Jun 252019
 

Mock up jet tempur Gen 5 TFX Turki. (@ Turkish Aerospace)

Turkish Aerospace (TAI) meluncurkan mock-up skala penuh pesawat tempur generasi ke-5 Turkish Fighter-Experiment (TF-X) di Paris Air Show 2019.

Mock up TF-X mungkin merupakan upaya oleh Turki untuk mengirim pesan ke Presiden Trump bahwa Turki tidak akan terintimidasi oleh sanksi terkait pembatalan pengiriman pesawat tempur LockheedMartin F-35A menyusul keputusan Turki yang membeli system pertahanan udara Triumf S-400 Rusia (NATO menamakannya : SA-21 Growler).

Amerika Serikat khawatir S-400 akan membahayakan F-35 sehingga tidak hanya menghentikan bagian-bagian yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan Turki tetapi juga menendang keluar pilot Angkatan Udara Turki (TurAF) untuk keluar dari program.

TF-X awalnya dimaksudkan sebagai pengganti F-16 dan akan mejadi tandem pesawat tempur F-35. Dengan sanksi sekarang berlaku penuh, ada kemungkinan bahwa program TF-X akan diberikan prioritas tertinggi untuk menggantikan F-16 dan F-35.

TF-X terlihat mirip dengan LockheedMartin F-22 Raptor dengan sentuhan pesawat tempur generasi 6 BAe Systems Tempest. Pada 2015, BAe Systems bergabung dengan program dan menyediakan desain untuk pesawat. British Rolls Royce ikut bergabung untuk menyediakan mesin namun kemudian mundur karena beberapa masalah.

Setelah ditingalkan perusahaan Inggris, Turki dapat mengandalkan tawaran dari Rusia yang menyediakan desain dan mesin baru berdasarkan pesawat tempur siluman Sukhoi Su-57.

TF-XTurki telah menarik banyak minat dari sekutunya seperti Pakistan dan Malaysia.

Dalam sebuah wawancara, petinggi Angkatan Udara Pakistan (PAF) mengatakan Angkatan Udara Pakistan tidak memiliki masalah untuk bekerja sama dengan TAI untuk program pesawat tempur Project Azm 5th Gen. Jika aliansi Turki-Pakistan terwujud, TF-X akan memainkan peran penting dalam keberhasilan Proyek Azm yang bertujuan untuk melawan program Advanced Medium Combat Aircraft (AMCA) India. Ironisnya, AMCA adalah rencana cadangan setelah gagalnya program Pesawat Tempur Generasi Kelima Rusia – India (FGFA) berdasarkan jet tempur PAK-FA / Su-57.

Hubungan TurAF dan PAF ditempa begitu kuat, diyakini secara luas bahwa pilot Turki ikut program pertukaran terbang di atas pesawat JF-17 Thunder.

Sementara itu di Malaysia, pembicaraan tentang kepentingan Angkatan Udara Kerajaan Malaysia (RMAF) dari TF-X muncul selama Defense Services Asia (DSA) 2018 setelah penandatanganan MoU antara DEFTECH dan TAI. MoU tersebut dikatakan sebagai batu loncatan menuju pengadaan TF-X pada akhirnya setidaknya dalam waktu 10 tahun.

Model skala pesawat ditampilkan di stan TAI di acara tersebut. Sementara RMAF telah mendorong program MRCA yang direncanakan ke 2029, juga bukan rahasia lagi bahwa Angkatan Udara mengincar TF-X dan Su-57. Tawaran untuk kemungkinan menjual Frazor telah diperluas ke Malaysia selama acara Langkawi International Maritime & Aerospace (LIMA) 2019 baru-baru ini.

Kebutuhan akan jet tempur siluman Generasi ke-5 datang dari keprihatinan untuk mengimbangi program dari negara-negara dikawasan seperti Indonesia dan Singapura.

Indonesia bekerja sama dengan Korea Selatan untuk pengembangan bersama program KF-X / IF-X. Pada saat yang sama, Angkatan Udara Republik Singapura (RASF) berencana untuk mendapatkan empat pesawat siluman F-35 untuk evaluasi dalam waktu dekat.

Dengan menjadi mitra dari TF-X Turki, akan berarti Malaysia dapat menyeimbangkan dengan mitra Indonesia dan Singapura pada kualitas daripada kuantitas.

Kerangka waktu pengembangan TF-X sangat cocok dengan jadwal CAP 55 RMAF di mana dua skuadron platform MRCA akan diadakan di masa depan. Karenanya, pesawat tempur F / A-18D dan Sukhoi Su-30MKM akan diganti pada tahun 2035 dan 2042.

Pada saat itu, teknologi TF-X telah matang sehingga memungkinkan RMAF untuk memenuhi rencana strategis Capability 2055 (CAP55). RMAF tidak menunjukkan niat untuk menyembunyikan minatnya pada TF-X seperti yang ditunjukkan oleh Kepala Angkatan Udara Malaysia dan delegasinya di Paris Air Show 2019.

Sumber: Malaysia Flying Herald

 Posted by on Juni 25, 2019

  12 Responses to “Malaysia Kunjungi Stan TF-X Turki”

  1.  

    Project ini terlihat lebih realistik di banding IFX/KFX. Kalau saya jadi menhan, sebelum tetangga jadi mitra project ini, Indonesia harus lebih dahulu jadi mitra. Jangan sampai nanti kita tersendat-sendat dalam project IFX/KFX, atau bahkan dibatalkan, tetangga kita malah sudah menerbangkan TFX.

  2.  

    Turki saat mendatangkan s400 terkena sanksi us om merah putih, kerjasama tfx adalah dengan iggris(BAE) yang selalu manut us ,tfx tai bisa jadi akan memakan waktu dan biaya yang benar2 banyak om,kta lihat perkembangan tai nanti 2021 sampai mana

    •  

      Kalau turki sudah kuasai rancang bangunnya aku rasa turki bisa beralih ke swedia untuk sistem avionicnya seperti yg dilakukan indonesia, dan untuk mesin turki jg bisa mencarinya lewat rusia atau pun china,,,terkadang membuat pespur ini tak harus sempurna dahulu, tp pelan2 disempurnakan melalui kekurangan2 yg dirasakan dr produk yg telah dibuat’ ya emang inilah resiko belajar membuat produk pespur tp paling tidak hal ini membuat negara itu sudah lebih maju dr sebelumnya.

  3.  

    Ya mungkin bisa begitu om situngkir rancang bangun dullu ,masalah kwalitas masih ada waktu modernisasi harapan teknologi turki akhirnya mungkin bergantung pada rusia,saab,dan perancis yang kadang tidak tunduk pada nato,tapi harapan saya tetep ifx

  4.  

    Turki banyak duit, militernya kuat dan Turki sudah jauh melangkah duluan….wajar saja mereka mampu. Tapi buat Indonesia….lautan lebih luas dari pada daratan….mestinya….kekuatan armada tempur laut jauh lebih unggul dari tetangga sekitar….namun masih belum terwujud….semoga saja anggaran 2019 – 2020 bisa lebih banyak persenjataan dan kekuatan tempur laut. Saatnya gas pol bikin kaprang kelas perusak….

  5.  

    Kalau RI aku yakin udah fix mampu membangun pesawat tempur karena telah menguasi rancang bangun pesawat tempur melalui riset dan pengembangan ifx/kfx bersama korea selatan oleh sebab itulah indonesia menolak secara halus ajakan turki tuk pengembangan tfx, kalau aku perhatikan gerak gerik indonesia sebenernya pengen keluar dr proyek ifx/kfx pengembangan dengan korsel dan jalan sendiri tuk ngembangkan ifx versi pengembangan ifx indonesia selanjutnya setelah menguasai rancang bangunnya tp karena masih ada teknologi2 yg kita kejar dr korsel seperti kelanjutan transfer teknologi kapal selam ya ujungnya kita urungkan niat keluar dan mencoba negoisasi mengurangi biaya keiskutsertaan karena kita jg butuh biaya untuk pengembangan ifx versi indonesia selanjutnya.

  6.  

    Gelagatnya seperti itu ,menurut anda bung situngkir jika seandainya kita keluar dari ifx apa kelanjutannya kita meneruskan proyek pespur lapan dua

  7.  

    Menurutku kita tetep lanjutkan pengembangan ifx versi indonesia bila jalan sendiri tp dengan desain yg sedikit lebih besar dr desain ifx/kfx hasil pengembangan bersama dengan korsel’ tujuan desain yg lebih besar agar mampu membawa bahan bakar lebih banyak yg sesuai kebutuhan wilayah indonesia tanpa tanki bahan bakar external, dengan mampu membawa bahan bakar lebih banyak tanpa tanki bahan bakar external akan membuat pespur lebih leluasa untuk membawa senjata lebih banyak tp power mesin harus sesuai dengan berat pesawat full load’ oleh sebab itulah indonesia mengincar lisensi mesin saturn Al-31fp milik rusia dengan sistem joint produksi mendirikan pabrik bersama di indonesia, tp kendalanya mata us selalu melotot melihat perkembangan hubungan indonesia – rusia.

  8.  

    Kalau untuk kekuatan gaya dorong mesin asal rusia kalau mereka mau jual itu om tungkir soloniev D 40 kalau gak salah inget tapi boros om

  9.  

    Bisa juga om pake soloniev D30f…. Daya dorong kuat tapi boros om tungkir itupun kalau rusia maw jual

  10.  

    Aku yakin pilihannya indonesia saturn al-31fp karena ini jg berhubungan dengan su30 kita, saturn al-31fp tidak akan digunakan rusia lg untuk produksi su30 selanjutnya yg akan beralih ke saturn al-41fp yg digunakan su35 saat ini’ mesin al-31fp ilmu teknologinya sudah lama di curi china dan dasar ini jg lah buat aku yakin rusia bersedia memberikan lisensi kepada indonesia dengan syarat2 yg pastinya harus memberikan keuntungan panjang bagi rusia, dengan sistem lisensi joint produksi memdirikan pabrik bersama di indonesia tentu hal ini akan memberi keuntungan yg panjang bagi rusia dan indonesia jg tidak akan rugi dengan sistem ini karena dapat untung dan dapat ilmu teknologinya.

  11.  

    Indonesia di salip?