Sep 112014
 

 

Jakarta – Sejumlah daerah menggandeng Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dalam pemanfaatan teknologi keantariksaan seperti penginderaan jauh untuk perencanaan pembangunan daerah.

Kerja sama dituangkan melalui penandatanganan nota kerja sama dengan sejumlah pemerintah daerah yang terdiri dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, Pemerintah Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Bangka Belitung serta Pemerintah Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan.

Kepala LAPAN, Thomas Djamaluddin mengatakan kerja sama yang dilakukan merupakan upaya saling menguatkan, meningkatkan kompetensi, kapasitas dan memberikan manfaat lebih.

“Teknologi informasi kedirgantaraan dan keantariksaan merupakan kebutuhan yang tidak bisa diabaikan. Segala aspek kehidupan termasuk kehidupan perseorangan memerlukan informasi tersebut,” katanya di sela-sela penandatanganan naskah kerja sama di kantor Lapan, Jakarta, Senin (23/6).

Oleh sebab itu, ia berharap perlunya dukungan dari publik, mitra, daerah dan perguruan tinggi sangat diperlukan sehingga teknologi informasi kedirgantaraan dan keantariksaan mendapat perhatian lebih.

Thomas menyebut masih adanya ketergantungan Indonesia dengan negara lain. Menurutnya seharusnya Indonesia membangun kemandirian di bidang teknologi dan keantariksaan. Oleh karena itu, dukungan anggaran sangat diharapkan.

Terkait dengan pemanfaatan teknologi penginderaan jauh, tentu daerah sangat membutuhkannya. Bahkan dalam citra satelit resolusi tinggi satu titik mewakili 1,5 meter objek. Penginderaan jauh berfungsi untuk memantau perubahan tutupan lahan, lahan sawah, batas wilayah administrasi, luas lahan, perkebunan, Fase pertumbuhan lahan perkebunan mulai dari pembukaan lahan, masa pertumbuhan hingga panen, tambak, keramba, sawah pertanian, sedimentasi dan perubahan garis pantai, informasi zona potensi penangkapan ikan dilengkapi titik koordinat serta tata ruang.

Nantinya pelaksanaan kerja sama tersebut meliputi bidang pemanfaatan sains dan teknologi kedirgantaraan untuk mendukung program pembangunan daerah. Ruang lingkupnya mencakup penelitian, pengembangan, perekayasaan, dan pemanfaatan sains antariksa, penginderaan jauh, teknologi dirgantara, diseminasi dan publikasi ilmiah serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Kerja sama ini merupakan upaya peningkatan pembangunan daerah dengan cara memanfaatkan teknologi penginderaan jauh dan sistem informasi geografis untuk inventarisasi, pemantauan dan pengelolaan sumber daya alam serta lingkungan.

Dalam kerja sama tersebut, Lapan berkontribusi dalam pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia (SDM) di pemerintah daerah untuk meningkatkan kemampuan pengolahan dan analisis data satelit penginderaan jauh untuk inventarisasi dan pemantauan sumber daya alam.

Kerja sama ini merupakan implementasi Undang Undang Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan. Undang-undang tersebut mengamanatkan Lapan untuk meningkatkan peran dalam membantu pemerintah daerah di Indonesia, terutama dalam bidang perencanaan pembangunan melalui pemanfaatan sains dan teknologi penginderaan jauh. (lapan.go.id)

Bagikan:
 Posted by on September 11, 2014

  41 Responses to “Manfaatkan Penginderaan Jauh, Sejumlah Pemda Gandeng LAPAN”

  1.  

    Pagiiii….!!!!

  2.  

    Wakwow. No loro

  3.  

    3

  4.  

    semoga dapat digunakan dalam meningkatkan APBD dan pengawasan penggunaan lahan…

  5.  

    10 besar

  6.  

    daripada drone ngintip pake google earth gratis…

    •  

      Namanya juga habis jor2an pemilu..Kudu cari fulusss dr komisi tender

    •  

      Resolusinya buruk kalo google earth. Inikan 1.5 m . Yang jadi masalah kalo datanya di ambil orang itu yang bagai mana. Lha wong pilpres ajah password kpu di bagiin pake gmail. Ngga aman blas. Kalopun di tingkat nasional terproteksi dengan baik datanya. Lha tiap desa ini yang bagaimana. Infrastrukturnya sama sdmnya itu bugetnya gede kalo uavnya yang di upload bung jalo ajah murah cuman 3 juta

      •  

        ide drone masuk desa sepertinya baru kenes2an, fasilitas apa yang akan dirancang di desa dan peta skala berapa yang dibutuhkan, kadang untuk perancangan suatu proyek cukup hingga level field sketch + as built drawings…

        dengan dana desa yang direncanakan, sepertinya akan ada banyak proyek2 kecil disana sini.

        yang kerjasama dengan lapan sepertinya pemda kabupaten, bukan level dibawahnya / kecamatan dst…

    •  

      Beda…kalo google earth datanya tidak real time, kalo drone ato satelit khusus penginderaan kan datanya real time..

      •  

        pembangunan di desa (apalagi di desa terpencil) berlangsung dalam mode slow motion, perubahan sangat perlahan, sehingga data real time untuk perancangan teknik tidak krusial, beda dari kota besar…

      •  

        setuju bung JA, image dari google earth memang tidak realtime, malah beberapa tempat merupakan gambaran dari lebih dari 4 tahun sebelumnya. Enaknya pake drone atau satelit khusus ya, bisa dapet gambarnya jelas. gitu bung danu

        •  

          ya itu bung di desa terpencil, 4 tahun bisa berlalu tanpa ada perubahan fisik sama sekali, kecuali pepohonan semakin tinggi… 🙂

          terus apa yang akan dibangun di desa, klo cuma lumbung, gudang pupuk, pintu air, kincir air sampai jembatan gantung untuk pejalan kaki, foto udara gak dibutuhkan, cukup ditunjuk / dipilih aja langsung lokasinya di lapangan oleh pejabat desa…

          •  

            mungkin sekalian buat mantau bung, anggaran yang digunakan beneran untuk pembangunan desa ato tidak. menurut pengalaman seh, banyak yang ditilep, ga jadi bangunan, tapi dilaporin ada

  7.  

    oke oke :mrgreen: semoga terlaksana :mrgreen:

  8.  

    Yang penting m,asuk 10 Besar

  9.  

    Positif

  10.  

    Ikuutt

  11.  

    bs jd pluang utk investor bidang tambang dan minerba…

  12.  

    tambah mantab

  13.  

    absen aja…

  14.  

    Trend musim intip2an

  15.  

    negara kita harus sudah menguasainya

  16.  

    pakai wikimapia udah bisa lihat atap rumah dan kebun kelapa tetangga cuma modal modem 150 ribu,

  17.  

    Artikel yg bagus . kalo semua pemda punya drone bisa bantu TNI untuk pengawasan secara umum , dan untuk lebih detailnya TNI dengan drone yg lebih khusus dan mumpuni . Salam kenal

  18.  

    Penginderaan jauh (atau disingkat inderaja) adalah pengukuran atau akuisisi datadari sebuah objek atau fenomena oleh sebuah alat yang tidak secara fisik melakukan kontak dengan objek tersebut atau pengukuran atau akuisisi data darisebuah objek atau fenomena oleh sebuah alat dari jarak jauh, (misalnyadaripesawat,pesawat luar angkasa,satelit,kapal atau alat lain.

    Teknologi Inderaja dapat dimanfaatkan untuk kegiatan militer/Hankam, baik operasi tempur, operasi intelejen, kegiatan militer dan kepentingan Hankam lainnya.

    Operasi Tempur (Opspur) dan Operasi Intelejen (Opsintel)

    Untuk Opspur dan Opsintel ada jenis satelit khusus yakni satelit militer yang mempunyai sensor beresolusi tinggi (Decimetric dan Metric Resolution = Resotusi di bawah 1 m). Peralatan tersebut dapat dipasang pada satelit maupun wahana terbang lain (pesawat terbang, balon udara , dll.) Beberapa jenis pesawat dirancang untuk kemampuan tersebut antara lain: Bigbird, Cosmos dan Keyhole (semuanya beresolusi kuranglebih 1 m) yang mampu mendeteksi benda yang berukuran . Perangkat pesawat tersebut mampu mendeteksi dengan tepat baik benda yang sedang bergerak (moving target ground vehicles) maupun benda tak bergerak (fixed target). Satelit Helion, SPOT / Pan dan KFA 1000 mempunyai resolusi 1,0 sampai 10 m. Jenis pesawat tersebut cocok untuk mendeteksi kegiatan gerakan satuan/massa dalam jumlah terbatas (reconnaissance of selected area). Pesawat MSAR (Miniature Synthetic Aperture Radar) telah memiliki serangkaian pesawat yang masing-masing mempunyai kemampuan tersendiri. Jenis MTI (Moving Target Indication) khusus untuk mendeteksi obyek yang bergerak. FTl (Fixed Target Imaging), dirancang untuk sasaran tak bergerak dan ISAR (Inverse Synthetic Aperture Radar) untuk mendeteksi lokasi atau area termasuk kelompok armada kapal (Hartono. 1997).

    Kegunaan :
    1) Proses Pembuatan Analisa Daerah Operasi (ADO), terutama untuk mengidentifikasi guna menentukan : 5 aspek militer dari medan, Dropping Zone, tempat pendapatan, daya dukung tanah, keadaan land cover, sumber air, kondisi cuaca.

    2) Dalam mengolah Informasi/lntelejen antara lain: dapat membantu mencari dan menentukan :
    a) Disposisi dan dislokasi pasukan musuh
    b) Dislokasi logistik militer musuh
    c) Tempat pengintaian atau peninjauan
    d) Mendeteksi samaran
    e) Menentukan jalan-jalan pendekat, perlindungan, medan kritis dan rintangan.

    3) Untuk keperluan SAR di darat dan di laut Citra Satelit beresolusi tinggi dapat menjadi alat bantu pencarian lokasi bencana/kecelakaan yang menghendaki pertolongan segera.

    4) Dapat membantu pembuatan peta militer skala besar untuk daerah yang belum ada petanya atau untuk pembaharuan peta yang datanya sudah usang.

    5) Dapat membantu pembuatan Laporan Geografi Militer (LGM) atau Laporan Medan (LM) dan memperbaharui datalinformasi LGM/LM yang usang.

    6) Dapat membantu menganalisis dan meramalkan kondisi cuaca (suhu, awan, tekanan udara, angin, kelembaban udara, cahaya dan kabut).

    7) Sebagai sarana untuk memantau kondisi wilayah/medan tempur.

    Kegiatan Teritorial

    Kegiatan Teritorial dapat juga memanfaatkan jasa penginderaan jauh. Dalam hal ini kegiatan yang bersifat pembangunan fisik materil seperti TMMD, Operasi Bakti dan Linmas. Kegiatan-kegiatan seperti itu memerlukan data dasar wilayah berupa Informasi Geografi/SDA yang mutakhir sehingga dalam pelaksanaannya diperoleh hasil guna dan daya guna yang optimal sesuai dengan kebutuhan sekarang dan dapat mengantisipasi masa yang akan datang. Produk Inderaja yang cocok untuk kebutuhan kegiatan Teritorial adalah produk Landsat dan SPOT yang mempunyai tingkat resolusi 10 sampai dengan 80 m. Landsat Multi Spectral Scanner dan TM (ThematicMapper).

    Masing-masing terdiri dari 4 sampai 7 band (saluran), dimana setiap saluran dirancang untuk mengidentifikasi obyek tertentu sebagai contoh : saluran/band-1 pada Landsat TM mampu menyajikan data sebaran air tanah dan jenis tanah. Saluran/band-2 mampu mengidentifikasi jenis tanaman yang sehat dan yang sakit. Saluran/band-3 mampu membedakan jenis tanaman dan tata guna lahan. Produk-produk seperti itu merupakan data awal yang sangat berharga untuk perencanaan kegiatan territorial.

    Sedangkan produk Reconnaissance Spot dan Helios sangat mendukung perencanaan kegiatan operasi satuan-satuan militer (Mawardi Nur, 1998).

    •  

      Bung jalo, Kalau tak salah untuk kegiatan nelayan pun bisa menggantikan indraja. Dengan memanfaatkan satelit untuk menangkap posisi ikan Dan dikirim kestasiun bumi. Oleh stasiun bumi dikirim ke kapal nelayan. Sehingga dengan demikian cost untuk nelayan bisa di tekan dan penghasilan bisa meningkat. Betul kira2 begitu bung Jalo?

    •  

      Kira2 dengan model drone nya prof yosephat gimana bung jalo. Soal ya kalau bisa diterapkan model indraja tadi, tentu nelaya di t4 saya ( natuna) bisa makmur. Karena tak perlu berlama2 di laut namun hasilnya besar. Mohon pencerahan bung.

      •  

        Sebenarnya bisa aja, cuman kan dilihat lagi alat yg harus dibawa drone itu beratnya berapa. Yang diperlukan sensor inframerah yg bisa mengukur suhu permukaan laut (SPL). Pengembangan yg dilakukan Lapan ini masih menggunakan satelit asing yang mempunyai sensor inframerah termal antara lain satelit Landsat, NOAA, Aqua/Terra, Fengyun, ERS, dan ASTER. Sebaran SPL yang diambil dari data satelit dapat digunakan sebagai indikator penentuan daerah penangkapan ikan. Tapi ini sering terkendala masalah awan.

        Nah dengan teknologi SAR (Synthetic Aperture Radar) Prof. Josh bagus tuh bisa tembus awan.

    •  

      bung Jalo,

      satu lagi aplikasi yang perlu dipikirkan adalah deteksi sumber panas di wilayah kronis kebakaran hutan di sumatra atau kalimantan, lama2 sewot juga baca running text di tv, satelit NOAA menemukan 39 titik panas di sumatra…

      untuk tahu apa yang terjadi di halaman kita aja harus tergantung bule ?

      •  

        Yup bener bung, contohnya ini tanggal 9 September lalu…

        Kita perlu menguasai yg namanya AVHRR-NOAA (Advanced Very High Resolution Radiometer-National Oceanic and Atmospheric Administration). Nanti ada pengembangan di satelit penelitian yaitu tipe A milik Lapan, kalau gak salah tipe A-3. Tapi masih skala riset, 😀

  19.  

    Bung jalo, kira2 costnya berapa Dan kemana harus kontak untuk pembicaraan lebih lanjut? Mohon bantuannya bung. Maaf merepotkan. Lagi semangat ni. Miris lihat nelayan, hasil tangkapannya tak seberapa. Siapa tahu kami bisa menfaatkan untuk kemajuan daerah.

 Leave a Reply