Aug 292018
 

Sistem rudal-artileri pertahanan udara Pantsir-S1 (SA-22 Greyhound). © Russian MoD via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Dengan berbekal lusinan sistem rudal/artileri pertahanan udara Pantsir-S1, Suriah masih tidak dapat mencegat rudal jelajah Tomahawk tanpa bantuan dari Rusia, seperti dilansir dari laman Bao Dat Viet.

Sistem pertahanan udara Pantsir-S1 di Suriah telah berhasih mencegat sejumlah besar rudal jelajah Tomahawk pada tahun 2017 dan awal tahun 2018, tidak dapat disangkal. Namun, menurut pendapat para pakar, senjata ini bukan tongkat sihir untuk melawan rudal jelajah Tomahawk Amerika.

Untuk mencapai suksesi itu, sistem handud Pantsir-S1 Suriah didukung dengan baik oleh Rusia. Tanpa Rusia, terlepas dari fakta bahwa Suriah memiliki hingga 400 sistem pertahanan udara Pantsir-S1, Suriah juga tidak mungkin untuk melawan rudal jelajah Tomahawk Angkatan Laut AS.

Kapal perusak USS Laboon (DDG 58) meluncurkan rudal jelajah Tomahawk. © US Navy via Wikimedia Commons

Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa sistem Pantsir-S1 itu sendiri merupakan sistem pertahanan udara jarak pendek, ketinggian rendah, sehingga efektivitas dari radarnya sangat rendah, tidak dapat mendeteksi serangan rudal jelajah Tomahawk sejak dini.

Sistem udara lainnya memiliki bidang pandang yang jauh lebih luas, tetapi tak cukup jauh untuk mendeteksi peluncuran awal rudal Tomahawk. Lebih jauh, karena kondisi medan perang Suriah tidak dapat menghubungkannya ke berbagi jaringan informasi pemandu secara real-time. Oleh karena itu, Suriah tak mungkin membuat pertahanan yang kuat ketika serangan dimulai.

Menurut analis, alasan utama keberhasilan operasi pertahanan Suriah saat itu adalah sistem pengintai, pengawasan dan sistem peperangan Rusia yang mampu mendeteksi kedatangan serangan AS dan sekutunya. Dan memberikan waktu kepada Suriah untuk mempersiapkan, menginstruksikan, menunjuk target untuk sistem pertahanan udara seperti Pantsir-S1. Secara bersamaan, Rusia menggunakan jammer elektronika untuk memungkinkan sistem pertahanan udara Suriah menembak rudal-rudal tersebut.

Dan ini adalah kondisi kritis bagi Pantsir-S1 untuk berhasil mencegat rudal di Suriah. Dapat dikatakan bahwa Pantsir-S1 Syria hanya dapat memainkan peran sepenuhnya jika menerima dukungan dari radar pengintai dan kendaraan perang Rusia.

Tanpa kondisi-kondisi tersebut, Pantsir-S1 tak dapat bertahan karena itu bukan untuk mencegat rudal-rudal jelajah seperti ini.

Jadi, pernyataan bahwa Pantsir-S1 Suriah telah memainkan peran yang paling penting dalam menembak jatuh rudal Tomahawk bukanlah merupakan faktor penentu dalam keberhasilan melawan serangan udara dan rudal jelajah AS.

Atau, dengan kata lain, itu hanya salah satu elemen dalam pertahanan udara dan rudal jelajah secara keseluruhan.

Negara-negara yang membeli sistem anti-pesawat tanpa alat untuk mengamankan peperangan modern dan membangun pertahanan yang kuat tentunya hanya akan membeli ratusan sistem yang tidak akan berfungsi dan akan mudah dikalahkan oleh serangan rudal jelajah.

Dan jika Amerika Serikat kembali melancarkan serangan baru berbasis Tomahawk terhadap Suriah, maka Pantsir-S1 tidak akan dapat melakukannya tanpa dukungan diam-diam dari teknologi Rusia lainnya.

Berbagi

  12 Responses to “Mampukah Pantsir-S1 Suriah Lawan Rudal Tomahawk ?”

  1.  

    Wah, bakal seru nih komen para FB 😆

  2.  

    panasboy klo ada artikel begini ngumpet di cool-kas…..xixi

    tpi perlu di ingat juga diparagraf ke-7, tomahawk tanpa dukungan penuh, bisa melobangi hangar, menghancurkan gedung dengan airburst mode.
    kalib yg diluncurkan dari suryah dan laut masih dpt dukungan sinyal dr rusia dan iran, tpi kgk bisa masuk ke gedung, akurasinya meleset 20 meter, kalib belum battleproven, coba tembaknya di dekat pearl harbor,,,,biar sekalian dpt cap battle proven.

    •  

      Kenapa tiba2 membahas Kalibr??? apa salah Kalibr??? bahkan dalam perang di Suriah Kalibr jauh lebih efektif daripada Tomahawk USA… bahkan serangan dilakukan dari platform kapal permukaan dan dari kapal selam dalam posisi menyelam…
      Serangan Rudal Kalibr kebanyakan dilakukan di siang hari, coba bandingkan dengan Tomahawk, bahkan saat perang Irak selalu dilakukan dini hari… mungkin biar musuhnya pada tidur dulu baru di tembakkan atau kalau lagi ngaco tidak ketahuan…
      Suriah mendapatkan Tomahawk utuh saat serangan ke dua… dan itu jelas2 sangat aneh

  3.  

    siapa itu pansboy? oh itu yaa.

    tapi itu kan menurut pakar, padahal panstsir s1 itu hanya menggunakan peluru & rudal jarak pendek, oleh karna itu jika mmboyong s400 akan ditambah pantsir s1 sebagai pengamanan baterai

  4.  

    Tomahawk meluncur pada ketinggian 30-50 meter dari atas permukaan (laut / tanah) mengikuti kontur permukaan bumi (pegunungan yg mengelilingi Suriah).

    Jadi untuk mendeteksi rudal yg bergerak merendah mengikuti tinggi pegunungan ini perlu radar yang gelombangnya ditembakkan ke lapisan ionosfer dan gelombang itu memantul dari lapisan ionosfer ke bumi dan mengenai rudal itu yang akhirnya memantul kembali ke ionosfer trus memantul ke radar penerima.

    Radar yang punya kemampuan ini adalah radar over the horizon, contoh yang punya Rusia adalah 29B6 Kontayner, punya Amrik adalah MADRE, punya Australia Jindalee, punya RRC Skywave.

    Kemungkinan hasil tangkapan radar OTH punya Rusia inilah yang diberitahukan kepada Suriah.

    Namun itupun juga masih perlu data link, tanpa data link Suriah akan menembak membabi buta dan itu yang terjadi.

    Dari 103 missile yg diluncurkan, 66 bisa dicegat oleh arhanud Suriah sedangkan 22 lolos dan mengenai target di Suriah. Sisanya (103 – (66+22) = 103 – 88 = 15 missile mengalami malfungsi sehingga tidak meledak / gagal meluncur.

    Pelajaran yg perlu ditarik :

    1. Deteksi dini yg memadai
    2. Data link yg memadai (bukan gado2)
    3. Arhanud yg kompeten.

    Hanya bisa kena 66 dari 103 yaitu hanya 64% itu tidak bisa dikatakan kompeten.

    Coba jika 15 missile itu tidak mengalami malfungsi, kerusakan akan tambah parah.

    Bisa dikatakan kompeten jika 95 % serangan bisa digagalkan.

  5.  

    Pantsir itu memang sistem pertahanan jarak dekat… kalau mau integrasi sebagai perlindungan mutlak jelas dibutuhkan kehadiran Tor-M, Buk-M, S-300/S-400 sebagai mata dan payung untuk mendeteksi serangan yang masuk…
    Itulah sebabnya USA meradang ketika banyak negara ingin membeli S-400…
    Mereka tahu persis untuk menembus dan mengalahkan Pantsir dan sistem pertahanan yang lain bisa dilakukan tetapi lebih sulit ketika menghadapi sistem pertahanan terintegrasi dan didukung oleh sisitem kuat seperti S-400…
    Belum lagi kehadiran sistem jaming untuk perang elektronik dan untuk yang ini Russia memilikinya… Sistem milik Russia berulang kali melakukan jaming untuk menghadang atau untuk menyerang sistem milik barat… sesuatu yang jarang terjadi sebaliknya…

  6.  

    tomahawk cukup di lawan pakai palu alias martil.tinggal pinjam sj palu nya thor.

  7.  

    Pantsir S1 – Deadly Short Range Air Defense System

    https://www.youtube.com/watch?v=9m6nzCJD95M&t=133s

  8.  

    Kasihan Suriah hanya direpotkan menangkal Tomahawk, tidak mampu menyasar dan menghancurkan sumber peluncurannya. Semoga pada serangan AS berikutnya, rudal Suriah lebih ofensif meremukkan sarang Tomahawk

    •  

      Hla itu kan memang kebiasaan dari perilaku AS… mereka mencari lawan yang tidak memiliki kemampuan membalas ke posisi dimana armada mereka berada… Menyerang dari posisi yang jauh memanfaatkan Libanon sebagai payung serangan mereka, sehingga Suriah tidak akan mampu mendeteksi lokasi serangan ditambah Suriah hanya memiliki sistem pertahanan dan sistem deteksi radar yang tidak cukup mumpuni, belum lagi usaha keras barat dan Israel untuk mencegah Suriah mendapatkan S-300 dari Russia seperti yang dilakukan Netanyahu sebelumnya…
      Hanya saja AS kena batunya karena ada kehadiran Russia di Suriah, sehingga mereka mesti berhati2 dalam menentukan target dan juga harus mengkoordinasikan serangan dengan Russia… padahal jelas hal itu menjadikan serangan mereka sebenarnya tidak begitu efektif, seperti serangan mereka ke 3 sasaran dengan 100 rudal lebih… bahkan tidak ada pengaruh apapun bagi kemampuan militer Suriah…

  9.  

    Indonesia harus punya psu sekelas s300 atau s400, kalau banyak negara sudah memiliki psu jarak sedang atau jauh maka usa tidak bisa lagi menguasai udara dan dunia baru bisa aman

 Leave a Reply