropa, Saab Gripen E Swedia dan MiG-35 Fulcrum serta Su-35 Flanker Rusia untuk kompetisi Medium Multi-Role Combat Aircraft (MMRCA).

Angkatan Udara India pada akhirnya berharap untuk membeli setidaknya 115 unit pesawat melalui program ini, sebuah kesepakatan yang akan bernilai hingga $ 18 miliar, yang telah menjadi lebih dari satu dekade kisah panjang yang dapat Anda baca secara lebih rinci di sini.

“F-21 berbeda, luar dan dalam”, menurut info Dr. Vivek Lall, Wakil Presiden Strategi dan Pengembangan Bisnis untuk Lockheed Martin Aeronautics. “Penunjukan baru atas F-16 ini menyoroti komitmen kami untuk mengirimkan pesawat tempur canggih dan terukur untuk Angkatan Udara India yang juga memberikan peluang industri yang tidak tertandingi dan mempercepat kerjasama India-AS yang lebih dekat kepada teknologi canggih”.

Sejauh ini, Lockheed Martin belum secara spesifik menjelaskan tentang asal-usul atau arti nomenklatur F-21. Sementara itu militer AS pada awalnya menugaskan F-21 dalam sistem nomenklatur pesawatnya dalam armada kecil untuk jet tempur Kfir bekas dari Israel yang dioperasikan Angkatan Laut dan Korps Marinir sebagai penyerang “Red Air” antara tahun 1985 – 1989.

Sedangkan sekarang ini, kontraktor AS masih menerbangkan jet tempur Kfir dalam peran dukungan musuh dan masih merujuk pada tipe sebagai F-21. Kfir yang sangat ditingkatkan juga masih diterbangkan oleh sejumlah Angkatan Udara di seluruh dunia.

Asal-usul penunjukan baru mungkin mirip dengan proses pengambilan keputusan di balik nomenklatur B-21 untuk bomber siluman Angkatan Udara AS di masa depan. Pada tahun 2016, layanan mengumumkan telah memilih B-21, penunjukan “out-of-sequence“, untuk mencerminkan akuisisi “bomber pertama pada abad ke-21”.

Adapun apa yang sebenarnya berbeda “luar dan dalam” antara F-21 dan F-16 sebelumnya, Lockheed Martin telah menawarkan beberapa spesifikasi. Jet ini hanya yang terbaru dari serangkaian penawaran varian Viper yang ditargetkan untuk India yang dimulai dengan pengembangan F-16IN Super Viper pada akhir 2000-an, yang juga dikenal sebagai F-16 Block 70.

Pesawat tempur multiperan F-16 Blok70/72 buatan Amerika Serikat © Lockheed Martin

Fitur dari varian F-16 ini kemudian menjadi bagian dari paket upgrade untuk Viper lama, yang dikenal sebagai F-16V. Lockheed Martin sekarang secara efektif memadukan kedua upaya terpisah ini bersama-sama.

Fitur yang paling menonjol dan tampaknya baru dalam presentasi video jet tempur F-21 adalah konsolidasi tampilan kokpit menjadi satu layar panel datar berukuran ekstera besar. Konfigurasi kokpit kaca sebelumnya untuk model jet tempur F-16IN Block 70 dan F-16V menampilkan tiga tampilan multi-fungsi digital yang terpisah.

F-21 serupa dalam beberapa hal umum dengan desain panel tunggal di jet tempur stealth F-35 milik Lockheed Martin. Langkah inipun juga mencerminkan keputusan yang dibuat Boeing berkaitan dengan konfigurasi kokpit dalam Super Hornets Blok III terbaru, serta F-15QA Advanced Eagles untuk Qatar.

Pengaturan kokpit seperti ini akan memudahkan pilot untuk menemukan informasi yang mereka cari dengan cepat dan menawarkan fleksibilitas tambahan atas “pengukur uap” permanen atau tampilan digital yang lebih kecil.

Yang membuatnya lebih mudah untuk menambahkan fitur baru pada layar itu sendiri dan menghubungkannya dengan sensor baru dan lebih baik termasuk sistem lainnya di masa depan.

Selama briefing media tentang Super Hornet yang ada di The War Zone pada tahun 2018, Boeing mencatat bahwa seorang penerbang dapat memindahkan dan mengubah ukuran elemen tampilan tertentu dalam layar, seperti halnya menggeser benda-benda di desktop komputer, agar lebih sesuai dengan gaya khusus mereka.

Hal ini juga akan memungkinkan pengubahan ukuran tampilan layar tertentu secara cepat, termasuk umpan video dari pod penargetan, untuk membuatnya lebih mudah untuk dapat mengidentifikasi secara positif target atau item menarik lainnya. Tampaknya tampilan F-21 akan memiliki fungsi yang serupa.

F-21 secara khusus memiliki tulang punggung yang besar yang hanya muncul sebelumnya secara operasional pada turunan F-16 berkursi tandem canggih. Penambahan itu dapat mengakomodasi avionik, peralatan komunikasi, sistem penanggulangan dan banyak lagi.

Jet ini juga memiliki sistem pengisian bahan bakar “probe-and-drogue” yang memanjang dari tangki bahan bakar konformal. Namun, Lockheed Martin pertama kali menunjukkan sistem ini, yang dikenal sebagai Conformal Air Refueling Tank System, pada tahun 2010 sebagai bagian dari pengembangan F-16IN. Ini juga mengurangi jumlah total bahan bakar yang bisa dibawa ke talam tangki.

Presentasi video diatas menunjukkan bahwa jet tempur F-21 itu membawa 3 rudal udara-ke-udara AMRAAM AIM-120 pada rak baru, yang memberikan jet menambah kedalaman magasen udara-ke-udara bahkan ketika membawa tangki bahan bakar underwing ataupun penyimpanan lainnya.

Jet tempur multiperan F-21 buatan AS ditawarkan untuk Angkatan Udara India © Lockheed Martin

Tiang (pylon) underwing tempel outboard juga akan dapat mengerahkan umpan derek AN/ALE-50 tetapi ini adalah fitur yang sebelumnya tersedia pada F-16 yang Lockheed Martin tawarkan kepada India dan pertama kali terlihat dalam varian F-16 Viper Block 50/52.

F-21 dalam video Lockheed Martin diatas, juga masing-masing membawa Pod Penargetan Lanjutan Sniper (ATP) dan pod Pencarian dan Pelacakan Infra Merah (IRST) pada stasiun dagu mereka. Sistem yang terakhir akan memberi jet kemampuan yang ditingkatkan untuk mengenali ancaman siluman.

Tidak jelas seberapa besar konfigurasi F-21 mungkin bisa berbeda dari varian Block 70 dan F-16V yang ada sebelumnya. Viper ini menampilkan sejumlah perbaikan cukup signifikan terhadap varian yang ada, termasuk radar AESA AN/APG-83 buatan Northrop Grumman, juga dikenal sebagai Scalable Agile Beam Radar (SABR).

Mereka juga memiliki avionik baru, peralatan navigasi yang ditingkatkan, komputer misi yang diperbarui dan tautan data (data link), kompatibilitas dengan Joint Helmet Mounted Cueing System II (JHMCS II). Varian F-16 tercanggih memiliki suite pernika yang lebih kuat untuk perlindungan diri.

Tetapi peningkatan nyata dari dorongan Lockheed Martin F-21 tampaknya adalah untuk mempromosikan potensi kerjasama industri yang signifikan dengan tawarannya dibanding lawan-lawannya. Kompetisi MMCRA membutuhkan penawar menemukan mitra lokal dan perusahaan Amerika telah bekerja dengan Tata, industri raksasa India untuk proposal ini.

Pengaturan rudal AIM-120 dan decoy AN/ALE-50 pada jet tempur multiperan F-21 India © Lockheed Martin

Kontraktor pertahanan AS telah lama mengatakan akan menggeser jalur produksi F-16 ke India bekerjasama dengan Tata. Namun, sejauh ini LM menyarankan untuk membangun jalur produksi F-16 dinegara itu terlepas dari apakah memenangkan kesepakatan MMCRA atau tidak.

Hal pertama yang Anda lihat dalam presentasi video yang dirilis Lockheed Martin pada 20 Februari 2019, adalah penggambaran Viper bergaya pabrik India yang terkenal ini dengan merek Tata. Ada juga klip yang menunjukkan pengisian bahan bakar F-21 di udara dari pesawat tanker KC-130J, sebuah pesawat Lockheed Martin telah dijual ke India dan fitur komponen buatan India lainnya.

Namun yang lebih aneh, Lockheed Martin awalnya menyiratkan bahwa F-21 dapat menjadi batu loncatan bagi partisipasi India dalam program F-35, sesuatu yang telah menjadi topik diskusi yang sensitif selama bertahun-tahun.

“F-21 memiliki komponen umum dan pembelajaran dari Generasi ke-5 dan F-35 produksi Lockheed Martin dan akan berbagi rantai pasokan bersama dengan berbagai komponen”, tulis Lockheed Martin pada halaman web F-21, yang pertama kali muncul online pada 20 Februari 2019. “Sekitar setengah dari rantai pasokan F-21 dan F-16 adalah sama dengan F-22 dan F-35”.

Namun, halaman resmi F-21 tersebut sekaratng tidak lagi membuat klaim itu atau bahwa jet tempur F-21 adalah “langkah India menuju F-35”. LM sekarang mengatakan sebaliknya bahwa jet tempur F-21 akan “memperkuat jalur India ke masa depan kekuatan udara yang lebih maju”, tampaknya merupakan salinan halaman web asli yang telah diarsipkan, tetapi detailnya telah banyak dilaporkan.

Tawaran Lockheed Martin sebelumnya untuk F-16 Blok 70 India memasukkan jet siluman J-20 China sebagai salah satu ancaman © Lockheed Martin

Data produk F-21, yang masih tersedia secara online, hanya mengatakan bahwa “Teknologi inovatif berasal dari Lockheed Martin F-22 dan F-35 akan memperkuat jalur India menuju masa depan kekuatan udara yang lebih maju”. Tidak disebutkan rantai pasokan bersama atau potensi penjualan F-35 kepada India.

Ini bukan pertama kalinya Lockheed Martin harus mundur pada pernyataan publik tentang keterlibatan India dalam program F-35. Pada Januari 2018, perusahaan itu dengan cepat menyangkal bahwa mereka telah menawarkan pesawat tempur siluman ke Angkatan Udara India. Ini sebagai tanggapan terhadap Press Trust of India (PTI) yang telah menerbitkan wawancara dengan Eksekutif Lockheed Martin Aeronautics Lall, orang yang sama yang kini membuat pengumuman F-21, yang tampaknya menyarankan F-35 khusus India berada di cakrawala.

Namun bulan berikutnya, media India, The Diplomat melaporkan bahwa Angkatan Udara negara itu secara resmi meminta pengarahan singkat tentang F-35. Tidak ada konfirmasi resmi dari laporan ini.

Kemudian, di bulan Maret 2018, pensiunan Angkatan Laut AS Laksamana Harry Harris, yang saat itu menjabat kepala Komando Pasifik AS, mengangkat kemungkinannya menjual F-35 ke India. Pentagon sejak itu secara khusus menyoroti keterlibatan Amerika Serikat di Asia Selatan dan hubungan dengan negara-negara di kawasan itu.

Pada tahun 2018, India juga telah mengindikasikan bahwa pemenang kompetisi MMRCA juga harus membantu pengembangan negara itu untuk pesawat tempur siluman pribumi miliknya sendiri, yang saat ini dikenal sebagai Advanced Medium Combat Aircraft (AMCA). Sebelumnya pada bulan Februari 2019, ada laporan terpisah bahwa India telah meminta pengarahan singkat tentang program tempur siluman Tempest dari Inggris.

Desain jet tempur generasi ke-6, Tempest buatan Inggris © BAE Systems

Selain itu, pada tahun 2018, pemerintah India pun dilaporkan menghentikan keikutsertaan mereka dalam program jet tempur siluman bersama Rusia, yang seharusnya mengarahkan pada varian khusus India. Ini semakin membuka peluang bagi penggantian, upaya akuisisi jet tempur siluman untuk mengisi kekosongan dan berpotensi membebaskan dana yang diperlukan untuk melakukannya. War Zone telah lama mencatat kemungkinan Angkatan Udara India akan beralih ke F-35 karena merupakan satu-satunya pejuang generasi kelima yang masih dalam produksi saat ini – kontra produktif dengan akuisisi S-400 Rusia oleh India yang konon akan menguak rahasia F-35.

Pernyataan resmi terbaru, meskipun sekarang ini dihapus dari situs web Lockheed Martin, menunjukkan kemungkinan yang diperbarui bahwa perusahaan mengusulkan pembelian F-21 sebagai pintu gerbang untuk memperoleh F-35 di masa mendatang.

Angkatan Laut India juga sedang membeli jet tempur baru untuk kapal induk yang ada dan yang direncanakan di masa depan serta dapat tertarik untuk memperoleh F-35B atau juga F-35C yang terfokus pada kapal induk.

Kemungkinan penjualan F-35 ke India jelas tetap menjadi masalah sensitif, baik di negara itu maupun di Amerika Serikat. Bisa jadi lebih rumit sekarang karena India telah membeli sistem rudal pertahanan udara jarak jauh S-400 dari Rusia.

Anggota aliansi NATO dan sekutu Amerika Serikat, Turki juga membeli S-400, serta F-35, yang antara lain, telah memicu perselisihan besar dengan AS. Pemerintah AS menyatakan keprihatinannya bahwa S-400 Turki akan memberi Rusia kesempatan untuk mengevaluasi kemampuan Joint Strike Fighter melawan sistem pertahanan udara mereka dan diklaim AS akan mengumpulkan detail sensitif tentang pesawat tersebut.

Sistem rudal pertahanan udara S-400 buatan Rusia © Alexei Malgavko via Sputnik

Kekhawatiran ini mungkin menjadi kurang bermasalah seiring berjalannya waktu, namun saat ini, pemerintah AS berusaha untuk memblokir pengiriman F-35 yang dibeli Turki. Anggota Kongres AS mungkin berusaha melakukan hal yang sama berkaitan dengan India.

Tentu saja, India juga bukan sekutu NATO seperti Turki, dan mereka pun mengoperasikan berbagai jet tempur dan perangkat keras militer lainnya buatan Rusia. AS akan menyetujui setiap penjualan F-35 ke Angkatan Udara India walau mengetahui hal ini. Ini akan serupa dengan pertimbangan bahwa pemerintah AS harus mempertimbangkan jika memutuskan untuk terus melanjutkan potensi penjualan F-35 ke Uni Emirat Arab atau Arab Saudi yang sama-sama menginginkan S-400 Rusia.

Lebih jauh lagi, hubungan AS-India kini berada pada titik yang relatif tinggi, dan Presiden Donald Trump telah menjadi pendukung utama peningkatan penjualan senjata AS di luar negeri secara umum. Pentagon secara aktif mendorong pemerintah AS untuk memberikan India pengabaian atas pembelian S-400 tanpa dikenakan oleh sanksi untuk menghindari hubungan yang mengecewakan.

Dengan semua ini, terlepas dari pencabutan terbaru Lockheed Martin, tampaknya semakin jelas bahwa AS-India telah secara aktif dalam diskusi, setidaknya beberapa tingkat, tentang pembelian F-35 di masa depan. Apakah nanti F-21 ini benar-benar akan berfungsi sebagai batu loncatan atau tidak untuk membeli pejuang siluman masih harus dilihat, tetapi yang pasti tampaknya menjadi sebuah wacana.

Bagikan: