Mana Sanksi AS Untuk Israel?

15
6

Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Colin Powell menolak menanggapi informasi yang menyebutkan bahwa Israel memiliki 200 senjata nuklir, yang semuanya ditargetkan pada Teheran. Informasi tersebut terungkap dari dokumen surat elektronik (surel) Colin Powell yang ditujukan pada Jeffrey Leeds, rekan bisnis Powell yang juga donatur utama Partai Demokrat. Dokumen pribadi tersebut diretas oleh orang tidak dikenal yang diduga berasal dari Rusia dan sempat diunggah dalam situs whistleblower DCLeaks, Rabu lalu (14/9/2016).

Melalui juru bicaranya, Peggy Cifrino, Powell menegaskan bahwa surel tersebut otentik atau asli. Surel tersebut diketahui ditulis tahun 2015. Dalam surel kepada Jeffrey Leeds tersebut, Powell mengakui bahwa Israel memiliki sekira 200 senjata nuklir yang semuanya diarahkan ke Iran sehingga Iran tidak akan berani menggunakan atau membuat satu pun bom nuklir.

Selama ini, baik Israel maupun AS tidak pernah mengonfirmasi ataupun membantah kepemilikan senjata pemusnah massal tersebut, sebuah kebijakan yang dikenal dengan nama ‘ambiguitas nuklir’.

“Orang-orang di Teheran tahu Israel memiliki 200, semua mengarah ke Teheran, dan kita memiliki ribuan. Seperti (yang Presiden Iran, Ahmadinejad katakan) ‘apa yang akan kita lakukan dengan satu unit, membersihkannya?’, Pokoknya, Iran tidak dapat menggunakan satu, bahkan jika mereka akhirnya membuat satu (bom nuklir),” demikian isi surel bertanggal 3 Maret 2015.

email-powell-pada-jeffrey-leeds

Surat Powell ini ditulis beberapa saat setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pidato berapi-api di depan Kongres AS. Ia mengecam kesepakatan nuklir Iran dan enam negara kekuatan dunia. Kesepakatan itu dicapai bulan Juli 2015 lalu, dan Iran bersedia mengekang program nuklirnya dengan imbalan sanksi atau embargo terhadap Iran dicabut.

Meski mengetahui bahwa Israel memiliki 200 bom nuklir untuk menyerang Iran, Pentagon AS seolah bungkam dan tidak menjatuhkan sanksi apapun pada Israel, seperti yang telah dilakukan terhadap Iran dan Korea Utara (Korut). Isi surel Powell itu menunjukkan sikap ambigu Israel terkait kepemilikan bom nuklir. Mengingat negara Yahudi itu selama bertahun-tahun tidak membenarkan maupun menyangkal tentang kepemilikan bom nuklir.

Jika memang surel itu asli dan pernyataan Powell di dalamnya benar adanya, maka seharusnya AS berlaku adil. Israel harus mendapatkan perlakuan serupa soal sanksi senjata nuklir karena melanggar Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).

Kepemilikan nuklir Israel juga dapat berpengaruh pada bantuan luar negeri yang diberikan AS pada Israel. Menurut amandemen Undang-undang (UU) Bantuan Asing, semua bantuan AS, baik ekonomi maupun militer dilarang diberikan kepada negara-negara yang mengirimkan, menerima, mendapatkan atau memindahkan teknologi pengayaan nuklir tanpa mematuhi NPT. Israel adalah salah satu negara yang tidak menandatangani NPT, bersama dengan India dan Pakistan yang juga memiliki senjata nuklir.

Bocornya surel Powell ini hanya berselang beberapa saat sebelum AS dan Israel menandatangani perjanjian bantuan militer dengan jumlah yang sangat fantastis, yakni sebesar USD 38 miliar atau setara dengan Rp 501 triliun untuk 10 tahun ke depan. Bantuan tersebut akan dihabiskan untuk pembelian senjata dan pelatihan militer dari AS.

Laporan Israel memiliki bom nuklir sebenarnya juga pernah diungkap Federasi Ilmuwan Amerika dalam laporannya tahun 2014 silam. Laporan itu menyebut Israel memiliki 80 hingga 400 bom nuklir, meski penulis laporan meyakini angka akuratnya mendekati 80 bom nuklir.

15 COMMENTS

LEAVE A REPLY