Man Behind The Gun

Man Behind The Gun, adalah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan latihan para prajurit Arhanud ini. Meski persenjataan terbilang kuno, namun kemampuan menembak tetap harus diasah, untuk membuat tembakan yang akurat dan tepat. Senjata di atas adalah senjata mesin berat DShK (Degtyaryova-Shpagina Krupnokaliberny) 38 kaliber 12,7 x 108 mm, yang diluncurkan Uni Soviet pertama kali pada tahun 1938.

senjata arhanud 1
Oerlikon 20mm

Ini adalah Meriam Oerlikon 20mm yang digunakan Batalyon arhanudse 16/Maleo. Kanon ini awalnya diciptakan pada tahun 1937, untuk melengkapi kapal dagang dan kapal perang kecil Inggris dari serangan udara jarak dekat. Swiss terus meningkatkan kemampuan senjata ini dan pada tahun 1941 memunculkan versi Oerlikon Mark II 20 mm. Selain dipasang di kapal untuk perlindungan udara jarak dekat, senjata ini pun akhirnya dikembangkan untuk keperluan pasukan pertahanan udara darat.

oerlikon 20 mm
Oerlikon 20mm
senjata arhanud 2
Bofors 40 mm

Dan ini senjata  Bofors 40 mm, atau meriam Bofors 40 mm/L60,  anti-pesawat / multi-tujuan autocannon ysng dirancang pada tahun 1930 oleh produsen senjata Swedia. Senjata anti-pesawat ini paling populer selama Perang Dunia II yang digunakan sebagian besar pasukan Sekutu.  Sejumlah kecil Kanon Bofors 40mm ini tetap dalam pelayanan sampai hari ini. Aksinya yang terakhir adalah saat Perang Teluk, meski tidak cukup efektif dalam merontokkan pesawat pesawat pasukan kualisi yang dipimpin Amerika Serikat. Namun senjata Bofors multiguna, yang juga bisa menghancurkan sasaran darat. Kini senjata ini umumnya di pasang di kendaraan lapis baja ringan seperti CV 90. Senjata ini masih digunakan Yonarhanudse-16/Maleo. Man Behind The Gun.

Foto : Defence.PK

Tinggalkan komentar