Aug 132017
 

AR3 multiple-launch artillery rocket system (MLRS), Norinco, China (Sinha)

Kualalumpur – Angkatan Bersenjata Malaysia 11/8/2017 menyatakan tidak menerima tawaran dari China untuk membeli peluncur roket multi laras dan sistem radar untuk ditempatkan di ujung selatan negara Malaysia, dan membantah laporan media.

Bantahan itu menyusul berita bahwa perutusan China ke Malaysia pada pekan ini mengusulkan penempatan sarana tentara tersebut di Johor, negara bagian Malaysia berbatasan dengan Singapura.

Dengan mengutip sumber tertutup, laman berita Malaysia Insight menyatakan perutusan itu mengajukan penawaran tersebut pada Rabu, menyusul peluncuran jaringan rel kereta senilai 13 miliar dolar (130 triliun rupiah lebih), yang dibangun China.

Juru bicara tentara Malaysia menyatakan tidak ada usul semacam itu.

“Sejauh menyangkut angkatan bersenjata, tidak ada usul seperti itu,” ujar juru bicara Angkatan Bersenjata Malaysia kepada Reuters melalui telepon.

Menurut laporan tersebut, sebanyak 12 unit AR3 multiple-launch artillery rocket system (MLRS) ditawarkan untuk dibeli dengan masa pinjaman lima puluh (50) tahun.

Jumlah pinjaman atau biaya persenjataannya tidak diungkapkan. Jenis tata radar tersebut juga tidak diungkapkan.

“Straits Times” Singapura juga melaporkan penawaran itu, dengan mengutip sumber tinggi pemerintah Malaysia pada Kamis, yang mengatakan masalah tersebut “disinggung dengan ringan” dalam pembicaraan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak dengan Penasihat Negara China Wang Yong di upacara peresmian pembangunan rel kereta itu.

“The Straits Times” menyatakan keputusan tegas mengenai usul itu baru dilakukan saat kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Malaysia pada akhir tahun ini.

“Ini pertama kali saya mendengarnya,” ujar Mohammad Irwan Serigar Abdullah, sekretaris jenderal perbendaharaan Malaysia, saat ditanya Reuters tentang usul China tersebut.

Kementerian Luar Negeri China mengajukan pertanyaan kepada Kementerian Pertahanan, yang menolak menanggapi, dengan mengatakan ekspor senjata bukan bagian dari tugasnya.

Sistem roket artileri AR3 dibangun China khusus untuk ekspor dan pertama kali digunakan pada 2011 serta dianggap sebagai salah satu perangkat MLRS paling kuat.

Malaysia menandatangani kesepakatan membeli empat kapal patroli pantai (littoral mission ships) dari China pada tahun lalu. Reuters/ Antara, 10/8/2017.

  26 Responses to “Malaysia Bantah Beli MLRS AR3 dan Radar China”

  1. Niat hati pengen tp duit tak punya

  2. Perbanyak rudal tomabomoh saja..
    Kalo perlu diupgrade lagi biar tambah josss

  3. Wkwkwk malon mau dikasuskan amrik, kayak kemarin mau diadu sama korut krn soal kasus pembunuhan kakak tiri presiden korut.

    Malon tidak perlu rudal krn sdh ada raja bomoh

  4. Eit eit…. ada apa ini… bagian selatan MLsia kok mau d kasih petasan….

    • Kemungkinan buat membendung pengaruh kuat kucingpura di Johor kali bang, tapi bisa jadi ini proxy China di Semenanjung…. atau bisa juga sok2-annya si malon saja….

      Tapi ga tau juga ya….. saya khan cuma pengamat militer kelas odong2 …. 😆

  5. Yeaahh pake acara malu malu lagi..

  6. Klo gak py musuh mengapa harus beli roket..mang untuk nakuti..nakuti tetangga.

  7. Kemungkinan malaysia tidak tertarik dng produk china yg satu ini. Mereka toh sdh punya Astros spt kita. Adapun jika ingin melakukan penambahan dng produk yg sama.
    Gowind malaysia apa kabarnya.? Kok blom keliatan satupun.?

  8. Negara kaya,beli melulu….Arab cs,malay dll

    Negara pintar,buat melulu…Russia,china,barat dll

    Negara bijak,beli untuk pijakan buat sendiri sesuai kebutuhan…korea,indonesia

  9. Beli juga gk apa2

  10. Takder wang lerrrr…..

  11. Kok malu kucing, bukankah mereka harimau malaya?

  12. Berita MLRS ini tdk ditawarkan ke Malaysia pon mcm mne pihak sni mahu menolak

  13. Berkenaan isu offer dari china mengenai roket tu mungkin salah faham kecil shja. Penulis asal page politik tu mungkin silap dengar atau silap kenal pasti sistem apakah yang di tawarkan kepada Malaysia.

    Tambahan dari Sadin.

    “Kau percaya ke laporan Malaysian insight tu. Kau tahu penulis berita pasal roket tu bekas penulis Malaysian Insider. Kau faham sendiri kan. Sumber entah mana lepas tu petik kata ATM nak beli padahal satu apapun tak berbunyi dekat Gemas ke Asahan ke Terendak ke apa ke. Ini semua berita karat nak PRU ni.”

    Tiada lojiknya 12 biji MLRS hargamya di bayar selama 50 tahun.

    Walaupun begitu meh MMP cerita perkara yang sebenarnya.

    Pada 2014 Malaysia dan Firma Chinese telah tanda tangan MoU untuk sejenis surface-to-air defence missile system yang di panggil LY-80 SAM.

    Syarikat tersebut ialah Aneka Bekal Sdn Bhd dan Aerospace Long-March International Trade Co Ltd sain MoU tersebut bagi tawaran pembelian LY-80 Medium-Range-Air-Defence Missile Weapon System yang di sekalikan dengan transfer of technology.

    Perjanjian itu juga bukan sahaja meliputi transfer of technologies ke Malaysia malah membolehkan Malaysia hasilkan licenced production dan selenggara LY-80 MRSAM ini.

    Basically China bagi kita bina sendiri Mid Range SAM ni.

    LY-80 atau nama lain HQ16A merupakan ground-to-air defence missile system yang turut di gunakan oleh Sekutu China dan Malaysia iaitu Pakistan.

    Mid Range SAM versi land based ini di reka berdasarkan HQ-16 system versi Tentera Laut

    Sedikit maklumat tentang misil ini

    “The HQ16A (LY-80) missile can intercept an aerial flying target from an 15 m to 18 km of altitude, while its maximum interception range for combat aircraft is 70km, and between 3.5 km and 12 km for cruise missiles flying at an altitude of 50 meters at a speed of 300 meters/second.”

    “The HQ16A (LY-80) SAM components comprise a searching radar vehicle, command vehicle, radar tracking and guidance vehicle, launcher unit vehicle, and missiles canister. Technical support equipment includes missile transportation and loading vehicle, power supply vehicle, maintenance vehicle, and missile-test equipment. A single radar guidance vehicle controls two to four launcher units with six missiles ready to launch. The command vehicle is responsible to send target information and combat orders.”

    “The HQ-16 system comprises of an IBIS-150 3D target-search radar, a solid-state S-band passive electronically-scanned array (PESA) radar with a range of up to 150 km, multiple L-band tracking and guidance PESA radars, and six-cell vertical missile-launchers. Each L-band tracking radar has a range of 85 km, and can detect up to six targets, of which it can track four. An HQ-16 battery comprises of a tracking radar and four missile launchers.”

    Sama ada MoU ini bakal di realisasikan belum lagi di ketahui sebenarnya. Jadi harap jangan la berspekulasi. Besar kemungkinan program ini pun tidak akan berlaku.

    Untuk pengetahuan semua China juga pernah offer Sistem SAM KS-1 pada 2005 sekali dengan TOT dan production facility tetapi program ini tidak diteruskan.

    ~MMP~

  14. Sebab tak ada duit.. Hh

  15. 50 tahun….itu mau ngutangi apa mau anu..aduh

 Leave a Reply