Apr 132017
 

Itu Tergantung Pada Tujuannya

TOKYO, 31 Juli 1894 – “Untuk perkiraan masa yang akan datang”, demikianlah menurut pakar pertahanan Amerika, “perencana Angkatan Laut Jepang tidak bisa menyajikan suatu rencana yang rasional untuk mengalahkan Angkatan Laut Cina, bahkan di Laut Kuning”. Mengapa dikatakan demikian? Karena tidak masuk akal. Jepang telah menjadi negara industri modern sejak Restorasi Meiji dari tahun 1866-1869.

Dan setelah berabad-abad melakukan pengasingan, Jepang tidak memiliki tradisi pelaut untuk membahas tentang Angkatan Lautnya? Angkatan Laut Kekaisaran Jepang (INJ) mulai membentuk armada yang kuat sejak 25 tahun yang lalu, ketika mereka memakai kapal Stonewall buatan Perancis. CSS Stonewall dipinjam dari kekuatan Angkatan Laut terkenal, yaitu Konfederasi Amerika Serikat.

Semua ini adalah sketsa awal. Tokyo hanya punya sedikit waktu untuk mengatasi mereka. Armada gado-gado Angkatan Laut Kekaisaran Jepang pada waktu itu tidak akan memiliki kesempatan melawan armada yang lebih besar, lebih baik yang didanai oleh Angkatan Laut Dinasti Qing yang memiliki armada kapal perang. Dan armada kapal perang Dinasti Qing menjadi wasit dari pertempuran angkatan laut.

TOKYO, 17 April 1895 – Hari ini pemerintah kekaisaran China dan Jepang menandatangani Perjanjian Shimonoseki, mengakhiri perang terbatas yang pecah pada bulan Agustus tahun sebelumnya. Berdasarkan ketentuan perjanjian tersebut pemerintah harus Qing melepaskan kedaulatannya atas wilayah Korea, menyerahkan Formosa, Kepulauan Penghu, serta Semenanjung Liaotung kepada Jepang, dan membuka pelabuhan berdasar perjanjian baru dengan Jepang.

Tapi dampak perjanjian tersebut jauh melampaui yang telah disepakati. Komentator asing melihat Shimonoseki secara signifikan menandakan kedatangan Jepang sebagai kekuatan unggul di Asia. Perang terbatas ini, singkatnya mengubah tatanan regional.

Kenapa begitu? Kejadian penting dalam peperangan China-Jepang yang terjadi pada bulan September sebelumnya dalam Pertempuran Yalu, dilepas pantai sebelah barat Korea, disanalah Armada Gabungan dari Angkatan Laut Kekaisaran Jepang (IJN) berkumpul dan menghancurkan Armada Beiyang dari Angkatan Laut Qing. Mementahkan semua perkiraan sebelum perang mengenai keseimbangan angkatan laut kedua negara.

Hal tersebut di atas adalah analisis berita fiksi, namun menangkap maksud pada pendapat para ahli tentang keseimbangan militer saat malam pertempuran China-Jepang pada tahun 1894-1895, dan diikuti penyelesaian damai. Beberapa pengamat berpikir Angkatan Laut Jepang bisa menang, dan mereka memberi alasan untuk mencapai tujuan atas ramalan tersebut. Perkiraan mereka bisa juga salah.

Banyak sejarah yang penuh dengan kegagalan. Kutipan pembuka dari seorang ahli militer yang tidak disebutkan namanya sedikit mengarah pada seorang profesor di Kennedy School dan juga mantan pejabat Pentagon, Graham Allison yang baru-baru ini mengklaim bahwa militer AS tetap tak terkalahkan di Asia, bahkan dikampung halaman China menuju masa depan yang tak terbatas.

Hanya yang tidak rasional bisa berpikir sebaliknya, demikian menurut Allison. Ya, memang benar. Berikut adalah tiga pelajaran dari tahun 1895 yang menyatakan sebaliknya:

Pelajaran # 1: Merancang Peralatan

Manusia merancang perangkat keras, dan pengorbanan mereka membuat di papan gambar dapat memiliki makna kolosal. Lihatlah dengan cara ini. Tiga atribut dasar dari setiap kapal perang adalah kecepatan, perlindungan dan persenjataan. Jika sang pembuat kapal ingin lebih banyak atribut kecepatan, misalnya, maka mereka biasanya mengorbankan salah satu atau dua atribut lainnya.

Kapal yang diisi banyak rudal misalnya, akan menambah bobot pada lambung kapal. Berat akan memperlambat kapal, perancang butuh untuk mengkompensasi dengan mengurangi lapisan baja pelindung, menambahkan mesin yang lebih besar, lebih mahal atau keduanya.

Lambat, lapis baja yang kuat, dan persenjataan berat, atau armada yang dilengkapi dengan persenjataan ringan atau sedikit? Kapal perang angkatan laut selalu kompromi dengan hal tersebut.

Tidak ada yang gratis dalam arsitektur kapal angkatan laut. Ambil contoh modern, Littoral Combat Ship (LCS) milik Angkatan Laut AS. Para pendiri proyek LCS mengamanatkan agar fokus pada kecepatan. Itu berarti bukan hanya menggunakan mesin sporty tapi konstruksi harus ringan dan persenjataan yang terbatas.

Memang, salah satu kelas LCS seluruhnya dibangun dari aluminium, bukan bahan sturdiest yang bisa menahan kerusakan akibat pertempuran. Jika kecepatan adalah yang terpenting, berarti anda menyerahkan kemampuan perlindungan dan persenjataan. Semua desain kapal melibatkan pilihan tersebut. Para pelaut mungkin tidak akan menui dampak dari pilihan-pilihan tersebut sampai mereka berada dalam pertempuran yang sesungguhnya.

Sekarang kilas balik pada cerita China dan Jepang lagi. Seperti pada kapal laut yang ada saat ini, pejabat Angkatan Laut China dan penasihat asing mereka melihat bahwa kapal perang sebagai uang dari kerajaan. Harganya sesuai ketebalan pelindung lapis baja melebihi dari kecepatan dan daya tembak.

Angkatan Laut China menggunakan “Battlewagon” buatan Jerman dengan persenjataan meriam yang lebih berat dari Angkatan Laut Jepang, tapi dengan kecepatan tembak yang lebih lambat. Dan karena biaya yang terlalu mahal, hanya ada dua Battlewagon dalam Armada Beiyang, formasi tersebut berperang di Yalu.

Sementara itu, desainer kapal perang Jepang, membuat yang sebaliknya, mengutamakan kecepatan dan manuver serta meriam dengan kecepatan tembak yang tinggi mengorbankan perlindungan dan ukuran kaliber senjata yang digunakan.

Dalam pertempuran tersebut terungkap bahwa perancang kapal perang Dinasti Qing telah membuat pilihan yang buruk. Walaupun proyektil yang ditembakkan dari kapal perang Jepang memberi dampak kerusakan yang kecil, meriam Jepang dapat menembak dengan cepat dan memberi agregat tembakan yang berat terhadap Armada Beiyang.

Kapal perang Dinasti Qing dalam Armada Beiyang yang lebih ringan terbukti sangat rentan terhadap tembakan meriam Jepang, meskipun kedua Battlewagon tersebut sebagian besar aman dari tembakan meriam Jepang. Komandan Armada Beiyang kehilangan 2/3 dari kekuatan mereka dalam pertempuran Yalu. Itulah apa yang anda sebut menentukan.

  • Apakah AS benar-benar siap mengatakan bahwa China tidak bisa berbuat seperti Jepang dulu?
  • Apakah desainer kapal perang China membuat pilihan yang buruk?
  • Apakah sistem pertahanan anti akses yang telah disebar China di sepanjang pantai selama dua dekade terakhir adalah palsu?

Militer China memiliki kebiasaan menyangkal penilaian kemampuan tempurnya. Hampir semua platform yang diluncurkan selama dekade terakhir, baik kapal perusak yang dilengkapi rudal pemandu, kapal selam diesel listrik berteknologi tinggi maupun kapal induk, telah membuat pengamat Barat terkejut.

Oleh karena itu janganlah menyerah kepada keangkuhan. Karena kita semua mengetahui apa yang akan terjadi karena keangkuhan.

Pelajaran # 2: Memakai Peralatan Dengan Imajinasi (Mungkin Tidak)

Setelah semua terjadi, terbukti pejabat Angkatan Laut Jepang mengalahkan lawan mereka dalam merancang armada. Para pelaut Jepang juga tidak sebanding dengan musul mereka dalam ilmu pelayaran, meriam, dan kemampuan bela diri.

Mengumbar pada keunggulan persenjataan adalah bias, semua tergantung siapa yang memegangnya, itu sudah pasti. Tapi ketika saatnya tiba, orang-orang dalam pertempuran harus menggunakan pikiran mereka. Pasukan yang bisa mengandalkan dirinya sendiri mungkin cukup untuk memenangkan perempuran. Itu telah dibuktikan oleh Jepang.

Jika memungkinkan bagi lawan yang lebih lemah harus bermain dengan bijaksana, namun bagi yang kuat terkadang terlalu mengandalkan kekuatannya dan malah bermain dengan bodoh. Anda bisa saja salah menggunakan kekuatan militer yang tangguh, menyia-nyiakan sebagian keunggulan anda atau bahkan keunggulan penuh. Yang terkuat cenderung cepat merasa puas.

Ketika kamu sudah unggul, mengapa berusaha lebih keras? Atau, terkadang kekuatan besar memiliki kebiasaan buruk yaitu bersikap acuh tak acuh sebab suatu komitmen menuntut energi untuk kekuatan dan kebijakan. Yang lemah memiliki keunggulan berkonsentrasi untuk mengatur strategi mereka di peta. Pihak yang lemah juga memiliki peluang untuk membalikkan dunia, membuat diri mereka lebih kuat dari pasukan musuh di suatu tempat dan waktu yang menentukan.

Faktor-faktor tersebut membantu menjelaskan mengapa komandan Angkatan Laut Dinasti Qing enggan mengerahkan seluruh armada mereka untuk mengungguli kekuatan Armada Gabungan Jepang. China memiliki, pesisir yang panjang untuk dikelola, sedangkan Jepang berfokus pada teluk Laut Kuning yang ada di Korea, dan di Semenanjung Liaotung, yang menutupi akses laut ke ibukota China.

Memenangkan wilayah utara, terlebih memberikan hadiah yang tepat kepada Tokyo seperti Formosa dan pulau-pulau terpencil di selatan.

  • Jika suatu kekuatan yang lebih kecil tapi tekonsentrasi melawan kekuatan besar yang tersebar tipis, siapa yang menang?

Itu mungkin bukan lawan yang menawarkan kekuatan militer diatas kertas. Jadi…

Pelajaran # 3: Waspadai Peramal

Mereka yang memiliki kekuasaan secara otoriter mengenai konflik manusia cenderung mengecewakan. Kekalahan dan membalikkan nasib adalah hal yang biasa dalam prognosis militer. Dan ini adalah sebuah dunia di mana mengenali musuh jauh lebih sulit daripada strategi yang diperbolehkan oleh Sun Tzu.

Militer asing menyerupai “kotak hitam” di masa damai. Artinya, orang luar mengetahui apa yang mereka lihat dari luar. Mereka bisa menyusun daftar jangkauan, spesifikasi teknis dan muatan lainnya, serta berspekulasi untuk menebak kinerja tempurnya. Tapi hanya dalam masa perang perangkat keras dapat menunjukkan potensinya atau tidak. Juga akan terlihat bagaimana perwira asing dan prajuritnya melaksanakan tugas mereka di tengah hiruk-pikuk pertempuran.

Banyak contoh dalam sejarah ketika lawan yang lemah menjadi pemenang. Itu disebabkan karena salah satunya biasanya lebih menginginkan untuk mencapai tujuannya dibandingkan yang lain. Para pemimpin politik menolak untuk mengambil resiko mengorbankan seluruh militernya kecuali tujuan politik mereka dapat tercapai.

Mempertaruhkan semuanya dapat meningkatkan resiko kehilangan semuanya dan tentunya mengekspos bangsa untuk hal-hal buruk yang dapat terjadi di masa depan. Lebih baik untuk melestarikan sumber daya, melindung semua yang bernilai dari yang belum diketahui. Yang kuat, mungkin menarik serangan mereka karena alasan politik.

Negara yang lemah tidak memerlukan menang dengan memanfaatkan kekuatan militer apabila bisa menang secara politik yang tentunya merupakan sati-satunya jenis kemenangan yang penting. Hal ini dapat mematahkan semangat musuh yang kuat, atau menaikkan biaya kemenangan sangat tinggi sehingga musuh berfikir bahwa kemenangan yang dicapai tidak sebanding dengan biaya yang telah dikeluarkan.

Jadi untuk melihat perbandingan data puluhan halaman proyek kapal perang yang menang dalam pertempuran laut, dan menyebut kemungkinan lain yang tidak rasional adalah untuk menyingkirkan kecerdikan manusia, kekeliruan manusia, dan liku-liku perang.

Dan yang lebih buruk lagi, semua itu diluar politik. Jepang waktu itu hanya membutuhkan kemenangan skala kecil atas kekaisaran China untuk memenuhi tujuan-tujuannya di tahun 1894-1895. Mereka tidak melihat kebutuhan untuk menggulingkan rezim Qing, menduduki China, atau bahkan mengalahkan seluruh Angkatan Laut Dinasti Qing pada waktu itu.

Sama seperti saat ini, China tidak perlu untuk benar-benar mengalahkan persenjataan dan Amerika Serikat untuk dapat mencapai tujuan yang sederhana. Kemampuan yang cukup untuk dapat mencapai tujuan Beijing mungkin segera dimiliki oleh Angkatan Bersenjata China (PLA). Dan bisa jadi saat ini mereka telah memilikinya.

Sumber: National Interest

Peminat manga, anime, gadget, sains & teknologi, sosial-politik dan militer
Link medsos ada dibawah
– Facebook
– Google Plus
– Twitter

  34 Responses to “Mampukah China Memenangkan Peperangan Melawan AS?”

  1. Damai ajalah

  2. Cepat atau lambat pd3 pasti terjadi…

  3. cuma kakak tua jepang yg bisa menghadapi china

  4. wah… mantap sih… strategi lebih penting daripada mengandalkan kekuatan senjata, pantesan China pernah bilang, kami mungkin tidak akan menang, tapi Amerika pasti akan membayar dengan mahal… ternyata yang seperti itu toh maksudnya… hihihihi…

    China udah belajar dari pengalaman 😆

  5. Klo perangnya di daratan cina cenderung menang cina.. Dan sebaliknya..

    Mslhnya klo perangnya mlh di negara ke tiga dan bukan di cina atau amrik..
    Jadinya ntar dua negara perang tp yg kalah mlh tiga negara..
    Cina kalah.. As kalah.. Negara tmpt perang jg kalah..

    Ngelindur ya truuk..

    • Iya …laga paling bagus hanya di indonesia..tp jika kita kuat,kita geser laganya di malaysia..

    • di LCS juga China menang banyak, bisa buat bocor saja kapal induk AS, berapa banyak kerugiannya, dan utk perang nuklir sepertinya tidak akan terjadi, karena AS dan China akan sama hancur, nah AS tak punya nyali utk main hancur-hancuran dengan China, kenapa? karena ada Rusia, harga diri AS itu tinggi, maka tak mungkin dia mau dibawah Rusia

  6. China hanya kalah sumber dana dan investasi militer saja. kalau pun terjadi perang Real Head to Head :

    China Vs Us Perang Darat Skor 10.2 (untuk China)
    China Vs Us Perang Udara Skor 3.5 (untuk US)
    China Vs Us Perang Laut Skor 5.5 (untuk US)

    Jika terjadi Join Partner /Aliansi
    Cs. China Vs Cs. Us Perang Darat Skor 15.10 (untuk Us)
    Cs. China Vs Cs. Us Perang Udra Skor 10.10 (untuk Us)
    Cs. China Vs Cs. Us Perang Laut Skor 10.10 (untuk Us)

    Jika kenyataan nya perang tetap dimenangkan CHINA dan Eropa akan menjadi penaklukan pertama CHINA setelah peperangan. China menjadi kekuatan baru. Salam

  7. Tes

  8. kalo perang:
    taktis :
    China ( 35% ) vs US ( 65% )..
    Endurance :
    China ( 60% ) vs US ( 40% )…
    Phisikologis :
    China ( 65% ) vs US ( 35*% )…
    Nuklir :
    China ( amblas ) vs US ( ng’gak selamat )…

    Yg jelas Amrik ng’gak akan mau ambil risiko perang frontal dgn china…
    Soale ng’gak ada untung’x…
    Malah” bisa buntung…

    You ( amrik ) hbs”an perang dgn China…
    Eropah ( khusus’x ex negara” pecahan Soviet ) akan jatuh & di’caplok kembali oleh Russia….

    Jepang mgkin akan kembali bikin ulah spt pd wkt PD-II…
    mgkin perempuan” Indonesia-Kita juga akhir’x kena dampak lg ( jd budak sex tentara jepang )….

    • betul bung, tak akan berani si AS
      tapi yg terahir tak betul itu 😎

    • Batat.

    • ngapain perang ama china blokade laut,udara dan darat aja
      ntar lak berguguran sendiri orangnya

      dan tak perlu scaremongering jepang sudah tidak bisa ekspansi lantaran sudah dikebiri
      apalagi ditambah penanaman mental victim complex nanti bisa muncul halusinasi century of humiliation pake klaim2 wilayah dan teriak2 itu tempat mancing bapakku.

  9. Yah capek perang

  10. Buyar atuh kang?

  11. Keduanya akan sama2 mengalami kerugian..

  12. Klu terjadi perang yg menang jd arang yg kalah jd abu sama2 babak belur dong terutama berdampak pd stabilitas ekonomi dan keamanan dunia! AS plg berani jg kroyokan seperti yg sudah2.

  13. Mampukah China memenangkan peperangan melawan AS ?
    Jawabannya tidak sama sekali !

  14. Test

  15. Apakah china bisa memenangkan perang melawan AS? Jawabannya Iya dan juga Tidak.

    Tergantung dari sudut pandang masing2, seperti apa kita memandang kualitas militer dari kedua negara..

    Kalau pandangan saya sendiri, Dua2nya akan hancur jika perang frontal, karna itulah yg paling memungkinkan adalah mereka perang di daratan pihak ketiga. Bisa itu korut maupun suriah.

  16. China tetap aman, Krn Amrik bakal takut serang china, kecuali main keroyokan xixixi

  17. Jangan khawatir Jepang punya Gundam X20A Strike freedom Gundah yang memiliki kemampuan jammer untuk mematikan banyak musuh dalam 1 kali tembakan … he he

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)