Mar 292019
 

Mesin afterburning turbofan GTRE GTX-35VS buatan India © Jagan Pillariseti via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Sebelumnya dilaporkan bahwa DRDO sedang menutup program pengembangan mesin Kaveri. Meskipun tidak ada konfirmasi dari laporan yang beredar selama acara AeroIndia, ini menunjukkan flip-flop (perubahan mendadak) DRDO pada pengembangan mesin tersebut, seperti dilansir dari Force India.

Keberhasilan program Advanced Medium Combat Aircraft (AMCA) sangat tergantung pada pengembangan mesin GTX-35VS Kaveri, karena pembangkit listrik merupakan “jantung” dari setiap platform udara, termasuk jet tempur modern.

Dengan harapan tersebut, kami mencoba untuk melihat kembaki keadaan dari Kaveri yang dikembangkan oleh DRDO bersama Gas Turbine Research Establishment (GTRE) sambil mempertimbangkan pentingnya memiliki mesin yang dikembangkan secara lokal dalam pesawat tempur domestik.

Jika program GTRE Kaveri telah melepaskan arwahnya, maka itu adalah yang ke-2 kalinya proyek tersebut ditutup. Pada tahun 2014, proyek tersebut telah dikubur untuk dihidupkan kembali nanti. Jika LCA ingin sukses, maka pengembangan Kaveri sangatlah penting.

Impor mesin GE F414 bukanlah jawaban untuk kebutuhan mesin LCA Tejas, kecuali jika melibatkan transfer teknologi penuh, yang tentunya sangatlah tidak realistis. Mengingat desain LCA Tejas membutuhkan mesin yang sangat kuat. Impor tentu sangat mahal dan ketergantungan kepada pemasok tidaklah disarankan.

Jet tempur ringan (LCA) Tejas buatan HAL, India © Indian Air Force via Hindustan Times

Dan ada pula pertanyaan mengenai AMCA. AMCA ini membutuhkan pengaturan mesin kembar dan GTRE GTX-35VS Kaveri berpotensi memberi daya kepada pesawat generasi ke-5 yang ditawarkan oleh ADA dan DRDO.

Menurut laporan Business Standard pada bulan November 2016, Direktur Jenderal Cluster Aeronautics DRDO C.P. Ramanarayanan telah mengkonfirmasi bahwa DRDO dan Safran Aircraft Engines Prancis (dulu Snecma) telah terikat untuk menghidupkan kembali mesin Kaveri sebagai bagian dari kesepakatan atas akuisisi 36 unit jet tempur Rafale. Diharapkan mesin akan diintegrasikan dan diuji pada LCA Tejas tahun 2018. Namun tidak ada tindak lanjut yang terlihat dalam hal ini.

DRDO juga telah mencoba untuk mentransformasi mesin afterburning Kaveri ke dalam Kaveri Marine Gas Turbine (KMGT), turunan baru yang dikembangkan dari mesin Kaveri GTX-35VS untuk kapal laut. DRDO juga aktif bekerja pada Ghatak, turunan mesin Kaveri yang dikembangkan untuk memberi daya pada Kendaraan Tempur Udara Nirawak AURA India.

Tapi menurut Wing Commander (Purn) GB Athri, “DRDO adalah gajah putih. Saat proyek Kaveri dimulai bersama dengan program LCA Tejas pada tahun 1984, kita punya harapan besar pada proyek tersebut. Sudah empat dekade sejak saat itu namun kita tidak memiliki produk yang bekerja dengan layak”.

Pesawat jet latih PZL TS-11 Iskra Angkatan Udara Polandia © Polish Air Force via Wikimedia Commons

“Saya sangat berharap mesin Kaveri dapat sukses karena banyak keringat dan darah telah masuk ke dalam proyek. Tetapi masalah mendasar terletak pada ketidakmampuan DRDO untuk memberikan. Lihatlah Polandia, meskipun merupakan negara yang dilanda perang pada tahun 1964, ia mengembangkan pesawat latih PZL TS-11 Iskra yang telah dibeli dan digunakan India selama lebih dari 3 dekade. Apa kita tak terpengaruh oleh perang? Kenapa Polandia berhasil membuat jet pelatih sementara kita belum?”, katanya.

“DRDO perlu mengembangkan etika kerja yang baik di antara stafnya, memikul tanggung jawab dan memberikan akuntabilitas. Mereka harus bertanggung jawab atas pemborosan dana publik”, kata pensiunan tersebut.

Athri menambahkan bahwa “DRDO dan HAL perlu berhenti berjemur dalam prestasi Dr. APJ Abdul Kalam. Sudah saatnya mereka mengambil isyarat dari ISRO dan mulai untuk memberikan hasil nyata daripada hanya sekedar berbicara”.

Bagikan: