Mar 242017
 

Jet tempur F-16 Fighting Falcon milik Angkatan Udara AS. (© US Air Force)

Lockheed Martin akan memindahkan lini produksi jet tempur F-16 ke Greenville, menciptakan sekitar 250 lapangan kerja dalam dua tahun, menurut keterangan pers perusahaan.

Dilansir dari Greenville News, Leslie Farmer, juru bicara operasional Lockheed Martin di Greenville, pada hari Rabu (22/03/2017) akan memindahkan lini produksi jet tempur F-16 dari Fort Worth, Texas, ke Greenville terutama karena alasan ekonomi.

“Tentu saja, fakta bahwa Carolina Selatan adalah negara yang tepat untuk pekerjaan ini… maka merupakan suatu keuntungan yang kita miliki, dan itu membantu struktur keuangan kita dari sudut pandang keterjangkauan”, katanya.

Pemindahan lini produksi F-16 ini pertama kali dilaporkan oleh Defense One yang menyebutkan bahwa hingga saat ini Lockheed Martin memiliki sejumlah pesanan untuk jet tempur F-16 dari beberapa sekutu asing, akan tapi Angkatan Udara AS belum membeli satupun sejak tahun 1999, dan permintaan mereka telah menyusut dalam beberapa tahun terakhir, sebagaimana dilaporkan oleh Defense One.

Karyawan pabrik Fort Worth akan transisi ke produksi F-35 Joint Strike Fighter, sebagai perusahaan melesat produksi model itu, Pertahanan One dilaporkan.

Farmer mengatakan F-16 dari tanaman Fort Worth terakhir akan dikirimkan pada bulan September, dan akan memakan waktu sekitar dua tahun bagi perusahaan untuk mendapatkan produksi akan di fasilitas Greenville nya di Carolina Selatan Aviation Pusat Teknologi dan, atau SCTAC.

Juru bicara Greenville County Bob Mihalic mengatakan bahwa county tidak mengambil tindakan melalui insentif apapun untuk memikat perusahaan [Lockheed Martin] di sini.

Lockheed Mempekerjakan 500 Orang di Fasilitas Greenville

Farmer mengatakan bahwa perusahaan kemungkinan akan melatih pekerja F-16 dalam Program Pemeliharaan Pesawat di Perguruan Tinggi Teknik Greenville. Dia mengatakan bahwa perusahaan telah mengandalkan pada program Greenville Tech dan alumni yang ada.

Farmer mengatakan bahwa Lockheed saat ini sudah memiliki hanggar yang dapat diatur untuk memindahkan jalur produksi F-16 ke dalamnya, sehingga tidak memerlukan pembangunan konstruksi baru.

Dia juga mengatakan bahwa jet-jet tempur tersebut akan diuji terbang pada fasilitas perusahaan di Greenville. “Ini bukan jejak tapak yang besar”, kata Orlando Carvalho, wakil presiden eksekutif dari area bisnis Aeronautics Lockheed Martin, kepada Defense One. “Ini bukanlah pabrik sepanjang 1 mil seperti pada pabrik F-35”.

Defense One melaporkan bahwa Bahrain saat ini menginginkan sebanyak 19 unit jet tempur F-16, dengan sejumlah pesanan tambahan yang berasal dari Indonesia, Kolombia dan kemungkinan India.

Sementara itu, Lockheed saat masih dalam persaingan pada kontrak untuk membangun sebuah jet tempur latih baru untuk Angkatan Udara AS.

Don Erickson, direktur operasional Lockheed Martin di Greenville, mengatakan kepada pada bulan Desember 2016 lalu bahwa perusahaan yang memenangkan kontrak akan mendapatkan USD 8 – 10 miliar pada bisnis dan menambahkan sekitar 180 – 200 pekerjaan baru di fasilitas Greenville selama 16 tahun ke depan.

Angkatan Udara diharapkan untuk membuat keputusan tentang jet tempur latih awal tahun 2018.

Rencana “Make in India” untuk F-16 Masih Belum Jelas

Lockheed dan rivalnya Boeing masing-masing menawarkan jet tempur kepada India, salah satu sekutu utama AS yang menyerukan jet tempur baru yang akan diproduksi bersama secara lokal sebagai bagian dari inisiatif “Make in India”. Pemerintahan Obama mendukung pembuatan pesawat di India, namun Presiden Donald Trump sepertinya belum mempertimbangkan kemungkinan tersebut.

Trump telah mengancam untuk menghukum perusahaan-perusahaan Amerika Serikat yang memindahkan manufaktur dan pekerjaan dari Amerika Serikat ke lokasi lain di luar negeri. Dia telah mendorong perusahaan AS untuk membatalkan rencana memindahkan bisnis ke luar negeri.

Namun bagi perusahaan pertahanan AS yang menargetkan pasar luar negeri di desak untuk menciptakan lapangan kerja di luar negeri telah menjadi harga tawar dalam melakukan bisnis. India dan juga negara-negara Timur Tengah adalah yang lebih sering menyerukan produksi bersama sebagai harga tawar dalam melakukan bisnis.

Membangun jet tempur F-16 di luar AS sebenarnya bukanlah konsep baru, jet tempur tersebut telah dibuat di Eropa dan Asia selama bertahun-tahun sementara secara bersamaan juga sedang dibangun di fasilitas Fort Worth.

“Kami tentu ingin pemerintahan yang baru untuk memiliki apresiasi kepada bagaimana model produksi bersama ini bekerja dan kemudian apa maksud dari model produksi bersama pada peluang seperti F-16 di India”, kata Carvalho.

“Saya pikir sekaranglah saatnya pemerintah mengambil waktu untuk memahami, mengambil waktu untuk belajar, mengambil waktu untuk mendapatkan apresiasi dari semua ini untuk akhirnya sampai pada suatu keputusan yang bijak”, katanya.

Jika Lockheed Martin memenangkan kesepakatan jet tempur India, jet pertama kemungkinan akan dibangun di Greenville sementara pabrik di India sedang dibangun nantinya.

Peminat manga, anime, gadget, sains & teknologi, sosial-politik dan militer
Link medsos ada dibawah
– Facebook
– Google Plus
– Twitter

  15 Responses to “Lockheed Pindahkan Lini Produksi F-16 ke Greenville, Rencana “Make In India” Kian Tak Menentu”

  1. Hasil kebijakan Trumph

  2. Kasihan India, padahal udah sesumbar klo pabrik F-16 pindah ke India maka mereka tidak akan menjual F-16 ke Pakistan 😆 hahaha

  3. dipindah dari texas ke carolina karena UMR nya lebih murah xixixi

  4. sakit hatinya jewheed martin
    akan melakukan apapun
    meski mengarab pringkan inangnya

  5. Maksudnya bukan MAKE IN INDIA tapi MAKEnya di INDIA.,

  6. sudah punya kloning mesin buat tejas jd gak ngaruh. sudah waktunya bagi india merancang mesin copas sendiri kayak china. ini berlaku jg buat indonesia yg harus belajar meramal masa depan. mulai langkah dari sekarang untuk berburu teknologi dan meningkatkan TKDN yg blum kita kuasai untk IFX. khususnya mesin, rudal dan radar.

  7. Itulah yg terjadiiii

  8. Yang patut di cermati adalah, “Defense One melaporkan bahwa Bahrain saat ini menginginkan sebanyak 19 unit jet tempur F-16, dengan sejumlah pesanan tambahan yang berasal dari Indonesia, Kolombia dan kemungkinan India”. Kira2 yg blok berapa ya? viper kah,…? monggo di babar buat yg tahu….

  9. 180 pespur baru sampai dengan 2024.

    Mungkin terdiri dari ini :

    16 T50i
    6 SU-30MK2 (resmi, secara ghoib dibilang 6 Su-35 jaman pak Moeldoko).
    24 F16 hibah retrofit.
    6 F16 sebagai cadangan.

    180 – (16+6+24+6) = 180 – 52 = 128

    28 F16Viper (2 skuadron)
    30 su-35 (2 skuadron)

    128 – (28+30) = 128 – 58 = 70

    40 FA-50 (3 skuadron)
    30 Gripen C/D/E/F (2 skuadron).

    Kapan beli ? Bulan May … be yes or may be no.

    Xixixixi

  10. Boleh jg F16 Viper bila TNI AU harus beli, klu bs kita jg R&D permesinan termasuk metalurginya. Ada yg bilang biayanya mahal bila buat mesin sendiri, klu mo lbh murah beli mesin sampai kiamatpun gak akan maju Indonesia klu pakai pola fikir bgn! Diberita G20 mandek membuat keputusan karena AS tetap kekeh memproteksi ekonominya hal ini bs berdampak keguncangan bila negara2 besar ikut langkah siDonald Bebek akan kebijakan ekonominya dan Indonesia kena imbasnya!

  11. Tes

  12. Ajib ajib …… indonesia ikutan pesen t…

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)